[VIDEO] Hikayat Mohammad Hatta - Wakil Presiden Terbaik Sepanjang Masa
Muhammad Hatta dikenal sebagai sosok pendiam, berprinsip teguh, dan bapak bangsa dengan kecerdasan ekonomi yang tajam. Namun, di balik citra resmi, tersimpan kisah-kisah personalnya yang membentuk jiwanya, mulai dari masa kecil di Bukit Tinggi, perjuangan politik, hingga kisah asmara yang romantis. Hatta adalah anak priai Minang yang dibesarkan dalam kesederhanaan dan berkomitmen tinggi pada bangsa hingga menunda kebahagiaan pribadinya demi kemerdekaan. Cerita ini mengajak penonton menyelami sisi kemanusiaan Hatta, termasuk pengaruh pamannya yang mendukung pendidikannya dan kisah sumpah suci Hatta untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka.
Pada usia enam tahun, Hatta menyaksikan penangkapan dan penindasan brutal oleh tentara Belanda terhadap rakyat Kamang, yang membekas kuat di hatinya dan menanamkan tekad untuk membebaskan bangsanya. Lahir di Desa Aurta Jungkang, Bukit Tinggi pada 14 Agustus 1902 dengan nama asli Muhammad Atar, ia kehilangan ayahnya sejak bayi namun tumbuh dalam kasih sayang ibu, kakek, nenek, dan pamannya. Neneknya mengajarkan keteguhan hati, sementara kakeknya mendidiknya prinsip-prinsip bisnis. Kota Bukit Tinggi yang sejuk dan indah menjadi latar belakang masa kecilnya yang sederhana namun penuh makna.
Setelah menjadi Wakil Presiden, Hatta kembali tinggal di Bukit Tinggi selama dua tahun (1947-1949) di Gedung Triarga (sekarang Istana Bunghata). Kehidupannya sederhana, seperti kisah ketika ia ditolak naik bendi karena tidak punya uang, yang ia hadapi dengan sabar dan tanpa marah. Hatta juga dikenal rajin berjalan kaki mengelilingi kota selepas salat subuh, menegur warga yang tidak menjaga kebersihan tanpa marah, sehingga kota menjadi bersih. Jejaknya juga terlihat di makam ayahnya di Batu Hampar, sebuah daerah yang menjadi pusat spiritual keluarga Hatta.
Hatta mendapat pendidikan agama dari ulama terkenal seperti Syekh Muhammad Jamil Jambek dan Haji Abdullah Ahmad, menjadikan dirinya pribadi yang religius sekaligus modern. Saat sekolah di MULO Padang, ia mulai aktif dalam organisasi pemuda seperti Jong Sumatranen Bond dan mengikuti ceramah tokoh nasional, yang membangkitkan kesadaran politiknya. Pengalaman keluarga, seperti penangkapan kerabatnya Rais karena mengkritik pejabat Belanda, memperkuat rasa ketidakadilan kolonial dalam dirinya. Selain itu, Hatta juga aktif di klub sepak bola, dikenal sebagai gelandang tangguh yang mendapat julukan “Onpas Baar” dari Belanda.
Setelah lulus sekolah, Hatta pindah ke Batavia dan bertemu dengan pamannya, Ayub Rasid, seorang saudagar besar yang hidup sederhana namun sangat mendukung Hatta secara finansial dan intelektual. Paman Ayub membiayai kuliah Hatta di Belanda dan memperkenalkannya pada buku-buku sosial dan ekonomi yang menjadi dasar pemikiran Hatta. Meski kemudian paman Ayub mengalami kesulitan dan dipenjara, ia tetap memberi motivasi agar Hatta terus berjuang. Hubungan erat dan cinta Hatta pada pamannya sangat besar, meskipun usaha menjodohkan Hatta dengan putri paman Ayub gagal.
Hatta tiba di Rotterdam pada 1921 dengan modal minim, namun berjuang keras menyelesaikan kuliahnya sambil aktif dalam pergerakan mahasiswa Indonesia. Ia tinggal di asrama murah dan sering bergaul dengan aktivis lain yang kelak menjadi tokoh penting. Organisasi perhimpunan pelajar Indonesia berubah nama menjadi “Indonesia” sebagai langkah politik signifikan. Hatta juga berdebat dengan tokoh berbagai ideologi, termasuk komunis. Ia pernah dipenjara selama 5 bulan karena aktivitas politik, namun dibebaskan. Pada 1932, Hatta kembali ke Indonesia di tengah ketakutan masyarakat yang menganggapnya pemberontak, tetapi pamannya tetap mendukungnya.
Hatta memegang prinsip tidak menikah sebelum Indonesia merdeka, fokus pada perjuangan dan pendidikan. Ia dikenal tidak mudah tergoda oleh perempuan meski pernah dijebak oleh teman-temannya. Ia pernah bertunangan dengan Ani, seorang aktivis perempuan nasionalis, tetapi hubungan itu kandas karena prinsipnya. Setelah kemerdekaan, pada 18 November 1945, Hatta menikah dengan Rahmi, putri Ani, yang merupakan kisah pernikahan romantis penuh makna. Mahar yang diberikan adalah buku karya Hatta sendiri, simbol kecintaan intelektual dan prinsip hidupnya. Mereka hidup bahagia dengan tiga anak perempuan, dan meskipun Hatta pendiam, ia menunjukkan cinta lewat tindakan sederhana dan perhatian.
