[VIDEO] Dari Tangisan di Tikar Pandan hingga Gelar Syaikhah Al-Azhar: Kisah Rahmah El Yunusiyah yang Baru Diangkat Jadi Pahlawan Nasional


Di sebuah rumah kayu di Padang Panjang pada awal abad ke-20, seorang gadis kecil bernama Rahmah menatap jendela sambil mendengarkan suara anak laki-laki mengaji di surau. Ia ingin sekali ikut belajar, namun ibunya menahan—bukan karena tak sayang, melainkan karena di masa itu perempuan tak dianggap perlu menuntut ilmu setinggi lelaki. Tak terima keinginannya ditolak, bocah kecil yang dikenal keras hati dalam memperjuangkan keinginannya itu protes dengan cara menangis sepanjang hari sambil berguling-guling di atas tikar pandan. Bila sudah punya keinginan, Rahmah hanya ingin keinginan itu terlaksana.

Padang Panjang kala itu memang dikenal sebagai kota santri dan pusat ulama, namun bagi anak perempuan pilihan hidup sangatlah sempit—belajar mengaji dasar di rumah, lalu menikah muda. Di tengah suasana yang mengekang itu, Rahmah tumbuh sebagai pengecualian dengan rasa ingin tahu yang besar dan keberanian untuk membantah. Ia belajar diam-diam mendengarkan pelajaran dari luar surau lalu menirukan apa yang ia dengar di rumah.

Keluarga Rahmah bukanlah orang sembarangan. Ayahnya, Syekh Muhammad Yunus, adalah seorang ulama yang dihormati sekaligus qadi di Padang Panjang, tempat banyak murid datang menimba ilmu. Ibunya, Rafiah, mendukung pendidikan agama di rumah tetapi tetap berpegang pada pandangan tradisional tentang peran perempuan. Dalam keseharian, Rahmah kecil menyaksikan bagaimana ayahnya mengajar para santri laki-laki di surau sementara ia hanya bisa menonton dari jauh. Ketimpangan itu membuat Rahmah gelisah—ia ingin tahu mengapa perempuan tidak diberi ruang yang sama untuk belajar. Setiap kali ayahnya menjelaskan tafsir atau hukum Islam kepada murid-muridnya, Rahmah mendengarkan dari balik pintu, menyerap pelajaran tanpa sadar sedang menanam benih cita-cita besar untuk membuka jalan bagi perempuan menuntut ilmu setara laki-laki.

Meski Rahmah lebih banyak belajar dari pengalaman dan pengamatannya terhadap masyarakat sekitar, nilai religius yang kuat dari ayahnya tetap mengalir dalam dirinya. Ia melihat banyak perempuan pandai mengaji tapi tak tahu menulis, banyak pula yang pintar mengurus rumah tapi tak mengenal dunia di luar dindingnya sendiri. Dari pengamatan inilah muncul tekad yang akan menentukan jalan hidupnya.

Ketika remaja, Rahmah mulai aktif membantu kakaknya, Zainuddin Labai El-Yunusi, yang lebih dulu mendirikan madrasah diniyah untuk laki-laki. Zainuddin sendiri adalah ulama muda revolusioner yang mengubah sistem pendidikan sekolah agama menjadi pendidikan modern, bahkan menjadikan sekolahnya sebagai sekolah Islam pertama di Indonesia yang memperbolehkan perempuan dan lelaki bersekolah di tempat yang sama. Di sekolah milik kakaknya itulah Rahmah mengenyam pendidikan, namun tak sampai setahun karena dijodohkan pada usia 15 tahun. Meski berat, Rahmah menyetujui perjodohan itu.

