Dari Nakba ke "Board of Peace": Norman Finkelstein Membedah Tujuh Dekade Penderitaan Gaza
Catatan Pengantar
Artikel ini disusun dari transkrip wawancara panjang antara pembawa acara Tucker Carlson dan ilmuwan politik Norman Finkelstein, putra dua penyintas Holocaust yang selama lebih dari empat dekade meneliti konflik Israel-Palestina. Wawancara ini digelar menjelang terbitnya buku terbaru Finkelstein, Gaza's Gravediggers: An Inquiry into Corruption in High Places (OR Books), yang membedah pihak-pihak yang dianggapnya melanggengkan kekerasan di Gaza melalui manipulasi hukum dan wacana internasional.
source: https://youtu.be/Jmv2h1WYnNo
I. Gaza Sebelum 7 Oktober: Sejarah yang Terlewatkan
Pertanyaan pembuka Carlson sederhana: mengapa serangan 7 Oktober 2023 seolah muncul tiba-tiba? Bagi Finkelstein, jawabannya harus ditarik jauh ke belakang, ke tahun 1948.
Asal-usul Gaza sebagai kantong pengungsi. Pada 1948, Israel mengusir sekitar 750.000 warga Arab Palestina dari wilayah yang kemudian menjadi negara Israel. Dari jumlah itu, sekitar 300.000 orang lari ke Jalur Gaza dan langsung membengkakkan populasi setempat hingga mencakup sekitar 80 persen penduduknya. Saat itu Gaza masih bagian dari Palestina di bawah mandat Inggris; setelah Perang 1948, kendali administratifnya beralih ke Mesir.
Yang menarik, menurut Finkelstein, adalah bagaimana pihak-pihak yang sama sekali tidak berpihak pada Palestina justru berulang kali memakai istilah yang sama untuk menggambarkan Gaza:
- Pada era 1950-an, ketika Gaza masih di bawah kendali Mesir, pejabat-pejabat PBB yang bertugas di sana sudah menyebutnya sebagai "kamp konsentrasi."
- Pada Juli 1967, Senator Al Gore Sr. (ayah mantan Wakil Presiden AS) mengunjungi Gaza dan bersaksi di hadapan Kongres AS bahwa yang ia saksikan adalah "kamp konsentrasi yang terkirim".
- Pada 2004, Giora Eiland—Kepala Dewan Keamanan Nasional Israel saat itu, seorang Yahudi-Israel yang jelas memahami beban historis istilah tersebut—menyebut Gaza dalam pembicaraan dengan pejabat senior AS sebagai "kamp konsentrasi besar." Finkelstein menekankan ironi ini: Eiland bukan aktivis perdamaian. Belakangan, pada 2023, ia justru dikenal luas karena menyatakan bahwa merebaknya wabah penyakit di Gaza selatan adalah "hal baik" bagi upaya perang Israel—pernyataan yang secara luas dikutuk sebagai retorika genosidal.
Finkelstein menegaskan satu hal penting: penggambaran "kamp konsentrasi" itu adalah kondisi Gaza pada masa-masa terbaiknya—jauh sebelum eskalasi berikutnya.
Pemilu 2006 dan lahirnya blokade. Di bawah program "promosi demokrasi" Presiden George W. Bush, Palestina didesak menggelar pemilu. Hamas semula enggan ikut karena menolak kerangka Oslo, tetapi akhirnya berpartisipasi—dan menang, berkat platform anti-korupsi di tengah Otoritas Palestina yang dinilai bobrok. Mantan Presiden Jimmy Carter, yang memantau langsung, menyebutnya sebagai pemilu paling bebas dan adil di dunia Arab.
