Pertanian sebagai Fondasi Kedaulatan Bangsa


Syekh Dr. Reza Abdul Jabbar, seorang praktisi agrikultur dan pendakwah yang lama menetap di Selandia Baru, menegaskan bahwa kekayaan sejati (real wealth) terletak pada sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan, bukan pada spekulasi aset digital seperti kripto [00:27].

Menurut beliau, sebuah negara tidak bisa dikatakan berdaulat jika belum mampu mengamankan kebutuhan primer rakyatnya, yakni pangan, pakan, dan sandang secara mandiri [00:00], [16:43].

Mengapa Selandia Baru Maju dengan Pertanian?

Selandia Baru menyadari posisi geografisnya yang terpencil, namun justru menjadikan keterpencilan tersebut sebagai keberkahan untuk membangun citra clean and green [03:11], [03:23]. Mereka memilih fokus pada sektor pertanian dan peternakan (khususnya produk susu) sebagai sumber utama devisa negara, yang terbukti mampu membawa kemakmuran bagi para petaninya [02:45], [05:49].

Tantangan Pertanian di Indonesia

Syekh Reza menyoroti beberapa poin krusial yang menghambat kemajuan sektor pertanian di Indonesia:

  • Marjinalisasi Harga: Petani seringkali diposisikan sebagai price taker (penerima harga). Intervensi pemerintah yang terlalu cepat menekan harga saat terjadi sedikit kenaikan dianggap kurang bijaksana dan justru merugikan petani yang sudah terhimpit inflasi dan biaya produksi tinggi [10:00], [14:03].

  • Mata Rantai yang Panjang: Jalur distribusi yang panjang dan minimnya fasilitas logistik berpendingin (cold chain) menyebabkan tingginya food waste (pemborosan pangan) dan harga yang diterima petani menjadi sangat rendah [18:03], [19:38].

  • Citra Profesi: Pertanian masih dianggap sebagai pilihan terakhir atau profesi terbelakang. Hal ini membuat generasi muda enggan terjun ke sektor ini karena hitung-hitungan ekonomi yang dianggap tidak menjanjikan [04:47], [23:19].

Visi Strategis untuk Indonesia

Untuk mencapai kedaulatan pangan, Syekh Reza menawarkan beberapa langkah sistematis:

1. Narasi Besar (Blueprint) Jangka Panjang

Indonesia memerlukan "Garis-garis Besar Pangan Nasional" yang tidak berubah meskipun terjadi pergantian kepemimpinan. Program ini harus disusun dengan target jangka panjang, bukan sekadar janji periode lima tahunan yang tidak realistis [00:55], [33:12].

2. Pendidikan Pertanian yang Elit

Fakultas Pertanian dan Peternakan harus direvitalisasi menjadi jurusan paling elit di Indonesia, setara dengan fakultas kedokteran atau teknik di universitas ternama. Fokusnya bukan pada kuantitas mahasiswa, melainkan pada pembentukan SDM tangguh (hard skills dan soft skills) yang benar-benar berniat menjadi petani profesional [37:59], [53:32].

3. Ekosistem Koperasi yang Mandiri

Belajar dari model Fontera di Selandia Baru, petani perlu membangun koperasi yang kuat sebagai "jaring pengaman". Koperasi ini harus berbasis pada penyetoran modal oleh petani sendiri untuk membiayai pabrik, logistik, dan operasional, serta dikelola oleh para petani yang kompeten agar tidak terbajak oleh kepentingan pihak luar [41:25], [46:21].

Pesan Penutup

Syekh Reza menutup dengan pesan optimis bahwa Indonesia memiliki semua potensi—iklim tropis, air melimpah, dan lokasi strategis—untuk menjadi negara adidaya (super power) berbasis agribisnis [30:04], [01:02:51].

Ketika petani makmur, ekonomi akan bergerak secara nyata di dalam negeri karena petani cenderung membelanjakan uangnya kembali untuk memperbaiki lahan, alat produksi, dan pendidikan, yang pada akhirnya akan memakmurkan seluruh lapisan masyarakat [01:04:42].

Video Referensi: https://youtu.be/vCFWw3LSj2o

 

Comments

Popular posts from this blog

8 Tools AI Voice Gratis yang Membuat Eleven Labs Ketinggalan Zaman!

Al-Kahfi, Dajjal dan Latihan Melihat Kenyataan di Balik Penampakan

50 Situs Web Serbaguna

Internet yang Ramai tetapi Terasa Sepi: Memahami Teori Internet Mati

Sebelas Dimensi: Batas Penglihatan, Batas Sains, dan Batas Manusia