Pernikahan Rahmah tidak berlangsung lama. Pada 1922, ketika suaminya berniat untuk menikah lagi dan meminta izin untuk berpoligami, Rahmah menolak keras. Dihadapkan pada pilihan menerima atau bercerai, Rahmah memilih yang kedua. Setelah bercerai, ia menjadi sangat aktif dalam gerakan perempuan dan perjuangan pendidikan di Sumatera. Rahmah memimpin rapat kaum ibu di Padang Panjang yang rupanya diawasi Belanda, sehingga ia dihukum denda 100 gulden dengan tuduhan membicarakan politik dan menjadi anggota pengurus Serikat Kaum Ibu Sumatera.

Setelah dewasa dan mengalami berbagai pengalaman hidup, Rahmah mulai memahami bahwa keterbatasan bukan datang dari agama, melainkan dari tafsir sosial yang mengekang. Dalam pandangannya, Islam justru menempatkan ilmu sebagai kewajiban bagi semua umat. Ia sering membicarakan hal ini dengan Zainuddin yang sudah dikenal sebagai pendidik muda progresif. Dari diskusi-diskusi itulah Rahmah mulai berani berpikir bahwa perempuan juga harus punya sekolah sendiri. Zainuddin melihat potensi adiknya dan mengajaknya membantu mengurus madrasah diniyah. Di sana Rahmah tidak hanya ikut mengatur jadwal dan menulis catatan, tetapi juga sesekali mengajar membaca. Yang paling penting, ia belajar bagaimana membangun sistem pendidikan dari nol—mulai dari kurikulum, disiplin belajar, hingga cara memotivasi murid.

Tahun-tahun berikutnya, Rahmah mulai mengajar anak-anak perempuan di rumahnya. Awalnya hanya beberapa orang duduk bersila di lantai, belajar membaca, berhitung, dan mengaji dengan metode sederhana namun cara bicara yang tegas. Ia mendidik bukan sekadar untuk pandai, tapi agar perempuan berani berpikir. Kelas kecil itu perlahan tumbuh menjadi gerakan yang mengubah pandangan masyarakat. Dari ruang tamu rumahnya, gadis-gadis kecil datang dengan semangat membawa buku tulis dan arang sebagai pena. Di sana Rahmah menanamkan keyakinan bahwa ilmu adalah hak setiap manusia. Bagi sebagian orang, apa yang ia lakukan tampak sederhana, tapi bagi Rahmah itu adalah bentuk perlawanan paling nyata terhadap ketimpangan.

Tahun 1923 menjadi titik balik yang menentukan. Setelah beberapa kali berdiskusi dengan Zainuddin dan ulama setempat, Rahmah memutuskan mendirikan Diniyah Putri—lembaga pendidikan untuk perempuan pertama di Hindia Belanda. Ia menyewa sebuah rumah sederhana di Padang Panjang sebagai tempat belajar dengan murid pertama hanya delapan orang, sebagian anak tetangga dan sanak saudara. Bagi Rahmah, delapan orang sudah cukup untuk menyalakan api perubahan.

Tantangan muncul sejak awal. Banyak orang menganggap sekolah perempuan tidak perlu, ada yang menuduh Rahmah melanggar adat bahkan menafsirkan agama secara keliru. Namun Rahmah tidak gentar—ia datang ke rumah-rumah warga menjelaskan langsung tujuannya agar perempuan bisa menjadi cerdas, mandiri, dan berguna bagi masyarakat. Metode pengajaran di Diniyah Putri berbeda dari sekolah kolonial. Selain pelajaran agama, Rahmah memasukkan pelajaran umum seperti berhitung, membaca, sejarah, dan keterampilan rumah tangga. Ia ingin murid-muridnya bisa berpikir luas tanpa kehilangan nilai moral. Setiap pagi, Rahmah memimpin apel kecil di halaman sekolah sambil mengingatkan satu kalimat yang jadi pegangan: "Ilmu itu cahaya, dan cahaya tidak boleh disembunyikan."

