SUAMI PELIHARAAN: Ketika Gelar "Tulang Punggung" Berubah Menjadi Beban di Pundak Istri
Sebuah Analisis Fenomena Bapak Rumah Tangga Pasif di Indonesia
Pendahuluan
"Pertanyaan terbuka untuk para suami di Indonesia yang
fisiknya sehat, sempurna, tidak kurang satu apa pun. Saya tidak tahu kalau
mentalnya. Yang papan, sandang, pangannya ditanggung penuh oleh sang istri.
Yang kerjaannya bel, tidak ada kerjaan sih, makan, tidur, napas, sama scroll HP
doang. Anda tidak malu?"
Kalimat ini terdengar kasar. Mungkin bahkan menyakitkan bagi
sebagian telinga. Tapi di balik nada sindirannya, ada realitas yang sudah
terlalu sering kita saksikan untuk terus dianggap kebetulan.
Dulu, gelar "tulang punggung keluarga" adalah
kehormatan yang disematkan pada suami yang memeras keringat demi memastikan
dapur tetap mengepul. Hari ini, gelar yang sama terasa seperti kutukan ketika
harus disandang oleh istri. Banyak perempuan tidak lagi sekadar menjadi tulang
punggung — mereka merangkap menjadi tulang dada, tulang rusuk, tulang betis,
seluruh kerangka yang menopang berdirinya rumah tangga seorang diri.
Lalu di mana para suami? Sebagian hanya menjadi pajangan di
kartu keluarga. Ada fisiknya, tapi tidak ada fungsinya.
MEMBEDAH FENOMENA
Antara Musibah dan Pilihan
Sebelum melangkah lebih jauh, satu hal perlu digarisbawahi:
fenomena yang dibahas di sini bukan tentang suami yang sedang tertimpa musibah.
Ini bukan tentang seorang ayah yang kehilangan pekerjaan karena perusahaannya
bangkrut, lalu pontang-panting mencari peluang baru. Ini juga bukan tentang
suami yang terbaring sakit menahun atau memiliki keterbatasan fisik yang
membatasi ruang geraknya.
Dalam pernikahan yang sehat, ketika ujian semacam itu
datang, istri yang tulus justru akan berdiri paling depan sebagai benteng. Ia
akan ikut memikul beban dan menjadi pelipur lara, karena tahu suaminya juga
sedang berjuang untuk keluarga mereka.
Yang sedang dibedah di sini adalah kelompok suami yang
fisiknya utuh, tenaganya kuat, nafsu makannya baik — tetapi mentalnya lumpuh.
Mereka menjadikan status pengangguran bukan sebagai masa transisi, melainkan
zona nyaman yang dipelihara bertahun-tahun.
Perbedaan yang Sering Dikaburkan
Ada jarak yang jauh antara orang yang belum punya
pekerjaan dan orang yang memang ogah bekerja. Yang pertama biasanya
gelisah, sulit tidur memikirkan nasib keluarganya esok hari. Yang kedua justru
memiliki ketenangan jiwa yang mengherankan — tidur nyenyak sampai siang, tanpa
beban moral melihat dompet istrinya kosong. Bagi kelompok ini, kemalasan bukan
lagi kelemahan yang disesali. Ia telah menjadi gaya hidup yang dijalani dengan
penuh kesadaran.
AKAR MASALAH
Dari Mana Beban Ini Sebenarnya Berasal?
Sebelum menuding gengsi sebagai biang keladi, ada baiknya
kita jujur soal asal-usulnya. Norma "suami harus menafkahi" bukan
turun dari langit — ia dibentuk oleh sejarah panjang pembagian peran di
masyarakat agraris dan industri, lalu dikukuhkan lewat agama, hukum, dan budaya
populer selama beberapa generasi. Norma ini pernah berfungsi sebagai jaring
pengaman ketika perempuan memang tidak diberi akses pendidikan atau pekerjaan
yang setara.
Masalahnya, dunia sudah berubah jauh lebih cepat daripada
norma itu sendiri. Perempuan kini punya akses pendidikan dan karier yang
setara, bahkan sering kali lebih tinggi. Tetapi ekspektasi sosial soal
"harga diri laki-laki = kemampuan mencari nafkah" belum ikut bergeser
secepat itu. Akibatnya, ketika seorang suami kehilangan penghasilan, yang
runtuh bukan cuma rekening banknya, tapi seluruh fondasi identitas yang sejak
kecil ia yakini sebagai jati dirinya sebagai laki-laki. Ini bukan pembenaran
untuk berdiam diri — ini konteks yang membantu kita memahami mengapa gengsi
terasa begitu menohok bagi sebagian pria, dan mengapa sebagian lain memilih
jalan yang jauh lebih dewasa untuk meresponsnya.
Gengsi sebagai Beban
Psikolog Marie Jahoda, lewat teori latent deprivation
yang ia kembangkan dari pengamatannya terhadap pengangguran massal, menjelaskan
bahwa pekerjaan memberi manusia lebih dari sekadar uang: ia memberi struktur
waktu, status sosial, tujuan harian, dan rasa terhubung dengan sesuatu yang
lebih besar dari dirinya sendiri. Ketika semua itu hilang bersamaan dengan
hilangnya pekerjaan, yang runtuh bukan hanya kondisi ekonomi, tetapi juga harga
diri.
Di sinilah letak percabangannya. Tidak semua orang merespons
keruntuhan itu dengan cara yang sama. Sebagian menjadikannya cambuk untuk
bangkit. Sebagian lain membangun benteng tinggi bernama gengsi — lebih rela
terlihat menganggur daripada memulai lagi dari bawah.
Jebakan "Momen yang Tepat"
Gengsi tidak membuat kenyang. Justru gengsi sering menjadi
alasan mengapa sebuah keluarga bisa kelaparan. Banyak pria merasa dirinya
terlalu terhormat untuk memulai dari titik nol. Ditawari menjadi pengemudi ojek
daring, jawabannya "panas, malu ketemu teman sekolah." Ditawari
menjadi sales, alasannya "duh, tidak bisa jualan."
Ada kisah nyata seorang suami menganggur yang sebenarnya
paham betul seluk-beluk bisnis — model bisnis, perhitungan laba-rugi, semua
bisa ia jelaskan dengan detail meyakinkan. Tapi ketika ditanya mengapa tidak
memulai saja dari yang kecil, jawabannya selalu sama: menunggu momen yang
tepat, menunggu modal besar, takut mengambil risiko.
Percakapan itu terjadi tiga sampai lima tahun lalu. Hingga
hari ini, "momen yang tepat" itu belum juga datang. Dan ia masih
bangga menyandang gelar bapak rumah tangga.
Self-Handicapping: Perlindungan Diri yang Merusak
Psikolog Edward Jones dan Steven Berglas menamai pola ini self-handicapping
— seseorang secara sengaja menciptakan alasan atau penghalang agar kegagalannya
kelak terlihat wajar, bukan karena ketidakmampuan. Di balik itu, sebenarnya ada
rasa takut: takut usahanya gagal, takut lamarannya ditolak. Untuk menjaga harga
diri tetap utuh, mereka menciptakan alasan yang terdengar masuk akal — menunggu
proyek, menunggu modal, menunggu momen yang tepat.
Jika dibiarkan, alasan berubah menjadi kebiasaan. Dan begitu
kebiasaan itu dipelihara cukup lama, kemalasan bukan lagi sekadar masalah — ia
berubah menjadi identitas.
DAMPAK TERHADAP ISTRI
Mental Load: Beban yang Tak Kasat Mata
Bagi istri yang terjebak dalam pernikahan semacam ini, ritme
hidupnya melelahkan sejak subuh. Ada yang menjadi buruh pabrik, SPG, karyawan
kantoran, pelaku UMKM — semua profesi yang memeras otak dan tenaga sekaligus.
Begitu pulang dalam kondisi lelah, yang menyambut bukan
kehangatan, melainkan tumpukan piring kotor, rumah berantakan, anak-anak
terlantar, dan suami yang santai bertanya, "Hari ini masak apa, Mah?"
Dalam psikologi keluarga, kondisi ini dikenal sebagai mental
load — beban kognitif karena harus terus-menerus mengingat dan mengelola
seluruh kebutuhan rumah tangga. Bukan cuma soal mencari uang, tapi juga
mengingat tagihan listrik, uang sekolah anak, jadwal imunisasi, stok beras, gas
yang hampir habis. Seluruh daftar tak terlihat ini dipikul sendirian,
bertahun-tahun, tanpa pembagian peran dari pasangan.
Titik Nol: Ketika Istri Memilih Bercerai
Data Badan Pusat Statistik yang bersumber dari Mahkamah
Agung dan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama mencatat 438.168 kasus
perceraian di Indonesia sepanjang 2025 — naik sekitar 10 persen dari 399.921
kasus pada tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, cerai gugat — gugatan yang
diajukan pihak istri — konsisten mendominasi hingga sekitar tiga perempat dari
total kasus, melanjutkan pola yang sudah terlihat sejak beberapa tahun
terakhir.
Setiap rumah tangga tentu punya cerita yang berbeda. Tapi
angka ini menunjukkan satu hal yang sulit dibantah: semakin banyak perempuan
yang memilih mengakhiri pernikahan ketika beban rumah tangga terasa mustahil
dipikul berdua.
Perselisihan dan pertengkaran terus-menerus tetap menjadi
alasan tertinggi, disusul faktor ekonomi. Dan di ruang sidang pengadilan agama,
para istri yang mengajukan gugatan bukan datang karena matre atau tidak sanggup
hidup susah. Banyak dari mereka datang setelah sampai di titik burnout —
kelelahan ekstrem yang berujung pada satu kesimpulan pahit: "Ini
pernikahan atau main rumah-rumahan? Kalau rumah tangga harusnya dibangun
berdua, kenapa akhirnya semua saya yang menanggung sendirian? Kenapa tidak
sekalian sendirian saja?"
Ketika Beban Berubah Menjadi Ancaman
Di era digital, seorang pria sehat dengan waktu luang dua
puluh empat jam sehari tanpa aktivitas produktif akan menghabiskan waktunya di
layar ponsel. Rasa bosan bercampur khayalan ingin cepat kaya membuka celah
menuju lingkaran setan.
Fenomena paling relevan hari ini adalah judi daring, yang
tren kenaikannya memang tercatat konsisten dalam data pengadilan agama beberapa
tahun terakhir — dari 993 kasus perceraian akibat judi pada 2021 menjadi 4.623
kasus pada 2025, kenaikan lebih dari tiga ratus persen dalam lima tahun. Meski
secara jumlah absolut faktor ini masih jauh di bawah perselisihan rumah tangga
atau ekonomi, lonjakannya adalah yang paling tajam di antara semua penyebab
perceraian yang tercatat.
Polanya sering berulang: bermula dari uang saku istri untuk
membeli rokok atau kuota internet. Begitu kecanduan, rasionalitas mulai runtuh.
Ketika uang saku habis sementara kecanduan sudah mengakar, dari mana modal
berikutnya dicari? Jawabannya sering kali: pinjaman daring — bahkan dengan
mencatut identitas istri, seseorang yang telah dijanjikan perlindungan dan
nafkah di hadapan Tuhan dan para saksi. Hasil akhirnya mudah ditebak: uang
pinjaman habis untuk berjudi, utang berlipat ganda, dan yang harus menanggung
konsekuensinya, lagi-lagi, adalah istri.
DALIL AGAMA YANG DISALAHGUNAKAN
Meski kontribusi finansialnya nol besar, sebagian suami
dalam kelompok ini masih memosisikan diri sebagai penguasa absolut rumah
tangga. "Bagaimanapun kondisinya, aku adalah imam, kepala keluarga.
Suaramu tidak boleh lebih tinggi dari suaraku."
Ini adalah bentuk paling licik dari penyalahgunaan dalil
agama: memilih ayat atau hadis yang menguntungkan kepentingan pribadi, sambil
mengabaikan ayat lain yang justru menjadi kewajibannya sendiri. Ada dalil yang
menyebut istri wajib taat kepada suami, dan ada dalil lain yang mewajibkan
suami bertanggung jawab menafkahi istrinya. Dalil pertama semestinya menjadi
bahan refleksi bagi istri sendiri untuk diamalkan — bukan senjata yang
diarahkan suami kepada istrinya.
Ketika seorang suami berteriak "istri harus taat kepada
suami" sambil dompetnya kosong dan tanggung jawabnya nihil, ke mana
perginya dalil tentang kewajiban suami menafkahi? Cara berpikir seperti inilah
yang melahirkan sosok yang tampak relijius di permukaan, tapi rabun total pada
bagian dalil yang justru membebani dirinya sendiri — dan pola pikir ini tidak
berhenti di ranah rumah tangga saja.
WARISAN DESTRUKTIF UNTUK GENERASI BERIKUTNYA
Anak sebagai Perekam yang Sangat Setia
Dari semua tragedi ini, ada satu hal yang jauh lebih
berbahaya: nasib anak-anak yang tumbuh di bawah atap rumah tersebut. Anak bukan
sekadar mendengarkan nasihat — mereka merekam apa yang dicontohkan. Psikolog
Albert Bandura menyebut proses ini observational learning, pembelajaran
lewat pengamatan, yang ia buktikan lewat serangkaian eksperimen klasik yang
menunjukkan betapa cepatnya anak meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya —
jauh lebih cepat daripada mencerna kata-kata yang diucapkan.
Cara ayah memperlakukan ibu, cara ibu menghadapi tekanan,
bagaimana konflik diselesaikan di dalam rumah — semua itu menjadi cetak biru
hubungan yang mereka anggap normal ketika dewasa kelak.
Siklus yang Berulang
Anak laki-laki yang tumbuh menyaksikan ayahnya santai
menganggur, merokok, dan minta dilayani sementara ibunya banting tulang
sendirian, berisiko mengadopsi pola pikir yang sama: menganggap mengeksploitasi
pasangan sebagai hal yang lumrah dalam pernikahan.
Sebaliknya, anak perempuan yang menyaksikan penderitaan
ibunya setiap hari cenderung tumbuh dengan trauma yang mendalam. Mereka
memandang pernikahan sebagai bentuk penderitaan yang harus dihindari —
melahirkan generasi muda yang takut dan enggan berkomitmen, karena ngeri
mendapatkan pasangan yang hanya menjadi beban seumur hidup.
Ini bukan sekadar teori di atas kertas. Cukup sedikit
kepekaan untuk melihatnya sudah mulai terjadi di sekitar kita.
REFLEKSI DAN HARAPAN
Apa yang Membuat Laki-laki Pantas Disebut Laki-laki?
Seorang laki-laki pantas disebut laki-laki ketika ada
konsistensi antara yang diucapkan dan yang dilakukan. Harga dirinya tidak
diukur dari seberapa keren ia terlihat di mata pasangannya, melainkan dari
seberapa besar ia rela merendahkan ego demi memastikan tanggung jawabnya
terpenuhi.
Mencari kerja di zaman sekarang memang tidak mudah —
persaingan ketat, lapangan kerja terbatas. Ini realitas yang perlu diakui,
bukan diremehkan. Tapi apa pun kesulitannya, laki-laki yang berkomitmen tidak
akan membiarkan pasangannya berjuang sendirian selama masih ada jalan yang
halal untuk ditempuh, sekecil apa pun jalan itu.
Ketika Suami Menjadi Beban vs Ketika Suami Menjadi Mitra
Tidak semua pria yang sedang menganggur terjerumus ke jalan
destruktif. Banyak yang justru memanfaatkan masa sulit untuk belajar
keterampilan baru, merintis usaha kecil, atau menjadi bapak rumah tangga yang
terhormat — mereka yang tetap menjaga harga diri dengan tidak membiarkan
istrinya menanggung semuanya sendirian.
Mereka benar-benar bertukar peran: istri bekerja mencari
nafkah, suami mengurus rumah — mencuci, memasak, membersihkan, mengasuh anak —
sambil terus mencari pekerjaan. Ketika istri pulang, rumah sudah rapi dan anak
sudah terurus. Ini bukan penghinaan terhadap maskulinitas. Ini kerja tim yang
sesungguhnya.
Pasangan yang sama-sama bekerja keras cenderung bertahan
karena keduanya tetap merasa satu tim. Sebaliknya, ketika satu pihak terus
menuntut dihormati tanpa mau ikut memikul beban, rasa hormat perlahan berubah
menjadi kekecewaan yang menumpuk diam-diam — sampai akhirnya meledak di ruang
sidang pengadilan agama.
PENUTUP
Fenomena "suami peliharaan" bukan keresahan yang
dibesar-besarkan. Ia bisa ditemukan dalam data perceraian, dalam literatur
psikologi keluarga, dalam laporan lembaga negara, dan tentu saja di media
sosial — lengkap dengan grup-grup curhat beranggotakan ribuan istri yang
mengalami pola serupa. Ini bukan lagi cerita satu-dua rumah tangga. Ini pola
yang perlahan mengakar di tengah masyarakat.
Dan jika dibiarkan, dampaknya tidak berhenti pada satu
keluarga. Ia ikut membentuk cara generasi berikutnya memaknai tanggung jawab,
komitmen, dan cinta itu sendiri. Kerusakan yang ditimbulkan satu kepala
keluarga tidak selesai dalam satu generasi — ia diwariskan sebagai pola pikir
kepada generasi setelahnya.
Pada akhirnya, pernikahan adalah kesepakatan dua orang untuk
saling menguatkan — bukan satu orang memikul beban sementara yang lain
menikmati hasilnya dari atas kasur. Dan ketika salah satu pihak memilih menjadi
beban ketimbang menjadi mitra, mungkin sudah waktunya kita bertanya lebih
jujur: apa arti sebuah komitmen, jika hanya dijalankan oleh satu orang?
"Harga diri seorang laki-laki tidak diukur dari
seberapa keren ia terlihat di mata pasangannya, tetapi dari seberapa besar ia
rela merendahkan egonya untuk memastikan tanggung jawabnya terpenuhi."
Pesan Penulis: Artikel ini ditulis bukan untuk
menghakimi, tetapi untuk membuka mata dan memantik kesadaran. Jika Anda merasa
tersinggung, mungkin ada sesuatu yang perlu direnungkan. Jika Anda merasa
terpanggil, mungkin sudah waktunya bertindak. Karena pada akhirnya, setiap
orang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri — termasuk pilihan untuk
menjadi beban atau menjadi penopang dalam rumah tangganya sendiri.

Comments
Post a Comment