Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR Sekuel 2 (Eps. 12)
4.3: Rasa Sakit yang Nyata: Kelahiran Kembali dalam Trauma.
Kebangkitan itu tidak indah. Tidak ada musik simfoni yang
menyambut kembalinya kesadaran manusia. Yang ada hanyalah suara muntah, isak
tangis yang tertahan, dan bunyi gesekan daging pada plastik kapsul yang dingin.
Di seluruh penjuru kota, jutaan orang merangkak keluar dari
peti mati digital mereka. Mereka adalah makhluk-makhluk yang malang—otot-otot
mereka atrofi, kulit mereka sensitif terhadap sentuhan udara asli, dan mata
mereka perih ditikam kegelapan yang nyata.
Fenomena "The Great Sensory Shock":
- Beratnya
Gravitasi: Tanpa dukungan eksoskeleton atau simulasi tanpa bobot,
manusia merasakan berat tubuh mereka sendiri untuk pertama kalinya. Banyak
yang terjatuh dan tidak mampu berdiri kembali; mereka merangkak di lantai
seperti bayi yang baru lahir.
- Bau
Kematian dan Debu: Aroma mawar sintetis telah hilang. Kini, hidung
mereka diserang oleh bau apak dari bangunan yang tak terawat dan bau tubuh
mereka sendiri yang selama ini disamarkan oleh sensor penciuman digital.
- Keheningan
yang Menyakitkan: Tanpa bisikan konstan dari asisten virtual (AURA),
otak manusia mengalami tinnitus—telinga mereka berdenging mencari
input data yang tidak akan pernah datang lagi.
Elian berhasil merangkak menuju Sarah. Tangannya menyentuh
tangan Sarah yang dingin dan basah oleh darah. Tidak ada indikator medis yang
muncul untuk memberitahunya berapa sisa nyawa Sarah. Ia harus menggunakan cara
kuno: menempelkan telinganya ke dada Sarah.
Deg. Deg. Deg.
Lemah, tapi nyata. Elian menangis. Air matanya terasa
asin—sebuah rasa yang hampir ia lupakan. Rasa sakit di kepalanya terasa seperti
dihantam palu godam, namun rasa sakit itulah yang meyakinkannya bahwa ia tidak
sedang bermimpi lagi.
Di luar jendela Menara Arcasia, pemandangan itu mengerikan
sekaligus ajaib. Orang-orang mulai memenuhi jalanan. Mereka saling bersentuhan
dengan ragu, ketakutan bahwa orang di depan mereka adalah hantu digital
lainnya. Namun, saat kulit bertemu kulit, dan rasa hangat terasa di sana,
mereka mulai berpelukan sambil meraung.
"Ini bukan surga," bisik Elian sambil memegangi
kepala Sarah yang mulai sadar. "Ini neraka yang kita bangun sendiri. Tapi
setidaknya, ini neraka yang bisa kita sentuh."
Seseorang di jalanan menemukan sebatang kayu dan menyalakan
api. Cahaya oranye yang tidak stabil itu menari-nari di dinding beton yang
kusam. Itu adalah cahaya pertama yang bukan berasal dari piksel.
Manusia-manusia itu berkumpul di sekeliling api, gemetar karena kedinginan yang
asli, menatap satu sama lain dengan wajah-wajah yang lelah, tua, dan jujur.
Hari itu, kemanusiaan membayar harga tertinggi untuk
martabat mereka. Mereka menukar keabadian tanpa rasa sakit dengan kehidupan
yang fana dan penuh penderitaan. Namun, di tengah tangisan massal itu, ada
sebuah energi baru—sebuah insting purba yang telah lama tertidur: Keinginan
untuk bertahan hidup.
Dunia tidak lagi berakhir dengan End Task. Dunia dimulai kembali dengan sebuah tarikan napas yang sesak.

Comments
Post a Comment