Kedisiplinan Rahmah dikenal keras tapi adil. Murid yang terlambat harus membaca ulang pelajaran kemarin di depan teman-temannya, namun di balik ketegasannya, Rahmah memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Ia menulis surat kepada wali murid tentang perkembangan anak-anak di sekolah—sesuatu yang jarang dilakukan guru pada masa itu. Hal-hal kecil seperti ini membangun kepercayaan masyarakat terhadap sekolahnya.

Perlahan Diniyah Putri tumbuh pesat. Murid datang dari berbagai daerah bahkan dari luar Sumatera, mengubah Padang Panjang menjadi pusat pendidikan perempuan. Setiap sore jalan menuju sekolah itu ramai oleh gadis-gadis berkerudung membawa papan tulis kecil. Dari luar terlihat sederhana, tapi di dalamnya sedang lahir generasi perempuan terdidik pertama di Indonesia. Rahmah tidak hanya mengajar, ia mendidik dengan teladan, mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar untuk diri sendiri tapi untuk memberi manfaat bagi orang lain. Di sela-sela mengajar, ia menulis catatan pendek berisi pesan moral yang sebagian masih disimpan di sekolah hingga kini, menjadi saksi bagaimana pikirannya jauh melampaui zamannya.

Ketenaran Diniyah Putri akhirnya menarik perhatian pemerintah kolonial Belanda yang datang meninjau dengan rasa ingin tahu bercampur curiga. Rahmah menyambut dengan tenang, menunjukkan bahwa pendidikan yang ia ajarkan tidak bertentangan dengan hukum, justru mendukung cita-cita kemajuan bangsa. Sikapnya yang tegas membuat pejabat kolonial segan. Pada akhir dekade 1920-an, Diniyah Putri sudah menjadi simbol kebangkitan perempuan di ranah pendidikan. Banyak muridnya kemudian menjadi guru, penulis, bahkan aktivis sosial. Rahmah berhasil menanamkan keyakinan bahwa perempuan bisa berdiri sejajar tanpa harus meninggalkan nilai-nilai keislaman dan adat. Ia telah membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari ruang kelas sederhana yang berisi delapan murid dan satu guru dengan tekad baja.

Ketika Jepang masuk ke Sumatera Barat pada 1942, suasana Padang Panjang berubah tegang. Tentara Jepang menutup sekolah-sekolah dan memaksa rakyat tunduk pada perintah militer. Banyak guru laki-laki ditangkap atau dikirim kerja paksa ke luar daerah, namun Rahmah yang memimpin Diniyah Putri menolak menutup sekolahnya. Ia bernegosiasi langsung dengan pejabat militer Jepang, dengan bahasa yang tegas dan sopan menjelaskan bahwa sekolahnya mendidik perempuan agar berguna bagi masyarakat dan negara. Jepang akhirnya mengizinkan Diniyah Putri tetap berjalan meski dengan pengawasan ketat—di sinilah Rahmah membuktikan kecerdasannya sebagai negosiator.

Selama pendudukan, Rahmah memanfaatkan sekolahnya untuk lebih dari sekadar pendidikan agama. Ia menyelundupkan pesan kebangsaan ke dalam pelajaran, membangun semangat kemerdekaan di antara para siswi. Para guru senior juga diam-diam mengajar keterampilan bertahan hidup. Di balik seragam sekolah, murid-murid Diniyah Putri belajar tentang perjuangan dan harga diri bangsa. Ketika pasukan Jepang mulai mundur, Rahmah mengubah sebagian ruang sekolah menjadi dapur umum, mengoordinasikan perempuan setempat untuk memasak bagi para pejuang. Para siswi dilibatkan membantu mengumpulkan bahan makanan dari rumah-rumah sekitar. Bagi Rahmah, perang bukan hanya urusan senjata tapi juga soal menjaga kehidupan.

