Gesekan Produktif Sekolah di Zaman AI
Bayangkan seorang siswa kelas sembilan yang diminta menulis esai tentang penyebab Perang Dunia I. Ia membuka sebuah aplikasi, mengetik perintah, dan tiga puluh detik kemudian mendapat lima paragraf yang rapi. Gurunya tidak akan tahu, nilainya kemungkinan bagus, dan malam itu ia tidur lebih cepat. Ada satu hal yang tidak terjadi: tidak ada satu pun proses berpikir yang berlangsung di kepalanya. Kejadian sekecil ini, bila terulang jutaan kali, menjadi inti perdebatan tentang pendidikan di zaman AI. Sebuah gagasan yang belakangan populer menjawabnya dengan tegas. Teknologi makin cepat, digital, dan otomatis, maka sekolah harus makin lambat, fisik, dan manusiawi. Ketahanan mental anak tidak datang dari penguasaan algoritma, kata gagasan itu, melainkan dari sisi-sisi manusia yang tak akan pernah bisa diretas atau ditiru mesin. Saya setuju dengan arah pikirannya, tetapi tidak dengan cara ia dirumuskan. Dua hal di dalamnya keliru, dan keduanya penting. Yang benar: usaha itu bagian dari be...