Fiksi Futuristik: Cahaya dari Tahun 3906 (Adaptasi Buku "Chronicles From The Future")
Adaptasi kreatif orisinal dari tema dan alur "Chronicles From The Future" karya Paul Amadeus Dienach
I. Zurich, 1918–1921
Sebelum segalanya berubah, Paul adalah seorang pengajar sejarah di sebuah universitas kecil, seorang pria yang lebih akrab dengan debu arsip dan kertas-kertas lama ketimbang dengan kehidupan yang sesungguhnya. Ia dulu memiliki Anna—seorang perempuan bermata cokelat yang caranya mengangguk, dengan rambut yang bergoyang lembut mengikuti gerakan lehernya, mampu membuat seluruh ruangan terasa lebih hangat. Namun perang telah mengubah banyak hal, dan Anna, seperti begitu banyak hal indah di masa itu, tak pernah kembali kepadanya.
Sahabatnya, Konstantin, sering mengingatkannya agar berhenti mengurung diri di apartemennya yang dingin. "Kau menulis terlalu banyak tentang masa lalu, Paul. Kapan kau akan mulai menulis tentang hidupmu sendiri?"
Paul hanya tersenyum kecut. Ia tak tahu bahwa jawaban atas pertanyaan itu akan datang dengan cara yang jauh lebih aneh daripada yang bisa dibayangkan siapa pun.
Musim dingin 1921 membawa kelelahan yang tak biasa. Mula-mula ia mengira hanya flu—demam ringan, sakit kepala yang datang dan pergi. Namun lambat laun, tidurnya menjadi semakin berat, semakin sulit ditembus, seolah ada sesuatu di kedalaman dirinya yang perlahan menariknya menjauh dari dunia yang ia kenal.
Pada malam terakhir sebelum semuanya gelap, ia menulis dalam buku hariannya: Aku merasa seperti seorang penumpang yang menunggu kereta yang tak kunjung tiba, di peron yang semakin sepi. Entah ke mana keretanya akan membawaku.
Ia tak pernah menduga betapa jauh dan betapa aneh perjalanan itu akan menjadi kenyataan.
II. Kebangkitan yang Salah Tempat
Ketika kesadarannya kembali, langit yang ia lihat bukan langit Zurich yang kelabu, melainkan sebuah kubah cahaya kebiruan yang berdenyut lembut, dilintasi bentuk-bentuk ramping yang melayang tanpa suara di kejauhan. Ruangan tempat ia berbaring dipenuhi cahaya alami yang datang dari dinding-dinding yang tampak seperti kaca hidup.
Seorang pemuda duduk di sampingnya, menatapnya dengan campuran kelegaan dan kekhawatiran. "Northam," katanya lembut, "kau sudah kembali kepada kami."
Paul—atau tubuh yang kini menjadi miliknya—mencoba menjawab, namun kata-kata yang keluar bukanlah bahasa yang ia kenal, melainkan mengalir begitu saja dari lidah yang bukan miliknya, seolah tubuh ini menyimpan ingatannya sendiri yang terpisah dari ingatan Paul.
"Aku Stefan," lanjut pemuda itu. "Kami khawatir kau tak akan siuman lagi. Sudah berminggu-minggu kau tenggelam dalam mimpi yang tak bisa kau ceritakan."
Hari-hari berikutnya adalah rentetan kebingungan yang nyaris tak tertahankan. Paul mendapati dirinya memiliki tubuh baru—tubuh seorang pemuda bernama Andreas Northam, seorang peneliti muda yang, menurut orang-orang di sekelilingnya, baru saja pulih dari kecelakaan serius. Namun di balik wajah dan tangan yang asing itu, kesadaran Paul tetap utuh, mengamati dunia baru ini dengan campuran takjub dan ngeri.
"Kau bicara seperti orang asing," kata Stefan suatu hari, mengamatinya lekat-lekat. "Seolah kau baru saja belajar bahasa kami dari awal."
Paul memilih untuk diam. Ia belum siap menceritakan kebenaran yang bahkan bagi dirinya sendiri terdengar seperti igauan orang sakit: bahwa ia berasal dari dunia yang, menurut penanggalan yang ia lihat terpampang di salah satu dinding, telah berlalu hampir dua ribu tahun yang lalu.
III. Dunia yang Telah Sembuh
Perlahan, dengan bantuan Stefan dan seorang dokter tua bernama Diseny, Paul mulai memahami bentuk dunia yang kini menjadi rumahnya. Ia belajar bahwa peradaban tempat ia terdampar menyebut dirinya Persemakmuran Semesta—sebuah tatanan global yang lahir dari reruntuhan panjang berabad-abad sebelumnya.
