Posts

Showing posts with the label Akhlaq

Tanya Jawab Seputar Tasawuf, Tarekat, dan Makrifat Bersama Syekh K.H. Rahimuddin Nawawi Al-Bantani

Image
Disusun dari kajian bersama Ustaz Abdul Somad di Pekanbaru, dengan sesi tanya jawab. Ada tiga pertanyaan besar yang dibahas, ditambah beberapa pertanyaan dari jemaah. Apakah tasawuf berasal dari luar Islam? Bagaimana membedakan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat? Apakah setiap Muslim wajib bertarekat? Pertanyaan lanjutan menyangkut makrifat, pemimpin yang berguru kepada para mursyid tetapi tidak amanah, dan hakikat perjalanan menuju Allah. 1. Asal Usul Tasawuf: Lahir dari Wahyu, Bukan dari Luar Islam Sebagian orang menuduh tasawuf sebagai ajaran luar yang menyusup ke dalam Islam. Syekh menolak tuduhan itu. Menurut beliau, tasawuf bersumber dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tasawuf tumbuh di tengah umat Islam, khususnya di tengah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena itu, tidak ada tasawuf di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah. Beliau menjelaskan bahwa sejak abad-abad awal umat Islam telah memiliki tiga pokok agama yang tetap ( ats-tsawabit ad-diniyyah ). Ketiganya ialah fikih, aki...

Syarah Atsar al-Hasan al-Bashri tentang Keselarasan Perkataan, Perbuatan, dan Rahasia Batin

Image
Teks Atsar dan Terjemahannya قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: «يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّ لَكَ قَوْلًا وَعَمَلًا وَسِرًّا وَعَلَانِيَةً، وَعَمَلُكَ أَوْلَى بِكَ مِنْ قَوْلِكَ، وَسِرُّكَ أَوْلَى بِكَ مِنْ عَلَانِيَتِكَ». Hasan al-Bashri berkata:  “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau memiliki perkataan, perbuatan, rahasia batin, dan keadaan yang tampak. Perbuatanmu lebih patut diperhatikan daripada perkataanmu, dan rahasia batinmu lebih patut diperhatikan daripada keadaan lahiriahmu.” Atsar ini memuat nasihat yang ringkas, tetapi cakupan maknanya sangat luas. Ia menjelaskan empat dimensi kehidupan manusia: perkataan, perbuatan, keadaan batin yang tersembunyi, dan keadaan lahiriah yang dapat disaksikan orang lain. Keempatnya membentuk gambaran tentang siapa seseorang sebenarnya, bagaimana ia menjalani kehidupannya, dan sejauh mana kesesuaian antara apa yang diucapkan, apa yang dikerjakan, apa yang disembunyikan dalam hati, dan apa yang diperlihatkannya kepada manusia. Pesan utamanya adalah ...

Kekhusyukan Hati dan Pembinaan Kalbu: Jalan Menuju Zikir yang Hidup

Image
Pendahuluan: Ketika Hati Belum Hadir Dalam Al-Qur'an, Allah mengajukan sebuah pertanyaan yang menggugah kesadaran orang-orang beriman: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diturunkan?” (QS Al-Hadid [57]: 16). Pertanyaan ini bukan sekadar teguran, melainkan juga undangan untuk memeriksa keadaan batin kita sendiri. Sudahkah zikir melembutkan hati? Sudahkah ibadah menumbuhkan ketaatan? Sudahkah pengetahuan agama membuat kita lebih jujur, rendah hati, dan adil terhadap sesama? Kita tentu tidak boleh meremehkan ibadah lahiriah. Salat, puasa, haji, sedekah, pembangunan masjid, dan kepedulian terhadap fakir miskin merupakan bagian penting dari penghambaan kepada...