Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi
Pendahuluan
Pertanyaan “Apakah Tuhan itu ada?” tampak sederhana. Namun,
jika ditelaah secara ontologis, pertanyaan tersebut mungkin sejak awal telah
menempatkan Tuhan dalam kategori yang keliru.
Kita biasanya bertanya apakah sesuatu “ada” ketika sesuatu
itu dipahami sebagai salah satu objek atau entitas di dalam realitas. Kita
bertanya apakah batu ada, apakah matahari ada, apakah kehidupan ada, atau
apakah alam semesta ada. Dalam semua pertanyaan itu, “ada” diperlakukan sebagai
sesuatu yang dimiliki oleh objek tertentu.
Tetapi bagaimana jika Tuhan tidak dimaksudkan sebagai salah
satu objek di antara objek-objek lainnya?
Bagaimana jika Tuhan dipahami sebagai Yang Maha Ada—bukan
sekadar sesuatu yang ada, melainkan Ada itu sendiri, dasar ontologis
dari segala sesuatu yang ada?
Jika demikian, pertanyaan “Apakah Tuhan ada?” perlu ditinjau
ulang.
1. “Ada” adalah titik awal, bukan kesimpulan
Sebelum bertanya tentang apa pun, kita telah berhadapan
dengan satu fakta paling dasar:
Ada.
Ada sesuatu.
Kita dapat meragukan banyak hal. Kita dapat meragukan
persepsi, teori, pengetahuan, bahkan interpretasi kita terhadap dunia. Tetapi
kita tidak dapat keluar dari keberadaan untuk membuktikan keberadaan dari luar
keberadaan.
Bahkan ketika seseorang mengatakan, “Saya meragukan bahwa
sesuatu ada,” tindakan meragukan itu sendiri merupakan sesuatu yang terjadi dan
karena itu sudah “ada”.
Dengan demikian, “ada” bukan pertama-tama suatu kesimpulan
yang diperoleh dari bukti. Ia merupakan prasyarat bagi bukti itu sendiri.
Setiap bukti sudah ada.
Setiap pertanyaan sudah ada.
Setiap jawaban sudah ada.
Setiap proses berpikir sudah ada.
Karena itu, pada tingkat paling primordial:
Ada tidak perlu dibuktikan agar kita dapat mulai
berpikir; justru kemampuan untuk membuktikan sesuatu mengandaikan bahwa ada.
2. “Ada” berbeda dari “yang ada”
Di sini terdapat pembedaan yang sangat penting.
Batu itu ada.
Tetapi batu bukanlah “Ada”.
Matahari itu ada.
Tetapi matahari bukanlah “Ada”.
Manusia itu ada.
Tetapi manusia bukanlah “Ada”.
Kosmos itu ada.
Tetapi kosmos bukanlah “Ada”.
Kita dapat menyebut semua itu sebagai yang ada—entitas
atau realitas tertentu yang memiliki keberadaan.
Namun “Ada” tidak identik dengan salah satu entitas
tersebut.
Secara sederhana:
Batu → ada.
Matahari → ada.
Kosmos → ada.
Tetapi batu ≠ Ada.
Matahari ≠ Ada.
Kosmos ≠ Ada.
Ini membawa kita pada pertanyaan metafisik yang jauh lebih
mendasar daripada “apakah Tuhan ada?”:
Apa arti “ada” itu sendiri?
3. Mengapa “Ada” tidak mudah didefinisikan?
Definisi biasanya menjelaskan sesuatu menggunakan konsep
lain yang lebih umum atau lebih fundamental.
Kita dapat mendefinisikan manusia melalui kategori tertentu.
Kita dapat mendefinisikan benda melalui sifat dan relasinya. Kita dapat
mendefinisikan objek tertentu melalui ciri-ciri yang membedakannya dari objek
lain.
Tetapi ketika kita mencoba mendefinisikan “Ada” secara
paling fundamental, kita menghadapi persoalan.
Kita tidak dapat menggunakan sesuatu yang berada “di luar
Ada” sebagai dasar definisi, karena tidak ada sesuatu yang berada di luar
keberadaan.
Setiap konsep yang digunakan untuk mendefinisikan “Ada”
sudah merupakan sesuatu yang ada.
Karena itu, pernyataan yang lebih presisi bukanlah bahwa
“Ada sama sekali tidak dapat dibicarakan”, melainkan:
Ada tidak dapat dijelaskan melalui sesuatu yang secara
ontologis lebih fundamental daripada Ada.
“Ada” merupakan horizon paling dasar yang sudah mengandaikan
setiap definisi, setiap konsep, dan setiap penalaran.
Maka ungkapan:
“Ada adalah ada.”
bukan sekadar permainan bahasa apabila dipahami secara
ontologis. Ia menunjuk pada kenyataan bahwa keberadaan tidak dapat diturunkan
dari ketiadaan melalui definisi atau bukti yang lebih fundamental.
4. Dari “yang ada” menuju “Yang Maha Ada”
Di sinilah konsep Tuhan dapat ditempatkan dalam bentuk yang
lebih radikal.
Jika Tuhan dipahami hanya sebagai satu entitas yang sangat
kuat, sangat besar, atau sangat tinggi dibandingkan entitas lainnya, maka Tuhan
masih menjadi salah satu “yang ada”.
Dalam model seperti itu, pertanyaan:
“Mengapa Tuhan ada?”
masih sepenuhnya masuk akal.
Tetapi konsep yang sedang dibahas berbeda.
Tuhan dipahami sebagai:
Yang Maha Ada.
Bukan “makhluk yang paling kuat”.
Bukan “objek tertinggi di alam semesta”.
Bukan “entitas yang berada di suatu tempat di luar galaksi”.
Melainkan Ada yang niscaya dan menjadi dasar keberadaan
segala sesuatu yang kontingen.
Dalam bahasa metafisika klasik, gagasan ini berdekatan
dengan konsep ipsum esse subsistens: keberadaan itu sendiri yang
subsisten.
Dalam kerangka ini, Tuhan bukan sesuatu yang terlebih dahulu
ada lalu kemudian diberi sifat “ada”.
Sebaliknya:
Tuhan adalah Ada itu sendiri.
Perbedaannya sangat fundamental.
Batu memiliki keberadaan.
Kosmos memiliki keberadaan.
Manusia memiliki keberadaan.
Sedangkan Yang Maha Ada tidak dipahami sebagai sesuatu yang
menerima keberadaan dari sesuatu yang lain.
5. Apakah “Yang Maha Ada” masih membutuhkan bukti?
Jika Tuhan dipahami sebagai objek tertentu di dalam
realitas, maka tuntutan bukti dapat menjadi pertanyaan yang wajar.
Namun jika Tuhan dipahami sebagai dasar ontologis dari
keberadaan itu sendiri, tuntutannya berubah.
Kita tidak lagi mencari objek bernama “Tuhan” di antara
objek-objek lain.
Kita sedang mempertanyakan dasar dari fakta bahwa segala
sesuatu dapat ada.
Dengan demikian, kalimat:
“Buktikan bahwa Tuhan ada.”
dapat mengandung asumsi tersembunyi bahwa Tuhan merupakan
suatu entitas yang keberadaannya ditambahkan kepada realitas.
Padahal dalam konsepsi ini, Tuhan justru merupakan dasar
yang memungkinkan kita berbicara mengenai keberadaan.
Karena itu, formulasi yang lebih tepat adalah:
Jika Tuhan adalah Yang Maha Ada, maka Tuhan bukan sesuatu
yang keberadaannya harus dibuktikan melalui sesuatu yang lebih fundamental
daripada-Nya.
Bukan karena Tuhan “kebal terhadap bukti”, melainkan karena
konsep Tuhan yang dimaksud sudah berbeda secara kategori dari objek yang
biasanya kita buktikan keberadaannya.
6. Namun “alam ada” tidak otomatis membuktikan Tuhan
Di sini diperlukan disiplin logis.
Dari:
“Alam ada”
tidak otomatis mengikuti:
“Maka Tuhan ada.”
Keduanya tidak merupakan silogisme sederhana.
Yang dapat dikatakan adalah bahwa keberadaan alam membuka
persoalan metafisik:
Apakah alam merupakan realitas yang kontingen, ataukah ia
sendiri merupakan realitas niscaya?
Jika alam kontingen, kita dapat bertanya mengenai dasar
keberadaannya.
Jika seluruh penjelasan yang diberikan juga kontingen, kita
dapat bertanya apakah diperlukan suatu dasar yang tidak kontingen.
Dari sinilah muncul berbagai bentuk argumen kosmologis
dan argumen dari kontingensi.
Bentuk sederhananya:
- Ada
sesuatu.
- Sebagian
atau seluruh yang ada bersifat kontingen.
- Yang
kontingen membutuhkan dasar atau penjelasan.
- Regresi
penjelasan kontingen tidak memberikan dasar terakhir.
- Maka
mungkin diperlukan suatu realitas yang niscaya.
Tetapi bahkan jika langkah tersebut diterima, kita belum
otomatis memperoleh seluruh konsep Tuhan dalam agama tertentu.
Kita baru memperoleh kemungkinan:
Ada suatu realitas niscaya yang menjadi dasar keberadaan.
Masih diperlukan argumen tambahan untuk menyimpulkan bahwa
realitas niscaya tersebut bersifat personal, berkesadaran, berkehendak,
mahatahu, mahakuasa, atau memberikan wahyu tertentu.
7. Persoalan “Siapa yang menciptakan Tuhan?”
Pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi tentang Tuhan.
Jika segala sesuatu membutuhkan sebab, maka siapa yang
menyebabkan Tuhan?
Tetapi jika Tuhan dipahami sebagai Yang Maha Ada atau necessary
being, jawabannya bukan bahwa Tuhan memiliki sebab yang belum kita temukan.
Justru:
Tuhan tidak termasuk dalam kategori sesuatu yang
membutuhkan sebab eksternal.
Jika Tuhan membutuhkan sebab yang lebih fundamental, maka
Tuhan bukan lagi dasar terakhir.
Namun kritik terhadap posisi ini tetap sah:
Jika kita boleh berhenti pada suatu realitas yang tidak
membutuhkan penjelasan lebih lanjut, mengapa realitas itu harus disebut Tuhan?
Mengapa tidak mengatakan bahwa realitas fundamental itu sendiri ada begitu
saja?
Inilah titik perdebatan metafisika yang sebenarnya.
Teisme mengatakan bahwa terdapat suatu realitas niscaya yang
menjadi dasar keberadaan.
Naturalisme dapat mengatakan bahwa realitas fundamental
adalah fakta yang tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut (brute fact).
Keduanya menghadapi pertanyaan yang berbeda.
Karena itu, persoalan mendasarnya bukan sekadar “siapa
menciptakan Tuhan?”, tetapi:
Apakah pada tingkat terakhir realitas terdapat sesuatu
yang niscaya, dan apakah realitas niscaya tersebut dapat diidentifikasi dengan
Tuhan?
8. Tuhan sebagai Yang Tak Terbatas dan Tak Terdefinisikan
Sekarang muncul pertanyaan lain:
Bagaimana jika Tuhan adalah Yang Maha Tak Terbatas dan Tak
Terdefinisikan?
Jika Tuhan benar-benar tak terbatas, maka ada batas
epistemik yang tidak dapat dihindari.
Manusia berpikir menggunakan konsep yang terbatas.
Bahasa bekerja melalui pembedaan.
Definisi bekerja dengan menetapkan batas konseptual.
Jika kita memiliki definisi yang sepenuhnya menangkap Tuhan,
maka definisi tersebut sendiri akan menjadi objek yang terbatas.
Karena itu, ada tradisi filosofis dan teologis yang
menggunakan via negativa atau teologi apofatik: Tuhan lebih tepat
didekati dengan mengatakan apa yang Tuhan bukan daripada mengklaim bahwa kita
telah menangkap hakikat Tuhan secara lengkap.
Kita dapat mengatakan:
Tuhan tidak terbatas.
Tuhan tidak kontingen.
Tuhan tidak bergantung pada sesuatu yang lain.
Tetapi kita harus berhati-hati menganggap kata-kata tersebut
sebagai gambaran lengkap tentang hakikat Tuhan.
Ketidakmampuan manusia mendefinisikan Tuhan secara sempurna
tidak dengan sendirinya membantah Tuhan.
Jika objek yang dimaksud memang tak terbatas, keterbatasan
konsep manusia justru dapat dipandang sebagai konsekuensi yang wajar.
9. Tetapi “tak terdefinisikan” bukan berarti “bebas dari logika”
Ini merupakan batas yang penting.
Mengatakan:
“Tuhan melampaui definisi manusia”
tidak sama dengan mengatakan:
“Apa pun yang dikatakan tentang Tuhan pasti benar.”
Jika dua proposisi benar-benar saling kontradiktif dalam
arti yang sama dan pada saat yang sama, kita tidak dapat menghapus kontradiksi
hanya dengan mengatakan bahwa Tuhan tak terbatas.
Jadi harus dibedakan:
Tuhan melampaui kemampuan definisional manusia
dari:
Tuhan tidak tunduk pada koherensi logis.
Yang pertama dapat dipertahankan dalam kerangka metafisika
tertentu.
Yang kedua membutuhkan argumen jauh lebih besar dan tidak
boleh diasumsikan begitu saja.
10. Problem of evil dan divine hiddenness
Diskusi mengenai Tuhan juga harus memperhitungkan argumen
yang berlawanan.
Jika Tuhan dipahami sebagai mahakuasa, mahatahu, dan
sempurna secara moral, muncul persoalan penderitaan.
Mengapa ada penderitaan yang tampaknya tidak diperlukan?
Mengapa terdapat penyakit, bencana alam, penderitaan hewan,
dan tragedi yang terjadi jauh sebelum manusia bahkan muncul?
Ini tidak otomatis menghasilkan kontradiksi logis antara
Tuhan dan penderitaan, tetapi merupakan tantangan probabilistik dan moral yang
serius bagi konsep tertentu tentang Tuhan.
Demikian pula muncul persoalan divine hiddenness:
Jika Tuhan ingin manusia mengenal-Nya, mengapa keberadaan
Tuhan tidak tampak secara universal dan tidak terbantahkan?
Mengapa terdapat manusia yang sungguh-sungguh mencari tetapi
tetap tidak menemukan keyakinan religius?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak membantah konsep “Yang Maha
Ada” secara langsung. Tetapi pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika kita
bergerak dari konsep abstrak tentang Ada menuju konsep Tuhan yang personal,
berkehendak, dan berelasi dengan manusia.
Ini penting karena:
“Ada itu sendiri” dan “Tuhan personal yang mewahyukan
agama tertentu” bukanlah proposisi yang identik.
Ada jarak argumentatif di antara keduanya.
11. Pendekatan Bayesian
Persoalan Tuhan juga dapat dilihat secara probabilistik.
Pertanyaannya bukan semata-mata:
“Bisakah Tuhan dibuktikan?”
melainkan:
Jika Tuhan ada, seberapa mungkin kita mendapatkan dunia
seperti yang kita amati?
Dan sebaliknya:
Jika Tuhan tidak ada, seberapa mungkin kita mendapatkan
dunia seperti yang kita amati?
Secara formal, ini dapat dinyatakan sebagai:
P(T|E) = P(E|T)·P(T) / [P(E|T)·P(T) + P(E|¬T)·P(¬T)]
T = Tuhan ada
E = keseluruhan evidence
P(T) = prior, keyakinan awal sebelum melihat evidence
P(E|T) = peluang evidence ini muncul, jika Tuhan ada
P(E|¬T) = peluang evidence ini muncul, jika Tuhan tidak ada
Namun pendekatan ini memiliki keterbatasan. Kita tidak memiliki cara yang disepakati secara universal untuk menetapkan angka objektif bagi prior Tuhan.
Karena itu, angka seperti “Tuhan 70% mungkin” tidak boleh
diperlakukan sebagai hasil pengukuran ilmiah.
Yang lebih berguna adalah membandingkan arah evidence.
Keteraturan alam, fine-tuning, kesadaran, rasionalitas, dan
objektivitas moral dapat dipandang sebagai evidence yang oleh sebagian filsuf
lebih mudah dijelaskan melalui teisme.
Sebaliknya, penderitaan, kejahatan alami, divine hiddenness,
dan pluralitas agama dapat dipandang sebagai evidence yang menekan bentuk
tertentu dari teisme.
Kesimpulan yang disiplin bukanlah kepastian matematis,
tetapi evaluasi terhadap daya jelaskan dan asumsi metafisik
masing-masing posisi.
12. Batas antara “Ada” dan “Tuhan personal”
Di sinilah seluruh diskusi harus dibedakan secara
sistematis.
Pertanyaan pertama:
Apakah ada keberadaan?
Jawabannya langsung:
Ada.
Pertanyaan kedua:
Apakah segala sesuatu yang ada bersifat kontingen?
Ini merupakan pertanyaan metafisik.
Pertanyaan ketiga:
Apakah terdapat realitas yang niscaya?
Ini juga pertanyaan metafisik.
Pertanyaan keempat:
Apakah realitas niscaya tersebut adalah Ada itu sendiri?
Ini merupakan tesis ontologis yang lebih spesifik.
Pertanyaan kelima:
Apakah Ada itu sendiri bersifat personal atau
berkesadaran?
Ini membutuhkan argumen tambahan.
Pertanyaan keenam:
Apakah Ada itu sendiri berkehendak dan berelasi dengan
manusia?
Masih membutuhkan argumen tambahan.
Pertanyaan ketujuh:
Apakah Ia mewahyukan agama tertentu?
Ini memasuki wilayah filsafat agama dan epistemologi wahyu.
Dengan demikian, seseorang tidak boleh membuktikan satu
tingkat lalu berpura-pura telah membuktikan seluruh tingkat berikutnya.
13. Pertanyaan “Apakah Tuhan ada?” dapat menjadi pertanyaan kategori yang keliru
Jika Tuhan dipahami sebagai objek, pertanyaan tersebut masuk
akal.
Tetapi jika Tuhan dipahami sebagai Yang Maha Ada,
maka Tuhan bukan salah satu entitas yang berdiri berdampingan dengan batu,
manusia, bintang, dan kosmos.
Ia bukan:
batu + Tuhan
atau:
kosmos + Tuhan.
Melainkan:
dasar ontologis yang memungkinkan batu, manusia, bintang,
dan kosmos disebut “ada”.
Dalam kerangka ini, pertanyaan:
“Apakah Tuhan ada?”
menyerupai pertanyaan:
“Apakah Ada itu ada?”
Pertanyaan tersebut sudah mengandung persoalan kategoris.
Karena “ada” bukan pertama-tama salah satu objek yang perlu
dicari.
14. Perspektif Tauhid: Allah sebagai Wajibul Wujud
Dalam tradisi tauhid Islam, gagasan ini memiliki padanan
yang sangat kuat dalam konsep Wajibul Wujud.
Allah dipahami sebagai Wajibul Wujud bi dzatihi:
Wajib Ada dengan Zat-Nya sendiri. Eksistensi-Nya tidak bergantung kepada sebab,
kondisi, ruang, waktu, atau sesuatu di luar-Nya.
Berbeda dengan seluruh makhluk yang keberadaannya bersifat
bergantung (mumkinul wujud), Allah tidak menerima keberadaan dari
sesuatu yang lain.
Dengan demikian, hubungan ontologisnya dapat dirumuskan
secara sederhana:
Allah tidak membutuhkan alam agar ada; alam membutuhkan
Allah agar ada.
Maka tuntutan:
“Apa bukti eksternal bahwa Allah ada?”
perlu dibaca kembali.
Jika Allah adalah Wajibul Wujud, maka eksistensi-Nya bukan
sesuatu yang memperoleh legitimasi dari realitas lain yang lebih fundamental.
Justru segala sesuatu yang kontingen berhajat kepada-Nya.
Dalam perspektif ini, alam bukan “bukti” dalam arti bahwa
Allah membutuhkan alam untuk membuktikan diri-Nya. Sebaliknya, keberadaan
alam yang bergantung justru menunjuk kepada kebutuhan ontologisnya terhadap
Yang Tidak Bergantung.
Ini merupakan perbedaan penting antara:
membuktikan keberadaan Allah melalui sesuatu yang lebih
fundamental
dan:
mengenali ketergantungan segala sesuatu kepada Allah
sebagai Yang Fundamental.
Yang pertama mengandaikan bahwa ada sesuatu yang lebih
tinggi daripada Allah.
Yang kedua justru menempatkan Allah sebagai dasar terakhir.
15. Maqam Syuhud: Allah dikenal, alam dikenal karena Allah
Dalam tradisi tasawuf, persoalan ini tidak berhenti pada
argumentasi intelektual.
Ada dimensi syuhud—penyaksian atau kesadaran batin.
Dalam perspektif ini, Allah tidak diposisikan sebagai objek
yang baru diketahui setelah manusia mengumpulkan cukup banyak bukti tentang
alam.
Sebaliknya, keberadaan Allah dipandang begitu mendasar dan
terang sehingga alam justru dikenali melalui Allah, bukan Allah dikenali
melalui alam.
Dengan ungkapan yang sejalan dengan perspektif tersebut:
Bukan Allah yang menjadi jelas karena alam; alam menjadi
jelas karena Allah.
Ini mengubah arah epistemologis pencarian.
Dalam pendekatan biasa:
alam → bukti → kesimpulan tentang Tuhan.
Dalam pendekatan syuhud:
Allah → dengan-Nya alam dikenali sebagai ada.
Tentu saja, pengalaman syuhud adalah kategori epistemik yang
berbeda dari pembuktian empiris. Ia tidak dapat diperlakukan sebagai eksperimen
laboratorium. Tetapi dalam tradisi tasawuf, ia merupakan bentuk pengetahuan dan
penyaksian yang memiliki kerangka epistemologisnya sendiri.
16. Ibnu Atha'illah: siapa yang lebih membutuhkan bukti?
Gagasan tersebut menemukan ungkapan yang sangat kuat dalam Al-Hikam
karya Syaikh Ibnu Atha'illah al-Sakandari.
Makna salah satu hikmah yang masyhur dapat dirumuskan:
“Bagaimana mungkin dapat disangkutpautkan wujud-Nya
dengan sesuatu yang wujudnya sendiri justru bergantung kepada-Nya? Bukankah
selain-Mu yang membutuhkan-Mu lebih membutuhkan bukti daripada diri-Mu?”
Inti pemikirannya sangat dekat dengan tesis ontologis yang
telah dibahas.
Jika segala sesuatu selain Allah memperoleh keberadaannya
melalui-Nya, maka tidak masuk akal menempatkan Allah dan makhluk dalam posisi
epistemik dan ontologis yang sepenuhnya sama.
Makhluk membutuhkan Allah.
Allah tidak membutuhkan makhluk.
Yang bergantung membutuhkan dasar.
Yang menjadi dasar tidak bergantung kepada yang didasarinya.
Dengan demikian, pertanyaannya dapat dibalik.
Bukan:
“Apa bukti Allah?”
melainkan:
“Apa yang tidak bergantung kepada Allah?”
Jika seluruh yang selain-Nya bergantung kepada-Nya, maka
justru seluruh yang selain-Nya yang memerlukan penjelasan ontologis.
Di sini terdapat kesesuaian yang menarik antara bahasa
metafisika dan bahasa tauhid:
Metafisika:
Yang kontingen membutuhkan dasar yang niscaya.
Tauhid:
Makhluk berhajat kepada Allah, sedangkan Allah tidak berhajat kepada makhluk.
Tasawuf:
Allah begitu terang dalam penyaksian sehingga selain-Nya justru dikenali
melalui-Nya.
Ketiganya menggunakan bahasa berbeda, tetapi berputar pada
satu intuisi mendasar:
Yang bergantung tidak dapat menjadi dasar terakhir bagi
Yang menjadi tempat bergantung.
17. Dari “bukti Tuhan” menuju “ketergantungan kepada Tuhan”
Dengan perspektif ini, kata “bukti” sendiri perlu dibedakan.
Jika bukti berarti:
sesuatu yang diperlukan agar Tuhan menjadi ada,
maka konsep tersebut tidak berlaku bagi Tuhan sebagai
Wajibul Wujud.
Jika bukti berarti:
sesuatu yang membantu manusia mengenali atau menyadari
Tuhan,
maka alam, akal, wahyu, dan pengalaman spiritual dapat
dibicarakan sebagai bentuk-bentuk dalalah atau penunjukan.
Perbedaannya sangat penting.
Allah tidak membutuhkan bukti untuk menjadi Allah.
Manusia membutuhkan petunjuk agar menyadari Allah.
Ini menjelaskan mengapa dalam tradisi keagamaan terdapat
ayat-ayat kauniyah, argumentasi rasional, wahyu, dan pengalaman spiritual tanpa
harus menganggap bahwa Allah sendiri kekurangan bukti.
Yang berubah bukan keberadaan Allah.
Yang berubah adalah kesadaran manusia terhadap
keberadaan-Nya.
18. Rumusan akhir
Dari keseluruhan pembahasan, gagasan ini dapat dirumuskan
secara ringkas:
Jangan tanyakan apakah Tuhan itu ada, jika Tuhan yang
dimaksud adalah Yang Maha Ada.
Batu itu ada, tetapi batu bukanlah Ada.
Matahari itu ada, tetapi matahari bukanlah Ada.
Manusia itu ada, tetapi manusia bukanlah Ada.
Kosmos itu ada, tetapi kosmos bukanlah Ada.
Segala sesuatu yang kita jumpai adalah “yang ada”; tetapi
tidak satu pun dari yang ada itu identik dengan Ada itu sendiri.
“Ada” bukanlah objek yang harus dicari di antara objek-objek
lainnya. “Ada” adalah prasyarat bagi setiap objek, setiap pengalaman, setiap
pertanyaan, setiap bukti, dan setiap jawaban.
Jika Tuhan dipahami sebagai Yang Maha Ada, maka Dia
bukan salah satu dari segala sesuatu yang ada.
Dia-lah Yang Maha Ada.
Dalam bahasa tauhid, Dia adalah Wajibul Wujud, Wajib
Ada dengan Zat-Nya sendiri. Dia tidak bergantung kepada sesuatu di luar-Nya;
justru segala sesuatu selain-Nya berhajat kepada-Nya.
Dalam bahasa tasawuf, Allah bukan dikenal karena alam; alam
justru dikenal karena Allah. Alam menjadi tanda bukan karena Allah membutuhkan
tanda, melainkan karena manusia membutuhkan jalan untuk menyadari Yang sejak
awal menjadi dasar keberadaan.
Dalam makna hikmah Ibnu Atha'illah:
Bagaimana mungkin wujud Allah disangkutpautkan dengan
sesuatu yang wujudnya sendiri bergantung kepada-Nya? Bukankah justru selain-Nya
yang lebih membutuhkan bukti daripada Dia?
Karena itu, pertanyaan yang lebih mendasar bukan:
“Apakah Tuhan ada?”
melainkan:
“Apa arti Ada?”
“Mengapa ada sesuatu daripada tidak ada?”
“Apakah segala yang ada bergantung pada sesuatu yang
niscaya?”
“Apakah Yang Niscaya itu adalah Ada itu sendiri?”
Dan jika jawabannya adalah bahwa Allah adalah Yang Maha
Ada, maka persoalan Tuhan tidak lagi berupa pencarian terhadap sebuah objek
di dalam alam.
Allah bukan “sesuatu yang ditemukan setelah seluruh
pencarian selesai”.
Allah adalah dasar ontologis yang memungkinkan seluruh
pencarian berlangsung.
Bukan sekadar yang ada.
Bukan sekadar yang paling tinggi di antara yang ada.
Melainkan:
Yang Maha Ada.
Wajibul Wujud.
Ada yang tidak bergantung kepada apa pun.
Sementara segala sesuatu bergantung kepada-Nya.
Maka:
Jangan tanyakan apakah Tuhan itu ada. Karena Dia-lah Yang Maha Ada.

Comments
Post a Comment