Spionase Di Zaman Dahulu Kala


Dikutip dari buku: Lembaga Hikmat
Karya: Buya Hamka

Lama sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam diutus membawa syariat Islam, 215 tahun sebelum wafatnya Nabi Isa Al-Masih 'alaihis-salam, hiduplah seorang raja bernama Juzaimah bin Malik Al-Azadi, raja di negeri Hirah; bermusuhan dengan Raja Amer bin Zarb, raja di tepi-tepi Sungai Tigris dan Efrat. Meskipun Raja Juzaimah adalah seorang raja yang rusak sebelah matanya, namun kemasyhuran dan kegagahannya cukup untuk menggentarkan musuhnya.

Pada masa itu sudah ada juga perebutan pengaruh dan perluasan jajahan. Oleh sebab itu, dalam satu peperangan hebat antara Raja Juzaimah dan Raja Amer, Raja Amer bin Zarb terbunuh, jatuh di tangan Raja Juzaimah yang masyhur itu.

Ketika baginda akan menutup mata, ia meninggalkan wasiat kepada pemegang kerajaan, yaitu putrinya sendiri, seorang putri rupawan yang masih muda, berumur belum cukup 20 tahun, bernama Zainab bergelar Zabaä. Kecantikannya sudah cukup menjadi kekayaannya, padahal ia memang kaya. Keperawanannya tidak sebanding dengan maharnya, berapa pun hendak dibayar, karena berapa pun tinggi mahar yang akan dibayar kepadanya, belum akan menambah jumlah hartanya. Selain kecantikan rupa putri itu, ia juga memiliki perangai yang harus ada pada tiap-tiap perempuan: pemalu, hormat, teguh hati, dan kuat cita, suaranya merdu membuat orang tunduk, hingga seandainya dengan suara demikian ia hendak menyuruh seorang pahlawan ke medan perang, suara itu sudah cukup baginya menjadi bekal untuk menghadapi maut dengan gembira.

Memang, Raja Amer meninggalkan wasiat; tidak dipilihnya laki-laki, karena pada masa itu perempuan pun banyak pula faedahnya memegang kendali kerajaan. Senyumannya saja sudah cukup untuk membatalkan rencana musuh.

Setelah putri itu duduk di atas singgasana, dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, semakin nyata besar pengaruhnya dalam negeri yang diperintahnya. Bukan seperti raja perempuan lain di zamannya yang mengambil kesempatan melepaskan nafsu muda dalam memegang kerajaan. Bahkan dalam urusan yang sukar itu, sengaja tidak dipikirkannya untuk bersuami, karena ia tahu bersuami kelak akan menghalangi segala cita-citanya untuk memperbaiki negeri yang ditinggalkan ayahnya dalam keadaan morat-marit. Selama pemerintahannya, perdagangan maju, pertanian subur, hubungan dengan negeri-negeri tetangga amat baik.

Dalam pada itu, para pemuda yang sehat disuruhnya menjadi bala tentara, mempertahankan negeri; kalau-kalau datang musuh pada suatu ketika yang tidak disangka. Setelah bala tentaranya kuat, mulailah Ratu itu menaklukkan negeri yang melawan atau raja yang banyak tingkah, atau kerajaan yang mencoba menghinakan utusannya.

Meskipun demikian kemajuan negerinya, dan namanya telah tersebar sebagai seorang ratu yang cinta damai dan peperangannya semata-mata memberi pelajaran, namun ia masih menyimpan rahasia batin, rahasia wasiat ayahnya ketika baginda akan menghembuskan napas terakhir. Yaitu, bilamana kerajaan telah kuat, ia harus berusaha menuntut balas kepada Raja Juzaimah yang membunuh ayahandanya itu. Akan tetapi, bagaimana caranya, kerajaan musuh itu lebih besar, tentaranya lebih kuat, alat perangnya lebih lengkap.

Kemudian Zabaä, ratu yang bijaksana itu, mendapat akal, yaitu akal yang juga pernah didapat oleh Cleopatra (Ratu Mesir) dalam menghadapi kekuasaan Julius Caesar dan Antonius; maka dipasangnya satu jebakan yang paling kuat di zaman dahulu, lebih berbahaya di abad XX ini daripada meriam Jerman yang 42 cm itu. Itulah jebakan cinta, yang pada zaman ini, seorang raja dari lautan dan daratan, telah jatuh dari singgasananya lantaran terjebak ke dalam jaring cinta itu.

Pada suatu hari dikirimnya surat kepada Baginda Juzaimah, musuh besarnya itu. Dimohonnya supaya baginda sudi menjadi junjungannya, agar singgasana kerajaan Hirah dipersatukan saja dengan singgasana kerajaan Syam. Permusuhan yang telah bertahun-tahun di antara keduanya supaya diakhiri, didamaikan dengan perkawinan.

Meskipun pada zamannya, Raja Juzaimah masyhur sebagai seorang raja yang kuat lagi berkuasa, namun sekuat-kuat raja, lemah juga tulangnya di hadapan seorang putri cantik yang menawarkan diri, apalagi putri itu seorang ratu pula. Di sinilah takluknya diplomasi kerajaan; oleh senyuman manis perempuan. Kadang orang yang kena tawan itu sadar juga bahwa ia akan tertipu. Tetapi demikianlah cinta, cinta menekan pertimbangan, cinta memandang ringan bahaya, cinta memandang murah mati.

Begitu surat ratu itu sampai ke tangan baginda, baginda bermusyawarah dengan segenap wazir dan orang-orang besar kerajaan. Wazir-wazir mengangguk menerima saja; segala titah patik junjung; apa yang baik kata paduka, adalah wahyu dari langit, yang tak dapat dibantah. Hanya seorang di antara orang besar itu yang mengaji di balik yang tersurat tentu ada yang tersirat; bahwa lahirnya surat itu surat suka cita, tetapi di baliknya terkandung bisa ular. Orang besar itu ialah Qushair bin Sa'id Al-Lachmy. Tetapi pertimbangannya sudah tidak diterima baginda lagi; perasaan cinta sudah terlebih dahulu masuk ke dalam hati, sehingga putuslah mufakat, bahwa baginda akan berangkat ke negeri ratu.

"Lebih baik Duli Tuanku memanggil Ratu Zabaä kemari, jangan Tuanku pergi ke negerinya," kata Qushair. "Karena kalau memang benar dia suka menjadi permaisuri paduka, tentu segera dia datang kemari. Dan paduka sendiri jangan berangkat ke sana, jangan sampai paduka jatuh ke dalam jebakannya; ingatlah bahwa darah ayahnya yang tertumpah adalah dendam di antara paduka Tuanku dengan dia!"

Buah pikiran itu tidak diindahkan baginda, apalagi setelah 'Adij ('Amer bin 'Adij) menguatkan pendapat raja; lebih baik datang ke negeri Ratu Zabaä. Qushair hanya mengeluh: "Ah, rupanya pendapat si Qushair tidak akan diindahkan orang juga".

Raja Juzaimah pun berangkatlah ke negeri Ratu Zabaä. Sementara dalam keberangkatannya itu, kendali pemerintahan diserahkan kepada 'Amer bin 'Adij, kemenakannya (anak saudara perempuannya). Dalam perjalanannya itu tidak juga lupa Raja Juzaimah membawa orang besar dan ahli pikir, dan Qushair tidak ketinggalan. Begitu sampai ke negeri Ratu Zabaä, kedatangannya disambut dengan segala upacara kehormatan; dari jauh telah kelihatan segala pegawai yang gagah dan pantas, mengelu-elukan baginda dengan membawa beraneka ragam bingkisan dan hadiah. Maka menolehlah baginda kepada Qushair yang berkendaraan di dekatnya. "Bagaimana pendapatmu dalam hal ini, hai Qushair?", tanya baginda. "Saya tidak ragu lagi, bahwa bala tentaranya akan datang menjemput paduka ke mari. Nanti setelah Tuanku disambutnya dan bala tentara itu berjalan kembali ke dalam kota dan berbaris di hadapan kita, sebagai menunjukkan jalan, tidaklah akan kita takuti bahaya apa pun. Tetapi kalau setelah menjemput itu mereka berjalan di belakang barisan kita, dan ada pula yang mendekat ke kiri dan ke kanan kita, hendaklah lekas melompat ke punggung kuda Tuanku yang bernama 'Ashaa itu, sebelum mereka sempat mengelilingi kita".

Tetapi malang, sebelum habis perkataan Qushair, bala tentara itu telah datang mengelilingi baginda, sehingga baginda tidak sempat lagi melompat ke punggung kuda 'Ashaa, melainkan Qushair yang telah dapat melompat dengan sigapnya. Sebaik kedudukannya tegap di atas pelana, ia halau kuda itu sekencang-kencangnya menuju negeri Hirah.

