[VIDEO] Sejarah sebagai Alat Politik dan Pembentukan Identitas Bangsa


Sejarah tidak pernah benar-benar netral dan objektif. Kenyataan ini muncul karena sejarah sering kali ditulis ulang sesuai dengan kepentingan politik penguasa untuk membenarkan kekuasaan mereka. Penulisan sejarah, dengan demikian, bisa menjadi alat legitimasi sekaligus propaganda yang sangat ampuh dalam mempertahankan rezim dan ideologi tertentu. Dalam konteks inilah kita perlu memahami bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu yang netral, tetapi sebuah alat politik yang bisa dipakai untuk membentuk legitimasi dan propaganda. Oleh karena itu, penulisan sejarah harus dilakukan dengan metodologi ilmiah yang ketat dan tanggung jawab moral sebagai intelektual.

Peran Ganda Sejarawan dan Tantangan Objektivitas

Sejarawan memiliki dua peran penting yang harus dijalankan secara seimbang: sebagai ilmuwan dengan metode akademik yang ketat dan sebagai intelektual dengan visi moral. Ketidakseimbangan kedua peran ini menyebabkan banyak tulisan sejarah yang menjadi cerita sepihak (story) bukan histori yang sesungguhnya. Ironisnya, banyak sejarawan berpendidikan tinggi justru gagal menjadi intelektual moral, sehingga mereka hanya memproduksi story untuk kepentingan politik kekuasaan, bukan histori yang objektif dan kritis. Fenomena ini menunjukkan bahwa gelar akademik tinggi tidak otomatis menjamin integritas intelektual dan moral seorang sejarawan.

Kewajiban Menulis Ulang Sejarah Nasional

Menulis ulang sejarah nasional adalah sebuah kewajiban setiap generasi untuk menyesuaikan sejarah dengan tantangan zamannya, namun harus dengan visi antikolonial yang menegaskan penindasan dan eksploitasi masa lalu. Penulisan sejarah nasional harus berlandaskan visi antikolonial yang menegaskan realitas penindasan, eksploitasi, dan pembodohan yang terjadi selama masa kolonialisme, sekaligus menonjolkan perjuangan rakyat kecil sebagai akar nasionalisme sejati. Sayangnya, penulisan ulang sejarah nasional selama ini lebih bersifat tambal sulam dan masih berfokus pada narasi perang ketimbang diplomasi yang sebenarnya menjadi keberhasilan utama kemerdekaan Indonesia.

Penulisan sejarah di masa Orde Baru dipaksakan untuk menonjolkan peran militer secara heroik, menghilangkan narasi perempuan dan ilmu pengetahuan, sehingga sejarah menjadi "history in uniform" yang seragam dan maskulin. Politisasi sejarah oleh rezim Orde Baru menunjukkan bahaya ketika sejarah digunakan untuk memperkuat narasi kekuasaan tertentu, menghilangkan peran kelompok lain, dan menutupi fakta penting demi kepentingan politik.

Lima Pilar Visi Ideologis Sejarah Nasional

Visi ideologis sejarah nasional menurut Sartono Kartodirjo dan rekan adalah sebagai antitesis sejarah kolonial dengan lima pilar utama: kerakyatan, ekologi, pembodohan, pengabdian, dan intelektualisme. Lima nilai dasar ini harus menjadi fondasi penulisan sejarah nasional agar mampu membentuk manusia Indonesia yang kritis, berwawasan lingkungan, dan berkomitmen pada keadilan sosial.

Pilar kerakyatan menegaskan bahwa kolonialisme menyebabkan pemiskinan dan pembodohan rakyat kecil yang berlangsung ratusan tahun, yang harus menjadi fokus sejarah nasional dengan keberpihakan yang kuat kepada rakyat bawah. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa mayoritas tokoh nasional adalah anak-anak priyayi yang melakukan "bunuh diri kelas" dengan meninggalkan kelas sosial mereka demi pengabdian kepada bangsa dan kemerdekaan.

Sejarah sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

Pentingnya menempatkan sejarah sebagai alat pembentukan manusia Indonesia yang berwawasan luas dan kritis dapat kita lihat dengan meneladani pendiri bangsa yang memiliki kedekatan erat dengan buku dan literasi. Semua pendiri bangsa memiliki hubungan erat dengan buku dan literasi, seperti Hatta yang rela dipenjara selama bersama buku, dan Tan Malaka yang mengorbankan kebutuhan makan untuk membeli buku. Hal ini menegaskan pentingnya intelektualisme dalam perjuangan bangsa dan harus menjadi inspirasi bagi generasi masa kini.

Komodifikasi Sejarah oleh Elit Politik

Sayangnya, sejarah saat ini dipakai oleh elit dan partai politik sebagai alat legitimasi dan komoditas politik, namun sering kali tanpa keseriusan untuk menghayati nilai-nilai ideologis yang mendasari sejarah tersebut. Penggunaan sejarah oleh elit dan partai politik saat ini lebih sebagai alat retorika dan komoditas politik daripada sebagai sumber nilai-nilai ideologis yang mendalam, sehingga sejarah kehilangan peran strategisnya dalam membentuk karakter bangsa. Semua partai politik Indonesia mengaitkan diri dengan sejarah tertentu sebagai sumber legitimasi, namun praktik politik mereka sehari-hari sering bertolak belakang dengan nilai-nilai sejarah yang mereka klaim.

Istilah "Daulat Rakyat" yang diperkenalkan oleh Hatta menegaskan pentingnya kekuasaan yang benar-benar berasal dari rakyat bukan hanya dari pikiran tanpa tindakan nyata untuk rakyat. Konsep ini seharusnya menjadi kompas politik, namun dalam praktiknya sering kali hanya menjadi slogan kosong tanpa implementasi nyata.

Perbedaan Antiarian dan Sejarawan Sejati

Perbedaan mendasar antara kolektor artefak (antiarian) seperti Fadli Zon dan sejarawan sejati yang menulis histori dengan metodologi kritis dan visi moral perlu dipahami dengan jelas. Antiarian seperti Fadli Zon hanya mengoleksi artefak sejarah tanpa melakukan historiografi yang kritis dan interpretatif, sehingga berbeda dengan sejarawan sungguhan yang memiliki visi moral. Antiarian hanya mengumpulkan benda, sejarawan menulis dengan analisis dan interpretasi yang mendalam serta memiliki tanggung jawab moral terhadap kebenaran dan pencerahan masyarakat.

Penolakan Sartono Kartodirjo terhadap Politisasi Sejarah

Kasus Sartono Kartodirjo yang keluar dari proyek penulisan sejarah nasional karena menolak politisasi sejarah oleh rezim Orde Baru yang memaksakan narasi heroisme militer dan menggeser fakta sejarah menjadi bukti nyata integritas seorang intelektual. Sartono Kartodirjo keluar dari proyek penulisan sejarah nasional karena menolak politisasi sejarah dan manipulasi narasi oleh rezim Orde Baru yang memperbesar peran militer dan Pak Harto. Sikap tegas ini menunjukkan bahwa metodologi penulisan sejarah yang benar harus mencakup pengumpulan sumber yang valid, kritik sumber untuk memastikan kebenaran, dan interpretasi yang jujur demi pencerahan masa depan bangsa.

Pentingnya Desentralisasi Penulisan Sejarah

Pentingnya desentralisasi penulisan sejarah nasional agar daerah-daerah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Maluku dapat menulis sejarah lokal mereka dalam konteks sejarah nasional dan internasional tidak bisa diabaikan. Desentralisasi penulisan sejarah nasional sangat penting untuk menghasilkan narasi yang lebih kaya, kompleks, dan representatif dari keberagaman wilayah Indonesia serta mengaitkan sejarah lokal dengan sejarah global. Penulisan sejarah nasional yang terdesentralisasi memungkinkan munculnya historiografi dari perspektif lokal yang lebih kaya dan relevan dengan konteks daerah masing-masing.

Dalam konteks ini, toko buku khusus sejarah milik JJ Rizal di Menteng dan Depok menjadi pusat koleksi buku langka dan sumber penting untuk penelitian sejarah yang mendalam. Program-program JJ Rizal, seperti napak tilas korupsi, menunjukkan bagaimana sejarah bisa dijadikan media pembelajaran kritis dengan pendekatan yang mudah dipahami dan menyentil fakta sejarah yang terlupakan.

Sejarah dalam Menghadapi Tantangan Modernitas

Tantangan modernitas dan globalisasi menuntut kita untuk merenungkan arti perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap eksploitasi sumber daya alam, serta menghubungkan sejarah dengan perkembangan digital dan teknologi informasi. Masa kini yang penuh tekanan modernitas dan globalisasi harus dihadapi dengan refleksi mendalam atas sejarah, khususnya dalam kaitannya dengan eksploitasi sumber daya alam dan pembangunan berkelanjutan. Di tengah modernitas yang serba cepat dan eksploitasi sumber daya alam, masyarakat membutuhkan ruang refleksi dan renungan terhadap sejarah agar pembangunan tidak merusak kelestarian lingkungan dan kesejahteraan rakyat.

Sejarah pahlawan seperti Pangeran Nuku yang berjuang di kawasan pulau timur Indonesia harus menjadi inspirasi dalam menghadapi tantangan industrialisasi ekstraktif yang merusak alam dan masyarakat lokal. Pembelajaran dari perjuangan masa lalu ini dapat memberikan panduan bagaimana menghadapi eksploitasi modern dengan tetap mempertahankan kedaulatan dan kelestarian sumber daya alam.

Pendekatan Baru dalam Historiografi

Pendekatan baru dalam historiografi, seperti deep history yang dikembangkan oleh Yuval Noah Harari, mengajak kita melihat sejarah tidak hanya ratusan tahun terakhir tetapi ribuan tahun ke belakang untuk memahami persoalan masa kini dan masa depan. Perspektif jangka panjang ini membantu kita memahami pola-pola peradaban manusia yang berulang dan memberikan wawasan lebih dalam tentang tantangan kontemporer yang kita hadapi.

Sejarah sebagai Inspirasi Masa Depan

Sejarah bukan hanya pembelajaran masa lalu, tetapi juga inspirasi dan panduan untuk menghadapi masa depan agar tidak mengulangi kebodohan dan kerusakan yang sama, serta pentingnya menghidupkan sejarah sebagai bagian dari identitas dan kekuatan bangsa. Sejarah sebagai pembelajaran dan inspirasi masa depan adalah kunci agar bangsa ini tidak terjebak dalam siklus kegagalan yang sama dan mampu membangun masa depan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berbudaya.

Mengabaikan sejarah berarti melakukan pembodohan terhadap diri sendiri; sejarah harus dihidupkan sebagai bagian dari pendidikan dan pembentukan karakter bangsa agar masa depan lebih bijak dan berkeadilan. Hanya dengan memahami sejarah secara mendalam, kritis, dan jujur, bangsa Indonesia dapat membangun masa depan yang lebih baik, menghindari kesalahan masa lalu, dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya: masyarakat yang adil, makmur, dan bermartabat.

Tonton video selengkapnya:

 

Comments

Popular posts from this blog

NotebookLM: Dari Tumpukan Dokumen Menjadi Infografik Visual dalam Sekejap!

Revolusi Kecerdasan Buatan: Google Hadirkan Fitur AI Paling Canggih Secara Gratis

20 Template Prompt Gambar untuk Buku Aktifitas Anak