Arogansi Epistemik: Antara Filsafat, Sains, dan Agama
“Arogansi epistemik dimulai ketika satu cara mengetahui merasa telah mengetahui segalanya.” Narasi bahwa sejarah sains dan agama bergerak dari “bestie” menjadi “musuh bebuyutan” memang enak dibaca. Masalahnya, sejarah yang rumit sering dipaksa masuk ke skenario sinetron epistemologi. Konflik Galileo, perdebatan evolusi, munculnya positivisme, dan proses sekularisasi memang merupakan episode penting dalam sejarah intelektual Barat. Namun, episode-episode tersebut tidak otomatis membuktikan adanya perang abadi antara sains dan agama. Yang bertabrakan dalam sejarah biasanya jauh lebih spesifik: teori ilmiah tertentu dengan penafsiran teologis tertentu; komunitas ilmiah dengan lembaga keagamaan tertentu; atau otoritas intelektual lama dengan bentuk otoritas pengetahuan yang baru. Bahkan apa yang kemudian dikenal sebagai tesis “warfare” antara sains dan agama, terutama dalam historiografi abad ke-19, kini banyak dikritik karena cenderung mereduksi sejarah yang kompleks menjadi konflik biner...