"Nenek moyang kami," jelas Diseny suatu sore, sambil menunjuk pada sebuah peta besar yang menampilkan benua-benua yang telah berubah bentuk, "hidup di masa-masa yang penuh kekacauan. Perang demi perang, jumlah manusia yang membengkak jauh melampaui kemampuan bumi menampungnya, dan bencana-bencana besar yang nyaris menghapus segalanya. Salah satu yang paling mengerikan terjadi ketika manusia mencoba memperluas diri hingga ke planet tetangga, dan gagal secara tragis. Kami menyebutnya Kehancuran Besar."
"Bagaimana kalian bangkit dari itu semua?" tanya Paul, teringat akan perang yang baru saja ia saksikan sendiri di zamannya, yang terasa sudah cukup menghancurkan.
"Seorang pemimpin muncul," jawab Stefan, "namanya John Terring. Ia bukan penguasa dalam arti lama, melainkan seseorang yang berhasil menyatukan bangsa-bangsa yang tersisa di bawah satu pemahaman baru: bahwa kelangsungan hidup bersama menuntut disiplin bersama pula. Dari sanalah lahir tatanan yang kau lihat sekarang."
Paul memperhatikan bagaimana kota-kota di dunia baru ini tumbuh seperti taman yang terencana, bagaimana kendaraan-kendaraan melayang tanpa suara di atas jalanan yang bersih, bagaimana seni dipertunjukkan dalam teater-teater yang menciptakan ilusi tiga dimensi yang begitu nyata hingga penontonnya kadang menangis tanpa tahu mengapa. Ada pula upacara-upacara yang menyerupai ritual keagamaan, namun tanpa dogma yang kaku seperti yang ia kenal—lebih menyerupai perayaan bersama atas keberadaan itu sendiri.
Suatu malam, dari kejauhan, Stefan menunjuknya pada cahaya-cahaya asing yang sesekali muncul di langit, bergerak dengan pola yang tak wajar. "Kami tak pernah benar-benar tahu siapa mereka," kata Stefan pelan. "Beberapa menyebutnya kunjungan dari dunia lain. Yang lain menganggapnya hanya fenomena alam yang belum kami pahami. Di dunia ini, Andreas, tidak semua misteri harus dipecahkan untuk bisa diterima."
IV. Para Warga Baru
Suatu malam di penghujung musim panas, Paul menyaksikan sebuah upacara yang membuatnya terpaku. Ribuan pemuda-pemudi berkumpul di lereng-lereng bukit, membakar pakaian kerja mereka yang berwarna hijau tua dalam unggun-unggun besar, sementara nyanyian bersahutan dari mulut ke mulut, dari lembah ke lembah.
"Mereka baru saja menyelesaikan masa pengabdian dua tahun mereka," jelas Stefan. "Setiap warga, tanpa kecuali, mengabdikan dua tahun hidupnya untuk kepentingan bersama sebelum mereka bebas menentukan jalan hidup masing-masing. Malam ini mereka menjadi Cives baru—warga penuh dari dunia kami."
Paul memperhatikan wajah-wajah muda yang bersinar oleh cahaya api unggun, campuran lega dan haru yang begitu tulus. Ia teringat akan generasi mudanya sendiri yang dikirim ke medan perang tanpa pernah benar-benar memahami untuk apa mereka berkorban. Di sini, pengorbanan tampak memiliki makna yang jelas, dirayakan alih-alih ditangisi.
Yang lebih mengejutkannya adalah bagaimana anak-anak di dunia ini diajarkan sejarah kelam masa lalu—bukan dengan menyembunyikannya, melainkan dengan menghadirkannya secara gamblang, kadang bahkan mengerikan, sebagai pengingat keras agar generasi baru tak pernah lupa harga yang telah dibayar untuk perdamaian yang mereka nikmati.
"Bukankah itu kejam bagi anak-anak?" tanya Paul suatu hari.
"Lebih kejam lagi," jawab Diseny, "membiarkan mereka tumbuh tanpa pernah benar-benar mengerti dari kegelapan macam apa dunia ini berhasil keluar."
V. Silvia
Di tengah semua keajaiban itu, ada satu hal yang menggoyahkan Paul lebih dari segalanya: seorang perempuan bernama Silvia.
Ia pertama kali melihatnya di sebuah menara tinggi yang menghadap ke laut, tempat penduduk kota berkumpul untuk menyaksikan tarian komunal yang diiringi musik tanpa syair, namun entah bagaimana terasa penuh makna, seolah setiap gerakan tangan dan tubuh para penari sedang menceritakan kisah cinta yang telah berlangsung sejak permulaan waktu.