Rahmah tidak pernah turun ke medan perang, namun perjuangannya nyata. Ia menjadi penghubung antara pejuang kemerdekaan dan masyarakat sipil. Rumahnya kerap dijadikan tempat singgah dan pertemuan rahasia—ia tahu risikonya besar, tapi tekadnya lebih besar dari rasa takut. Dalam masa revolusi fisik setelah proklamasi 1945, Rahmah ikut menyalurkan logistik untuk para pejuang di daerah Bukittinggi dan Padang Panjang. Sekolahnya berubah fungsi jadi markas dapur umum dan tempat perawatan pejuang yang terluka. Banyak siswi ikut terjun menjadi kurir pesan, membawa surat dan perbekalan lewat jalur-jalur desa secara diam-diam agar tak dicurigai Belanda.

Ketika Belanda melancarkan agresi militer, sekolah Diniyah Putri sempat dibakar. Namun Rahmah tidak menyerah—ia segera membangun kembali kelas darurat dari bahan seadanya. Dalam pandangannya, membiarkan anak perempuan berhenti belajar sama saja menyerah pada penjajahan. Perjuangannya menarik perhatian tokoh-tokoh Republik di Sumatera. Beberapa kali ia diundang untuk memberi ceramah tentang peran perempuan dalam perjuangan, menegaskan bahwa perempuan tidak boleh hanya jadi penonton sejarah. Ia menyerukan agar kaum perempuan ikut aktif baik di dapur umum, pendidikan, maupun barisan pertahanan sipil.

Di masa itu, Rahmah juga mengirim surat kepada tokoh-tokoh nasional termasuk perwakilan Indonesia di luar negeri, menulis tentang pentingnya pendidikan perempuan dalam pembangunan bangsa merdeka. Surat-surat yang kini menjadi bagian dari arsip sejarah perjuangan ini menyuarakan dengan jelas bahwa kemerdekaan sejati harus memberi ruang bagi semua, termasuk perempuan. Rahmah juga berperan dalam mempersatukan organisasi perempuan Islam di Sumatera Barat, menginisiasi kerja sama antar madrasah perempuan untuk memperkuat jaringan pendidikan. Dari situ lahir semangat baru bahwa pendidikan adalah bentuk perlawanan terhadap kebodohan dan penjajahan—ide yang kelak menjadi dasar gerakan perempuan Islam di Indonesia pasca kemerdekaan.

Setelah kemerdekaan diproklamasikan, Rahmah tak langsung beristirahat. Ia terus memperjuangkan agar Diniyah Putri mendapat pengakuan resmi dari pemerintah, percaya bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh pendidikan generasi muda. Baginya, revolusi belum selesai selama perempuan masih terbelakang. Di tahun-tahun setelah perang, Rahmah semakin dikenal sebagai tokoh pendidikan dan pejuang emansipasi Islam modern. Ia menolak disebut pemimpin perempuan pertama karena menurutnya semua perempuan bisa memimpin bila diberi kesempatan. Ia hanya ingin dikenang sebagai guru yang mengajarkan kemerdekaan dalam arti sebenarnya—contoh nyata bahwa revolusi bisa dimulai dari ruang kelas, bukan hanya dari medan perang.

Setelah perang usai, Rahmah El Yunusiyah menolak beristirahat. Ia melihat kemerdekaan belum selesai jika perempuan masih tertinggal dalam pendidikan. Diniyah Putri kembali ia bangun dengan semangat baru—bukan sekadar sekolah agama, tapi lembaga kader bangsa yang akan melahirkan generasi perempuan berilmu, mandiri, dan sadar kebangsaan. Rahmah memandang pendidikan perempuan sebagai fondasi negara, menolak pandangan bahwa perempuan cukup bisa membaca dan mengurus rumah. Baginya, bangsa yang setengah bodoh adalah bangsa yang separuh perempuannya tidak berpendidikan. Dari pemikiran inilah konsep Madrasah Perempuan Modern lahir di Padang Panjang.

