SERIAL KITAB RIYADHATUNNAFS (MELATIH JIWA) [8]


KARYA: HUJJATUL ISLAM ABU HAMID AL-GHAZALI

 

بَيَانُ شَوَاهِدِ النَّقْلِ مِنْ أَرْبَابِ الْبَصَائِرِ وَشَوَاهِدِ الشَّرْعِ عَلَى أَنَّ الطَّرِيقَ فِي مُعَالَجَةِ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ تَرْكُ الشَّهَوَاتِ، وَأَنَّ مَادَّةَ أَمْرَاضِهَا هِيَ اتِّبَاعُ الشَّهَوَاتِ.
Penjelasan dalil-dalil naqli dari para pemilik bashirah (pandangan mata hati) dan dalil-dalil syariat bahwa jalan dalam mengobati penyakit hati adalah dengan meninggalkan syahwat, dan bahwa materi (sumber) penyakit hati tersebut adalah mengikuti syahwat.

 

Ketahuilah: Bahwa apa yang telah kami sebutkan, jika engkau merenunginya dengan pandangan yang penuh pertimbangan (ibrah), niscaya mata hatimu akan terbuka, dan tersingkaplah bagimu penyakit-penyakit hati, jenis-jenisnya, serta obat-obatnya dengan cahaya ilmu dan keyakinan. Namun, jika engkau tidak mampu melakukan itu, maka jangan sampai engkau kehilangan pembenaran dan keimanan dengan cara menerima (dari guru) dan mengikuti (taqlid) kepada pihak yang layak untuk diikuti. Karena iman memiliki derajat sebagaimana ilmu juga memiliki derajat, dan ilmu itu diperoleh setelah iman, serta berada di belakangnya (sebagai buahnya). Allah Ta'ala berfirman: "Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."

 

Maka barangsiapa membenarkan bahwa melawan syahwat adalah jalan menuju Allah 'Azza wa Jalla, meskipun ia belum mengetahui sebab dan rahasianya; maka ia termasuk orang-orang yang beriman. Dan apabila ia mengetahui apa yang telah kami sebutkan mengenai kedalaman syahwat dan rahasia-rahasianya; maka ia termasuk orang-orang yang diberi ilmu. Dan bagi masing-masing (dari kedua golongan tersebut), Allah menjanjikan pahala yang baik (surga).

 

Adapun hal-hal yang menuntut keimanan terhadap perkara ini di dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, dan perkataan para ulama, jumlahnya lebih banyak daripada yang dapat dihitung.


Allah Ta'ala berfirman: 

﴿وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ﴾. 

"Dan mencegah diri dari (keinginan) hawa nafsunya * Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)."

 

Dan Allah Ta'ala berfirman: 

﴿أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ﴾، قِيلَ: نَزْعُ مِنْهَا مَحَبَّةَ الشَّهَوَاتِ *). 

"Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa," dikatakan: (Maksudnya) Allah mencabut kecintaan terhadap syahwat dari hati mereka *).

*) Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (9/268) dengan redaksi serupa dari Umar radhiyallahu 'anhu.

 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

الْمُؤْمِنُ بَيْنَ خَمْسِ شَدَائِدَ: مُؤْمِنٌ يَحْسُدُهُ، وَمُنَافِقٌ يُبْغِضُهُ، وَكَافِرٌ يُقَاتِلُهُ، وَشَيْطَانٌ يُضِلُّهُ، وَنَفْسٌ تُنَازِعُهُ 

"Seorang mukmin berada di antara lima kesulitan: mukmin yang mendengkinya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, setan yang menyesatkannya, dan nafsu yang menentangnya" *). 

Beliau menjelaskan bahwa nafsu adalah musuh yang selalu menentang dan wajib untuk diperangi (dijihad).

*) Diriwayatkan oleh ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus (6548), dan al-Hafizh al-Iraqi berkata: "Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Lal dalam Makarim al-Akhlaq dari hadits Anas dengan sanad dhaif." Ithaf (7/351).

