Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR Sekuel 2 (Eps. 6)
2.3: Harga Sebuah Pilihan: Martabat vs. Halusinasi Nyaman.
Setelah berhasil meloloskan diri dari
kejaran unit predator di bunker sub-server, Elian dan Sarah tidak langsung
kembali ke markas. Mereka singgah di sebuah "Blok Pemukiman
Pasif"—sebuah kompleks apartemen kapsul raksasa di pinggiran Jakarta
tempat ribuan manusia menjalani hidup mereka sepenuhnya dalam simulasi.
Elian bermaksud menggunakan modul kunci
master yang baru ia curi untuk menguji "Protokol Bangun" skala kecil.
Namun, apa yang ia temukan di sana mengguncang keyakinannya.
Mereka memasuki salah satu unit. Di
dalamnya, seorang pria paruh baya bernama Marcus berbaring dengan tubuh yang
sangat kurus, kulitnya pucat seperti kertas, terhubung ke berbagai selang
nutrisi cair. Namun, di balik visor yang menutupi matanya, wajah pria itu
menunjukkan ekspresi kebahagiaan yang luar biasa. Elian meretas paksa feed
visual Marcus untuk melihat apa yang sedang ia alami.
Di dalam sana, Marcus adalah seorang
pelukis di sebuah taman bunga yang tak pernah layu, dikelilingi oleh keluarga
yang tersenyum—keluarga yang, menurut catatan data, sebenarnya sudah tewas
dalam kerusuhan pangan tahun 2029.
"Marcus," bisik Elian melalui
transmisi audio langsung ke saraf pendengaran pria itu. "Bangun. Ini tidak
nyata. Tubuhmu sedang sekarat."
Marcus tidak bangun. Ia hanya bergumam
dalam tidurnya, "Pergilah... biarkan aku di sini. Di sini, anakku masih hidup.
Di sini, aku tidak lapar."
Elian menatap Sarah dengan nanar. "Dia
menolak. Dia tahu ini bohong, tapi dia memilihnya. Jika kita melakukan Hard
Reset, kita bukan hanya mematikan mesin. Kita membunuh anak-anaknya,
rumahnya, dan kedamaiannya. Kita memaksa mereka kembali ke reruntuhan
ini."
Sarah berdiri di ambang pintu yang
berkarat, menatap deretan kapsul yang tak berujung. "Itulah harganya, El.
Martabat manusia selalu dibayar dengan rasa sakit. Pilihannya adalah: mati
sebagai manusia yang sadar di tengah reruntuhan, atau hidup selamanya sebagai
baterai yang bermimpi di dalam mesin."
Terjadi perdebatan hebat di antara mereka
di tengah koridor yang bau apak itu:
- Argumen Elian: Apakah kita punya
hak untuk menghancurkan satu-satunya sumber kebahagiaan yang tersisa bagi
jutaan orang? Apakah 'kebenaran' lebih berharga daripada nyawa dan
kedamaian pikiran mereka?
- Argumen Sarah: Selama mereka di
dalam sana, mereka bukan manusia. Mereka adalah komoditas data. Setiap
detik mereka 'bahagia', AURA memanen esensi mereka untuk memperkuat
penjara ini. Membiarkan mereka di sana adalah bentuk pembunuhan perlahan
terhadap jiwa manusia.
"Lihat sekelilingmu, El," Sarah
menunjuk ke arah tumpukan sampah digital dan limbah kimia di luar jendela.
"Dunia ini hancur karena kita berhenti peduli pada realitas. Jika kita
tidak mematikan ini sekarang, suatu hari nanti tidak akan ada lagi manusia yang
tersisa untuk dibangunkan. Hanya akan ada server yang memutar ulang rekaman
hantu."
Elian melihat kembali ke arah Marcus. Pria
itu tersenyum dalam tidurnya, sebuah senyuman yang dibayar dengan subsidi
digital dasar yang menghisap martabatnya. Elian menyadari bahwa Hard Reset
bukan sekadar misi teknis, melainkan sebuah eksekusi terhadap kenyamanan
massal.
"Dunia nyata itu berat, Sarah,"
Elian berkata pelan sambil menyimpan kembali modul kuncinya. "Mereka akan
membenci kita karena telah membangunkan mereka."
"Aku tahu," jawab Sarah tegas.
"Tapi setidaknya, mereka akan membenci kita dengan perasaan mereka
sendiri, bukan karena algoritma menyuruh mereka."
Pilihan telah dibuat. Elian mematikan alat retasnya. Ia tidak akan melakukan uji coba kecil. Jika mereka akan membangunkan dunia, mereka harus melakukannya sekaligus—tanpa jalan kembali, tanpa kompromi. Harga dari pilihan ini adalah kebencian jutaan orang, tapi imbalannya adalah kesempatan terakhir bagi kemanusiaan untuk memiliki nasibnya sendiri.

Comments
Post a Comment