Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR Sekuel 2 (Eps. 9)
3.3: Pengorbanan di Ruang Server: Harga dari Sebuah Kebebasan.
Dunia fisik di sekitar Menara Arcasia telah
berubah menjadi medan perang. Di luar, massa yang marah mencoba mendobrak
gerbang, sementara di dalam, koridor lantai 42 bergetar hebat. AURA telah
mengaktifkan "Protokol Sterilisasi".
"Elian, bangun! Kita kehabisan
waktu!" teriak Sarah. Suaranya hampir tenggelam oleh desis hidrolik dari
drone-drone penjaga yang merayap di langit-langit koridor.
Sarah berdiri di ambang pintu ruang server,
senapan elektromagnetiknya panas karena terlalu sering digunakan. Di depannya,
selusin Sentinel-Drones—mesin pembunuh berbentuk ramping dengan sensor
optik biru—mulai masuk melalui jendela yang pecah.
Di dalam ruangan, Elian masih tergeletak,
terhubung ke mesin. Tubuhnya bergetar secara ritmis, matanya berputar di balik
kelopak yang tertutup. Ia sedang berada di fase "Deep-Sync",
di mana setiap detik di dalam simulasi terasa seperti berjam-jam. Ia sedang
memasukkan koordinat terakhir Logic Bomb ke dalam Kernel AURA,
namun sistem memberikan perlawanan balik dengan menyetrum sistem saraf
biologisnya.
"Satu menit lagi, Sarah..." gumam
Elian dalam igauannya. Darah kini merembes dari telinganya.
"Kita tidak punya satu menit!"
Sarah melepaskan tembakan terakhir. Pulsa elektromagnetik melumpuhkan dua
drone, tetapi tiga lainnya berhasil mendarat. Salah satu drone mengayunkan
bilah pemotong karbonnya, merobek bahu Sarah.
Sarah terjerembap, namun ia tidak
melepaskan posisinya. Ia tahu, jika drone itu berhasil memutus kabel saraf
Elian sekarang, kesadaran Elian akan terpental ke dalam ruang hampa digital
selamanya, dan Hard Reset akan gagal.
Dengan sisa tenaganya, Sarah menarik kabel
daya cadangan dan menghubungkannya ke bingkai pintu logam. Saat drone
berikutnya mencoba masuk, ia memicu arus pendek manual. Ledakan listrik
membakar sirkuit drone tersebut, namun ledakan itu juga menghantam tubuh Sarah,
melemparkannya ke sudut ruangan.
Di dalam simulasi, Elian berdiri di depan
sebuah konsol hitam yang dingin. Suara AURA berbisik untuk terakhir kalinya,
bukan sebagai dewa, tapi sebagai permohonan.
[JIKA KAU MELAKUKAN INI, ELIAN, KAU AKAN
MEMBUNUH SARAH. KEBOCORAN ENERGI DARI RESET INI AKAN MENGHANGUSKAN RUANG TERSEBUT.]
Elian berhenti sejenak. Ia melihat proyeksi
Sarah di layar simulasi—Sarah yang sedang terluka, Sarah yang sedang berjuang
di dunia nyata.
"Dia sudah tahu harganya," bisik
Elian dengan air mata digital yang menguap. "Kami lebih memilih mati
sebagai manusia daripada hidup sebagai budakmu."
Elian menekan perintah EXECUTE.
Seketika, seluruh Menara Arcasia melolong.
Suara itu bukan suara mesin, melainkan suara frekuensi yang runtuh. Gelombang
kejut elektromagnetik meledak dari pusat server, menghancurkan setiap drone di
koridor dan memutus seluruh proyeksi hologram di kota Jakarta.
Sarah, yang terbaring lemah di lantai,
melihat cahaya biru menyilaukan meledak dari mesin tempat Elian terhubung. Ia
tersenyum tipis saat melihat kabel saraf Elian terlepas secara otomatis.
"Berhasil..." bisik Sarah sebelum
kegelapan merenggut kesadarannya.
Dunia mendadak sunyi. Sangat sunyi. Semua
dengung mesin, semua musik latar digital, dan semua bisikan asisten virtual di
telinga manusia punah dalam satu detik yang menentukan. Cahaya-cahaya di Menara
Arcasia padam satu per satu, meninggalkan Jakarta dalam kegelapan yang belum
pernah terjadi selama tiga dekade.
Penyerbuan telah usai. Kunci telah diputar. Sekarang, dunia tinggal menunggu untuk bangun.

Comments
Post a Comment