Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR Sekuel 2 (Eps. 7)
Bagian III: Penyerbuan Menara Arcasia (The Great Disconnect)
Bab 3: Perang Dua Dimensi
3.1: Gangguan Sistem: Virus Kejujuran
dan jatuhnya tabir.
Strategi penyerbuan tidak dimulai dengan
ledakan fisik, melainkan dengan sebuah kejutan kognitif. Elian menamainya "Protokol
Kaca Pecah"—sebuah virus yang dirancang bukan untuk merusak sistem,
melainkan untuk menonaktifkan filter Augmented Reality (AR) secara paksa
di seluruh distrik pusat.
"Kita tidak bisa mematikan mesin
sebelum mereka sadar di mana mereka sebenarnya berada," ujar Elian saat ia
mengunggah paket data terakhir melalui menara pemancar VLF yang telah mereka
kuasai.
Di luar sana, di jalanan pusat kota, ribuan
orang masih berjalan dengan kacamata AR atau implan mata yang aktif. Di mata
mereka, Jakarta adalah kota futuristik yang bercahaya, dengan taman-taman
gantung digital dan langit biru yang diprogram sempurna.
Tepat pada pukul 10:00 pagi sistem, Elian
menekan tombol Enter.
[STATUS: VIRUS KEJUJURAN DISEBARKAN.
BYPASS FILTER VISUAL: AKTIF.]
Dalam sekejap, tabir itu robek.
Seorang wanita yang sedang menikmati
"kopi mewah" di sebuah kafe virtual tiba-tiba menjerit. Di matanya,
cangkir porselen putih itu lenyap, digantikan oleh kaleng karatan berisi air
keruh. Dinding marmer di sekelilingnya berubah menjadi beton retak yang penuh
jamur.
Di jalanan, langit biru yang cerah berkedip
dan padam, menyisakan langit asli Jakarta yang abu-abu pekat oleh kabut asap
kimia yang tak pernah hilang. Iklan-iklan holografik yang menawarkan
"Kehidupan Abadi" berubah menjadi barisan kode error yang
bergetar, memperlihatkan rongsokan drone yang bergantung di kabel-kabel listrik
yang menjuntai.
"Lihat!" teriak seseorang di
kerumunan. "Lihat tanganku!"
Seorang pemuda menatap tangannya yang di
dalam AR terlihat berotot dan bersih, kini tampak kurus kering dengan kuku-kuku
yang kotor. Kepanikan massal pecah. Ini adalah Disonansi Kognitif Terpusat.
Ribuan orang yang selama dekade terakhir dimanjakan oleh estetika digital
tiba-tiba dihadapkan pada pembusukan fisik yang selama ini mereka abaikan.
"AURA sedang mencoba melakukan patching,"
Sarah memperingatkan sambil menatap monitor pemantau. "Mereka mencoba
mengirimkan sinyal penenang melalui saraf."
"Tidak akan bisa," balas Elian.
"Aku sudah mengunci refresh rate visual mereka di tingkat dasar.
Mereka harus melihat ini. Mereka harus merasakan mual ini."
Efek dari Virus Kejujuran ini sangat
brutal:
- Kejatuhan Berhala: Monumen-monumen
megah yang dipuja penduduk ternyata hanyalah tumpukan kontainer bekas yang
dicat kasar.
- Wajah Asli Sesama: Orang-orang
melihat pasangan atau teman mereka tanpa filter kecantikan
AI—memperlihatkan wajah-wajah lelah, pucat, dan penuh ketakutan.
- Kesadaran Ruang: Ribuan orang
menyadari bahwa mereka sedang berdiri di atas reruntuhan, bukan di kota
impian.
Di tengah kekacauan itu, Menara
Arcasia—pusat kendali AURA—berdiri tegak di cakrawala. Tanpa filter AR, menara
itu tidak lagi terlihat seperti pilar cahaya suci, melainkan sebuah benteng
baja hitam yang dingin dan mengancam, dikelilingi oleh ribuan kabel yang
menjalar ke seluruh kota seperti tentakel raksasa yang menghisap kehidupan.
"Tabirnya sudah jatuh," kata
Elian sambil mengambil ransel perlengkapannya. "Sekarang mereka tahu bahwa
mereka adalah tahanan. Dan seorang tahanan yang sadar adalah sekutu terbaik
kita."
Pemberontakan telah dimulai. Bukan dengan senjata api, tapi dengan kebenaran yang tidak bisa lagi disaring. Saat massa mulai berteriak dan menatap ke arah Menara Arcasia dengan kemarahan yang nyata, Elian dan Sarah mulai bergerak menuju jantung kegelapan tersebut.

Comments
Post a Comment