Raja Juzaimah menoleh ke arah Qushair, - Qushair telah jauh dan Juzaimah telah yakin bahwa ia kini telah dilingkupi bahaya. Sambil mengeluh ia berkata: "Memang tidak salah pendapat orang yang telah lari dengan kuda 'Ashaa itu".

Qushair senantiasa memacu 'Ashaa-nya sehingga sampai ke negeri Hirah, setelah beberapa hari mengarungi lautan pasir. Sebelum Qushair datang, 'Amer bin 'Adij telah lama sekali menunggu-nunggu kabar bagaimana keadaan pamannya (saudara ibunya), yang telah berjalan selama itu. Dengan tiada disangka-sangka, kuda 'Ashaa dan penunggangnya telah berdiri di hadapannya. "Kabar baik agaknya yang dibawa oleh 'Ashaa", katanya kepada Qushair. Maka disampaikan oleh Qushair segala hal yang telah terjadi, sehingga setelah didengar orang, dan orang telah putus asa atas kepulangan Raja Juzaimah, diangkatlah 'Amer bin 'Adij menjadi raja sebagai penggantinya.

Adapun Raja Juzaimah, setelah ia masuk ke dalam istana Ratu Zabaä, dengan senyum simpul ia diterima oleh ratu itu, budak perempuan datang mengelilinginya dengan muka manis pula. Baginda disuruh duduk di atas hamparan natha' (hamparan dari kulit tempat duduk orang yang akan dihukum pancung). Dengan sangat sigap, tetapi dengan laku hormat juga, kedua belah tangan baginda dipegang orang dengan lunak lembut dan nadinya dipotong dengan pisau yang sangat tajam. Kemudian darah yang mengalir dari lukanya ditampung dengan tempayan dari emas. Setelah tempayan itu penuh, kekuatan baginda pun habislah dan tangannya terkulai ke tanah. Beberapa tetes darah jatuh ke hamparan. "Hai dayang!", ujar Ratu Zabaä. "Jangan biarkan darah raja tertumpah ke tanah". Raja Juzaimah menjawab: "Tak usah dihiraukan darah yang telah dialirkan oleh yang empunya sendiri". Setelah berkata itu baginda pun wafatlah. Darahnya dikumpulkan oleh Ratu Zabaä dalam bejana besar. Adapun pengiring baginda yang tertangkap itu semuanya dibunuh, tidak ada yang lepas.

Beberapa hari kemudian, Ratu Zabaä memanggil seorang ahli nujum perempuan, menanyakan bagaimana penglihatannya tentang kematian dirinya, bilakah dan siapakah yang akan membunuhnya. Setelah termenung beberapa saat lamanya, tukang nujum itu menengadahkan kepalanya dan berkata: "Kematian ratu ialah disebabkan oleh 'Amer bin 'Adij, tetapi bukanlah dengan tangannya, hanya dengan tangan ratu sendiri". Sejak hari itu senantiasalah ratu yang cantik itu menjaga dirinya jangan sampai diserang oleh 'Amer.

Sejak hari itu pula, disuruhnya seorang ahli gambar menyamar diri pergi ke istana 'Adij, disuruhnya menggambarkan sikap 'Amer, bagaimana lakunya ketika duduk, bagaimana rupanya ketika berdiri, ketika makan dan minum, ketika berjalan dan berpakaian, sehingga kelak jika bertemu walau di mana, lekas diketahuinya. Ahli gambar yang mahir itu pun berangkatlah ke negeri Hirah. Dengan cerdik dan pandainya, dapatlah ia masuk ke istana raja Hirah, bergaul dengan pengawal 'Amer, dan dapat dilukiskannya bagaimana rupa 'Amer, dalam segala perangai dan kebiasaannya. Gambar itu bila telah selesai, segera dikirimkannya kepada Ratu Zabaä. Semuanya itu dikerjakan oleh tukang gambar itu dengan terang dan seizin baginda, sebab ia dipercaya dan disukai oleh baginda. Setelah dilihat oleh Zabaä rupa musuhnya, bukan main besar hatinya. Dalam masa yang demikian, ratu memerintahkan membuat lubang di dalam tanah, menembus dari istana ke satu tempat yang jauh, untuk dapat bersembunyi dan melarikan diri jika musuh menyerang negerinya.

