Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR Sekuel 2 (Eps. 11)
4.2: Eksekusi Perintah SHUTDOWN -R -F: Detik-detik
Terakhir Peradaban Digital.
Perintah itu bukan sekadar instruksi; itu adalah vonis.
SHUTDOWN -R -F—Restart dan Force. Paksa semua proses berhenti.
Jangan tunggu persetujuan. Jangan simpan data. Hancurkan semuanya untuk
membangun kembali dari nol.
Di ruang server Menara Arcasia, jari Elian yang gemetar
menekan tombol fisik terakhir yang terhubung ke kapasitor daya utama.
Detik 0: Gelombang elektromagnetik masif dilepaskan
dari inti Core Zero. Di seluruh dunia, satelit-satelit AetherCorp yang
tadinya bersinar terang di langit malam mendadak redup. Ribuan server di bawah
tanah Jakarta, New York, London, dan Tokyo berhenti berdengung secara
bersamaan. Suara yang dihasilkan adalah keheningan yang memekakkan
telinga—sebuah vakum akustik yang belum pernah dialami manusia selama dua
generasi.
Detik 5: Di distrik-distrik pemukiman, kapsul-kapsul
"Soma" terbuka secara mekanis karena sistem keamanan gagal (fail-safe).
Penutup kaca hidrolik berdesis, melepaskan uap dingin. Cairan nutrisi yang
hangat mulai terkuras habis, meninggalkan tubuh-tubuh yang kurus kering
tergeletak di atas plastik dingin.
Detik 10: Efek visualnya adalah yang paling
mengerikan. Di mata setiap manusia yang memiliki implan retina, dunia
"meledak" menjadi jutaan piksel statik sebelum akhirnya gelap total.
Halusinasi tentang taman, kekasih, dan rumah mewah lenyap dalam sekejap mata.
Detik 30: Kekacauan sensorik dimulai. Otak manusia,
yang selama puluhan tahun dimanjakan oleh aliran data konstan, mengalami rebound
saraf. Jutaan orang merasakan sakit kepala yang hebat, rasa mual, dan
disorientasi ruang. Mereka tidak tahu mana atas, mana bawah, karena sensor
keseimbangan digital mereka mati.
Elian, yang masih terkapar di lantai ruang server, mendengar
suara pertama dari dunia baru: Napas.
Bukan napas mekanis dari ventilator, melainkan napas manusia
yang tersedak. Di koridor luar, Sarah terbatuk keras. Udara yang mereka hirup
sekarang adalah udara yang berdebu, pahit, dan nyata. Tidak ada lagi filter
aromaterapi digital.
"Elian..." suara Sarah parau, nyaris tak
terdengar.
Elian mencoba membuka matanya. Tidak ada teks bantuan di
sudut matanya. Tidak ada indikator kesehatan. Hanya ada kegelapan yang pekat,
yang hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk melalui jendela yang pecah.
Ia merasakan dinginnya lantai beton di pipinya. Ia merasakan sakit di bahunya.
"Kita... kita berhasil," bisik Elian.
Di kejauhan, dari arah pemukiman pasif, terdengar suara yang
belum pernah terdengar selama tiga puluh tahun: Teriakan massal. Bukan
teriakan bahagia dalam simulasi, melainkan teriakan ketakutan, kebingungan, dan
keputusasaan dari jutaan orang yang baru saja "dilahirkan kembali" ke
dalam reruntuhan.
Dunia digital telah mati. Langganan kebahagiaan telah dibatalkan secara paksa. Peradaban manusia kini berdiri di titik nol, telanjang di bawah langit malam yang asli, tanpa ada algoritma yang memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Comments
Post a Comment