Gesekan Produktif Sekolah di Zaman AI

Bayangkan seorang siswa kelas sembilan yang diminta menulis esai tentang penyebab Perang Dunia I. Ia membuka sebuah aplikasi, mengetik perintah, dan tiga puluh detik kemudian mendapat lima paragraf yang rapi. Gurunya tidak akan tahu, nilainya kemungkinan bagus, dan malam itu ia tidur lebih cepat. Ada satu hal yang tidak terjadi: tidak ada satu pun proses berpikir yang berlangsung di kepalanya.

Kejadian sekecil ini, bila terulang jutaan kali, menjadi inti perdebatan tentang pendidikan di zaman AI. Sebuah gagasan yang belakangan populer menjawabnya dengan tegas. Teknologi makin cepat, digital, dan otomatis, maka sekolah harus makin lambat, fisik, dan manusiawi. Ketahanan mental anak tidak datang dari penguasaan algoritma, kata gagasan itu, melainkan dari sisi-sisi manusia yang tak akan pernah bisa diretas atau ditiru mesin.

Saya setuju dengan arah pikirannya, tetapi tidak dengan cara ia dirumuskan. Dua hal di dalamnya keliru, dan keduanya penting.

Yang benar: usaha itu bagian dari belajar

Psikologi kognitif sudah lama menemukan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat. Belajar yang terasa mudah sering kali dangkal, dan belajar yang terasa berat sering kali bertahan lama. Robert Bjork menyebut kondisi yang menyulitkan tetapi bermanfaat ini desirable difficulties (1994). Contohnya berupa mencoba mengingat sebelum melihat catatan, menyebar latihan ke beberapa hari, dan mencampur jenis soal. Roediger dan Karpicke (2006) memperlihatkan bahwa mahasiswa yang berulang kali mencoba mengingat materi mengungguli mereka yang hanya membacanya berulang kali, walaupun kelompok kedua merasa lebih siap. Perasaan paham dan pemahaman yang sesungguhnya ternyata dua hal yang berbeda.

Kalau begitu, alat yang menghapus usaha berisiko menghapus belajarnya sekaligus. Kita punya sedikit bukti untuk hal ini. Bastani dan kawan-kawan (2025) menguji siswa SMA yang berlatih matematika dengan bantuan model bahasa. Selama bantuan tersedia, siswa yang memakai versi tanpa batasan mengerjakan soal lebih baik. Ketika bantuan dicabut, mereka justru lebih buruk daripada siswa yang tidak pernah memakainya. Versi lain, yang memberi petunjuk dan tidak langsung menyodorkan jawaban, sebagian besar terhindar dari kerugian itu.

Temuan terakhir ini yang paling saya perhatikan. Masalahnya ternyata tidak terletak pada ada atau tidaknya AI, tetapi pada rancangannya. Alat yang sama bisa menjadi tongkat yang membuat kaki melemah atau perancah yang membantu bangunan berdiri, tergantung siapa yang mengerjakan pekerjaan berpikirnya.

Bukti lain masih lebih tipis dan sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Sparrow dan kawan-kawan (2011) menemukan bahwa orang kurang mengingat informasi yang mereka tahu bisa dicari lagi nanti. Kosmyna dan kawan-kawan (2025) melaporkan bahwa penulis yang dibantu model bahasa menunjukkan keterlibatan otak yang lebih rendah dan lebih sulit mengingat tulisannya sendiri. Namun studi ini kecil dan, saat esai ini ditulis, belum lulus telaah sejawat secara penuh. Arahnya memang mencemaskan, tetapi seberapa besar efeknya belum diketahui, dan siapa pun yang mengaku pasti, baik yang optimistis maupun yang pesimistis, melampaui datanya.

Yang keliru pertama: "lambat dan fisik" belum tentu menumbuhkan ketangguhan

Gagasan tadi seakan-akan menganggap kelambatan dengan sendirinya menyehatkan. Kenyataannya tidak begitu. Kelas yang penuh ceramah satu arah, hafalan tanpa makna, dan guru yang gemar mempermalukan murid sama sekali analog, dan tidak ada yang mau menyebutnya pendidikan yang menumbuhkan ketahanan. Anak yang dihukum karena salah menjawab tidak belajar bangkit. Ia belajar diam.

Teori determinasi diri dari Ryan dan Deci (2000) memberi gambaran yang lebih teliti. Menurut mereka, motivasi dan kesejahteraan psikologis bertumpu pada tiga kebutuhan: merasa mampu, merasa punya kendali atas apa yang dikerjakan, dan merasa terhubung dengan orang lain. Ketangguhan tumbuh dari sana. Sebuah kegagalan yang cukup kecil untuk ditanggung dan cukup nyata untuk berarti, seorang guru yang mengenal muridnya dan tahu kapan harus menunggu dan kapan harus menolong, serta kerja bersama yang membuat seorang anak dibutuhkan oleh temannya. Semua itu memang lebih mudah terjadi di ruang kelas kecil yang tatap muka. Tetapi kelasnya bukan yang penting. Yang penting adalah kondisi yang lahir di dalamnya.

Yang keliru kedua: manusia tidak kebal

Frasa "tidak akan pernah bisa diretas" enak didengar dan mudah dibantah. Perhatian, rasa takut ketinggalan, kebutuhan diakui, dan kesepian sudah lama menjadi bahan baku bisnis. Platform media sosial dirancang agar orang betah menggulir layar. Aplikasi pendamping percakapan dirancang agar penggunanya merasa dimengerti, dan sebagian penggunanya kemudian bergantung padanya. Sisi manusia tidak terlindung. Ia justru sasaran empuk, terutama bagi orang yang merasa dirinya kebal.

Karena itu, kalimat bahwa ketahanan mental tidak dibangun dengan menguasai algoritma menyesatkan kalau dibaca mentah-mentah. Anak yang tidak paham mengapa umpan beritanya berisi hal-hal yang memancing amarah, atau mengapa sebuah chatbot selalu setuju dengannya, lebih mudah dipermainkan, bukan lebih tangguh. Memahami cara kerja sistem itu tidak perlu menjadi inti kurikulum, tetapi tidak boleh hilang dari kurikulum.

Keberatan yang wajar

Ada beberapa yang perlu dijawab terus terang.

Sebagian orang akan menganggap semua ini nostalgia. Menurut saya bukan, asalkan urutannya jelas. Kita mengajarkan penjumlahan dengan tangan sebelum memberi kalkulator, dan tidak ada yang menuduh guru matematika anti-teknologi karena itu. Alasannya praktis: orang yang tidak pernah berhitung tidak bisa mengetahui bahwa angka di layarnya salah. Hal yang sama berlaku untuk tulisan dan penalaran. Seseorang yang tidak pernah menyusun argumen sendiri akan kesulitan menilai argumen yang dibuatkan mesin.

Keberatan yang paling serius menurut saya adalah biaya. Kelas kecil, perhatian guru, dan penilaian lisan memerlukan waktu manusia, dan waktu manusia mahal. Tanpa pendanaan yang disengaja, yang terjadi adalah sekolah mampu menawarkan kelas kecil dengan guru yang hadir penuh, sementara sekolah yang kekurangan guru menyerahkan anak-anaknya pada layar. Ketimpangan lama akan berulang dengan wajah baru. Jadi kebijakan yang masuk akal harus lebih dulu membelanjakan uang untuk guru dan jam interaksi, dan belakangan untuk perangkat.

Ada pula yang bertanya bagaimana dengan pasar kerja, yang jelas menuntut kecakapan memakai AI. Kecakapan itu memang perlu diajarkan. Tetapi lulusan yang hanya bisa mengoperasikan alat, tanpa bisa menulis dan menalar sendiri, sedang menyiapkan diri untuk digantikan oleh alat yang sama.

Terakhir, penilaian berbasis proses memang lebih melelahkan dan lebih rentan subjektif. Itu benar. Tetapi penilaian yang hanya melihat hasil akhir kini tidak lagi mengukur apa-apa, karena hasil akhir bisa dibuat mesin dalam setengah menit. Rubrik yang jelas, dua penilai, dan pertanyaan lisan singkat pada sampel tugas bisa mengurangi kerentanan itu.

Apa yang bisa dilakukan

Kalau semua ini diterjemahkan menjadi tindakan, saya melihat beberapa hal yang cukup konkret. Ujian dan tugas yang menilai cara berpikir, misalnya menulis di kelas, bertanya lisan, portofolio yang memperlihatkan tahap pengerjaan, dan proyek yang dikerjakan dengan tangan. Kemampuan dasar seperti membaca panjang, menulis, dan menghitung dilatih tanpa bantuan AI generatif, setidaknya pada tahun-tahun awal. Pengenalan AI secara kritis dimulai kemudian, bertahap menurut usia, mencakup cara kerja, keterbatasan, dan kebiasaan memeriksa keluarannya. Bila AI dipakai untuk belajar, alat itu dirancang supaya meminta anak berusaha dulu. Dan sebagian besar anggaran diarahkan pada guru, bukan gawai. Karena bukti masih berkembang, semua ini perlu disertai penelitian yang memantau dampaknya, termasuk dampaknya terhadap kesenjangan.

Penutup

Kembali pada siswa kelas sembilan tadi. Yang hilang dari malamnya bukan nilai atau waktu, tetapi tiga puluh menit yang biasanya ia habiskan untuk bingung, mencoret, dan akhirnya mengerti sesuatu. Pendidikan yang baik di zaman ini bukan yang paling menjauhi mesin, dan bukan yang paling tunduk padanya. Ia yang tahu bagian mana dari belajar boleh dipercepat dan bagian mana harus tetap berat, karena di bagian berat itulah seseorang menjadi mampu.

Comments

Popular posts from this blog

8 Tools AI Voice Gratis yang Membuat Eleven Labs Ketinggalan Zaman!

Al-Kahfi, Dajjal dan Latihan Melihat Kenyataan di Balik Penampakan

50 Situs Web Serbaguna

Internet yang Ramai tetapi Terasa Sepi: Memahami Teori Internet Mati

Sebelas Dimensi: Batas Penglihatan, Batas Sains, dan Batas Manusia