Silvia menatapnya dengan cara yang membuat Paul—atau Northam, ia sendiri kini kesulitan membedakannya—merasa seperti sedang dikenali oleh seseorang yang telah lama menantinya, meski mereka baru saja bertemu.
"Kau tampak berbeda belakangan ini," kata Silvia suatu malam, saat mereka berjalan berdua di antara pepohonan yang menyala lembut oleh cahaya-cahaya kecil yang meniru kunang-kunang. "Seperti separuh dirimu sedang mencari jalan pulang ke tempat yang sangat jauh."
Paul ingin sekali menceritakan semuanya—tentang Zurich, tentang Anna, tentang tubuhnya yang mungkin masih tertidur berabad-abad yang lampau. Namun yang keluar hanyalah, "Mungkin setiap orang membawa kerinduan yang tak pernah bisa dijelaskan sepenuhnya, bahkan pada diri sendiri."
Silvia mengangguk pelan, seolah memahami lebih dari yang diucapkan. "Kami menyebutnya kerinduan akan Samith," ujarnya. "Sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita masing-masing, yang menyatukan segala yang tampak terpisah: tubuh dan jiwa, masa lalu dan masa depan, aku dan kau."
Pada suatu senja, ketika mereka duduk memandangi pegunungan bersalju di kejauhan, Silvia berkata dengan suara yang nyaris berbisik, "Kadang aku merasa seolah pernah mengenalmu jauh sebelum hidup ini, Andreas. Apakah menurutmu hal semacam itu mungkin?"
"Aku tidak tahu," jawab Paul jujur—jawaban yang, tanpa disadarinya, jauh lebih benar daripada yang bisa dipahami Silvia. "Tapi aku ingin percaya begitu."
Dalam pelukan Silvia, untuk pertama kalinya sejak kehilangan Anna, Paul merasa utuh kembali—meski dengan cara yang membingungkan, karena ia tahu perempuan ini sesungguhnya mencintai Northam, bukan dirinya. Pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya dicintai Silvia menjadi bayang-bayang yang tak pernah sepenuhnya bisa ia usir dari benaknya.
VI. Institut Aidersen dan Pengetahuan yang Tak Terucapkan
Suatu hari, Stefan membawanya ke sebuah bangunan besar yang dikenal sebagai Institut Aidersen—pusat pembelajaran yang, menurut penjelasan Stefan, tidak hanya mengajarkan pengetahuan seperti universitas-universitas yang pernah dikenal Paul, melainkan juga melatih semacam kepekaan batin yang mereka sebut Nibelvirch.
Di sana ia bertemu seorang cendekiawan tua bernama Lain, yang caranya berbicara mengingatkan Paul pada para filsuf besar yang pernah ia pelajari, namun dengan ketenangan yang belum pernah ia saksikan pada siapa pun sebelumnya.
"Ilmu pengetahuan pada masamu," kata Lain kepadanya, setelah mengetahui asal-usul Paul yang sesungguhnya—sebuah kebenaran yang, anehnya, diterima orang-orang di dunia ini dengan ketenangan luar biasa, seolah fenomena semacam itu bukan hal yang benar-benar asing bagi mereka—"mengukur dunia dari luar. Kalian menghitung, mengamati, membuktikan. Itu hebat, dan itu perlu. Tapi ada satu jenis pengetahuan yang tak pernah bisa diraih dengan cara itu."
"Pengetahuan macam apa?" tanya Paul.
"Pengetahuan tentang mengapa segala sesuatu ini pantas untuk ada," jawab Lain. "Mengapa penderitaan sepadan dengan keindahan yang menyusulnya. Itu tidak bisa dibuktikan dengan angka. Ia hanya bisa dirasakan, langsung, dari dalam—dan itulah yang kami sebut Samith, ketika ia tersentuh."
Paul mendengarkan dengan campuran kagum dan skeptis yang aneh—bagian dirinya yang masih seorang sejarawan rasional bertanya-tanya apakah semua ini hanyalah bentuk kepercayaan baru yang dibungkus bahasa yang lebih halus. Namun ia tak bisa menyangkal bahwa dunia ini, dengan segala kedamaiannya, tampak berhasil di tempat dunianya sendiri gagal begitu menyakitkan.
Ia teringat sebuah malam ketika seluruh kota berkumpul di sebuah lapangan terbuka, dan tanpa aba-aba, sebuah melodi yang begitu dikenalnya mengalun dari suatu tempat—melodi yang, dua ribu tahun sebelumnya di dunianya sendiri, ditulis oleh seorang komposer yang nyaris tuli. Air mata mengalir di banyak wajah di sekelilingnya, dan untuk sesaat, jarak dua ribu tahun antara dua dunianya terasa runtuh sepenuhnya.
VII. Bayang-Bayang Kepergian
Namun kebahagiaan itu membawa ketakutannya sendiri. Semakin lama Paul tinggal dalam tubuh Northam, semakin sering ia mendapati ingatan-ingatan lamanya mengabur, tergantikan perlahan oleh ingatan-ingatan Northam yang bukan miliknya. Ada hari-hari ketika ia lupa sejenak siapa dirinya yang sesungguhnya, dan kelupaan itu menakutkannya lebih dari apa pun.
"Aku takut suatu hari aku tidak akan mengenali diriku sendiri lagi," ia mengaku pada Stefan suatu malam.
Stefan menatapnya lama, lalu berkata dengan nada yang tak biasa seriusnya, "Mungkin itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti, Andreas. Mungkin itu hanya berarti kau akhirnya menjadi utuh."
Namun Paul tak sepenuhnya bisa menerima penghiburan itu. Ada Anna yang menunggunya di ingatan yang perlahan pudar, ada kelasnya, ada Konstantin, ada seluruh hidup yang, meski penuh luka, tetaplah miliknya.
Pada malam terakhir yang ia ingat dengan jelas, ia berjalan bersama Silvia menyusuri tepi Lembah Mawar—kota suci yang konon menyimpan sejarah panjang peradaban ini. Silvia menggenggam tangannya erat, seolah merasakan sesuatu yang tak terucapkan sedang mendekat.
"Berjanjilah kau tak akan pergi," bisiknya.
Paul tak bisa berjanji. Ia hanya bisa memeluknya erat-erat, seolah pelukan itu bisa menahan waktu yang ia tahu, cepat atau lambat, akan menariknya kembali.
VIII. Kepulangan yang Sunyi
Ia terbangun dengan bau obat-obatan yang menyengat dan suara lonceng gereja yang berdentang jauh di kejauhan. Langit-langit kamar yang ia tatap adalah langit-langit yang sama seperti yang ia tinggalkan—kamar rumah sakit di Zurich, dengan salju yang masih menumpuk di ambang jendela seolah waktu di sini nyaris tak bergerak.
Seorang perawat menatapnya dengan campuran lega dan waspada. "Anda sudah tertidur lebih dari setahun, Tuan," katanya. "Kami hampir menyerah harapan."
Paul—kini sepenuhnya kembali menjadi dirinya, meski dengan sesuatu yang terasa hilang selamanya dari dalam dirinya—hanya bisa menatap langit-langit itu dalam diam yang panjang.
Tak seorang pun percaya ceritanya, kecuali Konstantin, yang mendengarkan dengan sabar meski keraguan jelas tergambar di wajahnya. "Mungkin itu hanya mimpi yang sangat panjang, Paul," katanya lembut, mencoba menghibur.
"Mungkin," jawab Paul. "Tapi jika itu benar hanya mimpi, mengapa kehilangannya terasa seperti kehilangan yang nyata?"
IX. Yang Tertinggal
Ia menghabiskan sisa hidupnya menuliskan segala yang bisa ia ingat—setiap wajah, setiap percakapan, setiap kilasan tentang dunia yang mungkin hanya lahir dari pikirannya yang sakit, atau, mungkin, benar-benar ada di suatu lipatan waktu yang tak seorang pun bisa membuktikan maupun menyangkalnya.
Pada halaman-halaman terakhir catatannya, ia menulis:
Aku tak lagi tahu mana yang lebih nyata: hidupku di sini, di antara reruntuhan abad yang penuh perang dan kebisingan, atau hidupku di sana, di antara manusia yang telah belajar mencintai tanpa syarat dan hidup tanpa dibayangi ketakutan. Yang kutahu hanya satu hal: kerinduan itu nyata, sepenuhnya nyata, seperti kerinduanku dulu akan Anna. Dan jika kerinduan itu nyata, mungkin, dengan caranya sendiri yang tak bisa kujelaskan pada siapa pun, begitu pula dunia yang kurindukan itu nyata adanya.
Ia meninggal beberapa tahun kemudian, tanpa pernah mengetahui apakah dunia yang ia ceritakan benar-benar menantinya suatu masa nanti yang sangat jauh di depan—atau hanya cahaya yang diciptakan oleh pikirannya sendiri yang terluka, untuk menerangi kegelapan yang tak sanggup ditanggungnya sendirian.
Namun bagi mereka yang kelak membaca catatan-catatannya, satu hal tetap tinggal, terlepas dari benar atau tidaknya kisah itu: gambaran tentang sebuah dunia di mana manusia akhirnya belajar untuk berhenti saling menghancurkan, dan sebuah pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban pasti—apakah kerinduan semacam itu, betapa pun mustahilnya, adalah caranya sendiri untuk menunjukkan jalan ke sana.

Comments
Post a Comment