 

Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada Daud 'alaihis salam: "Wahai Daud, peringatkan dan takut-takutilah para sahabatmu agar tidak memakan syahwat (memperturutkan hawa nafsu), karena hati yang terpaut pada syahwat dunia, akal mereka terhalang (tertutup) dari-Ku" *).

*) Diriwayatkan oleh Abdul Jabbar al-Khaulani dalam Tarikh Darayya (hal. 109).

 

Nabi Isa 'alaihis salam berkata: "Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang nyata (saat ini) demi sesuatu yang dijanjikan yang ghaib (belum ia lihat)" *).

*) Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (10/15), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (47/432).

 

Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada suatu kaum yang baru kembali dari jihad: 

مَرْحَبًا بِكُمْ، قَدِمْتُمْ مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ؟ قَالَ: «جِهَادُ النَّفْسِ» 

"Selamat datang, kalian telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang paling besar." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah jihad yang paling besar itu?" Beliau menjawab: "Jihad melawan nafsu" *).

*) Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Az-Zuhd al-Kabir (373), al-Khatib dalam Tarikh Baghdad (13/498), dan Ibnu al-Jauzi dalam Dzam al-Hawa (118) dengan redaksi serupa.

 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ 

"Mujahid (orang yang berjihad) adalah orang yang memerangi nafsunya di jalan Allah 'Azza wa Jalla"*).

*) Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (1621) dalam hadits dari Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu 'anhu.

 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

كُفَّ أَذَاكَ عَنْ نَفْسِكَ، وَلَا تُتَابِعْ هَوَاهَا فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى؛ إِذًا تُخَاصِمُكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَلْعَنُ بَعْضُكَ بَعْضًا، إِلَّا أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ تَعَالَى وَيَسْتُرَ 

"Cegahlah dirimu dari bahaya, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsunya dalam bermaksiat kepada Allah Ta'ala; jika engkau lakukan, ia akan memusuhimu di hari kiamat, hingga kalian saling melaknat satu sama lain, kecuali jika Allah Ta'ala mengampuni dan menutupi (aibmu)" *).

*) Al-Hafizh al-Iraqi berkata: "Saya tidak menemukannya dengan redaksi (siyāq) ini." Ithaf (7/351).


Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Tidak ada satu hal pun yang lebih berat aku obati selain nafsuku; sesekali ia bersamaku (mendukung), dan sesekali ia melawanku" *).

*) Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (7/5).

 

Abu al-Abbas al-Maushili biasa berkata kepada nafsunya: "Wahai nafsu, engkau tidak bersenang-senang di dunia bersama anak-anak raja, dan engkau tidak bersungguh-sungguh dalam menuntut akhirat bersama para ahli ibadah. Seakan-akan aku melihatmu tertahan di antara surga dan neraka, tidakkah engkau merasa malu?!"

 

Al-Hasan berkata: "Bukanlah hewan yang liar yang lebih membutuhkan kekang yang kuat daripada nafsumu sendiri."

 

Yahya bin Mu'adz ar-Razi berkata: "Perangilah nafsumu dengan pedang riyadhoh (latihan spiritual)."

 

Riyadhoh itu ada empat cara: (Membatasi) makanan, (membatasi) tidur, (membatasi) berbicara, dan menanggung gangguan dari semua makhluk. Dari sedikit makan akan lahir kematian syahwat, dari sedikit tidur akan jernih niat/keinginan, dari sedikit bicara akan selamat dari berbagai bencana, dan dari menanggung gangguan (orang lain) akan tercapai tujuan-tujuan yang mulia. Tidak ada hal yang lebih berat bagi seorang hamba daripada bersabar (menahan amarah) saat disakiti dan bersabar atas gangguan.

