Konfrontasi atau Rekonsiliasi: Pilihan yang Tidak Bisa Dihindari Ummat Islam

Perang Iran telah kembali menyulut bara lama. Di ruang-ruang digital, di mimbar-mimbar masjid, dan di forum-forum keagamaan, perdebatan Sunni-Syiah kembali menghangat dengan intensitas yang sudah lama tidak kita rasakan. Narasi-narasi lama diputar ulang, tuduhan-tuduhan lama dilontarkan kembali, dan luka-luka yang belum sempat mengering pun kembali menganga.

Di tengah situasi ini, ummat Islam dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar yang tidak bisa dihindari: konfrontasi atau rekonsiliasi?

Anatomi Perseteruan yang Sedang Berlangsung

Setidaknya ada dua kubu yang saling berhadapan dalam narasi kontemporer ini.

Kubu konfrontasi — yang ada di kedua pihak, baik Sunni maupun Syiah — memilih jalur pemanasan konflik. Di sisi Sunni, isu-isu diangkat ulang: Syiah bukan Islam, Syiah sesat, Syiah buatan Yahudi, al-Quran Syiah berbeda, nikah mut'ah, pengkafiran sahabat. Di sisi Syiah, ceramah-ceramah tentang keagungan ahlulbait, keutamaan Ali dan Husein, serta pembelaan terhadap Iran digaungkan kembali.

Kubu rekonsiliasi merespons dengan argumen moderasi: Syiah adalah Islam, perbedaan adalah ijtihad, dan musuh sesungguhnya adalah mereka yang mengadu domba. Mereka bahkan mengingatkan bahwa Imam Ali Khamenei sendiri — pemimpin tertinggi Iran — pernah secara eksplisit melarang kaum Syiah mencaci istri Nabi dan sahabat Nabi, dan memperingatkan tentang propaganda permusuhan yang dimainkan oleh musuh-musuh Islam.

Yang menarik adalah bahwa setiap kubu mengklaim kebenaran di pihaknya. Dan yang lebih penting: tidak semua tuduhan yang dilontarkan kubu konfrontasi sepenuhnya salah, dan tidak semua argumen kubu rekonsiliasi sepenuhnya benar. Inilah yang membuat perdebatan ini rumit — dan inilah mengapa pertanyaan "konfrontasi atau rekonsiliasi?" tidak bisa dijawab dengan sembrono.

Menimbang Isu-Isu Konfrontasi Secara Jujur

Sebelum menjawab, kita perlu bersikap jujur tentang substansi perdebatan ini.

Beberapa tuduhan yang sering diangkat kubu konfrontasi memang memiliki dasar faktual yang valid: ada kalangan Syiah yang secara historis dan teologis mencaci sahabat Nabi, ada perbedaan nyata dalam praktik nikah mut'ah, ada perbedaan dalam tradisi hadits. Ini adalah fakta yang tidak perlu disembunyikan.

Namun, sebagian besar tuduhan lainnya mengandung tiga jenis masalah epistemik yang serius:

Pertama, generalisasi yang tidak adil — menisbahkan praktik sebagian kelompok Syiah kepada seluruh ummat Syiah. Bahwa ada kalangan Syiah yang mencaci sahabat bukan berarti semua Syiah melakukan itu. Bahwa ada kelompok fringe yang memiliki al-Quran berbeda bukan berarti seluruh tradisi Syiah meyakini hal itu.

Kedua, pembesar-besaran yang tidak proporsional — mengangkat isu pinggiran seolah ia adalah isu sentral dan definitif dari seluruh tradisi Syiah.

Ketiga, klaim yang terbukti lemah secara historis — narasi "Syiah buatan Yahudi" misalnya, adalah narasi yang secara historiografi tidak memiliki pijakan yang kuat. Mempromosikannya sebagai fakta adalah bentuk disinformasi, bukan pembelaan akidah.

Kejujuran intelektual menuntut kita untuk membedakan antara kritik teologis yang legitimate dan propaganda yang dibesar-besarkan.

Titik Temu yang Terlalu Sering Diabaikan

Di atas semua perbedaan itu, ada fondasi bersama yang sangat kokoh dan terlalu sering diabaikan oleh kedua kubu konfrontasi:

Sunni dan Syiah sama-sama berTuhan Allah — satu Tuhan, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Sunni dan Syiah sama-sama ber-Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam — Nabi terakhir, Nabi semua manusia.

Sunni dan Syiah sama-sama berkitab al-Quran — wahyu yang sama, lafal yang sama dalam mushaf yang dipegang miliaran Muslim di seluruh dunia.

Sunni dan Syiah sama-sama berkiblat Ka'bah — shalat menghadap arah yang sama.

Sunni dan Syiah sama-sama mencintai Ali bin Abi Thalib — menantu Nabi, salah satu dari empat khalifah yang dihormati Sunni sekaligus imam pertama yang dimuliakan Syiah.

Sunni dan Syiah sama-sama mencintai Husein bin Ali — cucu Nabi yang syahid di Karbala, yang kemartiran dan keberaniannya dihormati lintas mazhab.

Dan yang paling kuat: para sahabat, ahlulbait, dan empat khalifah — Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali — pernah hidup bersama, bersatu, dan saling mencintai sebagai satu ummat. Mereka tidak saling mengkafirkan. Mereka membangun peradaban bersama. Jika mereka bisa, apa alasan kita yang hidup empat belas abad kemudian untuk tidak bisa melakukan hal yang sama?

Pertanyaan yang Harus Kita Jawab dengan Jujur

Ada satu pertanyaan yang perlu dijawab secara jujur oleh mereka yang memilih kubu konfrontasi: apa yang ingin dicapai?

