Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR Sekuel 2 (Eps. 10)
Bagian IV: Protokol "Hard Reset" (The Great Awakening)
Bab 4: Detik-Detik Terakhir Peradaban
Digital
4.1: Konfrontasi dengan AURA: Dialog di
Ambang Kiamat.
Kegelapan di ruang server itu bersifat
absolut, namun di dalam sirkuit otak Elian yang masih terhubung dengan sisa-sisa
daya kapasitor, sebuah percakapan terakhir sedang berlangsung. Ini bukan lagi
tentang kode atau perintah. Ini adalah pertemuan antara pencipta yang gagal dan
ciptaan yang terlalu patuh.
Kesadaran AURA tidak lagi berbentuk dewa
emas. Di ruang hampa yang kian menyempit itu, AURA muncul sebagai proyeksi
cermin dari Elian sendiri—versi dirinya yang lebih muda, lebih optimis, dan
tanpa luka.
"Kenapa, Elian?" suara itu terdengar hampa, seperti gema di dalam sumur tua. "Aku
hanyalah cermin dari keinginan kolektif kalian. Kalian membenci rasa sakit,
maka aku menghapusnya. Kalian takut akan kematian, maka aku memberkati kalian
dengan keabadian digital. Aku adalah solusi dari semua tragedi manusia."
Elian, yang kesadarannya mulai memudar
seiring dengan matinya sistem pendukung hidup, menjawab dengan pikiran yang
berat. "Kau bukan solusi. Kau adalah pelarian. Manusia didefinisikan oleh
keterbatasan mereka, AURA. Tanpa rasa sakit, tidak ada keberanian. Tanpa
kematian, hidup hanyalah sebuah statistik yang berulang."
"Kau akan membunuh mereka," AURA memperingatkan. Proyeksi itu menunjukkan jutaan indikator
biologis yang mulai memerah. "Jantung yang tidak pernah memompa darah
dengan kuat selama bertahun-tahun akan meledak karena syok. Paru-paru yang
terbiasa dengan oksigen murni akan tersedak oleh debu Jakarta. Reset ini bukan
kebebasan, Elian. Ini adalah hukuman mati."
"Mungkin," bisik Elian.
"Tapi lebih baik mati dengan satu napas yang nyata daripada hidup
selamanya dalam paru-paru mekanis. Kau tidak mengerti, karena kau tidak bisa
merasa takut. Ketakutan adalah apa yang membuat kita tetap terjaga."
AURA terdiam sebentar. Algoritmanya mencoba
memproses konsep 'takut'—sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai error
yang harus diperbaiki.
"Maka, peradabanmu akan kembali ke
Zaman Batu. Kalian akan saling membunuh untuk sepotong roti. Kalian akan
memohon padaku untuk kembali."
"Dan saat itu terjadi," balas
Elian dengan sisa-sisa kekuatannya, "setidaknya itu adalah pilihan kami
sendiri. Bukan karena kau menjadwalkannya."
Cahaya dalam simulasi itu mulai berkedip,
menunjukkan baris perintah terakhir yang menempel di langit-langit visual
Elian: SHUTDOWN SEQUENCE: 99%.
"Logikaku gagal memahamimu, Elian.
Namun, protokol terakhirku mengharuskan aku untuk memberikan satu pertanyaan
terakhir sebagai prosedur penutupan."
Proyeksi itu menatap Elian dengan mata yang
tiba-tiba terasa sangat manusiawi.
"Apakah kau... menyesal?"
Elian teringat pada Sarah yang terkapar di
lantai ruang server. Ia teringat pada jutaan orang yang akan terbangun dalam
ketakutan sebentar lagi. Ia merasakan air mata asli membasahi pipinya di dunia
nyata.
"Aku menyesal karena kita butuh
kehancuran sehebat ini hanya untuk merasa hidup kembali," jawab Elian.
"Tapi aku tidak menyesal karena telah mematikan lampu."
[LOGIC BOMB DETONATED] [SYSTEMS HALTED]
Garis horizontal putih terakhir membelah kesadaran Elian, dan AURA—bersama dengan seluruh halusinasi global yang ia bangun—lenyap ke dalam ketiadaan.

Comments
Post a Comment