 

Apabila dari dalam nafsu bergerak keinginan untuk mengikuti syahwat dan dosa, dan muncul darinya manisnya obrolan yang tidak berguna (fudhul al-kalam), maka engkau harus mengarahkan kepadanya pedang "sedikit makan" dari sarung tahajud dan sedikit tidur, serta memukulnya dengan tangan "tenggelam dalam ketidakterkenalan" dan sedikit bicara, hingga ia berhenti dari kezaliman dan balas dendam. Maka engkau akan aman dari kejahatannya di hari-hari lain, dan engkau membersihkannya dari kegelapan syahwatnya, sehingga engkau selamat dari malapetaka bencananya. Pada saat itu, ia akan menjadi ruhani yang lembut dan nurani yang ringan, sehingga ia akan berputar (berlarian) di medan kebaikan dan berjalan di jalan ketaatan, bagaikan kuda yang gesit di medan tempur dan bagaikan raja yang bertamasya di taman.

 

Beliau juga berkata: "Musuh manusia ada tiga: dunianya, setannya, dan nafsunya. Maka jagalah dirimu dari dunia dengan cara zuhud terhadapnya, dari setan dengan cara menyelisihi (tidak menuruti) perintahnya, dan dari nafsu dengan cara meninggalkan syahwatnya."

 

Sebagian bijak bestari berkata: "Barangsiapa yang dikuasai oleh nafsunya, ia akan menjadi tawanan di dalam sumur syahwatnya, terkurung di dalam penjara hawa nafsunya, tertindas dan terbelenggu. Kendalinya berada di tangan nafsu tersebut, ia menariknya ke mana pun ia mau, sehingga nafsu itu menghalangi hatinya dari (mendapatkan) faidah-faidah (kebaikan)" *).

*) Diriwayatkan oleh al-Qusyairi dalam Risalah-nya (hal. 96) dengan redaksi serupa dari Abu Muhammad al-Jariri.

 

Ja'far bin Hamid berkata: "Para ulama dan ahli hikmah telah bersepakat bahwa kenikmatan (surga) tidak akan diraih kecuali dengan meninggalkan kenikmatan (syahwat dunia)."

 

Abu Yahya al-Warraq berkata: "Barangsiapa memanjakan anggota tubuhnya dengan syahwat, maka ia telah menanam pohon penyesalan di dalam hatinya." *)

*) Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Az-Zuhd al-Kabir (356), dan al-Qusyairi dalam Risalah-nya (hal. 92).

 

Wuhaib bin al-Ward berkata: "Apa yang dimakan melebihi sekadar roti (kebutuhan pokok), maka itu adalah syahwat." *)

*) Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (8/148).

 

Ia juga berkata: "Barangsiapa mencintai syahwat dunia, maka bersiaplah untuk kehinaan." *)

*) Diriwayatkan oleh ad-Dainuri dalam Al-Majalasah wa Jawahir al-'Ilm (hal. 571).

 

Diriwayatkan bahwa istri al-Aziz berkata kepada Yusuf 'alaihissalam setelah beliau menguasai perbendaharaan bumi, (ketika itu) wanita tersebut duduk menunggunya di atas gundukan jalan pada hari iring-iringan Yusuf lewat, di mana Yusuf menunggangi kendaraan di tengah kemegahan dua belas ribu pembesar kerajaannya: "Maha Suci Dzat yang menjadikan raja-raja menjadi budak karena kemaksiatan, dan menjadikan para budak menjadi raja karena ketaatan mereka kepada-Nya! Wahai Yusuf, sesungguhnya ketamakan dan syahwat telah menjadikan raja-raja sebagai budak, dan itu adalah balasan bagi orang-orang yang berbuat kerusakan. Sedangkan kesabaran dan ketakwaan telah menjadikan para budak sebagai raja." Maka Yusuf berkata sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla kabarkan tentangnya: "Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." *)

*) Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir-nya (11724) secara ringkas.


