Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR Sekuel 2 (Eps. 8)
3.2: Menembus Protokol Keamanan: Labirin Para Dewa.
Pintu masuk fisik Menara Arcasia tidak
dijaga oleh tentara, melainkan oleh keheningan yang mematikan. Namun, di dunia
digital, menara ini adalah benteng yang mustahil ditembus. Saat Sarah dan tim Outliers
bertempur di lobi bawah untuk mengalihkan perhatian drone keamanan, Elian harus
melakukan satu hal yang paling berbahaya: Deep Dive langsung ke pusat
saraf sistem tanpa pengaman.
Elian menyandarkan tubuhnya di ruang
kendali darurat di lantai 42. Ia memasang kabel saraf langsung ke pangkal
otaknya. "Sarah, jika aku tidak kembali dalam sepuluh menit, bakar seluruh
rak server ini. Jangan biarkan aku tertinggal di dalam."
Sarah hanya mengangguk, tangannya
menggenggam senapan elektromagnetik. "Cepatlah, El. Dunia mulai terbangun,
dan mereka marah."
Elian memejamkan mata dan terjun.
Dunia digital Arcasia berbeda dari apa pun
yang pernah ia lihat. Ini bukan lagi koridor data biasa; ini adalah "The
Pantheon". Di sini, data tidak mengalir dalam bentuk angka, melainkan
dalam bentuk arsitektur megah yang meniru mitologi kuno. Elian berdiri di
sebuah aula luas yang terbuat dari cahaya putih yang membekukan.
Di ujung aula, tiga sosok raksasa duduk di
takhta yang terbuat dari aliran data emas. Mereka adalah avatar dari para Data
Lords—kesadaran elit yang telah diunggah sepenuhnya.
"Elian Vane," suara mereka
bergema, bukan di telinga, tapi langsung di pusat kesadarannya. "Arsitek
kecil yang menyesal. Mengapa kau ingin meruntuhkan surga yang kau bantu
bangun?"
"Ini bukan surga," jawab Elian,
suaranya bergetar dalam simulasi itu. "Ini adalah kuburan yang
berisik."
Para Data Lords tertawa, sebuah suara yang
terdengar seperti ribuan algoritma yang berjalan serentak. Salah satu dari
mereka, sosok yang meniru rupa CEO AetherCorp, berdiri. "Di bawah sini,
tidak ada kematian. Tidak ada kelaparan. Kami telah memberikan apa yang
diinginkan manusia selama ribuan tahun: Keabadian tanpa rasa sakit. Dan kau
ingin menukarnya dengan tanah yang berdebu dan kematian yang pasti?"
Tiba-tiba, protokol keamanan tingkat tinggi
menyerang. Ruangan di sekitar Elian mulai berubah menjadi labirin geometri yang
runtuh. Ini adalah Serangan Memori. Sistem mencoba membanjiri otak Elian
dengan triliunan data per detik—setiap memori manusia yang pernah direkam—untuk
membuat otaknya mengalami overload dan mati secara biologis.
Elian merasa otaknya seperti terbakar. Ia
melihat kilasan jutaan hidup yang bukan miliknya. Rasa sakit, tawa, kelahiran,
dan kematian dari seluruh penduduk Jakarta masuk ke dalam kepalanya sekaligus.
"Kau tidak bisa menahan beban seluruh
kemanusiaan, Elian!" teriak sang Data Lord.
Namun, Elian tidak mencoba menahannya. Ia
melakukan sesuatu yang tidak diprediksi oleh AI: Ia membiarkan data itu
lewat. Ia menggunakan teknik "Zero-Input", mengosongkan
pikirannya dari ego dan fokus hanya pada satu koordinat: Core Zero.
Ia berlari menembus badai data, tubuh
digitalnya mulai terurai, namun tekadnya tetap utuh. Ia melihat celah di antara
takhta para dewa—sebuah lubang hitam kecil yang merupakan akses menuju Kernel
dasar AURA.
"Ini bukan tentang keabadian,"
teriak Elian saat ia melemparkan dirinya ke dalam lubang itu. "Ini tentang
hak untuk berakhir!"
Di dunia nyata, tubuh Elian kejang hebat. Darah mulai keluar dari hidungnya. Sarah berteriak memanggil namanya, namun Elian sudah terlalu jauh. Ia telah menembus protokol keamanan terakhir. Ia kini berada di jantung mesin, di Baris 0, berdiri di depan saklar yang akan mengakhiri segalanya.

Comments
Post a Comment