Posts

Showing posts with the label Politik

Percakapan Rocky Gerung dan Bagus Muljadi tentang Dasar Berpikir di Balik Kebijakan

Image
source: https://youtu.be/58cCQhTt2Nw Pengantar Perdebatan publik kita gampang sekali terbelah menjadi dua kubu. Orang mudah menempatkan lawan bicara di sisi kiri atau kanan, dan jarang ada yang mau menengok wilayah abu-abu di antaranya. Percakapan antara Rocky Gerung dan pewawancaranya, Bagus, bermula dari keresahan itu. Bagus mengaku lama menikmati argumen Rocky. Ia ingin menggali sesuatu yang lebih mendasar: apa akar paradigma Rocky, dan apa "perangkat lunak" yang bekerja di kepalanya? Pembicaraan lalu bergerak ke banyak arah, mulai dari kebebasan berbicara, hakikat manusia, hak atas pangan, dan kritik terhadap kebijakan makan bergizi gratis, sampai teori hukum, tanah adat, dan sosialisme Indonesia. Dua hal menyatukan semuanya. Rocky menuntut orang menjelaskan dasar epistemik di balik kesimpulan praktis mereka, dan Bagus sengaja memakai posisi lawan ( straw man ) untuk menguji sejauh mana argumen itu tahan. Kebebasan Berbicara: Naluri dan Kepentingan Memiliki Kawan ...

Membedah Optimisme di Balik Data: Menguak Arah Ekonomi Indonesia Bersama Ekonom Fitra Faisal Hastiadi

Image
Pendahuluan Perdebatan tentang kondisi ekonomi Indonesia belakangan ini terbelah menjadi dua kutub. Di satu sisi, data makro menunjukkan tren yang relatif positif: pertumbuhan ekonomi stabil di atas lima persen, inflasi terkendali, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap perkasa meski diguncang gelombang demonstrasi. Di sisi lain, keluhan dari lapangan tak kunjung reda: uang tidak berputar di tingkat bawah, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengaku sepi, dan daya beli dirasakan terus menurun. Untuk menjembatani kesenjangan persepsi ini, podcast Kasih Solusi yang dipandu oleh Deri mengundang Dr. Fitra Faisal Hastiadi, ekonom sekaligus dosen Universitas Indonesia yang menempuh pendidikan doktoral di Jepang, untuk mengurai persoalan ini secara runut—mulai dari data makro, struktur anggaran negara, nasib kelas menengah, hingga strategi besar pemerintah dalam memberantas kemiskinan ekstrem. Tulisan ini merangkum keseluruhan diskusi tersebut secara sistematis agar pemba...

Hambalang versus Solo: Membaca Klaim Perebutan Kekuasaan di Sekitar Prabowo Menurut Said Didu

Image
source:  https://youtu.be/wmoIsc4g3LA Kekuasaan yang Tak Pernah Rela Dilepas Wawancara ini dibuka dengan sebuah premis besar: kekuasaan jarang berpindah tangan murni lewat kotak suara. Ia bergerak lewat jaringan, loyalitas, uang, aparat, dan persekutuan yang tidak selalu tampak di permukaan. Berangkat dari premis itu, Said Didu menyebut apa yang terjadi belakangan ini sebagai "drama Hambalang versus Solo"—pertarungan pengaruh antara lingkaran Prabowo dan lingkaran mantan Presiden Joko Widodo yang berbasis di Solo. Bagi Said Didu, ini bukan sekadar rivalitas biasa, melainkan puncak dari rangkaian panjang upaya mempertahankan kekuasaan yang, menurutnya, tidak pernah benar-benar dilepaskan oleh Jokowi. Ia menelusuri jejak itu ke belakang. Ketika masa jabatan dua periode Jokowi hampir berakhir, muncul wacana perpanjangan menjadi tiga periode. Said Didu menyebut sejumlah tokoh yang saat itu ia nilai turut menggerakkan wacana tersebut: Airlangga Hartarto, Ketua MPR Bambang Soe...

Usulan Sederhana, Dampak Besar: Membuat Sistem Pemerintahan Lebih Terbuka

Image
Bayangkan sebuah sistem di mana setiap perintah yang menyangkut uang rakyat, aset negara, atau personel pemerintah harus tertulis, terekam, dan bisa dicek siapa saja. Bukan lagi sekadar “katanya” atau “disuruh lisan”. Itu intinya usulan Sabrang MDP Official dalam video berjudul Usulan agar Sistem Lebih Terbuka dan Bertanggung Jawab . Saya akan uraikan gagasan itu secara runtut. Bukan karena ingin terdengar rumit, tapi karena isinya memang menyentuh dua hal sekaligus: struktur kekuasaan dan cara kita, masyarakat, merespons institusi publik. Masalah lama yang terus berulang Sabrang mengingatkan satu fakta yang sering kita lupakan. Pergantian orang di puncak kekuasaan—baik melalui revolusi maupun reformasi—belum tentu mengubah sistemnya. Kita sudah melihat pola itu di 1965 dan 1998. Orangnya berganti. Masalahnya tetap berputar di lingkaran yang sama. Kenapa? Karena masyarakat sering hanya melihat gejala di permukaan. Informasi yang tersedia kabur. Data primer jarang muncul. Akibatnya,...

Otak di Balik Kebangkitan Tiongkok: Mengapa Ideologi Menjadi Senjata Strategis Terkuat Beijing

Image
Kebangkitan Tiongkok dari negara berkembang menjadi kekuatan geopolitik global kerap dikaitkan dengan kebijakan ekonomi Deng Xiaoping atau kepemimpinan kuat Xi Jinping. Namun, di balik rancangan besar ( grand design ) dan doktrin geopolitik Beijing, terdapat satu sosok kunci yang bekerja dalam senyap: Wang Huning . Ia bukan jenderal militer, bukan konglomerat, dan tidak pernah memimpin wilayah atau kementerian eksekutif. Wang Huning adalah mantan profesor filsafat dan teori politik yang menjadi arsitek ideologis utama bagi tiga generasi presiden Tiongkok: Jiang Zemin, Hu Jintao, hingga Xi Jinping. 1. Katalis Ideologis: Diagnosis Keretakan Barat Lahir di Shanghai pada tahun 1955, masa muda Wang Huning diwarnai oleh era Revolusi Kebudayaan. Saat sebagian besar pemuda terjebak dalam arus politik radikal, Wang memilih fokus mendalami teori politik dan hubungan internasional di Universitas Fudan. Titik balik pemikirannya terjadi pada tahun 1988 saat ia mengelilingi Amerika Serikat s...