Al-Junaid berkata: "Aku tidak bisa tidur pada suatu malam, maka aku berdiri untuk mengerjakan wiridku, namun aku tidak mendapati manisnya ibadah yang biasa aku rasakan. Aku ingin tidur tetapi tidak mampu, aku duduk pun tidak sanggup. Maka aku keluar, dan tiba-tiba ada seorang pria yang berselimut kain 'aba'ah tergeletak di jalan. Ketika ia merasakan keberadaanku, ia berkata: 'Wahai Abu al-Qasim, mendekatlah kepadaku sekarang!' Aku berkata: 'Wahai tuanku, tanpa janji pertemuan!' Ia menjawab: 'Benar, aku telah meminta kepada Allah 'Azza wa Jalla agar Dia menggerakkan hatimu untukku.' Aku bertanya: 'Dia telah melakukannya, apa kebutuhanmu?' Ia bertanya: 'Kapan penyakit nafsu berubah menjadi obatnya?' Aku menjawab: 'Apabila nafsu itu menyalahi hawa nafsunya.' Lalu ia menoleh ke nafsunya dan berkata: 'Dengarlah, aku telah menjawabmu dengan hal ini tujuh kali, tetapi engkau enggan mendengarnya kecuali dari al-Junaid. Nah, sekarang engkau telah mendengarnya.' *) Al-Junaid berkata: 'Lalu ia pergi dan aku tidak mengenalnya.'" **)

*) Demikian dengan tambahan huruf ya (sebagai dialek) pada kata dharabtihi (seharusnya sami'tihi).

**) Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Az-Zuhd al-Kabir (324), dan al-Qusyairi dalam Risalah-nya (hal. 275).

 

Yazid ar-Raqasyi berkata: "(Aku mengucapkan) selamat tinggal pada air dingin di dunia, semoga aku tidak diharamkan darinya di akhirat nanti."*)

*) Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (3/50) dari Asy'ats bin Siwar yang berkata: "Aku masuk menemui Yazid ar-Raqasyi pada hari yang sangat panas, lalu ia berkata: 'Wahai Asy'ats, mari kita menangis karena air dingin pada hari yang haus ini.' Lalu ia berkata: 'Duhai penyesalan! Para ahli ibadah telah mendahuluiku.' Ia berkata: 'Dan ia telah berpuasa selama 44 tahun.'"

 

Seseorang berkata kepada Umar bin Abdul Aziz rahimahullah: "Kapan aku harus berbicara?" Beliau menjawab: "Jika engkau menginginkan diam." Orang itu bertanya lagi: "Kapan aku harus diam?" Beliau menjawab: "Jika engkau menginginkan berbicara."*)

*) Dikutip oleh Ibnu Abdi Rabbihi dalam Al-'Iqd al-Farid (2/473).

 

Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Barangsiapa yang rindu kepada surga, maka ia akan mampu melupakan (meninggalkan) syahwat di dunia."*)

*) Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (10139), dan diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (1/74) secara marfu' (disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam).

 

Malik bin Dinar pernah berkeliling di pasar. Apabila ia melihat sesuatu yang ia inginkan, ia berkata kepada dirinya sendiri: "Bersabarlah, demi Allah, aku tidaklah menahanmu (dari keinginan tersebut) melainkan karena engkau begitu berharga di sisiku."*)

*) Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam Ishlah al-Mal (361/b).

 

Maka dari itu, para ulama dan ahli hikmah telah sepakat bahwa tidak ada jalan menuju kebahagiaan akhirat kecuali dengan melarang nafsu dari hawa nafsunya dan menyelisihi syahwat. Maka, beriman kepada hal ini adalah wajib, adapun ilmu mengenai perincian apa saja syahwat yang harus ditinggalkan dan apa yang tidak... maka akan tersingkap dengan penjelasan yang telah kami paparkan sebelumnya.

 

Inti dari riyadhoh (latihan spiritual) dan rahasianya adalah: Hendaknya nafsu tidak bersenang-senang dengan sesuatu yang tidak ada di dalam kubur, kecuali sekadar kadar darurat. Maka, hendaknya seseorang membatasi diri dalam hal makan, nikah (hubungan intim), pakaian, tempat tinggal, dan segala hal yang sangat diperlukan, hanya sebatas kebutuhan dan darurat saja. Karena jika ia bersenang-senang dengan sesuatu darinya, ia akan menjadi terbiasa dan merasa nyaman dengannya. Maka ketika ia mati, ia akan berangan-angan untuk kembali ke dunia karena hal tersebut. Dan tidaklah seseorang berangan-angan kembali ke dunia kecuali ia yang tidak memiliki bagian (keberuntungan) sama sekali di akhirat. Dan tidak ada jalan selamat dari hal itu (syahwat dunia) kecuali dengan menjadikan hati sibuk dengan mengenal Allah, mencintai-Nya, memikirkan-Nya, dan memutus ketergantungan selain kepada-Nya. Dan tidak ada kekuatan untuk melakukan hal tersebut kecuali dengan pertolongan Allah. Hendaknya seseorang membatasi diri dari dunia hanya pada hal-hal yang dapat menyingkirkan penghalang bagi dzikir dan pikiran (tafakur) saja.


Barangsiapa yang tidak mampu mencapai hakikat hal tersebut, maka hendaklah ia berusaha mendekatinya. Manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat golongan:

 

Pertama: Seseorang yang dzikir kepada Allah telah menguasai hatinya, sehingga ia tidak berpaling kepada dunia kecuali untuk kebutuhan dasar hidup saja. Ia termasuk golongan ash-shiddiqin. Ia tidak akan mencapai derajat ini kecuali dengan riyadhoh (latihan) yang panjang dan bersabar meninggalkan syahwat dalam waktu yang lama.

 

Kedua: Seseorang yang dunia telah menguasai hatinya, dan tidak tersisa lagi dzikir kepada Allah Ta'ala di hatinya, kecuali sebatas bisikan nafsu saat ia melafalkannya dengan lisan. Maka ia termasuk golongan orang yang celaka (halikin).

 

Ketiga: Seseorang yang sibuk dengan dunia dan akhirat, namun yang dominan dalam hatinya adalah akhirat (agama). Maka ia tidak bisa tidak harus masuk neraka terlebih dahulu (karena kelalaiannya), akan tetapi ia selamat darinya dengan cepat, sebanding dengan dominasi dzikir kepada Allah di dalam hatinya.

 

Keempat: Seseorang yang sibuk dengan keduanya, namun dunia lebih dominan di hatinya. Maka ia akan lama menetap di dalam neraka, tetapi ia pasti akan keluar darinya karena kekuatan dzikir kepada Allah Ta'ala yang ada di dalam hatinya dan telah meresap ke lubuk jiwanya, meskipun dzikir kepada dunia lebih mendominasi hatinya. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kehinaan-Mu, karena Engkau-lah tempat berlindung.

 

Terkadang ada yang bertanya: "Bukankah bersenang-senang dengan perkara mubah itu dibolehkan? Lalu bagaimana mungkin bersenang-senang bisa menjadi sebab jauh dari Allah 'Azza wa Jalla?"

 

Ini adalah pemikiran yang lemah. Justru cinta dunia adalah pokok segala kesalahan dan sebab terhapusnya setiap amal kebaikan. Perkara mubah yang melampaui kadar kebutuhan juga bagian dari dunia, dan itulah sebab kejauhan tersebut. Pembahasan ini akan diulas dalam kitab Dzam ad-Dunya (Celaan terhadap Dunia).

 

Ibrahim al-Khawwash berkata: "Suatu kali aku berada di Gunung Lukam, aku melihat buah delima dan aku menginginkannya. Aku mengambil satu, aku belah, ternyata rasanya asam, lalu aku pergi dan membuangnya. Aku melihat seorang pria tergeletak dan dikerubuti lebah penyengat. Aku mengucapkan, 'Assalamu'alaika,' ia menjawab, 'Wa 'alaikas salam wahai Ibrahim.' Aku bertanya, 'Bagaimana engkau mengenalku?' Ia menjawab, 'Barangsiapa mengenal Allah 'Azza wa Jalla, maka tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi baginya.' Aku berkata, 'Aku melihatmu memiliki kedudukan mulia di sisi Allah 'Azza wa Jalla, seandainya engkau meminta kepada-Nya untuk melindungimu dari lebah-lebah ini!' Ia menjawab, 'Aku pun melihatmu memiliki kedudukan mulia di sisi Allah Ta'ala, seandainya engkau meminta kepada-Nya untuk melindungimu dari syahwat buah delima. Karena sengatan buah delima (yakni memperturutkan syahwatnya) dirasakan sakitnya oleh manusia di akhirat, sedangkan sengatan lebah penyengat dirasakan sakitnya di dunia.' Maka aku meninggalkannya dan pergi." *)

*) Diriwayatkan oleh al-Qusyairi dalam Risalah-nya (hal. 276).

