Konflik Timur Tengah dan Arah Tata Dunia Baru: Peran yang Menunggu Dunia Islam

Disarikan dari perbincangan Sajid Morning Talk bersama UBN Podcast. Narasumbernya Anis Matta, yang dalam percakapan itu berbicara sebagai pemikir sekaligus pelaku diplomasi. Pembawa acaranya Ustaz Bachtiar Nasir.

source: https://youtu.be/NRZ1unkVIs0

Pembukaan: Pakta Mekah dan Pertanyaan yang Lebih Besar

Pembicaraan bermula dari Pakta Mekah, atau Mecca Joint Defence Agreement (MJDA). Perjanjian ini ditandatangani di Mekah pada 7 Agustus 2026 oleh tiga pemimpin: Muhammad bin Salman dari Arab Saudi, Shehbaz Sharif dari Pakistan, dan Recep Tayyip Erdogan dari Turki. Pakta ini bertumpu pada perjanjian pertahanan bersama antara Arab Saudi dan Pakistan pada September 2025, yang kemudian diperluas sampai mencakup Turki.

Sebagian pengamat menyebutnya “NATO Islam”. Pembawa acara mengingatkan bahwa julukan itu belum tepat, karena pakta ini belum memuat prinsip bahwa serangan terhadap satu anggota berarti serangan terhadap semuanya. Ujian pertamanya datang cepat. Riyadh diserang, dan Houthi, kelompok bersenjata di Yaman, secara terbuka mengaku berada di balik serangan itu. Ada korban yang mengenakan pakaian ihram, sehingga serangan ini menyentuh urusan ibadah. Bagi Indonesia, persoalannya juga dekat: banyak pekerja migran Indonesia berada di Arab Saudi, dan penyelenggaraan haji serta umrah bergantung pada keamanan kawasan itu.

Anis Matta menolak melihat pakta ini sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Menurutnya, Pakta Mekah hanyalah satu bab dalam rangkaian panjang konflik Timur Tengah. Dari sini ia menyampaikan kesimpulan yang menjadi benang merah seluruh pembicaraan: seperti apa konflik Timur Tengah berakhir, seperti itulah tata kelola dunia baru bermula.

Konflik Kawasan sebagai Bagian dari Perebutan Supremasi

Anis menempatkan konflik ini dalam bingkai yang lebih luas. Perang Palestina–Israel membesar menjadi perang regional, lalu menyeret Amerika Serikat ke dalamnya. Perang Amerika–Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari dan, menurut dia, belum selesai sampai sekarang. Semua ini adalah turunan dari perebutan supremasi antarkekuatan besar.

Ia membandingkannya dengan perang Rusia–Ukraina. Di garis depan memang Rusia dan Ukraina, tetapi di belakang Ukraina berdiri NATO dan Barat. Karena itu, itu bukan perang dua negara bertetangga, melainkan perang antarblok dengan Eropa sebagai medannya. Pola yang sama berlaku di Timur Tengah. Sasaran sebenarnya bukan Iran semata. Iran dipandang sebagai duri yang harus dicabut dari satu kawasan demi tujuan yang lebih besar.

Anis menegaskan bahwa ini belum akhir. Perang akan berpindah ke kawasan lain dalam berbagai bentuk, dan bisa saja sampai ke Pasifik, Asia Tenggara, atau Asia Selatan. Bentuknya mungkin berupa destabilisasi dan militerisasi kawasan. Namun, Timur Tengah akan menjadi “hidangan utama” yang paling menentukan dari semua konflik itu.

Lima Sebab Konflik Ini Menentukan Tata Dunia Baru

Sebab pertama: batas kekuatan Amerika terbuka. Menurut Anis, perang ini memperlihatkan bahwa Amerika tidak sekuat yang dibayangkan. Ia menilai tidak satu pun tujuan awal perang itu tercapai. Rezim Iran tidak jatuh, program nuklirnya tidak berhenti, ekspansi Iran dan jaringan proksinya tidak terhenti, dan rantai dukungan bagi Palestina tidak terputus. Kekuatan militer yang dapat menyaingi Israel pun tidak lumpuh. Yang terjadi justru sebaliknya, yaitu Iran menguasai Selat Hormuz.

Selat itu biasanya dilalui 150 sampai 200 kapal kargo setiap hari. Kini, menurut Anis, hanya lima sampai delapan kapal yang diizinkan lewat. Padahal sekitar 20 persen pasokan energi dunia melintasi jalur itu. Di sisi lain, proksi Iran di Yaman menyerang kilang minyak Saudi, yang produksinya sekitar 12 juta barel per hari dari kebutuhan dunia sekitar 100 juta barel. Produksi terganggu, jalur logistik tertutup.

Akibatnya berlapis. Tahun ini dunia baru melihat krisis energi. Tahun depan krisis pupuk akan menyusul, karena Qatar termasuk produsen pupuk terbesar. Krisis pupuk membuka kemungkinan kelaparan global pada 2027 sampai 2029 bila perang tidak segera selesai.

Anis juga menyebut mobilisasi tiga kapal induk dan sekitar seratus ribu pasukan Amerika ke arah Hormuz. Ia menduga ada upaya melancarkan serangan sebelum 27 Oktober, hari pemilu di Israel, dan sebelum 3 November, hari pemilu sela di Amerika. Bahkan ia menduga ada yang berharap perang dapat menjadi alasan menunda pemilu. Menurutnya itu soal konsumsi politik dalam negeri, bukan upaya menciptakan keamanan.