Kemenangan itu tidak diterima. Hillary Clinton belakangan mengakui bahwa "kesalahan besar" telah dibuat karena tidak memastikan Hamas kalah—sebuah pengakuan yang bagi Finkelstein menunjukkan standar ganda soal demokrasi. Israel, disusul AS dan Uni Eropa, segera menjatuhkan blokade ketat. Dokumen yang kemudian bocor memuat daftar barang yang dilarang masuk ke Gaza: cokelat, anak ayam, keripik kentang, bumbu masak, alat musik, hingga buku catatan. Tujuannya eksplisit tertulis: menjaga penduduk Gaza pada "diet minimum kemanusiaan"—istilah halus untuk kondisi kelaparan terkendali—sekaligus membuat ekonomi Gaza berada di ambang kolaps agar rakyat sendiri yang menyingkirkan Hamas. Finkelstein menyamakan logika ini dengan kebijakan AS terhadap Chili pasca-1973, ketika Washington menyatakan niatnya "membuat ekonomi menjerit."
Pada 2008, Komisioner HAM PBB Mary Robinson yang berkunjung ke Gaza menyimpulkan bahwa "sebuah peradaban tengah dihancurkan." Media seperti The Economist menyebut Gaza sebagai "kapal yang tenggelam"; pejabat PBB lain menyebutnya "slum beracun."
Era "memotong rumput." Sejak itu, Israel secara berkala melancarkan operasi militer besar yang oleh sejumlah pejabatnya sendiri disebut sebagai upaya "memotong rumput" (mowing the lawn): Operasi Cast Lead (2008–2009), Pillar of Defense (2012), dan Protective Edge (2014, berlangsung 51 hari). Finkelstein mencatat kepala Komite Palang Merah Internasional (ICRC) saat itu, Peter Maurer—yang tugasnya memang berkeliling zona perang—menyatakan tidak pernah melihat tingkat kehancuran seperti di Gaza pasca-Protective Edge: sekitar 18.000 rumah hancur atau rusak berat, dengan 2,5 juta ton puing tersisa.
Angka itu kini, menurut Finkelstein, terlihat kecil dibanding kehancuran pasca-7 Oktober 2023: sekitar 325.000 rumah hancur dan sekitar 61 juta ton puing—24 kali lipat dari volume puing Protective Edge.
II. Skala Kehancuran Pasca-7 Oktober 2023
Finkelstein mengakui tidak ada angka kematian yang bisa dipastikan sepenuhnya di Gaza—data dari Kementerian Kesehatan Gaza berbeda dari berbagai proyeksi independen, apalagi jika turut menghitung kematian tidak langsung akibat gizi buruk dan runtuhnya sistem kesehatan. Namun ia menawarkan satu ukuran yang menurutnya jarang dibahas secara terbuka: proporsi anak-anak di antara korban tewas.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza yang ia kutip, sekitar 30 persen korban tewas adalah anak-anak. Sebagai pembanding, dalam Holocaust, dari sekitar 6 juta korban Yahudi, sekitar 1,5 juta atau 25 persen adalah anak-anak. Finkelstein berargumen bahwa jika rasio korban anak dianggap indikator pembeda antara "perang" dan "genosida"—sebagaimana lazim dipakai dalam kajian genosida—maka angka 30 persen di Gaza semestinya memicu pertanyaan serius, bukan penepisan otomatis.
Klaim-klaim lain yang ia kemukakan:
- Intensitas dan kepadatan pengeboman di Gaza, menurutnya, melampaui kota-kota yang paling parah dihancurkan pada Perang Dunia II, termasuk Dresden.
- Jumlah anak yang tewas di Gaza pada 2023–2024 disebutnya melebihi jumlah anak yang tewas di seluruh zona konflik dunia lain digabungkan pada periode yang sama.
- Gaza kini disebut sebagai wilayah dengan konsentrasi penyandang amputasi tertinggi di dunia.
- Sekitar 97 persen sekolah di Gaza hancur atau rusak berat, disertai penargetan rumah sakit, tenaga medis, pekerja PBB, dan jurnalis.
Finkelstein secara eksplisit menyampaikan satu klaim tentang antisemitisme: ia menunjuk bahwa definisi kerja antisemitisme dari International Holocaust Remembrance Alliance (IHRA) memasukkan perbandingan tindakan pemerintah Israel dengan Nazi sebagai salah satu contoh antisemitisme—sesuatu yang ia nilai timpang, mengingat pejabat-pejabat Israel sendiri kerap menyamakan lawan politiknya (Gamal Abdel Nasser, Saddam Hussein, rezim Iran, bahkan Hamas) dengan Hitler.
III. Genosida atau Perang? Kerangka Argumen Finkelstein
Ditanya langsung apakah ia menilai Israel melakukan genosida di Gaza, Finkelstein menjawab dengan metode "gambar kumulatif"—menolak menilai setiap insiden secara terpisah, dan sebaliknya melihat totalitas pola: intensitas pengeboman, proporsi korban anak, jumlah amputasi, penghancuran sekolah dan rumah sakit, serta penargetan jurnalis dan pekerja kemanusiaan. Dari akumulasi itu, ia menyimpulkan bahwa kesimpulan genosida sulit dihindari.
Ia menambahkan satu klarifikasi penting: menurutnya, tujuan utama Israel bukanlah pemusnahan sebagai tujuan akhir itu sendiri, melainkan pengosongan Gaza melalui pembersihan etnis—dan modus yang dipakai untuk mencapainya adalah penghancuran populasi secara masif hingga penduduk "memilih" pergi. Karena perbatasan tertutup dan tidak ada negara yang bersedia menampung, menurutnya, tekanan tersebut berlanjut tanpa batas jelas.
Ia menyertakan sejumlah rujukan untuk memperkuat posisinya:
- Sejumlah otoritas hukum internasional dan organisasi HAM terkemuka—termasuk tokoh Yahudi seperti Aryeh Neier (pendiri Human Rights Watch, penyintas Holocaust) dan Kenneth Roth (mantan direktur eksekutif Human Rights Watch)—telah menyimpulkan bahwa tindakan Israel di Gaza memenuhi unsur genosida.
- Mahkamah Internasional (ICJ), dalam putusan sela 26 Januari 2024, menyimpulkan bahwa tuduhan genosida terhadap Israel "masuk akal" (plausible) dan memerintahkan langkah-langkah sementara—jauh sebelum eskalasi kehancuran yang terjadi setelahnya.
- Ia mengutip survei yang menunjukkan 30–40 persen warga Yahudi Amerika meyakini Israel melakukan genosida—sebuah angka yang ia nilai signifikan mengingat latar belakang komunitas tersebut yang umumnya dibesarkan dengan sentimen pro-Israel yang kuat.
IV. Klaim Kekerasan Seksual 7 Oktober: Titik Paling Diperdebatkan
Bagian paling tajam dari wawancara ini adalah bantahan Finkelstein terhadap klaim bahwa Hamas melakukan kekerasan seksual sistematis pada 7 Oktober 2023.
Argumen Finkelstein. Ia merujuk pada satu laporan resmi dari komisi sipil Israel yang meneliti kejahatan 7 Oktober, yang dipimpin oleh Dr. Cochav Elkayam-Levy (dalam transkrip audio nama ini terdengar sebagai "Kochav El Caim Levy"). Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kekerasan seksual—termasuk perkosaan dan perkosaan berkelompok—bersifat sistematis dan sengaja "disenjatai" (weaponized) oleh Hamas untuk meruntuhkan semangat nasional Israel, bahkan disebarluaskan lewat media sosial.
Finkelstein mempertanyakan hal ini dengan argumen berikut: dari sekitar 10.000 foto dan rekaman video—yang menurutnya membutuhkan lebih dari 1.800 jam untuk ditonton seluruhnya, setara lebih dari tujuh bulan kerja penuh waktu seorang peneliti—tidak ada satu pun gambar atau rekaman yang secara langsung memperlihatkan tindakan perkosaan atau kekerasan seksual, meski kamera dasbor, body cam, GoPro milik anggota Hamas, CCTV, kamera lalu lintas, dan ponsel korban semuanya telah diperiksa. Ia juga menyoroti kesaksian seorang saksi yang mengaku mendengar—bukan melihat—beberapa peristiwa perkosaan dari balik ruangan tertutup tanpa jendela, yang ia nilai lemah sebagai bukti forensik. Berdasarkan itu, dalam buku barunya ia menyebut klaim "perkosaan yang disenjatai secara sistematis" sebagai sesuatu yang, berdasarkan bukti yang telah diajukan sejauh ini, "sepenuhnya dikarang."