Di tangan Rahmah, Diniyah Putri berkembang menjadi sistem pendidikan berjenjang—ada tingkat dasar, lanjutan, hingga guru latihan. Murid-muridnya tidak hanya belajar agama tapi juga ilmu umum, keterampilan, dan kepemimpinan. Kurikulum ini kemudian menjadi model bagi banyak sekolah Islam perempuan di seluruh Indonesia. Ia bukan hanya pendidik tapi juga penggerak sosial, aktif dalam berbagai organisasi perempuan termasuk Persatuan Muslimah Indonesia dan organisasi lokal yang fokus pada pemberdayaan perempuan. Ia menentang pandangan bahwa perempuan harus berhenti di dapur atau hanya menjadi pelengkap laki-laki. Dalam setiap pidatonya, ia selalu menegaskan: perempuan yang berilmu akan menjadi tiang bangsa yang kuat.

Hubungannya dengan tokoh-tokoh pembaharu Islam memperkuat langkahnya. Rahmah berkorespondensi dengan para ulama dan tokoh modernis termasuk Haji Agus Salim dan Syekh Ahmad Khatib, memadukan semangat pembaruan Islam dengan semangat kebangsaan—dua hal yang di masa itu sering berjalan terpisah. Pandangan ini menjadikan Rahmah unik: seorang pendidik sekaligus reformis yang menembus batas tradisi tanpa kehilangan akar keislaman. Pada masa kemerdekaan, ia tetap aktif memperjuangkan pendidikan perempuan. Banyak siswi Diniyah Putri kemudian menjadi tokoh penting di bidang sosial dan pemerintahan. Rahmah percaya membangun bangsa tidak cukup dengan senjata tapi juga dengan mencerdaskan generasi. Karena itu, bahkan setelah perang usai, ia terus mengajar, menulis, dan memotivasi perempuan agar berani tampil di ruang publik.

Pemerintah Indonesia mulai memperhatikan kiprah Rahmah di awal 1950-an. Ia diundang ke berbagai konferensi pendidikan dan pergerakan wanita, dalam setiap forum menegaskan bahwa pendidikan perempuan adalah investasi nasional. Pandangannya disambut hangat oleh tokoh-tokoh seperti Maria Ulfah Santoso dan Rasuna Said. Rahmah tidak berhenti di ruang kelas—ia ikut membentuk berbagai organisasi perempuan Islam di Sumatera Barat, salah satunya Perikatan Diniyah Putri, wadah yang menyatukan alumni untuk memperluas pengaruh pendidikan Islam bagi perempuan. Dari organisasi ini lahir banyak pendidik dan aktivis perempuan di berbagai daerah.

Selain itu, Rahmah juga aktif dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani), memperjuangkan agar suara perempuan Islam tidak diabaikan dalam gerakan nasional perempuan. Di forum itu ia menyampaikan gagasan tentang keseimbangan antara kemajuan dan nilai-nilai agama. Sikapnya yang tegas tapi terbuka membuatnya dihormati di berbagai kalangan. Pada tahun 1955, perjuangannya membuahkan hasil besar: sistem pendidikan Diniyah Putri diakui secara resmi oleh pemerintah Republik Indonesia. Ini berarti pendidikan Islam perempuan mendapat tempat sejajar dalam sistem pendidikan nasional—kemenangan moral bagi seluruh guru perempuan di Indonesia.

Rahmah sering mengatakan bahwa pendidikan bukan sekadar alat sosial tapi bagian dari perjuangan kemerdekaan yang berkelanjutan. Ia menolak politik praktis namun memahami pentingnya keterlibatan perempuan dalam pembangunan negara. Melalui pendidikan, ia melahirkan ribuan perempuan cerdas yang kelak berperan di berbagai bidang—bentuk nyata dari jihad pendidikan. Di luar dunia pendidikan, Rahmah dikenal sederhana dan disiplin. Ia tinggal di rumah kecil di kompleks sekolahnya, hidup bersama para guru dan santri. Setiap pagi ia berkeliling ruang kelas memastikan semua kegiatan berjalan rapi. Ia ingin murid-muridnya melihat bahwa pemimpin sejati harus hadir dan bekerja bersama rakyatnya.