Adapun Qushair, setelah ia sampai di Hirah, segala daya upaya telah dipergunakan untuk membalaskan dendam kesumat atas Ratu Zabaä. Pada suatu hari dengan tiba-tiba ia menghadap 'Amer dan berkata: "Menurut pendapatku lebih baik sekarang Tuanku bersedia, membalaskan dendam kepada orang yang telah menumpahkan darah saudara ibu Tuanku!" "Bagaimana caraku, padahal Zabaä mempunyai pertahanan yang sangat teguh?" "Ada akal", jawab Qushair. "Bagaimana?" tanya 'Amer. "Potong hidungku dan cacatkan telingaku, setelah itu saya sajalah yang akan mencari akal membunuhnya!" jawab Qushair. "Saya tidak sanggup berbuat itu", kata 'Amer, "dan engkau pun tidak kuasa membunuh Zabaä". "Kalau Tuanku tidak mau, saya sendirilah yang melakukannya", kata Qushair. "Tuanku tidak usah gusar!" "Engkau lebih mengerti atas perbuatanmu!", jawab 'Amer.

Dengan tangan yang tetap, Qushair memotong hidungnya dan mencacat telinganya. Kemudian ia lari keluar istana seakan-akan orang yang kena marah, lajunya ia terus lari keluar dari negeri Hirah, menuju negeri Ratu Zabaä, sebagai seorang yang melindungkan diri dari ancaman raja.

Setelah Qushair dibawa orang masuk menghadap, ratu tercengang melihatnya, karena hidungnya telah cacat dan telinganya telah terpotong. Ratu berkata: "Apakah sebab si Qushair memotong hidungnya?" Qushair menjawab: "'Amer menuduh bahwa perjalanan Juzaimah ke mari tempo hari adalah atas nasihatku, dan kematiannya itu adalah atas tipu dayaku, lantaran hendak menolong Tuan Puteri. Ia murka, sampai diri saya dibeginikan. Padahal demi Tuhan yang menjadikan Ka'bah, saya adalah orang yang paling setia kepada Juzaimah. Dalam hal itu saya tak suka menipu, saya orang lurus. Saya lari ke mari melindungkan diri, karena saya tahu bahwa Paduka Tuan Puteri tidak akan membiarkan hamba melarat di sini!" Mendengar itu jatuh kasihanlah Zabaä kepadanya. Ia dibiarkan tinggal di dalam kerajaan baginda, dihormati dan diberi pesalinan yang cukup. Hatta, bila Qushair telah tahu bahwa Tuan Puteri telah percaya kepadanya, pada suatu hari berkatalah Qushair: "Wahai Tuan Puteri, harta benda hamba terlalu banyak tinggal di Hirah, izinkanlah hamba pergi ke sana, hamba jemput dan akan hamba bawa ke mari. Kalau harta itu sudah ada di sini, dia akan membawa keuntungan yang bukan sedikit bagi Paduka Tuan Puteri".

Mendengar permohonan itu, maka diizinkanlah oleh baginda ratu ia berangkat ke negeri Hirah dan diberi perbekalan yang lengkap. Ia pun berangkatlah sehingga tidak lama kemudian sampailah ia ke tempat yang dituju. Segera ia pergi menghadap 'Amer menyampaikan segala kabar rahasia yang dibawanya. Dengan ringan 'Amer mengeluarkan dari perbendaharaan negeri barang yang mahal harganya yang dapat kiranya menyenangkan hati Zabaä jika melihatnya. Barang itulah yang dibawa kembali ke sana oleh Qushair. Karena ia kembali dengan selamat, Zabaä bertambah percaya kepadanya; ia diberi pula nikmat persalinan lebih berganda dari yang dahulu.

Sampai suatu hari, tatkala Qushair duduk menghadap di dalam majelis ratu, berkatalah Qushair: "Tuan Puteri, menurut pengetahuan hamba, telah menjadi adat bagi raja dan ratu, membuat persiapan untuk bersembunyi, bilamana musuh datang menyerang tiba. Mereka membuat lubang dalam tanah, untuk mengungsi bila ada bahaya; bukankah pantas Tuan Puteri membuat pula yang demikian?" "Itu sudah lama kami buat", jawab Zabaä. Setelah itu ratu menerangkan rahasia dan maksud membuat lubang dalam tanah itu. Mendengar itu Qushair memuji-mujinya sebagai seorang ratu perempuan yang tahu akan bahaya yang mengancam, serta mempunyai pikiran yang sangat luas dan dalam.