Hatta diasingkan oleh Belanda sejak 1934 dan terus berkarya meski jauh dari pusat kekuasaan. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Hatta dibebaskan dan bekerja sama secara strategis untuk memajukan kemerdekaan melalui lembaga bentukan Jepang. Ia berperan penting dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ketegangan antara golongan tua dan muda memuncak saat Jepang menyerah, dan Hatta berperan sebagai penyeimbang dalam peristiwa Rengasdengklok. Pada 17 Agustus 1945, Hatta mendampingi Soekarno membacakan teks proklamasi, menandai puncak perjuangan dan terpenuhinya janji pribadinya.
Sebagai wakil presiden pertama, Hatta menghadapi revolusi fisik dan diplomasi. Ia memimpin kabinet dan melakukan perjalanan diplomatik penting, termasuk menyamar sebagai kopilot ke India untuk mendapat dukungan dari Nehru dan Gandhi. Pada 1949, ia memimpin delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar yang berhasil memaksa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Namun, setelah kedaulatan penuh, Hatta mulai kecewa dengan praktik korupsi dan politik yang berkembang. Ia menentang keras ide Soekarno tentang demokrasi terpimpin yang sentralistik, yang akhirnya menyebabkan kerenggangan hubungan keduanya.
Pada 1 Desember 1956, Hatta resmi mengundurkan diri sebagai wakil presiden karena ketidaksepahaman ideologi dengan Soekarno, terutama menolak demokrasi terpimpin. Pengunduran diri ini mengejutkan parlemen dan masyarakat. Perbedaan mendasar berasal dari pengalaman hidup dan intelektualitas yang membentuk Hatta dan Soekarno secara berbeda. Hatta yang lama berjuang di Belanda dengan teman-teman seperjuangan yang setara, berbeda dengan Soekarno yang berjuang sendiri di tanah air. Ketegangan politik terus meningkat hingga Hatta semakin vokal mengkritik Soekarno setelah pensiun.
Hatta mengkritik Soekarno secara terbuka tentang penyalahgunaan kekuasaan dan pengelolaan negara yang buruk. Surat-surat dan tulisan kerasnya sempat dibredel oleh pemerintah Soekarno. Meski begitu, Soekarno tidak pernah secara langsung membantah kritik Hatta dan tetap menjaga hubungan persahabatan. Ketika Soekarno dijebloskan ke tahanan politik oleh rezim Orde Baru, Hatta mengirim surat kepada Soeharto untuk mengkritik perlakuan itu. Momen terakhir pertemuan mereka di RSPAD Gatot Subroto menjadi saksi perpisahan dua sahabat yang telah berjuang bersama sejak awal kemerdekaan, penuh haru dan kenangan.
Pada tahun 1976, Sawito Kartto Wibowo menggegerkan dunia politik dengan wangsit yang diterimanya dari Gunung Muria untuk menuntut Presiden Soeharto menyerahkan kekuasaan kepada Bung Hatta. Dokumen yang berisi tuntutan ini mencantumkan tanda tangan tokoh besar seperti Hatta, Buya Hamka, dan tokoh agama lainnya, meski kemudian mereka mencabut tanda tangan tersebut karena merasa tertipu. Sawito ditangkap dan diadili dengan tuduhan makar dan subversi, menjalani hukuman penjara. Pemerintah Orde Baru berusaha mendelegitimasi gerakan Sawito dengan menyatakan dirinya memanipulasi tanda tangan para tokoh. Namun, keberanian Sawito membuka jalan bagi tokoh-tokoh lain untuk mengkritik Soeharto, termasuk Petisi 50 yang muncul pada 1980 sebagai ungkapan keprihatinan terhadap penyalahgunaan kekuasaan Soeharto.
Petisi 50 dan gerakan kritik berikutnya menunjukkan bahwa meskipun usaha Sawito dianggap kontroversial dan penuh risiko, keberaniannya menjadi inspirasi bagi oposisi terhadap rezim Orde Baru. Sejarawan Merley Kelvin Rickl menyebutkan bahwa gerakan Sawito tidak bisa dipisahkan dari petisi 50 dan membuka ruang bagi kritik terbuka terhadap kekuasaan Soeharto.
Tonton video selengkapnya di bawah ini. Video ini menyajikan narasi lengkap dan mendalam tentang kehidupan Muhammad Hatta, dari masa kecil hingga perjuangan kemerdekaan, hubungan personal dan politik dengan Soekarno, hingga peranannya dalam kritik terhadap rezim Orde Baru lewat kisah Sawito Kartto Wibowo. Semua aspek ini menggambarkan sosok Hatta sebagai figur yang berprinsip teguh, berani, dan penuh integritas dalam sejarah bangsa Indonesia.

Comments
Post a Comment