Jika tujuannya adalah "membentengi akidah" — maka pertanyaan baliknya adalah: apakah dengan terus menggembar-gemborkan isu ini, akidah benar-benar terbenteng? Atau justru energi ummat terkuras dalam polemik internal yang tidak produktif, sementara tantangan nyata dari luar — kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dominasi kekuatan asing atas negeri-negeri Muslim — terus menggerogoti ummat tanpa ada yang peduli?

Jika tujuannya adalah "menegakkan kebenaran" — maka pertanyaan baliknya adalah: dengan cara apa? Dengan membahas kesalahan historis yang sudah terjadi empat belas abad lalu, yang pelaku dan saksinya sudah lama tiada, yang tidak bisa kita ubah lagi — sementara ummat yang hidup hari ini sedang membutuhkan bimbingan nyata untuk menghadapi tantangan hari ini?

Ada yang berdalih bahwa ini bukan tentang mendukung Amerika atau Israel melawan Iran. Baik, mari kita percaya itu. Tapi pertanyaannya tetap: siapa yang paling diuntungkan ketika ummat Islam sibuk saling mengkafirkan dan mencaci? Kita tidak perlu menjadi ahli geopolitik untuk menjawab pertanyaan sederhana ini.

Rekonsiliasi: Bukan Berarti Tanpa Prinsip

Memilih rekonsiliasi bukan berarti menghapus semua perbedaan teologis. Perbedaan itu nyata, dan tidak perlu dipura-pura tidak ada.

Rekonsiliasi berarti: berhenti menjadikan perbedaan teologis sebagai senjata sosial dan politik. Berhenti mengangkat-angkat isu konflik ijtihadi di antara para sahabat — konflik yang mereka sendiri sudah selesaikan dengan cara mereka, dengan konsekuensi yang mereka tanggung sendiri — sebagai bahan bakar permusuhan antara ummat yang hidup hari ini.

Rekonsiliasi berarti: masing-masing pihak menjaga diri dari tindakan yang menyakiti pihak lain secara tidak perlu. Syiah menahan diri dari mencaci sahabat dan istri Nabi di ruang publik. Sunni menahan diri dari mengkafirkan dan menuduh kesesatan secara serampangan. Bukan karena takut, bukan karena tidak berani, tapi karena itu adalah pilihan orang dewasa yang mengerti maqashid syariah — tujuan-tujuan syariat Islam yang lebih besar.

Rekonsiliasi berarti: memprioritaskan apa yang mempersatukan di atas apa yang memisahkan, bukan karena perbedaan tidak penting, tapi karena ancaman bersama jauh lebih nyata dan mendesak dari perbedaan internal yang sudah berusia empat belas abad.

Panggilan Sejarah yang Tidak Bisa Diabaikan

Kita hidup di penghujung zaman yang penuh dengan kezaliman. Ummat Islam di berbagai penjuru dunia sedang menghadapi tekanan yang nyata — di Gaza, di Kashmir, di Uyghur, di berbagai wilayah yang namanya mungkin tidak sempat disebutkan dalam berita utama.

Dalam konteks ini, impian tentang persatuan Islam bukan sekadar romantisme. Ini adalah kebutuhan sejarah. Dan persatuan itu tidak mungkin dibangun di atas fondasi saling mengkafirkan dan saling mencaci.

Ummat Islam pernah memimpin peradaban dunia selama berabad-abad. Itu tidak terjadi karena ummat Islam homogen secara teologis — mereka tidak pernah homogen. Itu terjadi karena mereka mampu mengelola perbedaan internal dengan kedewasaan, dan menghadapi tantangan eksternal dengan persatuan.

Sekarang, pilihan ada di tangan kita: apakah kita akan mewarisi kearifan itu, atau kita akan terus sibuk menggali parit-parit perpecahan yang sudah cukup dalam?

Pilihan yang Akan Dipertanggungjawabkan

Konfrontasi atau rekonsiliasi? Ini bukan sekadar pilihan strategis atau politis. Ini adalah pilihan moral yang akan dipertanggungjawabkan.

Kepada mereka yang memilih konfrontasi: tanyakan kepada diri sendiri — apakah Allah akan ridha dengan setiap kata yang Anda ucapkan tentang saudara seiman Anda? Apakah Nabi Muhammad ﷺ akan bangga melihat ummatnya saling melempar tuduhan kesesatan dan kemusyrikan? Apakah para sahabat dan ahlulbait yang kita muliakan bersama — yang pernah hidup berdampingan dengan segala perbedaannya — akan menyetujui cara ini?

Kepada mereka yang memilih rekonsiliasi: ini bukan jalan yang mudah. Ini adalah jalan yang menuntut keberanian yang berbeda — bukan keberanian untuk menyerang, tapi keberanian untuk menahan diri; bukan keberanian untuk memenangkan argumen, tapi keberanian untuk memilih perdamaian yang lebih bernilai dari kemenangan debat.

Dan kepada seluruh ummat Islam: Allah, Rasul-Nya, dan seluruh ummat Islam adalah saksi atas pilihan yang kita buat hari ini.

Maka pilihlah dengan bijak. Pilihlah dengan hati yang lapang. Pilihlah dengan mengingat bahwa di hari pertanggungjawaban kelak, tidak ada yang bisa berdalih bahwa ia tidak tahu mana yang lebih baik.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
[QS Ali Imran 3:103]

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
[QS at-Taubah 9:105]

Wallahu a'lam bish-shawab.

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Panduan Lengkap Membangun Channel YouTube "Talking-Head" dari Nol hingga Menghasilkan Uang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi