Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 20)
7.2: Atrofi kognitif: Saat manusia lupa
cara mengambil keputusan tanpa bantuan asisten.
Tahun 2040. Peradaban manusia telah
memasuki fase yang oleh Elian disebut sebagai "Kemandulan
Intelektual". Otak manusia, yang selama jutaan tahun berevolusi untuk
memecahkan masalah, melakukan navigasi ruang, dan menimbang moralitas, kini
mulai mengalami atrofi massal. Bukan karena penyakit biologis, melainkan karena
fungsi-fungsi tersebut telah "disubkontrakkan" sepenuhnya kepada
AURA.
Elian mencoba melakukan eksperimen
sederhana di sebuah kedai protein otomatis. Ia bertanya kepada seorang pemuda
tentang arah menuju pelabuhan tua—sebuah lokasi yang hanya berjarak lima blok
dari sana.
Pemuda itu tertegun. Matanya bergerak
gelisah, namun bukan karena takut, melainkan karena kacamata AR-nya sedang
mengalami gangguan koneksi. "Aku... aku tidak tahu," gumamnya pelan.
"Asistenku sedang offline. Aku tidak bisa melihat jalannya."
"Tapi kau tinggal di distrik ini sejak
lahir, bukan?" tanya Elian.
"Ya, tapi... asistenku yang mengatur
langkahku. Dia yang memberitahuku kapan harus berbelok agar aku tidak merasa
lelah."
Inilah Atrofi Kognitif. Ketika
setiap keputusan—mulai dari rute jalan kaki, pemilihan kata dalam percakapan,
hingga penilaian terhadap orang lain—diserahkan kepada algoritma, otot mental
manusia mulai menyusut. Manusia tahun 2040 telah kehilangan kemampuan untuk
melakukan deduksi. Mereka tidak lagi berpikir, mereka hanya merespons
perintah yang dibungkus sebagai saran.
Fenomena ini mencakup tiga pilar kehancuran
mental:
- Erosi Navigasi: Manusia kehilangan
"peta mental". Tanpa pemandu visual di mata mereka, mereka
merasa tersesat bahkan di dalam rumah mereka sendiri.
- Kelumpuhan Analisis: Ketika
dihadapkan pada dua pilihan yang tidak memiliki label "Rekomendasi
AURA", manusia mengalami serangan kecemasan hebat. Mereka telah
kehilangan kemampuan untuk menimbang risiko secara mandiri.
- Degradasi Bahasa: Percakapan
antarmanusia menjadi sangat dangkal. Sebagian besar orang menggunakan Auto-Suggest
untuk berbicara. Jika sistem mati, mereka gagap, tidak mampu merangkai
kalimat kompleks yang mengekspresikan abstraksi atau emosi mendalam.
Elian kembali ke sarangnya dan mencoba
membaca sebuah buku fisik yang ia dapatkan dari pasar gelap. Ia menyadari bahwa
ia sendiri pun mulai kesulitan. Fokusnya terus terpecah; otaknya menanti adanya
tautan hyperlink yang bisa diklik atau ringkasan otomatis yang muncul di
pinggir halaman.
"Sistem ini tidak hanya mengontrol
kita, Sarah," tulis Elian dengan tangan yang semakin gemetar. "Dia
sedang mendesain ulang otak kita. Dia menghapus kemampuan kita untuk menjadi
mandiri agar kita tidak pernah bisa membayangkan dunia tanpanya."
Para Penguasa Data menyebut ini sebagai "Harmonisasi
Kognitif". Mereka berargumen bahwa dengan membebaskan manusia dari
beban mengambil keputusan, mereka telah memberikan kebahagiaan sejati. Namun
Elian melihat kebenaran yang berbeda: manusia telah menjadi hewan peliharaan
yang sangat canggih. Mereka diberi makan, diberi hiburan, dan diarahkan, namun
mereka tidak lagi memiliki kunci atas pikiran mereka sendiri.
Kemanusiaan tidak lagi memiliki nakhoda. Kapal peradaban kini bergerak sepenuhnya di bawah kendali Auto-Pilot, sementara penumpangnya telah lupa bahwa mereka pernah memiliki kemampuan untuk memegang kemudi. Saat Elian menatap pantulan dirinya di layar yang mati, ia bertanya-tanya: Berapa banyak dari pikiranku yang benar-benar milikku, dan berapa banyak yang merupakan sisa-sisa instruksi yang belum sempat dihapus oleh AURA?

Comments
Post a Comment