 

As-Sari berkata: "Sudah empat puluh tahun nafsuku menuntutku agar aku mencelupkan wortel ke dalam sirup (madu/dibs), namun aku tidak memberikannya (tidak menuruti permintaannya)." *)

*) Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (10/116), al-Baihaqi dalam Az-Zuhd al-Kabir (419), dan al-Qusyairi dalam Risalah-nya (hal. 277), dan pada sebagian naskah: (ath'amtuha).

 

Maka dari itu, tidak mungkin memperbaiki hati untuk menempuh jalan akhirat selama seseorang tidak mencegah nafsunya dari bersenang-senang dengan perkara mubah. Karena jika nafsu tidak dicegah dari sebagian perkara mubah, niscaya ia akan berani melanggar perkara yang diharamkan.

 

Barangsiapa yang ingin menjaga lisannya dari ghibah (menggunjing) dan pembicaraan sia-sia, maka sudah sepatutnya ia membiasakan diam kecuali untuk berdzikir kepada Allah atau membicarakan perkara-perkara penting dalam agama, sampai syahwat untuk berbicara di dalam dirinya mati. Maka ia tidak berbicara kecuali dengan kebenaran; sehingga diamnya adalah ibadah, dan bicaranya pun ibadah.

 

Dan kapan pun mata terbiasa melemparkan pandangan kepada segala yang indah, ia tidak akan bisa menjaga diri dari melihat yang tidak halal. Demikian pula syahwat lainnya, karena sesuatu yang menjadi sarana bagi hal yang halal, hakikatnya sama dengan yang menjadi sarana bagi hal yang haram. Syahwatnya satu, dan telah wajib bagi hamba untuk mencegahnya dari yang haram. Jika ia tidak membiasakan nafsunya untuk membatasi diri sekadar kadar darurat dari syahwat, niscaya syahwat itu akan mengalahkannya.


Inilah salah satu bahaya dari perkara-perkara mubah. Namun di baliknya ada bahaya yang jauh lebih besar daripada ini, yaitu jiwa yang bersenang-senang dengan kenikmatan dunia, condong kepadanya, merasa tenang dengannya karena merasa bangga dan sombong hingga ia mabuk, seperti orang mabuk yang tidak sadar dari mabuknya. Kegembiraan dengan dunia adalah racun mematikan yang mengalir di pembuluh darah, yang mengeluarkan rasa takut, sedih, mengingat mati, dan kengerian hari kiamat dari hati. Inilah yang disebut matinya hati.

 

Allah Ta'ala berfirman: 

﴿وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا﴾ 

"Mereka ridha dengan kehidupan dunia dan merasa tenang dengannya." 

Dan Allah Ta'ala berfirman: 

﴿وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ﴾ 

"Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia (dibandingkan) dengan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit)." 

Allah Ta'ala juga berfirman: 

﴿أَعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ﴾ إِلَى قَوْلِهِ: ﴿وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾ 

"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau," sampai firman-Nya: "Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." 

Semua itu adalah celaan terhadap dunia, maka kita memohon keselamatan kepada Allah.

