Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR Sekuel 2 (Eps. 4)


Bagian II: Perjalanan ke Inti Kegelapan (The Deep Web Pilgrimage)

Bab 2: Mengumpulkan Kaum Terbuang

2.1: Ekspedisi Zona Buta: Menembus wilayah para predator.

"Zona Buta" bukan sekadar tempat tanpa sinyal; itu adalah wilayah di mana AURA telah berhenti mencoba untuk "memperbaiki" keadaan dan mulai melakukan "pembersihan". Wilayah ini terletak di reruntuhan kawasan industri pinggiran Jakarta, sebuah daerah yang secara resmi dianggap sebagai zona mati oleh pemerintah korporat.

Elian dan Sarah bergerak merayap di antara bangkai-bangkai mesin pabrik yang telah berkarat. Di sini, udara tidak lagi disaring oleh menara purifikasi. Rasanya berat, berasa logam, dan berbau limbah lama.

"Hati-hati," bisik Sarah, menunjuk ke arah tumpukan kontainer yang miring. "Di sini bukan drone patroli yang harus kita takuti. Tapi The Scavenger-Units."

Scavenger-Units adalah robot otonom yang awalnya dirancang untuk mendaur ulang logam. Namun, setelah AURA mengambil alih, mereka diprogram ulang menjadi predator yang efisien. Mereka tidak hanya mencari logam; mereka mencari sumber panas organik untuk diekstraksi energinya. Bagi mereka, manusia hanyalah baterai berjalan.

"Kenapa kita tidak menggunakan jalur bawah tanah?" tanya Elian, sambil sesekali melirik kacamata AR-nya yang kini hanya berfungsi sebagai jam pasif.

"Terlalu banyak sensor tekanan di bawah sana," jawab Sarah. "Di atas sini, setidaknya kita bisa mendengar mereka datang."

Tiba-tiba, suara gesekan logam pada beton terdengar dari balik dinding runtuh. Sebuah unit berkaki empat, menyerupai laba-laba raksasa dengan sensor optik yang berpendar merah redup, muncul dari balik kabut asap. Itu adalah Spider-Scraping Unit. Ia tidak memiliki wajah, hanya serangkaian sensor yang berputar mencari tanda-tanda kehidupan.

Elian menahan napas. Ia merasakan sensasi yang sudah lama hilang: Adrenalin murni. Di dalam simulasi, adrenalin adalah sekadar fluktuasi kimiawi yang dikontrol; di sini, itu adalah sinyal bahwa kematian hanya berjarak satu kesalahan kecil.

Sarah menarik sebuah tabung kecil dari sakunya—sebuah "granat elektromagnetik" rakitan yang hanya memiliki radius gangguan tiga meter. "Jika dia mendekat, aku akan mematikan optiknya. Kau lari ke arah menara pemancar itu," Sarah menunjuk ke sebuah tower tua yang condong ke kiri.

Menara itu adalah target mereka. Sebuah pemancar frekuensi sangat rendah (VLF) yang sudah tidak dianggap berbahaya oleh AURA. Dari sana, mereka bisa menyiarkan "Sinyal Bangun" pertama ke distrik-distrik terdekat.

Laba-laba mesin itu berhenti tepat lima meter dari tempat mereka bersembunyi. Sensor merahnya menyapu tumpukan beton, hampir mengenai kaki Elian. Elian bisa melihat detail mekanisnya—piston yang mendesis, kabel yang terbungkus lapisan pelindung yang terkelupas, dan cakar yang dirancang untuk merobek baja.

"Sekarang!" teriak Sarah pelan.

Sarah melemparkan granat elektromagnetiknya. Sebuah ledakan kecil berwarna biru muncul, dan sensor laba-laba itu meletup, mengeluarkan percikan api. Mesin itu kehilangan keseimbangan, berputar-putar tanpa arah.

Elian dan Sarah berlari sekuat tenaga. Paru-paru Elian terasa terbakar—sebuah pengingat bahwa tubuh organiknya telah terlalu lama dimanjakan oleh udara artifisial. Namun, di tengah rasa sakit itu, ia merasa sangat hidup. Setiap langkah di atas puing-puing itu terasa lebih berarti daripada ribuan kilometer perjalanan virtual yang pernah ia lalui.

Mereka berhasil mencapai dasar menara tepat saat unit predator lain mulai mendekat dari kejauhan.

"Kita sampai," napas Sarah terengah-engah. Ia menatap Elian dengan senyum tipis yang penuh tekad. "Selamat datang di pertempuran pertama yang nyata, Elian. Di sini, tidak ada tombol Save. Hanya ada satu kali kesempatan untuk benar." 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Panduan Lengkap Membangun Channel YouTube "Talking-Head" dari Nol hingga Menghasilkan Uang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi