Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi

Pendahuluan

Pertanyaan “Apakah Tuhan itu ada?” tampak sederhana. Namun, jika ditelaah secara ontologis, pertanyaan tersebut mungkin sejak awal telah menempatkan Tuhan dalam kategori yang keliru.

Kita biasanya bertanya apakah sesuatu “ada” ketika sesuatu itu dipahami sebagai salah satu objek atau entitas di dalam realitas. Kita bertanya apakah batu ada, apakah matahari ada, apakah kehidupan ada, atau apakah alam semesta ada. Dalam semua pertanyaan itu, “ada” diperlakukan sebagai sesuatu yang dimiliki oleh objek tertentu.

Tetapi bagaimana jika Tuhan tidak dimaksudkan sebagai salah satu objek di antara objek-objek lainnya?

Bagaimana jika Tuhan dipahami sebagai Yang Maha Ada—bukan sekadar sesuatu yang ada, melainkan Ada itu sendiri, dasar ontologis dari segala sesuatu yang ada?

Jika demikian, pertanyaan “Apakah Tuhan ada?” perlu ditinjau ulang.


1. “Ada” adalah titik awal, bukan kesimpulan

Sebelum bertanya tentang apa pun, kita telah berhadapan dengan satu fakta paling dasar:

Ada.

Ada sesuatu.

Kita dapat meragukan banyak hal. Kita dapat meragukan persepsi, teori, pengetahuan, bahkan interpretasi kita terhadap dunia. Tetapi kita tidak dapat keluar dari keberadaan untuk membuktikan keberadaan dari luar keberadaan.

Bahkan ketika seseorang mengatakan, “Saya meragukan bahwa sesuatu ada,” tindakan meragukan itu sendiri merupakan sesuatu yang terjadi dan karena itu sudah “ada”.

Dengan demikian, “ada” bukan pertama-tama suatu kesimpulan yang diperoleh dari bukti. Ia merupakan prasyarat bagi bukti itu sendiri.

Setiap bukti sudah ada.

Setiap pertanyaan sudah ada.

Setiap jawaban sudah ada.

Setiap proses berpikir sudah ada.

Karena itu, pada tingkat paling primordial:

Ada tidak perlu dibuktikan agar kita dapat mulai berpikir; justru kemampuan untuk membuktikan sesuatu mengandaikan bahwa ada.


2. “Ada” berbeda dari “yang ada”

Di sini terdapat pembedaan yang sangat penting.

Batu itu ada.

Tetapi batu bukanlah “Ada”.

Matahari itu ada.

Tetapi matahari bukanlah “Ada”.

Manusia itu ada.

Tetapi manusia bukanlah “Ada”.

Kosmos itu ada.

Tetapi kosmos bukanlah “Ada”.

Kita dapat menyebut semua itu sebagai yang ada—entitas atau realitas tertentu yang memiliki keberadaan.

Namun “Ada” tidak identik dengan salah satu entitas tersebut.

Secara sederhana:

Batu → ada.
Matahari → ada.
Kosmos → ada.
Tetapi batu ≠ Ada.
Matahari ≠ Ada.
Kosmos ≠ Ada.

Ini membawa kita pada pertanyaan metafisik yang jauh lebih mendasar daripada “apakah Tuhan ada?”:

Apa arti “ada” itu sendiri?


3. Mengapa “Ada” tidak mudah didefinisikan?

Definisi biasanya menjelaskan sesuatu menggunakan konsep lain yang lebih umum atau lebih fundamental.

Kita dapat mendefinisikan manusia melalui kategori tertentu. Kita dapat mendefinisikan benda melalui sifat dan relasinya. Kita dapat mendefinisikan objek tertentu melalui ciri-ciri yang membedakannya dari objek lain.

Tetapi ketika kita mencoba mendefinisikan “Ada” secara paling fundamental, kita menghadapi persoalan.

Kita tidak dapat menggunakan sesuatu yang berada “di luar Ada” sebagai dasar definisi, karena tidak ada sesuatu yang berada di luar keberadaan.

Setiap konsep yang digunakan untuk mendefinisikan “Ada” sudah merupakan sesuatu yang ada.

Karena itu, pernyataan yang lebih presisi bukanlah bahwa “Ada sama sekali tidak dapat dibicarakan”, melainkan:

Ada tidak dapat dijelaskan melalui sesuatu yang secara ontologis lebih fundamental daripada Ada.

“Ada” merupakan horizon paling dasar yang sudah mengandaikan setiap definisi, setiap konsep, dan setiap penalaran.

Maka ungkapan:

“Ada adalah ada.”

bukan sekadar permainan bahasa apabila dipahami secara ontologis. Ia menunjuk pada kenyataan bahwa keberadaan tidak dapat diturunkan dari ketiadaan melalui definisi atau bukti yang lebih fundamental.


4. Dari “yang ada” menuju “Yang Maha Ada”

Di sinilah konsep Tuhan dapat ditempatkan dalam bentuk yang lebih radikal.

Jika Tuhan dipahami hanya sebagai satu entitas yang sangat kuat, sangat besar, atau sangat tinggi dibandingkan entitas lainnya, maka Tuhan masih menjadi salah satu “yang ada”.

Dalam model seperti itu, pertanyaan:

“Mengapa Tuhan ada?”

masih sepenuhnya masuk akal.

Tetapi konsep yang sedang dibahas berbeda.

Tuhan dipahami sebagai:

Yang Maha Ada.

Bukan “makhluk yang paling kuat”.

Bukan “objek tertinggi di alam semesta”.

Bukan “entitas yang berada di suatu tempat di luar galaksi”.

Melainkan Ada yang niscaya dan menjadi dasar keberadaan segala sesuatu yang kontingen.

Dalam bahasa metafisika klasik, gagasan ini berdekatan dengan konsep ipsum esse subsistens: keberadaan itu sendiri yang subsisten.

Dalam kerangka ini, Tuhan bukan sesuatu yang terlebih dahulu ada lalu kemudian diberi sifat “ada”.

Sebaliknya:

Tuhan adalah Ada itu sendiri.

Perbedaannya sangat fundamental.

Batu memiliki keberadaan.

Kosmos memiliki keberadaan.

Manusia memiliki keberadaan.

Sedangkan Yang Maha Ada tidak dipahami sebagai sesuatu yang menerima keberadaan dari sesuatu yang lain.


5. Apakah “Yang Maha Ada” masih membutuhkan bukti?

Jika Tuhan dipahami sebagai objek tertentu di dalam realitas, maka tuntutan bukti dapat menjadi pertanyaan yang wajar.

Namun jika Tuhan dipahami sebagai dasar ontologis dari keberadaan itu sendiri, tuntutannya berubah.

Kita tidak lagi mencari objek bernama “Tuhan” di antara objek-objek lain.

Kita sedang mempertanyakan dasar dari fakta bahwa segala sesuatu dapat ada.

Dengan demikian, kalimat:

“Buktikan bahwa Tuhan ada.”

dapat mengandung asumsi tersembunyi bahwa Tuhan merupakan suatu entitas yang keberadaannya ditambahkan kepada realitas.

Padahal dalam konsepsi ini, Tuhan justru merupakan dasar yang memungkinkan kita berbicara mengenai keberadaan.

Karena itu, formulasi yang lebih tepat adalah:

Jika Tuhan adalah Yang Maha Ada, maka Tuhan bukan sesuatu yang keberadaannya harus dibuktikan melalui sesuatu yang lebih fundamental daripada-Nya.

Bukan karena Tuhan “kebal terhadap bukti”, melainkan karena konsep Tuhan yang dimaksud sudah berbeda secara kategori dari objek yang biasanya kita buktikan keberadaannya.


6. Namun “alam ada” tidak otomatis membuktikan Tuhan

Di sini diperlukan disiplin logis.

Dari:

“Alam ada”

tidak otomatis mengikuti:

“Maka Tuhan ada.”

Keduanya tidak merupakan silogisme sederhana.

Yang dapat dikatakan adalah bahwa keberadaan alam membuka persoalan metafisik:

Apakah alam merupakan realitas yang kontingen, ataukah ia sendiri merupakan realitas niscaya?

Jika alam kontingen, kita dapat bertanya mengenai dasar keberadaannya.

Jika seluruh penjelasan yang diberikan juga kontingen, kita dapat bertanya apakah diperlukan suatu dasar yang tidak kontingen.

Dari sinilah muncul berbagai bentuk argumen kosmologis dan argumen dari kontingensi.

Bentuk sederhananya:

  1. Ada sesuatu.
  2. Sebagian atau seluruh yang ada bersifat kontingen.
  3. Yang kontingen membutuhkan dasar atau penjelasan.
  4. Regresi penjelasan kontingen tidak memberikan dasar terakhir.
  5. Maka mungkin diperlukan suatu realitas yang niscaya.

Tetapi bahkan jika langkah tersebut diterima, kita belum otomatis memperoleh seluruh konsep Tuhan dalam agama tertentu.

Kita baru memperoleh kemungkinan:

Ada suatu realitas niscaya yang menjadi dasar keberadaan.

Masih diperlukan argumen tambahan untuk menyimpulkan bahwa realitas niscaya tersebut bersifat personal, berkesadaran, berkehendak, mahatahu, mahakuasa, atau memberikan wahyu tertentu.


7. Persoalan “Siapa yang menciptakan Tuhan?”

Pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi tentang Tuhan.

Jika segala sesuatu membutuhkan sebab, maka siapa yang menyebabkan Tuhan?

Tetapi jika Tuhan dipahami sebagai Yang Maha Ada atau necessary being, jawabannya bukan bahwa Tuhan memiliki sebab yang belum kita temukan.

Justru:

Tuhan tidak termasuk dalam kategori sesuatu yang membutuhkan sebab eksternal.

Jika Tuhan membutuhkan sebab yang lebih fundamental, maka Tuhan bukan lagi dasar terakhir.

Namun kritik terhadap posisi ini tetap sah:

Jika kita boleh berhenti pada suatu realitas yang tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut, mengapa realitas itu harus disebut Tuhan? Mengapa tidak mengatakan bahwa realitas fundamental itu sendiri ada begitu saja?

Inilah titik perdebatan metafisika yang sebenarnya.

Teisme mengatakan bahwa terdapat suatu realitas niscaya yang menjadi dasar keberadaan.

Naturalisme dapat mengatakan bahwa realitas fundamental adalah fakta yang tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut (brute fact).

Keduanya menghadapi pertanyaan yang berbeda.

Karena itu, persoalan mendasarnya bukan sekadar “siapa menciptakan Tuhan?”, tetapi:

Apakah pada tingkat terakhir realitas terdapat sesuatu yang niscaya, dan apakah realitas niscaya tersebut dapat diidentifikasi dengan Tuhan?


8. Tuhan sebagai Yang Tak Terbatas dan Tak Terdefinisikan

Sekarang muncul pertanyaan lain:

Bagaimana jika Tuhan adalah Yang Maha Tak Terbatas dan Tak Terdefinisikan?

Jika Tuhan benar-benar tak terbatas, maka ada batas epistemik yang tidak dapat dihindari.

Manusia berpikir menggunakan konsep yang terbatas.

Bahasa bekerja melalui pembedaan.

Definisi bekerja dengan menetapkan batas konseptual.

Jika kita memiliki definisi yang sepenuhnya menangkap Tuhan, maka definisi tersebut sendiri akan menjadi objek yang terbatas.

Karena itu, ada tradisi filosofis dan teologis yang menggunakan via negativa atau teologi apofatik: Tuhan lebih tepat didekati dengan mengatakan apa yang Tuhan bukan daripada mengklaim bahwa kita telah menangkap hakikat Tuhan secara lengkap.

Kita dapat mengatakan:

Tuhan tidak terbatas.

Tuhan tidak kontingen.

Tuhan tidak bergantung pada sesuatu yang lain.

Tetapi kita harus berhati-hati menganggap kata-kata tersebut sebagai gambaran lengkap tentang hakikat Tuhan.

Ketidakmampuan manusia mendefinisikan Tuhan secara sempurna tidak dengan sendirinya membantah Tuhan.

Jika objek yang dimaksud memang tak terbatas, keterbatasan konsep manusia justru dapat dipandang sebagai konsekuensi yang wajar.


9. Tetapi “tak terdefinisikan” bukan berarti “bebas dari logika”

Ini merupakan batas yang penting.

Mengatakan:

“Tuhan melampaui definisi manusia”

tidak sama dengan mengatakan:

“Apa pun yang dikatakan tentang Tuhan pasti benar.”

Jika dua proposisi benar-benar saling kontradiktif dalam arti yang sama dan pada saat yang sama, kita tidak dapat menghapus kontradiksi hanya dengan mengatakan bahwa Tuhan tak terbatas.

Jadi harus dibedakan:

Tuhan melampaui kemampuan definisional manusia

dari:

Tuhan tidak tunduk pada koherensi logis.

Yang pertama dapat dipertahankan dalam kerangka metafisika tertentu.

Yang kedua membutuhkan argumen jauh lebih besar dan tidak boleh diasumsikan begitu saja.


10. Problem of evil dan divine hiddenness

Diskusi mengenai Tuhan juga harus memperhitungkan argumen yang berlawanan.

Jika Tuhan dipahami sebagai mahakuasa, mahatahu, dan sempurna secara moral, muncul persoalan penderitaan.

Mengapa ada penderitaan yang tampaknya tidak diperlukan?

Mengapa terdapat penyakit, bencana alam, penderitaan hewan, dan tragedi yang terjadi jauh sebelum manusia bahkan muncul?

Ini tidak otomatis menghasilkan kontradiksi logis antara Tuhan dan penderitaan, tetapi merupakan tantangan probabilistik dan moral yang serius bagi konsep tertentu tentang Tuhan.

Demikian pula muncul persoalan divine hiddenness:

Jika Tuhan ingin manusia mengenal-Nya, mengapa keberadaan Tuhan tidak tampak secara universal dan tidak terbantahkan?

Mengapa terdapat manusia yang sungguh-sungguh mencari tetapi tetap tidak menemukan keyakinan religius?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak membantah konsep “Yang Maha Ada” secara langsung. Tetapi pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika kita bergerak dari konsep abstrak tentang Ada menuju konsep Tuhan yang personal, berkehendak, dan berelasi dengan manusia.

Ini penting karena:

“Ada itu sendiri” dan “Tuhan personal yang mewahyukan agama tertentu” bukanlah proposisi yang identik.

Ada jarak argumentatif di antara keduanya.


11. Pendekatan Bayesian

Persoalan Tuhan juga dapat dilihat secara probabilistik.

Pertanyaannya bukan semata-mata:

“Bisakah Tuhan dibuktikan?”

melainkan:

Jika Tuhan ada, seberapa mungkin kita mendapatkan dunia seperti yang kita amati?

Dan sebaliknya:

Jika Tuhan tidak ada, seberapa mungkin kita mendapatkan dunia seperti yang kita amati?

Secara formal, ini dapat dinyatakan sebagai:

P(T|E) = P(E|T)·P(T) / [P(E|T)·P(T) + P(E|¬T)·P(¬T)]

T   = Tuhan ada
E   = keseluruhan evidence
P(T)      = prior, keyakinan awal sebelum melihat evidence
P(E|T)    = peluang evidence ini muncul, jika Tuhan ada
P(E|¬T)   = peluang evidence ini muncul, jika Tuhan tidak ada

Namun pendekatan ini memiliki keterbatasan. Kita tidak memiliki cara yang disepakati secara universal untuk menetapkan angka objektif bagi prior Tuhan.

Karena itu, angka seperti “Tuhan 70% mungkin” tidak boleh diperlakukan sebagai hasil pengukuran ilmiah.

Yang lebih berguna adalah membandingkan arah evidence.

Keteraturan alam, fine-tuning, kesadaran, rasionalitas, dan objektivitas moral dapat dipandang sebagai evidence yang oleh sebagian filsuf lebih mudah dijelaskan melalui teisme.

Sebaliknya, penderitaan, kejahatan alami, divine hiddenness, dan pluralitas agama dapat dipandang sebagai evidence yang menekan bentuk tertentu dari teisme.

Kesimpulan yang disiplin bukanlah kepastian matematis, tetapi evaluasi terhadap daya jelaskan dan asumsi metafisik masing-masing posisi.


12. Batas antara “Ada” dan “Tuhan personal”

Di sinilah seluruh diskusi harus dibedakan secara sistematis.

Pertanyaan pertama:

Apakah ada keberadaan?

Jawabannya langsung:

Ada.

Pertanyaan kedua:

Apakah segala sesuatu yang ada bersifat kontingen?

Ini merupakan pertanyaan metafisik.

Pertanyaan ketiga:

Apakah terdapat realitas yang niscaya?

Ini juga pertanyaan metafisik.

Pertanyaan keempat:

Apakah realitas niscaya tersebut adalah Ada itu sendiri?

Ini merupakan tesis ontologis yang lebih spesifik.

Pertanyaan kelima:

Apakah Ada itu sendiri bersifat personal atau berkesadaran?

Ini membutuhkan argumen tambahan.

Pertanyaan keenam:

Apakah Ada itu sendiri berkehendak dan berelasi dengan manusia?

Masih membutuhkan argumen tambahan.

Pertanyaan ketujuh:

Apakah Ia mewahyukan agama tertentu?

Ini memasuki wilayah filsafat agama dan epistemologi wahyu.

Dengan demikian, seseorang tidak boleh membuktikan satu tingkat lalu berpura-pura telah membuktikan seluruh tingkat berikutnya.


13. Pertanyaan “Apakah Tuhan ada?” dapat menjadi pertanyaan kategori yang keliru

Jika Tuhan dipahami sebagai objek, pertanyaan tersebut masuk akal.

Tetapi jika Tuhan dipahami sebagai Yang Maha Ada, maka Tuhan bukan salah satu entitas yang berdiri berdampingan dengan batu, manusia, bintang, dan kosmos.

Ia bukan:

batu + Tuhan

atau:

kosmos + Tuhan.

Melainkan:

dasar ontologis yang memungkinkan batu, manusia, bintang, dan kosmos disebut “ada”.

Dalam kerangka ini, pertanyaan:

“Apakah Tuhan ada?”

menyerupai pertanyaan:

“Apakah Ada itu ada?”

Pertanyaan tersebut sudah mengandung persoalan kategoris.

Karena “ada” bukan pertama-tama salah satu objek yang perlu dicari.


14. Perspektif Tauhid: Allah sebagai Wajibul Wujud

Dalam tradisi tauhid Islam, gagasan ini memiliki padanan yang sangat kuat dalam konsep Wajibul Wujud.

Allah dipahami sebagai Wajibul Wujud bi dzatihi: Wajib Ada dengan Zat-Nya sendiri. Eksistensi-Nya tidak bergantung kepada sebab, kondisi, ruang, waktu, atau sesuatu di luar-Nya.

Berbeda dengan seluruh makhluk yang keberadaannya bersifat bergantung (mumkinul wujud), Allah tidak menerima keberadaan dari sesuatu yang lain.

Dengan demikian, hubungan ontologisnya dapat dirumuskan secara sederhana:

Allah tidak membutuhkan alam agar ada; alam membutuhkan Allah agar ada.

Maka tuntutan:

“Apa bukti eksternal bahwa Allah ada?”

perlu dibaca kembali.

Jika Allah adalah Wajibul Wujud, maka eksistensi-Nya bukan sesuatu yang memperoleh legitimasi dari realitas lain yang lebih fundamental. Justru segala sesuatu yang kontingen berhajat kepada-Nya.

Dalam perspektif ini, alam bukan “bukti” dalam arti bahwa Allah membutuhkan alam untuk membuktikan diri-Nya. Sebaliknya, keberadaan alam yang bergantung justru menunjuk kepada kebutuhan ontologisnya terhadap Yang Tidak Bergantung.

Ini merupakan perbedaan penting antara:

membuktikan keberadaan Allah melalui sesuatu yang lebih fundamental

dan:

mengenali ketergantungan segala sesuatu kepada Allah sebagai Yang Fundamental.

Yang pertama mengandaikan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada Allah.

Yang kedua justru menempatkan Allah sebagai dasar terakhir.


15. Maqam Syuhud: Allah dikenal, alam dikenal karena Allah

Dalam tradisi tasawuf, persoalan ini tidak berhenti pada argumentasi intelektual.

Ada dimensi syuhud—penyaksian atau kesadaran batin.

Dalam perspektif ini, Allah tidak diposisikan sebagai objek yang baru diketahui setelah manusia mengumpulkan cukup banyak bukti tentang alam.

Sebaliknya, keberadaan Allah dipandang begitu mendasar dan terang sehingga alam justru dikenali melalui Allah, bukan Allah dikenali melalui alam.

Dengan ungkapan yang sejalan dengan perspektif tersebut:

Bukan Allah yang menjadi jelas karena alam; alam menjadi jelas karena Allah.

Ini mengubah arah epistemologis pencarian.

Dalam pendekatan biasa:

alam → bukti → kesimpulan tentang Tuhan.

Dalam pendekatan syuhud:

Allah → dengan-Nya alam dikenali sebagai ada.

Tentu saja, pengalaman syuhud adalah kategori epistemik yang berbeda dari pembuktian empiris. Ia tidak dapat diperlakukan sebagai eksperimen laboratorium. Tetapi dalam tradisi tasawuf, ia merupakan bentuk pengetahuan dan penyaksian yang memiliki kerangka epistemologisnya sendiri.


16. Ibnu Atha'illah: siapa yang lebih membutuhkan bukti?

Gagasan tersebut menemukan ungkapan yang sangat kuat dalam Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Atha'illah al-Sakandari.

Makna salah satu hikmah yang masyhur dapat dirumuskan:

“Bagaimana mungkin dapat disangkutpautkan wujud-Nya dengan sesuatu yang wujudnya sendiri justru bergantung kepada-Nya? Bukankah selain-Mu yang membutuhkan-Mu lebih membutuhkan bukti daripada diri-Mu?”

Inti pemikirannya sangat dekat dengan tesis ontologis yang telah dibahas.

Jika segala sesuatu selain Allah memperoleh keberadaannya melalui-Nya, maka tidak masuk akal menempatkan Allah dan makhluk dalam posisi epistemik dan ontologis yang sepenuhnya sama.

Makhluk membutuhkan Allah.

Allah tidak membutuhkan makhluk.

Yang bergantung membutuhkan dasar.

Yang menjadi dasar tidak bergantung kepada yang didasarinya.

Dengan demikian, pertanyaannya dapat dibalik.

Bukan:

“Apa bukti Allah?”

melainkan:

“Apa yang tidak bergantung kepada Allah?”

Jika seluruh yang selain-Nya bergantung kepada-Nya, maka justru seluruh yang selain-Nya yang memerlukan penjelasan ontologis.

Di sini terdapat kesesuaian yang menarik antara bahasa metafisika dan bahasa tauhid:

Metafisika:
Yang kontingen membutuhkan dasar yang niscaya.

Tauhid:
Makhluk berhajat kepada Allah, sedangkan Allah tidak berhajat kepada makhluk.

Tasawuf:
Allah begitu terang dalam penyaksian sehingga selain-Nya justru dikenali melalui-Nya.

Ketiganya menggunakan bahasa berbeda, tetapi berputar pada satu intuisi mendasar:

Yang bergantung tidak dapat menjadi dasar terakhir bagi Yang menjadi tempat bergantung.


17. Dari “bukti Tuhan” menuju “ketergantungan kepada Tuhan”

Dengan perspektif ini, kata “bukti” sendiri perlu dibedakan.

Jika bukti berarti:

sesuatu yang diperlukan agar Tuhan menjadi ada,

maka konsep tersebut tidak berlaku bagi Tuhan sebagai Wajibul Wujud.

Jika bukti berarti:

sesuatu yang membantu manusia mengenali atau menyadari Tuhan,

maka alam, akal, wahyu, dan pengalaman spiritual dapat dibicarakan sebagai bentuk-bentuk dalalah atau penunjukan.

Perbedaannya sangat penting.

Allah tidak membutuhkan bukti untuk menjadi Allah.

Manusia membutuhkan petunjuk agar menyadari Allah.

Ini menjelaskan mengapa dalam tradisi keagamaan terdapat ayat-ayat kauniyah, argumentasi rasional, wahyu, dan pengalaman spiritual tanpa harus menganggap bahwa Allah sendiri kekurangan bukti.

Yang berubah bukan keberadaan Allah.

Yang berubah adalah kesadaran manusia terhadap keberadaan-Nya.


18. Rumusan akhir

Dari keseluruhan pembahasan, gagasan ini dapat dirumuskan secara ringkas:

Jangan tanyakan apakah Tuhan itu ada, jika Tuhan yang dimaksud adalah Yang Maha Ada.

Batu itu ada, tetapi batu bukanlah Ada.
Matahari itu ada, tetapi matahari bukanlah Ada.
Manusia itu ada, tetapi manusia bukanlah Ada.
Kosmos itu ada, tetapi kosmos bukanlah Ada.

Segala sesuatu yang kita jumpai adalah “yang ada”; tetapi tidak satu pun dari yang ada itu identik dengan Ada itu sendiri.

“Ada” bukanlah objek yang harus dicari di antara objek-objek lainnya. “Ada” adalah prasyarat bagi setiap objek, setiap pengalaman, setiap pertanyaan, setiap bukti, dan setiap jawaban.

Jika Tuhan dipahami sebagai Yang Maha Ada, maka Dia bukan salah satu dari segala sesuatu yang ada.

Dia-lah Yang Maha Ada.

Dalam bahasa tauhid, Dia adalah Wajibul Wujud, Wajib Ada dengan Zat-Nya sendiri. Dia tidak bergantung kepada sesuatu di luar-Nya; justru segala sesuatu selain-Nya berhajat kepada-Nya.

Dalam bahasa tasawuf, Allah bukan dikenal karena alam; alam justru dikenal karena Allah. Alam menjadi tanda bukan karena Allah membutuhkan tanda, melainkan karena manusia membutuhkan jalan untuk menyadari Yang sejak awal menjadi dasar keberadaan.

Dalam makna hikmah Ibnu Atha'illah:

Bagaimana mungkin wujud Allah disangkutpautkan dengan sesuatu yang wujudnya sendiri bergantung kepada-Nya? Bukankah justru selain-Nya yang lebih membutuhkan bukti daripada Dia?

Karena itu, pertanyaan yang lebih mendasar bukan:

“Apakah Tuhan ada?”

melainkan:

“Apa arti Ada?”

“Mengapa ada sesuatu daripada tidak ada?”

“Apakah segala yang ada bergantung pada sesuatu yang niscaya?”

“Apakah Yang Niscaya itu adalah Ada itu sendiri?”

Dan jika jawabannya adalah bahwa Allah adalah Yang Maha Ada, maka persoalan Tuhan tidak lagi berupa pencarian terhadap sebuah objek di dalam alam.

Allah bukan “sesuatu yang ditemukan setelah seluruh pencarian selesai”.

Allah adalah dasar ontologis yang memungkinkan seluruh pencarian berlangsung.

Bukan sekadar yang ada.

Bukan sekadar yang paling tinggi di antara yang ada.

Melainkan:

Yang Maha Ada.

Wajibul Wujud.

Ada yang tidak bergantung kepada apa pun.

Sementara segala sesuatu bergantung kepada-Nya.

Maka:

Jangan tanyakan apakah Tuhan itu ada. Karena Dia-lah Yang Maha Ada. 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Membedah 62 Peluang Produk Digital Tanpa Stok Barang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Bisnis dari Modal Nol Rupiah: Sistem Presisi, Bukan Sekadar Peta Jalan