Ia lalu menyerang secara personal Cheryl Sandberg, mantan Chief Operating Officer Meta, yang memproduksi dan membintangi film dokumenter Screams Before Silence tentang dugaan kekerasan seksual 7 Oktober. Finkelstein menuduh Sandberg menyajikan klaim tanpa dasar bukti visual yang memadai—sebuah tuduhan yang disampaikannya dengan bahasa sangat kasar dan personal dalam wawancara ini.
V. Represi Wacana: Kampus, Uang Donor, dan Ancaman Deportasi
Menurut Finkelstein, sesuatu yang baru terjadi setelah 7 Oktober adalah hilangnya kemampuan menyembunyikan tekanan yang sebelumnya berlangsung diam-diam. Sebelum 2023, tekanan terhadap kritik atas Israel—termasuk telepon dari donor besar kepada rektor universitas agar tidak memberi gelar guru besar tetap kepada dosen tertentu—berlangsung tertutup. Setelah 7 Oktober, tekanan itu menjadi terang-terangan.
Pola yang ia gambarkan di kampus-kampus AS pada musim semi 2024:
- Donor-donor besar—Finkelstein secara spesifik menyebut nama Bill Ackman, alumnus Harvard yang tercatat menyumbang sekitar 50 juta dolar AS ke almamaternya, serta dua alumnus lain yang masing-masing menyumbang 200 juta dan 300 juta dolar—secara terbuka mengancam menahan donasi jika universitas tidak membubarkan perkemahan mahasiswa pro-Palestina.
- Tiga presiden universitas Ivy League dicopot dalam rentang waktu singkat: Claudine Gay (Harvard), Liz Magill (University of Pennsylvania), dan Minouche Shafik (Columbia). Finkelstein menyoroti bahwa ketiganya perempuan, dan dua di antaranya perempuan kulit berwarna—sebuah fakta yang menurutnya seharusnya memicu kemarahan publik jika alasan pencopotan mereka bukan soal Israel, mengingat sensitivitas isu identitas dalam wacana Amerika saat ini.
- Pihak pendukung Israel di Harvard, menurut Finkelstein, menyewa truk bergambar wajah mahasiswa yang aktif dalam perkemahan pro-Palestina dengan label "teroris," dan mengedarkannya bukan hanya di sekitar kampus, tetapi juga hingga ke lingkungan tempat tinggal orang tua mahasiswa tersebut—sesuatu yang ia sebut sebagai bentuk hukuman kolektif.
- Pemerintahan Trump kemudian mengambil langkah lebih jauh: mencabut visa pelajar dan status kartu hijau sejumlah mahasiswa yang vokal mendukung Palestina, dengan ancaman deportasi. Ia menyebut kasus Mahmoud Khalil dari Columbia sebagai contoh nyata.
Dampak personal bagi Finkelstein sendiri. Sebagai akademisi yang dulunya diundang berbicara di sekitar 40 kampus per tahun, ia mengaku sejak musim semi 2024 hanya diundang bicara di dua kampus di seluruh Amerika Serikat: University of Massachusetts dan Cornell University (di mana, menurutnya, presiden universitas justru hadir menyambutnya atas prinsip kebebasan berbicara).
Ia juga menyampaikan kritik tajam terhadap laporan internal Harvard setebal 312 halaman tentang antisemitisme di kampus, yang menurutnya—setelah ia baca dua kali dengan asumsi awal ada bukti kuat—ternyata minim substansi konkret dan lebih banyak berisi keluhan bahwa mahasiswa Yahudi-Israel merasa tidak diinginkan secara sosial, ketimbang insiden kebencian yang jelas. Presiden Harvard, Alan Garber, belakangan mengakui bahwa sebagian besar yang disebut "antisemitisme" sesungguhnya adalah kritik terhadap kebijakan pemerintah asing (Israel)—pengakuan yang menurut Finkelstein seharusnya mengoreksi narasi yang telanjur menyebar luas namun datang terlambat untuk memulihkan karier akademik yang sudah terlanjur hancur.