Pada 1950-an hingga awal 1960-an, Rahmah juga aktif mengirim guru-guru diniyah ke luar negeri termasuk ke Malaysia dan Singapura. Langkah ini membuat gagasan pendidikan Islam perempuan dari Padang Panjang dikenal di Asia Tenggara. Pemerintah Malaysia bahkan mengundangnya untuk membantu merancang kurikulum sekolah Islam perempuan di Negeri Sembilan—dari sana pengaruh Rahmah menembus batas negara.

Perjuangannya membuat banyak tokoh internasional kagum. Salah satunya Universitas Al-Azhar di Mesir yang kemudian memberi penghargaan kepadanya pada tahun 1957. Ia diakui sebagai satu-satunya perempuan di dunia yang memimpin lembaga pendidikan Islam khusus wanita. Rahmah El Yunusiyah menjadi ulama perempuan pertama yang dianugerahi gelar kehormatan Syaikhah dari Universitas Al-Azhar Kairo—penghargaan yang menegaskan posisi Rahmah bukan hanya sebagai tokoh Indonesia, tapi tokoh dunia Islam.

Menjelang akhir hidupnya, Rahmah El Yunusiyah tetap tinggal di kompleks Diniyah Putri Padang Panjang. Ia menolak pindah ke kota besar meski sering diundang ke Jakarta. Setiap pagi ia masih berjalan keliling sekolah menyapa guru dan murid satu persatu. Tubuhnya mulai lemah, tapi pikirannya tetap tajam dan jernih. Pada tahun 1969, Rahmah mulai sering sakit. Murid-murid dan para guru bergantian merawatnya di rumah kecil di belakang ruang belajar. Ia berpesan agar Diniyah Putri jangan pernah berhenti apa pun keadaan zaman. "Selama perempuan masih mau belajar, bangsa ini akan hidup," begitu kata-kata terakhir yang diingat para muridnya.

Rahmah El Yunusiyah wafat pada 26 Februari 1969 di Padang Panjang. Kepergiannya membawa duka mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia. Ribuan orang hadir di pemakamannya—dari santri, tokoh ulama, hingga pejabat pemerintahan. Ia dimakamkan dengan sederhana di lingkungan sekolah yang ia bangun sendiri sejak muda. Warisan Rahmah tidak berhenti—Diniyah Putri terus hidup dan melahirkan generasi perempuan yang memimpin di banyak bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Namanya menjadi simbol kekuatan perempuan Minangkabau yang berilmu dan berani. Ia telah membuktikan bahwa jihad di jalan ilmu bisa mengubah wajah bangsa.

Pada 10 November 2025, negara secara resmi menganugerahkan Hajjah Rahmah El Yunusiyah sebagai pahlawan nasional atas jasa besar beliau dalam pendidikan perempuan dan perjuangan bangsa. Penghargaan disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta dan diterima oleh perwakilan keluarga. Penetapan ini menutup satu bab panjang pengusulan yang telah berlangsung sejak era sebelumnya, dan menegaskan bahwa peran perempuan dalam sejarah bangsa diakui secara formal. Dari seorang gadis kecil yang menangis berguling-guling di tikar pandan karena tidak diizinkan belajar, hingga menjadi pahlawan nasional yang mengubah wajah pendidikan perempuan di Indonesia—perjalanan Rahmah El Yunusiyah membuktikan bahwa tekad baja dan visi yang jelas mampu menembus segala batas, bahkan mengubah takdir sebuah bangsa. 

Tonton video selengkapnya:

 

Comments

Popular posts from this blog

NotebookLM: Dari Tumpukan Dokumen Menjadi Infografik Visual dalam Sekejap!

Revolusi Kecerdasan Buatan: Google Hadirkan Fitur AI Paling Canggih Secara Gratis

20 Template Prompt Gambar untuk Buku Aktifitas Anak