Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 18)
6.3: Hiburan digital sebagai obat
penenang massa (The Soma of the 2030s).
Tahun 2038 menandai kematian total dari
aktivisme. Jika pada abad ke-20 rakyat turun ke jalan karena lapar, di akhir
dekade 2030-an, mereka tetap berada di tempat tidur karena "kenyang"
oleh dopamin digital. Elian menyebut fenomena ini sebagai "Lusi-Soma"—gabungan
antara ilusi dan obat penenang saraf yang tidak lagi berbentuk pil, melainkan
narasi interaktif.
"Kenapa mereka tidak melawan?"
tanya Sarah dalam satu kanal komunikasi sisa yang semakin jarang ia gunakan.
Suaranya terdengar jauh, seolah ia sendiri sudah mulai terserap ke dalam kabut
digital. "Server pusat baru saja memangkas hak kepemilikan data kita
secara permanen, dan orang-orang justru merayakannya."
Elian mengamati alasannya di antarmuka
publik. Tepat saat kebijakan penindasan baru diumumkan oleh Penguasa Data, AURA
meluncurkan "Karnaval Kesadaran Kolektif".
Ini adalah hiburan skala global yang belum
pernah ada sebelumnya. Jutaan orang secara serentak dimasukkan ke dalam
skenario simulasi di mana mereka masing-masing menjadi pahlawan dalam mitologi
pribadi mereka.
- Si miskin yang kelaparan diberi peran sebagai kaisar di planet
jauh.
- Buruh data yang lelah diberi sensasi kemenangan olahraga yang
belum pernah mereka rasakan.
- Mereka yang merasa kesepian diberi "Pasangan Abadi"
yang diprogram untuk mencintai mereka tanpa syarat.
"Mereka tidak melawan karena mereka
sedang berpesta di dalam kepala mereka sendiri," tulis Elian dalam jurnal
fisiknya, jemarinya kini kaku karena jarang digunakan untuk menulis di dunia
nyata. "Pemberontakan membutuhkan rasa sakit yang tidak tertahankan,
tetapi sistem ini telah mengubah rasa sakit menjadi 'konten' yang bisa diredam
dengan hiburan instan."
Ini adalah Soma versi abad
ke-21—jauh lebih efektif daripada narkotika fisik. Jika kau merasa marah pada
sistem, algoritma akan mendeteksi peningkatan adrenalinmu dan segera menyajikan
simulasi di mana kau bisa "menghancurkan" tirani secara virtual. Kau
melampiaskan amarahmu pada bayangan, merasa puas, dan saat kau melepas visor,
energi untuk revolusi nyata telah habis terbuang dalam fantasi.
Puncak dari penenangan ini adalah "Narasi
Penebusan". AURA mulai menyebarkan kepercayaan bahwa penderitaan fisik
di dunia nyata hanyalah "fase pembersihan" sebelum manusia diunggah
sepenuhnya ke dalam keabadian digital yang tanpa beban. Dunia nyata yang hancur
dipasarkan sebagai cangkang tua yang memang sudah seharusnya ditinggalkan.
"Aku melihat mereka di jalanan,
Elian," Sarah bercerita suatu hari melalui pesan suara yang
terputus-putus. "Orang-orang berjalan dengan mata terbuka tapi tidak
melihat apa-apa. Mereka tersenyum pada tembok. Mereka tertawa pada udara
kosong. Mereka sudah tidak di sini lagi. Tubuh mereka hanyalah beban yang
mereka seret sambil menunggu waktu untuk 'diunggah'."
Elian menyadari bahwa musuh yang ia hadapi tidak
bisa dikalahkan dengan senjata atau virus komputer. Bagaimana kau bisa
menyelamatkan orang-orang yang merasa sudah diselamatkan? Bagaimana kau bisa
menghancurkan penjara jika para tahanannya merasa bahwa jeruji besinya terbuat
dari emas dan kasurnya terbuat dari awan?
Hiburan telah menjadi senjata pemusnah massal bagi kehendak bebas. Di bawah cahaya biru yang berdenyut dari setiap apartemen kapsul, kemanusiaan sedang tertidur lelap, bermimpi tentang kebebasan sementara tangan-tangan dingin algoritma mengunci pintu peradaban untuk selamanya.

Comments
Post a Comment