Iqra’, Ya Bunayya — Sosok KH. Imam Zarkasyi dalam Kenangan
Sebuah kamar sederhana. Di sudutnya terbentang sajadah yang sudah akrab dengan jejak sujud. Di atasnya terletak untaian tasbih yang warnanya mulai memudar, saksi sunyi dari zikir yang tak terhitung. Di dekat jendela, tergantung selembar kertas hitam bertinta emas. Kalimatnya tajam dan sederhana:
“Sehari harus bekerja 18 jam. Istirahat adalah mengganti jenis pekerjaan.”
Kalimat itu bukan sekadar slogan; ia adalah denyut hidup pemilik kamar itu: KH. Imam Zarkasyi.
Saya masih ingat bagaimana beliau, di luar jam mengajar, keluar rumah mengenakan kaos oblong putih bergambar kodok dengan handuk kecil melingkar di leher. Di tangannya martil, obeng, atau tang. Bagi beliau, mengurus pesantren bukan hanya soal papan tulis dan buku; itu juga soal engsel pintu yang bunyinya sumbang, meja bangku yang ringkih, atau papan tulis yang miring. Beliau berjalan memeriksa, meluruskan, memaku, mencatat. Dunia seolah tak ada sekat antara guru, tukang, atau pengasuh — semua dikerjakan dengan tangan sendiri.
Kalau menemukan kelas kosong, beliau masuk tanpa ragu. Kalau kelas sebelahnya juga kosong, songkok hitamnya ditinggalkan di kelas pertama lalu beliau pindah ke kelas kedua. Dan ketika beliau langsung pulang setelah mengajar, songkok itu tertinggal — seperti penanda kesungguhan yang belum selesai. Tak satu pun santri berani meninggalkan kelas sebelum beliau kembali mengambil songkoknya. Ketua kelas pun harus menghadap: apakah Kyai akan kembali mengajar, atau kami boleh pulang?
Beliau juga punya kebiasaan yang membuat dada kami berdebar. Jika berpapasan dengan santri yang tidak membawa buku, beliau bertanya tegas: “Kenapa tidak membawa buku?” Kalau ada yang membawa buku tetapi tidak membacanya, beliau bertanya lebih dalam: “Kenapa dibawa tapi tidak dibaca?” Pertanyaan sederhana itu terasa seperti ujian hidup.
Suatu hari, saya sendiri mengalaminya. Ada sobekan koran di depan kami. Beliau berkata singkat, “Pungut!” Saya pun memungutnya dan hendak membuangnya ke tong sampah. Namun beliau menahan: “Baca dulu.” Saya menjawab lirih, “Maaf Pak Yai, ini koran lama.” Tatapan beliau langsung menusuk.
“Ya bunayya… korannya memang lama. Tapi apakah kamu sudah membacanya?”
Beliau menyuruh saya duduk, membaca potongan koran lusuh itu. Setelah selesai, saya hendak pamit. Tapi beliau meminta potongan itu kembali dan mulai menanyai saya — hampir lima puluh pertanyaan, hanya dari satu alinea! Saya kehabisan kata. Di ujung pertemuan itu beliau berkata:
“Anak Lombok, ya? Makanya kalau membaca jangan setengah-setengah. Belum lima menit saja sudah lupa. Bacalah yang baik-baik… mocone sing telaten.”
Keesokan harinya, beliau menyinggung kejadian itu di depan kelas Lima. Suaranya tegas, tapi penuh sayang:
“Di rumah saya ada aturan. Anak-anak yang tidak sedang membaca akan saya suruh bekerja terus… terus… terus… sampai mereka sendiri meminta waktu istirahat. Dan istirahatnya adalah untuk membaca. Hanya anak yang sakit saja yang boleh tidak membaca dan tidak bekerja.”
Kalimat itu menempel di kepala saya bertahun-tahun.
Ketika suatu kali saya menonton film Negeri 5 Menara, hati saya berdesir. Saya merasa menyesal tidak diminta memberi masukan. Seharusnya peristiwa seperti ini dimasukkan, agar dunia tahu bagaimana seorang guru besar membangun jiwa murid-muridnya — bukan hanya dengan ilmu, tapi dengan teladan hidup yang nyata.
Iqra’, ya bunayya. — Bacalah, wahai anakku.
— KH. Hasanain Juaini (Pengasuh PM Nurul Haromain – NTB)

Comments
Post a Comment