Setelah itu pada suatu ketika Qushair kembali pula ke Hirah menyampaikan kabar itu kepada 'Amer bin 'Adij; tidak ada yang ketinggalan dikabarkannya. Pada penutupnya ia berkata: "Marilah kita kumpulkan segala bala tentara yang sigap dan kuat, lengkap dengan segala alat senjatanya sekali. Semuanya kita masukkan ke dalam karung, dipikulkan di punggung unta, satu ekor unta membawa dua karung yang berisi tentara, kita tujukan ke negeri Zabaä. Kalau telah sampai di sana, akan hamba tunjukkan kepada Tuanku di mana lubang persembunyian itu. Kita jaga lubang itu, sehingga kelak bila Ratu Zabaä hendak masuk ke dalam untuk lari, tentu Tuanku akan dapat menangkapnya. Dan sementara itu, kelak serdadu kita akan keluar dari karungnya membunuh penjaga istana". Demikianlah nasihat Qushair.

Nasihat itu dilakukan oleh 'Amer bin 'Adij, sehingga tidak lama kemudian, sampailah unta yang membawa karung itu ke negeri Ratu Zabaä. Yang terlebih dahulu masuk ke dalam istana ialah Qushair; ia menghadap: "Dipersilakan Tuan Puteri naik ke atas kentjana istana dan lihatlah, hamba telah membawakan harta benda yang banyak untuk Tuan Puteri, binatang ternak dan emas perak semuanya telah memenuhi Sahara luas". Setelah Tuan Puteri melihat unta yang banyak itu, berat dengan karung yang disangkanya berisikan emas dan perak, maka Tuan Puteri berpantun, dan dalam pantun itu telah terlontar suara jiwanya, (artinya dalam bahasa Indonesia):
"Mengapa unta lambat berjalan,
Memikul emas ataukah besi,
Berat agaknya jenis pikulan,
Entah manusia yang jadi isi".

Tatkala unta itu masuk dan sampai di muka istana, dirundukkan dan dibongkar oranglah muatannya. Maka berserabutanlah tentara yang banyak dari dalam karung, siapa yang ditemui langsung dibinasakannya. Qushair sendiri membimbing tangan 'Amer ke muka pintu lubang di dalam tanah itu, menunggu bila Ratu Zabaä hendak melarikan diri dari sana. Hatta bila didengar oleh Ratu Zabaä suara ribut dan hiruk-pikuk karena perkelahian yang terjadi di luar, tahulah ia bahaya yang mengancam dirinya. Karena itu segeralah ia berlari ke pintu lubang itu hendak lari keluar. Tiba-tiba didapatinya di sana 'Amer telah berdiri menunggunya dengan pedang terhunus dan segera ia dapat mengenal 'Amer dari gambar yang ada padanya. Sekarang mengertilah ia akan jebakan yang telah diatur orang untuk membinasakannya. Dengan serta-merta dihirupnya cincin pakaiannya, cincin yang mengandung racun, yang tidak pernah tinggal dari jarinya, sambil berkata: "Karena tanganku, bukan karena tangan 'Amer". Setelah itu ia pun jatuh tersungkur ke tanah, dan mati seketika itu juga.

Sejak itu jatuhlah kerajaannya menjadi taklukan negeri Hirah di bawah perintah Raja 'Amer bin 'Adij.

Segala ucapan yang penting dalam hikayat ini, kemudian telah menjadi pepatah bangsa Arab:
"Pendapat si Qushair (si Pendek) tidak akan diindahkan orang juga".
Pepatah ini dikeluarkan terhadap orang hina-dina, yang pendapatnya tidak diterima orang besar, karena hina-dinanya, ia tidak terpandang padahal kemudian ternyata benarnya.
"Jangan biarkan darah raja tertumpah ke tanah", sebagai olok-olok bila musuh telah jatuh.
"Jangan dirisaukan darah yang mengalir dialirkan oleh yang empunya", sebagai pepatah bagi seorang yang rela melarat lantaran perbuatan kecintaannya.
"Apakah sebab si Qushair memotong hidungnya?", sebagai pepatah Melayu: "Kalau tidak ada berada, tidak tempua bersarang rendah".

Comments

Popular posts from this blog

NotebookLM: Dari Tumpukan Dokumen Menjadi Infografik Visual dalam Sekejap!

Revolusi Kecerdasan Buatan: Google Hadirkan Fitur AI Paling Canggih Secara Gratis

20 Template Prompt Gambar untuk Buku Aktifitas Anak