VI. Netanyahu sebagai Cermin Masyarakat
Ditanya mengapa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu—politikus dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel—terus bertahan meski berulang kali diperkirakan akan tumbang akibat tuduhan korupsi, Finkelstein menjawab dengan tesis yang provokatif: Netanyahu bertahan karena ia adalah cerminan tepat dari mayoritas masyarakat Israel itu sendiri, bukan pengecualian dari nilai-nilai mereka.
VII. Jejak Personal: Investigasi yang Mengubah Hidup dan Karier yang Diberangus
Bagian biografis wawancara ini mengungkap asal-usul reputasi Finkelstein sebagai peneliti yang dikenal—bahkan oleh para pengkritiknya—sangat teliti dalam memeriksa detail dan catatan kaki.
Kasus From Time Immemorial. Pada awal 1980-an, saat menulis disertasi doktoral tentang teori Zionisme di Universitas Princeton, Finkelstein membaca buku From Time Immemorial karya Joan Peters, yang menjadi buku terlaris nasional dan diklaim sebagai bukti bahwa Palestina "kosong" sebelum kedatangan orang Yahudi, dan bahwa penduduk Arab yang ada sebenarnya adalah pendatang dari negara tetangga yang menyamar sebagai penduduk asli. Buku itu didukung oleh sederet tokoh intelektual besar Amerika saat itu.
Bekerja secara manual—tanpa kalkulator, hanya kertas dan pena—Finkelstein menemukan satu angka kunci dalam tabel demografis buku tersebut yang ternyata dipalsukan, sebuah temuan yang ia gambarkan sebagai momen "Eureka" yang mengubah arah hidupnya. Temuan ini kemudian menarik perhatian Noam Chomsky, yang menghubunginya langsung dan menjadi mentor sekaligus sahabat dekatnya seumur hidup—meski Chomsky sejak awal memperingatkannya bahwa jalan ini akan mendatangkan banyak serangan.
Harga yang dibayar. Finkelstein menceritakan bagaimana upayanya mempublikasikan temuan tersebut ditolak oleh berbagai figur berpengaruh, termasuk oleh The New York Review of Books setelah ia menolak menyangkal hubungannya dengan Chomsky. Kariernya sebagai akademisi kemudian ditandai oleh serangkaian penolakan: ia mengaku tidak pernah diizinkan mengajar mata kuliah konflik Israel-Palestina di sebagian besar institusi tempatnya bekerja, kecuali dua seminar senior di DePaul University—tempat pengajuan gelar guru besar tetapnya akhirnya ditolak oleh rektor kampus pada 2007 setelah proses yang melibatkan tekanan dari pihak luar, termasuk pengacara Alan Dershowitz.
Setelah itu, ia mengalami masa pengangguran selama sekitar 13 tahun (2007–2020)—periode yang ia gambarkan sebagai masa gelap dalam hidupnya, yang bahkan tidak ingin ia kenang secara detail. Ia sempat bekerja sebagai dosen paruh waktu (adjunct) di berbagai kampus dengan bayaran minim dan perlakuan yang ia rasakan merendahkan, termasuk insiden ketika seorang koleganya memanggil petugas keamanan karena mengiranya orang asing yang tidak berhak berada di ruang fotokopi kampus.
Ia menyebut buku pertamanya tentang sejarah politik Gaza (Gaza: An Inquest into Its Martyrdom, terbit 2018) sebagai satu-satunya kajian akademik komprehensif tentang topik tersebut hingga saat itu—namun nyaris tidak pernah diulas media besar.
VIII. Pertanyaan Akuntabilitas: Mungkinkah Ada "Reckoning"?
Pertanyaan penutup Carlson menyentuh isu yang personal bagi Finkelstein, yang orang tuanya adalah penyintas kamp konsentrasi Nazi (termasuk Auschwitz) dan kehilangan banyak anggota keluarga dalam Holocaust—sebuah tragedi yang pada akhirnya diikuti oleh proses hukum, meski terbatas, terhadap sebagian pelakunya. Akankah hal serupa terjadi terhadap Israel?
Jawaban Finkelstein pesimistis, dengan alasan berlapis:
-
Skala keterlibatan sosial. Ketika hampir seluruh lapisan masyarakat—bukan hanya segelintir elite—terlibat dalam sebuah kejahatan massal, penuntutan hukum penuh menjadi mustahil secara praktis. Ia menyebut inilah alasan Afrika Selatan memilih model Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi pasca-apartheid, bukan pengadilan massal.
-
Kepentingan AS. Ia berargumen bahwa pemerintahan Joe Biden—melalui Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan—memungkinkan berlangsungnya kehancuran di Gaza melalui pasokan senjata; ia mengutip artikel The New Yorker yang menyebut sekitar 70 persen senjata yang digunakan dalam operasi di Gaza berasal dari Amerika Serikat. Akuntabilitas terhadap Israel, menurutnya, berisiko menyeret pertanggungjawaban pemerintah AS sendiri—efek domino yang membuat penegakan hukum internasional menjadi tidak mungkin secara politik.
-
Preseden serangan tanpa dalih. Finkelstein membandingkan serangan Israel (dengan dukungan AS) terhadap Iran—yang terjadi di tengah proses negosiasi—dengan pola historis di mana negara-negara yang menyerang biasanya setidaknya menciptakan dalih (pretext), sebagaimana Nazi Jerman memalsukan insiden perbatasan sebelum menyerang Polandia pada 1939, atau Amerika Serikat menggunakan Resolusi Teluk Tonkin 1964 yang kontroversial untuk mengeskalasi Perang Vietnam. Serangan terhadap Iran, menurutnya, dilakukan tanpa upaya membangun dalih semacam itu sama sekali—sesuatu yang ia sebut sebagai pelanggaran paling terang-terangan terhadap Piagam PBB dalam sejarah modern, tanpa reaksi berarti dari Dewan Keamanan PBB.
-
Resolusi 2803 dan "Board of Peace." Finkelstein menyoroti Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, yang disahkan pada 17 November 2025 dengan 13 suara mendukung tanpa penolakan (Rusia dan Tiongkok abstain). Resolusi ini mengesahkan rencana 20 poin Presiden Donald Trump untuk Gaza dan membentuk "Board of Peace" sebagai otoritas transisi Gaza, dengan Trump sebagai ketuanya dan memegang hak veto penuh atas keputusan badan tersebut selama masa transisi dua tahun—dengan kewajiban pelaporan ke Dewan Keamanan PBB hanya setiap enam bulan. Bagi Finkelstein, ini adalah puncak ironi: setelah 77 tahun status pengungsian dan tiga tahun kehancuran yang ia sebut genosida, otoritas atas nasib Gaza justru diserahkan secara formal kepada seorang presiden Amerika Serikat.
Kesimpulan akhirnya: kemungkinan besar tidak akan ada pihak yang benar-benar dimintai pertanggungjawaban hukum atas apa yang terjadi di Gaza. Karena itulah, menurutnya, fungsi buku terbarunya bukan untuk menuntut keadilan yang ia yakini tidak akan datang, melainkan untuk mendokumentasikan catatan sejarah bagi generasi mendatang—dengan syarat, sebagaimana ia sendiri mengakui sambil menyinggung risiko eskalasi konflik Israel-Iran yang lebih luas, bahwa generasi itu memang akan ada.
Penutup
Wawancara ini pada dasarnya adalah presentasi argumen seorang analis kontroversial yang telah membangun karier akademiknya di atas kritik tajam terhadap kebijakan Israel, dengan konsekuensi personal yang nyata terhadap kariernya sendiri. Kekuatan argumennya terletak pada kedetailan riset historis dan statistik yang ia rujuk; kelemahannya terletak pada nada yang sangat memihak dan sejumlah generalisasi tajam (seperti karakterisasi "bangsa pembunuh anak" atau "supremasi Yahudi") yang bersifat retoris dan sulit diverifikasi secara empiris.

Comments
Post a Comment