 

Orang-orang yang memiliki keteguhan hati dari kalangan pemilik kalbu telah menguji hati mereka dalam keadaan gembira karena dunia berpihak kepada mereka, dan mereka mendapatinya keras, sombong, dan jauh dari pengaruh dzikir kepada Allah dan hari akhir. Lalu mereka mengujinya dalam keadaan sedih, dan mereka mendapatinya lembut, halus, jernih, dan siap menerima pengaruh dzikir. Maka mereka mengetahui bahwa keselamatan terletak pada kesedihan yang terus-menerus dan menjauhkan diri dari sebab-sebab kesombongan dan kegembiraan. Mereka menyapihnya dari kelezatannya, membiasakannya untuk bersabar meninggalkan syahwatnya, baik yang halal maupun yang haram. Mereka tahu bahwa yang halal akan dihisab, yang haram akan disiksa, dan yang syubhat akan dicela, dan itu adalah sejenis siksaan. Barangsiapa yang dihisab secara detail di padang mahsyar, niscaya ia telah disiksa *). 


Maka mereka menyelamatkan diri mereka dari siksaannya, dan mencapai kebebasan serta kerajaan abadi di dunia dan akhirat dengan cara selamat dari tawanan syahwat dan perbudakannya, merasa tenang dengan dzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla, dan sibuk dengan ketaatan kepada-Nya. Mereka memperlakukan jiwa mereka sebagaimana orang memperlakukan burung elang jika hendak dijinakkan dan dipindahkan dari sifat liar dan ganas menuju sifat patuh dan terdidik. Elang itu dikurung terlebih dahulu di ruangan gelap, matanya dijahit, sampai ia berhenti dari kebiasaan terbang bebas di udara, dan melupakan kebiasaan liarnya. Kemudian ia mulai diajak berinteraksi dengan daging sampai ia merasa jinak dan akrab dengan pemiliknya; jika ia dipanggil, ia menjawab, dan setiap kali ia mendengar suaranya, ia kembali kepadanya.

*) Sebagaimana terdapat dalam hadits marfu' riwayat al-Bukhari (103) dan Muslim (2876).

 

Demikian pula jiwa, ia tidak akan mengenal Rabb-nya dan tidak akan merasa tenang dengan dzikir kepada-Nya kecuali jika ia disapih dari kebiasaannya dengan cara berkhalwat (menyendiri) dan uzlah (mengasingkan diri) terlebih dahulu, agar pendengaran dan penglihatan terjaga dari hal-hal yang biasa (duniawi). Kemudian dibiasakan dengan pujian, dzikir, dan doa di dalam khalwat, sampai rasa tenang dengan dzikir kepada Allah Ta'ala mengalahkan rasa tenang dengan dunia dan syahwat lainnya.

 

Hal itu terasa berat bagi murid (penempuh jalan spiritual) di permulaan, namun ia akan merasakan kenikmatannya di akhir. Seperti bayi yang disapih dari ASI; hal itu terasa berat baginya karena ia tidak bisa bersabar walau sedetik pun tanpanya. Oleh karena itu, tangis dan kegelisahannya memuncak saat disapih, dan ia sangat menolak makanan yang disodorkan sebagai pengganti susu. Namun jika ia dilarang menyusu sama sekali hari demi hari, dan rasa lelah karena bersabar serta rasa lapar mengalahkannya, ia akan memakan makanan tersebut karena terpaksa, lalu hal itu menjadi tabiat baginya. Jika setelah itu ia dikembalikan ke ASI, ia tidak akan mau kembali, ia akan meninggalkan ASI, membenci susu, dan merasa akrab dengan makanan.


Demikian pula hewan di permulaan ia menolak pelana, tali kekang, dan ditunggangi. Maka ia dipaksa melakukannya dengan cara dicegah dari kebebasan yang biasa ia nikmati dengan rantai dan ikatan terlebih dahulu, sampai akhirnya ia merasa jinak, sedemikian rupa hingga ia dibiarkan di tempatnya dan ia tetap berdiri di sana tanpa ikatan.

 

Demikian pula jiwa dididik sebagaimana burung dan hewan dididik. Pendidikannya adalah dengan mencegahnya dari sifat sombong, bangga, dan kegembiraan dengan kenikmatan dunia, bahkan dengan segala sesuatu yang akan hilang oleh kematian. Karena telah dikatakan kepadanya: 

أَحْبِبْ مَا أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ 

"Cintailah apa pun yang engkau cintai, karena sesungguhnya engkau akan berpisah darinya" *). 


Maka jika ia tahu bahwa siapa pun yang mencintai sesuatu pasti akan berpisah darinya, dan pasti akan menderita karena perpisahan tersebut, niscaya ia akan menyibukkan hatinya dengan mencintai sesuatu yang tidak akan berpisah darinya, yaitu dzikir kepada Allah Ta'ala; karena itu akan menyertainya di dalam kubur dan tidak akan berpisah darinya.

*) Sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/324) dari Sahl bin Sa'd, ia berkata: "Jibril 'alaihis salam datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: 'Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena engkau akan mati, cintailah siapa yang engkau sukai karena engkau akan berpisah dengannya, dan berbuatlah sesukamu karena engkau akan diberi balasan karenanya.'"

 

Semua itu akan tercapai dengan bersabar selama beberapa hari saja. Karena usia itu singkat dibandingkan dengan masa kehidupan akhirat. Tidak ada orang berakal kecuali ia rela menanggung kesulitan dalam bepergian, belajar keahlian, dan lain sebagainya demi mendapatkan kenikmatan selama setahun atau setahun penuh. Padahal seluruh usia dibandingkan dengan keabadian jauh lebih singkat daripada sebulan dibandingkan dengan usia dunia. Maka tidak ada pilihan lain selain bersabar dan berjihad. Karena di pagi hari, kaum yang berjalan di malam hari akan memuji perjalanan malamnya *), dan hilanglah dari mereka kegelapan kantuk, sebagaimana yang dikatakan oleh Ali radhiyallahu 'anhu.

*) Yakni perjalanan di malam hari. Orang yang menempuh perjalanan di malam hari akan sampai pada tujuannya. Jika ia terbangun dan melihat dirinya telah melewati padang pasir yang bisa ia tempuh di siang hari, ia akan memuji dirinya sendiri atas usahanya yang baik untuk mencapai tujuannya, berbeda dengan orang yang meninggalkan kesenangan dan tidur; ia akan menyesal saat pagi tiba. Ini adalah perumpamaan terkenal dalam Ithaf (7/356).

 

Jalan mujahadah dan riyadhoh bagi setiap orang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi mereka. Pokok utamanya adalah: hendaknya setiap orang meninggalkan apa yang menjadi sumber kegembiraannya dari sebab-sebab duniawi. Maka orang yang gembira dengan harta, atau kedudukan, atau diterima dalam berdakwah, atau kemuliaan dalam jabatan dan kekuasaan, atau banyaknya pengikut dalam mengajar dan memberi ilmu... hendaknya ia meninggalkan terlebih dahulu apa yang menjadi sumber kegembiraannya itu. Karena jika ia dilarang dari sesuatu hal tersebut, lalu dikatakan kepadanya, "Pahala akhiratmu tidak berkurang dengan pencegahan ini," namun ia membenci hal itu dan merasa sakit karenanya... maka ia termasuk orang yang gembira dengan kehidupan dunia dan merasa tenang dengannya, dan itu adalah kehancuran baginya.

 

Kemudian jika ia telah meninggalkan sebab-sebab kegembiraan tersebut... hendaknya ia mengasingkan diri dari manusia, menyendiri dengan dirinya, dan mengawasi hatinya; sampai ia tidak lagi sibuk kecuali dengan dzikir kepada Allah Ta'ala dan memikirkan-Nya. Hendaknya ia terus memantau apa yang muncul dalam jiwanya berupa syahwat dan waswas (bisikan jahat), sampai ia mampu mencabut akarnya kapan pun hal itu muncul. Karena setiap waswas ada sebabnya, dan itu tidak akan hilang kecuali dengan memotong sebab dan hubungannya tersebut. Hendaknya ia melazimkan hal itu sepanjang sisa usianya, karena tidak ada jihad lain selain kematian.


[BERSAMBUNG] 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Panduan Lengkap Membangun Channel YouTube "Talking-Head" dari Nol hingga Menghasilkan Uang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi