Arogansi Epistemik: Antara Filsafat, Sains, dan Agama

“Arogansi epistemik dimulai ketika satu cara mengetahui merasa telah mengetahui segalanya.”

Narasi bahwa sejarah sains dan agama bergerak dari “bestie” menjadi “musuh bebuyutan” memang enak dibaca. Masalahnya, sejarah yang rumit sering dipaksa masuk ke skenario sinetron epistemologi. Konflik Galileo, perdebatan evolusi, munculnya positivisme, dan proses sekularisasi memang merupakan episode penting dalam sejarah intelektual Barat. Namun, episode-episode tersebut tidak otomatis membuktikan adanya perang abadi antara sains dan agama.

Yang bertabrakan dalam sejarah biasanya jauh lebih spesifik: teori ilmiah tertentu dengan penafsiran teologis tertentu; komunitas ilmiah dengan lembaga keagamaan tertentu; atau otoritas intelektual lama dengan bentuk otoritas pengetahuan yang baru. Bahkan apa yang kemudian dikenal sebagai tesis “warfare” antara sains dan agama, terutama dalam historiografi abad ke-19, kini banyak dikritik karena cenderung mereduksi sejarah yang kompleks menjadi konflik biner.

Kesalahannya sederhana: beberapa rumah pernah terbakar, lalu dibuat teori bahwa api adalah sifat hakiki semua rumah. Facebook tentu menyukai kesimpulan semacam itu. Sejarah dua ribu tahun selesai sebelum kopi dingin.

Penyederhanaan serupa muncul ketika sejarah filsafat modern diringkas menjadi urutan: Hume membuang metafisika, Kant membagi dunia menjadi fenomena dan noumena, lalu Lingkaran Wina datang membawa prinsip verifikasi dan menutup pintu bagi semua pembicaraan tentang Tuhan.

Masalahnya, Hume tidak sesederhana slogan “yang tidak dapat diindra harus dibuang”. Kritiknya terhadap metafisika jauh lebih bernuansa dan berkaitan dengan analisis terhadap asal-usul serta legitimasi gagasan. Kant juga tidak sekadar membagi kavling epistemologis dengan formula “fenomena milik sains, noumena milik agama”. Proyek transendentalnya justru berusaha menjelaskan syarat-syarat kemungkinan pengetahuan sekaligus membatasi apa yang dapat diklaim oleh akal teoretis.

Lebih problematis lagi apabila Wittgenstein diposisikan sebagai semacam bapak langsung prinsip verifikasi Lingkaran Wina. Tractatus Logico-Philosophicus memang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan positivisme logis dan para filsuf Lingkaran Wina. Namun Wittgenstein bukan anggota Lingkaran Wina, dan hubungan intelektualnya dengan kelompok tersebut jauh lebih kompleks daripada silsilah sederhana “Wittgenstein melahirkan positivisme”.

Positivisme logis sendiri kemudian menghadapi persoalan filosofis yang serius. Prinsip verifikasi—dalam berbagai formulasi yang berkembang di lingkungan tersebut—menghadapi pertanyaan mengenai status prinsip itu sendiri: apakah prinsip yang menyatakan bahwa suatu proposisi bermakna hanya jika dapat diverifikasi secara empiris juga merupakan proposisi yang dapat diverifikasi secara empiris?

Di sini muncul ironi epistemologis yang terkenal: satpam berkata, “Yang boleh masuk hanya orang yang memiliki kartu,” tetapi ketika diminta menunjukkan kartunya sendiri, masalahnya justru dimulai.

Kritik Popper terhadap verifikasi, kritik Quine terhadap sejumlah asumsi analitik-sintetik, analisis Kuhn mengenai paradigma dan perubahan ilmiah, serta perkembangan filsafat sains setelahnya menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat direduksi menjadi formula sederhana “terlihat + terukur = benar”. Observasi sendiri berlangsung dalam kerangka teori; konsep ilmiah memiliki sejarah; eksperimen membutuhkan asumsi dan instrumen; dan teori ilmiah tidak sekadar merupakan kumpulan fakta yang menunggu ditemukan.

Karena itu, ketika kritik terhadap agama dibangun dari karikatur filsafat sains, yang terjadi bukanlah kemenangan rasionalitas. Yang terjadi adalah penyederhanaan epistemologi.

Hal yang sama perlu dilakukan terhadap narasi tentang dunia Islam.

Ada sebuah cerita yang terlalu sering diulang: al-Ghazali mengkritik filsafat dalam Tahafut al-Falasifah, kritik tersebut mematikan rasionalisme, umat Islam kemudian meninggalkan penelitian alam, dan peradaban Islam pun memasuki kemunduran panjang.

Cerita itu terlalu rapi untuk menjadi penjelasan sejarah yang memadai.

Kritik al-Ghazali memang serius dan memiliki konsekuensi penting bagi perkembangan filsafat Islam, khususnya mengenai sejumlah proposisi metafisis yang ia anggap bertentangan dengan prinsip-prinsip teologis tertentu. Tetapi Tahafut al-Falasifah tidak dapat begitu saja dibaca sebagai deklarasi perang terhadap matematika, kedokteran, astronomi, atau seluruh penyelidikan rasional.

Lebih penting lagi, aktivitas ilmiah di dunia Islam tidak berhenti setelah al-Ghazali. Tradisi astronomi, kedokteran, matematika, optika, dan berbagai bentuk penelitian alam tetap berkembang melalui jaringan ulama, ilmuwan, institusi pendidikan, observatorium, rumah sakit, perpustakaan, dan pusat-pusat patronase yang berbeda-beda. Bahkan perkembangan tersebut berlangsung dalam rentang waktu dan wilayah yang terlalu luas untuk dijelaskan oleh tindakan intelektual seorang tokoh.

Karena itu, jika hendak menjelaskan perubahan atau kemunduran relatif dalam kapasitas ilmiah berbagai masyarakat Muslim, kita perlu melihat lebih banyak variabel: struktur politik, stabilitas institusi, patronase, ekonomi, pola pendidikan, perang, perubahan jaringan perdagangan, konfigurasi kekuasaan, perkembangan teknologi, kolonialisme, serta perubahan institusional yang kemudian melahirkan sains modern.

Menjadikan satu teolog sebagai tersangka utama kemunduran berabad-abad mirip menemukan perpustakaan sepi lalu menangkap kitab filsafat sebagai pelakunya.

Persoalan yang lebih mendasar sebenarnya adalah kekacauan kategori epistemologis.

Sains modern memiliki kekuatan luar biasa ketika berhadapan dengan pertanyaan empiris mengenai mekanisme dunia: bagaimana penyakit menyebar, bagaimana planet bergerak, bagaimana gen diwariskan, bagaimana materi berinteraksi, atau bagaimana sistem biologis berevolusi.

Tetapi pertanyaan manusia tidak berhenti pada mekanisme.

Ada pertanyaan mengenai nilai, makna, tujuan, kewajiban, keadilan, martabat manusia, dan batas moral penggunaan pengetahuan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak otomatis menjadi pertanyaan ilmiah hanya karena jawabannya berkaitan dengan dunia nyata. Sebaliknya, agama dan filsafat juga tidak otomatis memiliki kompetensi empiris hanya karena berbicara tentang realitas.

Ini bukan berarti sains, agama, dan filsafat harus ditempatkan dalam kamar kedap suara. Justru sebaliknya: mereka dapat saling mengoreksi ketika klaim-klaimnya benar-benar bersinggungan.

Tetapi kita harus membedakan jenis klaim yang sedang dibuat.

Mikroskop tidak dirancang untuk mencari Tuhan, sebagaimana kitab suci tidak diturunkan sebagai manual teleskop. Meminta agama membuktikan seluruh klaim empirisnya dengan metode laboratorium adalah saintifikasi agama. Sebaliknya, meminta laboratorium memutuskan apakah pengkhianatan itu bermoral atau apakah manusia mempunyai kewajiban terhadap orang yang lemah adalah bentuk lain dari kekeliruan kategori.

Arogansi epistemik muncul ketika metode yang berhasil dalam satu domain dianggap otomatis menjadi hakim tertinggi bagi seluruh realitas.

Ia muncul bukan karena seseorang menggunakan sains, agama, atau filsafat. Ia muncul ketika salah satunya naik ke panggung dan berkata:

“Karena palu saya sangat hebat, seluruh realitas pasti paku.”

Di titik inilah kerendahan hati epistemik menjadi penting.

Sains perlu mengakui batas metodologisnya tanpa merendahkan kekuatan penjelasan empirisnya. Agama perlu membedakan wahyu dari penafsiran manusia terhadap wahyu, sehingga kritik terhadap tafsir tidak otomatis dianggap sebagai serangan terhadap wahyu itu sendiri. Filsafat perlu menjaga agar konsep-konsep seperti “rasional”, “ilmiah”, “benar”, dan “bermakna” tidak digunakan secara sembarangan tanpa pemeriksaan terhadap asumsi yang mendasarinya.

Dan bagi dunia Muslim, tantangannya bahkan lebih menarik.

Pilihan yang tersedia bukan sekadar “ikut Barat” atau “menolak Barat”. Kita juga tidak perlu terjebak dalam proyek mencocok-cocokkan setiap penemuan laboratorium dengan ayat atau hadis, seolah validitas wahyu baru menjadi kuat setelah mendapat stempel dari jurnal ilmiah.

Yang lebih produktif adalah membangun tradisi keilmuan yang empiris dalam penelitian, rasional dalam argumentasi, kritis dalam filsafat, terbuka terhadap koreksi, dan berorientasi etis dalam penggunaan pengetahuan.

Sebab persoalan terbesar abad ke-21 mungkin bukan lagi perang antara sains dan agama.

Kita sedang memasuki zaman ketika manusia memiliki AI, rekayasa genetika, senjata otonom, algoritma prediktif, bioteknologi, dan kemampuan manipulasi informasi dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya.

Pertanyaannya bukan lagi semata-mata:

“Apakah kita mampu melakukannya?”

Pertanyaan yang semakin mendesak adalah:

“Jika kita mampu melakukannya, apakah kita patut melakukannya?”

Sains dapat membantu kita memahami konsekuensi. Teknologi dapat memperluas kemampuan. Filsafat dapat menguji argumen. Agama dapat menawarkan horizon makna dan kewajiban moral bagi mereka yang menerimanya.

Tetapi tidak satu pun dari semuanya memberi manusia izin untuk berhenti berpikir.

Mungkin justru itulah bentuk kedewasaan epistemik yang kita perlukan: bukan memilih siapa yang harus menang dalam perang sains melawan agama, melainkan menyadari bahwa sebagian besar perang tersebut dibangun dari karikatur.

Jangan sampai sains dan agama sudah selesai berdebat, sementara manusianya masih sibuk berkelahi di kolom komentar untuk menentukan siapa yang paling ilmiah dalam menghina pihak lain.

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Panduan Lengkap Membangun Channel YouTube "Talking-Head" dari Nol hingga Menghasilkan Uang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi