Rahasia Cak Nun dalam "Meramal" Masa Depan Bangsa
source: https://youtu.be/iatyWwr_nF8
Pengantar: Sosok yang Terlalu Besar untuk Disebut Penceramah
Jujur, saya tidak tahu harus mulai dari mana ketika membahas Emha Ainun Nadjib, yang akrab disapa Cak Nun atau Mbah Nun. Berkali-kali saya mengetik, berkali-kali pula saya tidak puas. Saya pulang, riset lagi, mengolah naskah lagi, lalu kembali dengan perasaan yang sama. Begitulah rasanya mencoba membedah mekanisme pengaruh di balik seorang Cak Nun.
Ada satu keyakinan pribadi yang saya pegang. Kita, masyarakat Indonesia, belum benar-benar tahu sebesar apa sosok ini. Bukan karena jumlah pengikut atau jabatan, tetapi karena cara ia berpikir, cara ia berbicara, dan cara ia membiarkan orang lain berpikir sendiri.
Saya mengenal Cak Nun sejak kuliah, lewat acara Bangbang Wetan di Surabaya. Ketika beliau mengisi acara di UNER, saya hadir dan masih ingat suasananya. Jadi bagi saya, ini bukan membahas figur yang jauh. Namun justru karena itu riset kali ini terasa berat. Biasanya, membedah satu tokoh memerlukan 20 sampai 30 hari. Untuk Cak Nun, 30 hari tidak cukup. Hampir semua kontennya di YouTube sudah saya tonton, tetapi tetap terasa ada yang belum selesai.
Ada satu pengalaman yang membuat saya tertegun. Ketika menonton ulang ceramah beliau, beberapa gagasan yang dulu saya dengar langsung kembali muncul. Salah satunya soal mutiara dan batu. Menurut Cak Nun, manusia sering tidak punya kapasitas untuk membedakan keduanya. Apakah rakyat kita bisa membedakan manusia batu dari manusia mutiara? Kalau tidak, akan ada mutiara yang dibuang karena tidak dikenali, dan ada batu yang dimutiara-mutiarakan lewat pencitraan media.
Kalimatnya sama persis. Tetapi bobot dan kedalaman yang saya tangkap kini berbeda. Bagaimana mungkin satu pesan yang sama memberi pemahaman berbeda kepada orang yang sama di waktu yang berbeda? Pertanyaan itulah yang menjadi pintu masuk tulisan ini.
Seberapa Besar Cak Nun?
Forum tanpa undangan
Setiap bulan, di 62 titik di seluruh Indonesia, ribuan orang berkumpul dalam forum yang beliau rintis. Ada di Jombang, Jakarta, Surabaya, Semarang, sampai Sulawesi Barat. Semuanya gratis. Tidak ada undangan, tidak ada pengumuman besar. Biasanya hanya poster sederhana yang bersumber dari situs caknun.com: tanggal sekian ada Bangbang Wetan, tanggal sekian ada Padang Bulan di Jombang, tanggal sekian ada Kenduri Cinta di Jakarta.
Kehadiran tidak didata dan tidak ada daftar hadir. Semua orang duduk lesehan tanpa alas, termasuk Cak Nun. Panggungnya terkenal rendah, cukup agar orang di barisan paling belakang tetap bisa melihat. Selama bertahun-tahun, jumlah yang hadir tidak menyusut.
Yang datang pun beragam. Ada pekerja kasar, sopir angkot, ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga, sampai profesor dan jenderal berbintang satu, dua, dan tiga. Mereka duduk bersila di forum yang sama, tanpa sekat dan tanpa protokol.
Jejak sampai ruang kekuasaan
Pengaruhnya tidak berhenti di masyarakat sipil.
- 1998. Saat Indonesia kacau dan penjarahan terjadi di rumah-rumah warga, Cak Nun menjadi satu dari sembilan tokoh yang berada di istana bersama Presiden Soeharto. Dua hari kemudian, Soeharto lengser.
- 1999. Setahun kemudian ia diundang lagi ke Cendana, dan ikut merumuskan arah reformasi. Dalam beberapa video, ia mengaku merasa dikhianati oleh rekan-rekan penggagas reformasi. Sehari setelah Soeharto turun, ia meninggalkan gerakan itu karena, menurutnya, teman-temannya ternyata "Soeharto-Soeharto kecil" yang juga ingin menjadi Soeharto.
- 2011. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahinya Satyalancana Kebudayaan.
- Desember 2022. Prabowo Subianto, yang saat itu Menteri Pertahanan di era Presiden Jokowi, hadir dalam acaranya di Trowulan.
Jadi pengaruhnya menembus batas, dari rakyat biasa hingga ruang tempat arah negara ditentukan.
Fenomena "Ramalan" yang Viral
Belakangan, sejumlah ucapan lama Cak Nun beredar kembali di media sosial karena dianggap terbukti.
Pertama, lima gunung. Pada 2013 beliau berkata, "Nek ono limang gunung medos bareng opo rodo gantian sitiik-sitiik ngono." Artinya kurang lebih: kalau ada lima gunung meletus bersamaan, atau agak bergantian sedikit demi sedikit. Pada 31 Agustus 2026, enam gunung api di Indonesia dilaporkan erupsi hampir bersamaan, 13 tahun kemudian.
Kedua, Menteri Keuangan. Beberapa tahun lalu beliau menyebut bahwa suatu saat Menteri Keuangan akan mundur karena negara tidak sanggup lagi berutang ke luar negeri. Waktu yang disebutnya adalah Maret atau April 2025. Tebakan waktunya meleset sekitar lima sampai enam bulan, tetapi pada September 2025 Sri Mulyani memang meninggalkan Kementerian Keuangan.
Ketiga, Iran, Israel, dan Arab Saudi. Sekitar 2012, dalam pengajian di Masjid Agung Klaten, beliau mengatakan bahwa suatu hari Iran akan diserang Israel dan Amerika, dan Arab Saudi hampir pasti membela Israel. Lalu beliau melempar pertanyaan kepada hadirin: Indonesia membela siapa? Membela Iran, membela Israel, separuh ikut Iran dan separuh ikut Israel, atau tidak ikut siapa-siapa? Empat belas tahun kemudian, Israel dan Amerika menyerang Iran. Pada Juli 2026, menurut rilis resmi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), pesawat tempur Arab Saudi dan Amerika melancarkan operasi gabungan di sebuah kawasan Irak yang menjadi sasaran kelompok pendukung Iran. Pada 2012, kedekatan Amerika dan Arab Saudi sebagai sekutu tidak sejelas sekarang.
Masih ada satu ucapan lagi yang dulu memicu kecaman luas, tetapi kini banyak orang membenarkannya dan meminta maaf secara virtual kepada beliau. Pembahasannya terlalu panjang dan sensitif, sehingga tidak saya uraikan di sini.
Dua pertanyaan pun muncul. Bagaimana seseorang bisa melihat peristiwa yang baru terjadi bertahun-tahun kemudian? Dan mengapa beliau tetap bicara, padahal tahu ucapannya akan memancing pertentangan?
Anomali Maiyah: Organisme yang Hidup Tanpa Kapten
Dari Jombang ke seluruh negeri
Pada 1993 di Jombang, lahir forum bernama Padang Bulan, yang digelar setiap malam bulan purnama. Setelah 33 tahun, forum itu masih berjalan. Dari sana tumbuh forum lain: Mocopat Syafaat di Yogyakarta, Gambang Syafaat di Semarang, Kenduri Cinta di Jakarta, dan Bangbang Wetan di Surabaya. Lalu menyebar ke Purwokerto, Magelang, Lampung, Malang, hingga Mandar di Sulawesi Barat. Seluruh simpul ini dikenal sebagai Maiyah.
Tanpa ketua, tanpa anggota
Inilah yang paling janggal. Maiyah tidak punya ketua, penanggung jawab, sekretaris, bendahara, anggota, atau departemen. Para penggiatnya berkali-kali menegaskan, "Di Maiyah tidak ada ketua, Mas. Tidak ada pemimpin dan anggota." Padahal acaranya besar dan menghadirkan ribuan orang setiap pertemuan.
Sepanjang yang saya ketahui, organisasi besar yang ingin bertahan lama harus punya struktur, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, pengurus, sistem keanggotaan, kegiatan rutin, dan pendanaan. Maiyah tidak punya semuanya, tetapi bertahan lebih dari 30 tahun.
Ujian terbesarnya datang pada 2023. Cak Nun sakit karena perdarahan otak, dan hingga kini aktivitas publiknya dikurangi karena masih dalam pemulihan. Padahal beliau bintang utama, nakhoda, sekaligus alasan orang datang. Selama tiga tahun beliau tidak lagi berkeliling, dan forum tetap hidup. Di episode pertama seri ini, ketika membahas Ferry Irwan, saya menyebut bahwa ukuran seorang pemimpin adalah kemampuannya memastikan organisasi tetap berjalan tanpa dirinya. Maiyah adalah contoh yang mencolok.
Penjelasan Sabrang
Putra Cak Nun, Sabrang, menjelaskan bahwa Maiyah bukan organisasi, melainkan organisme yang tumbuh dengan sendirinya (emergence), dan sengaja dipertahankan pada tahap itu. Ia tidak dibentuk dari atas lalu dirapikan. Bukan karena tidak ada yang mau mengurus, tetapi karena memang dirancang demikian.
Emergence adalah istilah dalam ilmu sistem untuk pola yang muncul secara alami dari interaksi banyak bagian, tanpa perancang dari atas. Contohnya kawanan burung yang terbang membentuk huruf V. Tidak ada burung yang menjadi komandan tetap, dan posisi terdepan bergantian.
Menurut Sabrang, tujuan Maiyah hanya satu: kedaulatan berpikir, yaitu membuat orang mampu berpikir sendiri dan merdeka dalam berpikir. Bila tujuannya demikian, jemaah yang bergantung pada pemimpinnya justru gagal, bukan berhasil. Karena itu, tiga tahun rehatnya Cak Nun disertai forum yang terus berjalan menjadi bukti paling kuat bahwa tujuan itu tercapai.
Lalu bagaimana caranya? Jawabannya ada pada tiga mekanisme berikut.
Mekanisme Pertama: Pesan Terbuka untuk Semua Tingkat
Buka video Cak Nun yang ditonton banyak orang, lalu baca komentarnya. Anda akan menemukan komentar yang tampak ditulis orang berpendidikan sangat tinggi. Gulir terus, dan Anda akan menemukan komentar bertulisan huruf kapital semua dengan salah ketik di sana-sini. Keduanya mengatakan hal yang sama: mereka memperoleh ilmu dan kebijaksanaan luar biasa dari konten itu.
Ini tidak lazim. Saya berpengalaman di bidang pendidikan, dan aturannya jelas: satu pesan untuk satu tingkat audiens. Materi kepemimpinan untuk penyelia berbeda dengan materi untuk manajer, dan berbeda lagi dengan materi untuk direksi. Materi direksi yang diberikan kepada penyelia akan membingungkan. Materi penyelia yang diberikan kepada direksi akan ditertawakan.
Cak Nun tidak mengikuti aturan itu. Ia berbicara kepada ribuan orang dari berbagai tingkat pemahaman, dan setiap orang membawa pulang hikmah sesuai kadarnya. Bahkan dalam kajian pendidikan dan pengembangan karyawan, saya belum menemukan metode komunikasi seperti ini. Tentu ini pembacaan saya sendiri, sebab sepengetahuan saya belum ada penelitian khusus tentang pola tersebut.
Kuncinya ada pada bentuk penyampaian. Di panggung Maiyah, hampir tidak ada instruksi seperti "harusnya begini" atau "kamu harus begitu". Yang ada adalah cerita, perumpamaan, humor, dan potongan kisah yang tafsirnya diserahkan kepada pendengar. "Ya wis, pikiren dewe." Pikirkan sendiri, lalu bawa pulang apa yang Anda dapat.
Bedanya besar. Instruksi hanya punya satu tafsir. "Bekerjalah dengan jujur." Selesai, tidak ada yang perlu ditafsirkan. Cerita punya banyak pintu masuk. Orang yang stres karena pekerjaan akan menangkap hal yang berbeda dari orang yang stres karena urusan keluarga.
Dalam teori sastra, Umberto Eco menyebut gejala ini sebagai karya terbuka, yaitu karya yang maknanya sengaja tidak diselesaikan penulisnya agar pembaca yang menyelesaikannya sendiri. Lawannya adalah karya tertutup, yang hanya punya satu tafsir sah.
Apakah ini disengaja? Ya. Dalam Kenduri Cinta 2018, Cak Nun berkata, "Peringatan kepada teman-teman sekalian, hendaklah Anda waspada kepada saya. Anda harus hati-hati kepada saya. Anda tidak boleh menelan begitu saja omongan saya. Anda harus punya kecurigaan sedikit yang positif. Anda jangan sembrono mendengarkan saya."
Jadi ini bukan soal menyederhanakan pesan. Beliau sengaja tidak menutup makna dan menaruh beban penafsiran di pundak pendengar, supaya mereka berpikir. Dengan begitu beliau tidak mengkhianati tujuan Maiyah.
Konsekuensinya ada dua. Pertama, setiap orang mendapat hikmah sesuai tingkat berpikir dan rasanya. Kedua, ucapan beliau mudah disalahpahami. Karena itu, ucapan Cak Nun tidak bisa ditelan mentah-mentah, secara harfiah, kata demi kata. Ingat hal ini, sebab kita akan kembali kepadanya.
Mekanisme Kedua: Logos, Patos, dan Etos
Mekanisme pertama menjelaskan mengapa pesan beliau dapat diserap beragam orang. Tetapi mengapa orang mau duduk dari pukul delapan malam sampai pukul tiga pagi, berbulan-bulan, bertahun-tahun, tanpa sertifikat, tanpa absen, dan tanpa yang menyuruh?
Jawabannya ada pada format Maiyah, yang jauh dari seminar. Acara dimulai selepas magrib dengan salat berjamaah, disusul selawat yang diiringi Kiai Kanjeng, kelompok gamelan dan musik bentukan Cak Nun yang telah tampil di belasan negara. Setelah tadarus, diskusi berjalan sampai dini hari, kadang sampai subuh. Di sela-selanya, Cak Nun sering berkata, "Kayaknya kita perlu satu skor lagi," atau "Satu musik dulu." Orang tidak hanya diajak berpikir, tetapi juga merasa.
Untuk membedahnya, saya memakai kerangka Aristoteles. Sekitar dua ribu tahun lalu, ia menyebut tiga jalur memengaruhi orang:
- Logos, jalur nalar: data, logika yang benar, dan argumen yang masuk akal.
- Patos, jalur perasaan dan emosi.
- Etos, jalur kredibilitas: siapa yang berbicara.
Kebanyakan orang hanya memakai satu. Ada yang hanya menyodorkan data dan mengira itu cukup untuk meyakinkan atasan. Ada manajer penjualan yang hanya memakai patos: kisah mengharukan, musik, tepuk tangan, semangat, lalu selesai tanpa perubahan. Ada juga yang hanya mengandalkan etos: "Saya ini sudah begini dan begitu, jadi apa yang saya sampaikan pasti benar."
Cak Nun memakai ketiganya.
Logos beliau berasal dari kedalaman bacaan, luasnya pengetahuan, dan keluasan berpikir yang multidimensi. Hal ini dibahas pada mekanisme ketiga.
Patos beliau bangun lewat tiga hal. Pertama, selawat, gamelan, dan musik. Bagian ini sering terlewat oleh mereka yang menganalisis cara dakwah beliau. Setiap kali lantunan selesai dan hati hadirin sedang terbuka, beliau menyampaikan pesan khusus. Beliau juga sering menjelaskan pentingnya musik bagi jiwa, tentu dalam arti positif, seperti lantunan selawat. Karena itu orang pulang bukan hanya dengan kepala penuh, tetapi juga dengan dada yang hangat, penuh harapan, dan bahagia. Kedua, humor. Dari tiga jam berbicara, mungkin satu setengah jam berisi cerita lucu, kelakar, dan celetukan, sambil tetap menasihati. Ketiga, interaksi yang sungguh-sungguh. Ketika beliau bertanya kepada seseorang di antara hadirin, apa pendapatnya, baik atau buruk, benar atau salah, beliau sungguh berusaha membuat orang itu paham. Itu bukan sekadar gaya. Karena hangatnya, orang yang dinasihati bahkan yang ditertawakan merasa seperti sedang dinasihati ayah sendiri.
Etos beliau dibangun dengan cara terbalik. Etos biasanya dibangun dengan gelar, penelitian, dan buku. Cak Nun tidak pernah menyombongkan betapa banyak yang beliau tahu. Sebaliknya, beliau meminta hadirin membantah pemikirannya bila memang keliru. Kredibilitasnya di mata hadirin bukan kredibilitas seorang profesor, melainkan seorang ayah yang bijaksana. Tidak ada anak yang bosan mendengar ayah yang bijak mengobrol dengan mereka.
Beliau juga menolak dipanggil kiai, gus, ustaz, atau ulama. Dari sekian banyak julukan yang orang tempelkan, hanya satu yang beliau terima: Mbah, artinya kakek. Itu julukan yang menyiratkan kesederhanaan, kehangatan, dan kedekatan.
Mekanisme Ketiga: Rubah yang Membaca Sejarah
Karena kita sudah membahas etos, kita perlu menengok rekam jejak formal Cak Nun.
- Beliau pernah masuk Pondok Modern Gontor, tetapi dikeluarkan pada tahun ketiga karena memimpin demonstrasi santri.
- Beliau kuliah di Fakultas Ekonomi UGM, tetapi keluar sebelum genap setahun.
- Pada 1970 sampai 1975, dengan istilahnya sendiri, beliau "menggelandang" di Malioboro. Saya menduga inilah masa beliau paling produktif menulis karya sastra. Istilah "menggelandang" itu khas orang yang rendah hati.
- Beliau tidak punya gelar akademik, tidak lulus pesantren secara formal, dan tidak pernah menjabat di pemerintahan.
Meski begitu, pada 1991 Dekan Fakultas Psikologi UI disebut pernah mengatakan bahwa beliau layak menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) karena keluasan wawasannya.
Keluasan itulah yang membuat ketajaman beliau yang tampak sulit dinalar menjadi masuk akal. Filsuf Isaiah Berlin membagi pemikir menjadi dua tipe. Landak tahu satu hal besar dan menjelaskan segalanya dengan kerangka itu. Rubah tahu banyak hal dari berbagai bidang dan tidak memaksa semuanya menjadi satu teori. Pemahamannya dibiarkan berdiri sendiri-sendiri, kadang berkaitan, kadang tidak.
Psikolog politik Philip Tetlock lalu mengujinya secara empiris. Ia mengumpulkan puluhan ribu prediksi dari ratusan ahli selama bertahun-tahun, kemudian memeriksa mana yang benar-benar terjadi. Hasilnya, pemikir tipe rubah secara konsisten lebih akurat memprediksi peristiwa nyata dibandingkan tipe landak. Yang paling menyakitkan, ahli yang paling terkenal dan paling yakin pada satu kerangka besar justru paling buruk ketepatannya.
Sekarang lihat Cak Nun. Beliau penyair, wartawan selama beberapa tahun, orang teater yang memimpin Teater Dinasti, dan pemusik lewat Kiai Kanjeng. Beliau mempelajari agama secara serius dan juga membaca budaya Jawa. Beliau pernah tinggal dua tahun di Belanda dan beberapa tahun di Amerika, lalu berkeliling dunia bersama Kiai Kanjeng, dari Mesir sampai Finlandia. Tidak ada satu disiplin pun yang menjadi rumah utamanya.
Ironisnya, hal-hal yang dipakai orang untuk meremehkan beliau, yaitu dikeluarkan dari Gontor, kuliah tak selesai, dan tanpa gelar formal, justru ikut membentuk ketajaman bacaannya.
Contoh lain adalah ucapan beliau: "Kita sedang memasuki gerbang rahmatan lil alamin. Tetapi Anda harus lebih menderita paling tidak 10 tahun lagi. Nanti ada yang lebih parah dari Jokowi. Anda harus siap." Saat itu beliau mengkritik keras pemerintah yang berjalan, tetapi tidak menjanjikan bahwa penggantinya lebih baik. Baru setelah potongan video lama itu naik kembali, banyak orang berkata, "Ternyata benar juga."
Catatan tentang Batas Klaim
Sebagai bentuk kejujuran, ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, kecocokan dengan peristiwa mudah terlihat setelah kejadian, dan ucapan yang beredar ulang biasanya yang kebetulan cocok. Temuan Tetlock menjelaskan gaya berpikir yang cenderung lebih akurat, bukan membuktikan bahwa setiap ramalan benar. Kedua, ucapan Cak Nun sendiri memang tidak untuk dibaca harfiah, sebagaimana dijelaskan pada mekanisme pertama. Sebagian data, seperti tanggal erupsi, rilis CENTCOM, dan pernyataan Dekan UI, berasal dari satu narasumber dan sebaiknya diperiksa ulang sebelum dikutip.
Penutup: Bukti Pengaruh Sejati
Sebenarnya masih ada satu hal yang ingin saya sampaikan, tetapi tulisan ini akan terlalu panjang. Saya mengajak Anda menelusuri sendiri sosok Cak Nun, membaca apa yang belum sempat dibahas di sini, dan menyampaikan sudut pandang Anda.
Tiga mekanisme tadi menjelaskan mengapa pengaruhnya begitu besar: pesan terbuka untuk semua tingkat, perpaduan logos, patos, dan etos, serta cara berpikir rubah yang multidimensi. Tetapi saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan pelajaran kepemimpinan. Saya menulis ini sebagai penghormatan bagi seorang tokoh besar.
Saat ini Cak Nun sedang beristirahat di rumahnya. Sabrang berpesan bahwa beliau telah mewakafkan hidupnya untuk Indonesia hingga usia sekarang, dan kini sedang dalam pemulihan. Mohon jangan diganggu.
Sementara beliau beristirahat, 62 titik di seluruh Indonesia tetap berkumpul setiap bulan, gratis, tanpa pengurus, dan tanpa beliau. Bagi saya, di situlah jawabannya. Pengaruh Cak Nun tidak terletak pada jumlah penonton atau jumlah buku yang beliau terbitkan, tetapi pada kenyataan bahwa apa yang beliau bangun puluhan tahun masih hidup ketika orangnya sedang beristirahat.
Bukti pengaruh apa yang lebih besar daripada itu?
Salam hormat untuk Cak Nun dan keluarganya.

Comments
Post a Comment