Karena batas kekuatan konvensional sudah terlihat, ia menilai pembicaraan tentang senjata nuklir kini menjadi pembahasan harian sebagai pilihan. Dengan cara tempur yang ada sekarang, katanya, Amerika sulit menang. Iran, walaupun negaranya hancur, secara militer dinilai menang karena menggagalkan semua sasaran lawan.

Sebab kedua: kemungkinan Amerika angkat kaki dari Timur Tengah. Banyak pemikir dan pembuat kebijakan di Amerika, kata Anis, mendorong penarikan penuh. Alasannya, pangkalan militer Amerika di Teluk relatif lumpuh. Pusat armada laut di Bahrain dihancurkan Iran, begitu pula sejumlah pesawat tempur besar di Arab Saudi dan pusat radar di Qatar. Kekuatan yang tersisa kini berada di luar Teluk.

Penarikan itu tidak serta-merta melegakan negara-negara Teluk. Mereka akan menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni Israel dan Iran, tanpa pelindung lama.

Sebab ketiga: Israel kelelahan dari dalam. Sejak 2023, Israel belum mencapai sasaran militernya di Palestina, termasuk menghancurkan sistem pertahanan Hamas dan melucuti senjatanya. Lebih buruk lagi, tentaranya lelah dan kesulitan merekrut anggota baru. Militer Israel, menurut Anis, tidak akan sanggup berperang lebih lama.

Ada pula krisis sosial yang tajam. Kelompok kanan ekstrem ingin terus bertempur, tetapi yang berjuang dan gugur di lapangan umumnya kalangan liberal. Pemuda dari lingkungan keagamaan ultra-Ortodoks tidak boleh direkrut dan memprotes kebijakan itu. Ini melahirkan krisis legitimasi. Survei menunjukkan Netanyahu kemungkinan kalah dari Gadi Eisenkot dalam pemilu 27 Oktober. Namun, pembentukan pemerintahan sesudahnya belum tentu mulus karena sistemnya parlementer, dan Netanyahu bisa menghambat prosesnya sehingga terjadi kebuntuan politik.

Persoalan terbesar Israel, menurut Anis, adalah hilangnya landasan moral dan dukungan politik dari Barat. Ia menyebut 77 negara memboikot pidato Netanyahu di PBB. Netanyahu datang, berpidato, lalu langsung pulang. Dari semua ini Anis menyimpulkan bahwa Israel kehilangan masa depan, dan keruntuhannya hanya soal waktu.

Sebab keempat: munculnya dua kekuatan militer baru, Iran dan Turki. Keduanya sama-sama hadir secara militer di luar negaranya, tetapi dengan cara yang berbeda. Iran hadir lewat milisi di Yaman, Lebanon, Suriah, dan Irak. Jaringan itu memungkinkannya melancarkan perang asimetris. Sebagian serangan ke Arab Saudi bahkan disebut berasal dari Irak.

Turki memilih jalur resmi. Ada pasukan Turki di Qatar, Somalia, dan Libya, semuanya lewat kerja sama antarpemerintah. Mekah pun kemungkinan akan menjadi lokasi penempatan baru berkat Pakta Mekah. Anis merumuskan perbedaannya begitu: Turki memperhatikan hukum internasional, sedangkan Iran bertumpu pada kekuatan faktual dan kurang menghitung sisi hukumnya. Meski begitu, kedua negara inilah yang paling kuat secara militer di kawasan.

Di luar kawasan itu ada dua negara Muslim yang kuat secara militer, yakni Pakistan dan Indonesia. Namun, Indonesia jauh secara geografis dan terikat prinsip politik luar negeri bebas aktif, sehingga tidak dapat bergabung dengan pakta militer mana pun.

Sebab kelima: dilema besar negara-negara Teluk. Selama ini mereka bersandar pada perlindungan Amerika dan membayarnya dengan biaya besar. Perang ini menunjukkan bahwa pelindung itu bahkan tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Padahal militer negara Teluk tidak dibangun untuk berperang. Mereka menghadapi tiga ancaman: Israel, Iran, dan kelompok nonnegara seperti Houthi.

Bila negara tampak tak berdaya, risikonya bukan hanya militer. Revolusi sosial-politik di dalam negeri bisa terpicu. Bila konflik berlangsung satu sampai dua tahun lagi, hampir semua negara Teluk akan kehabisan tabungan tanpa sumber pendapatan baru. Karena itu mereka mulai menata ulang strategi dengan mencari mitra pertahanan baru. Qatar dan Turki sudah lebih dahulu menempuh jalan ini, demikian pula Somalia dengan Turki. Pakta Mekah menyusul langkah itu. Jadi tujuannya jauh melampaui urusan menghadapi Houthi.

Anis menambahkan bahwa Turki lebih mudah diterima daripada Iran, sebab polarisasi Sunni–Syiah masih bekerja kuat.

Mengapa Minyak Menjadikan Kawasan Ini Penentu

Anis mengaitkan semua sebab itu dengan satu fakta: kawasan ini menampung sekitar 48 persen cadangan minyak dunia. Kekayaan itu selama ini menjadi sumber perkara. Ia menjadi musibah ketika pemiliknya tak mampu melindungi diri. Namun, bila mereka kelak sanggup melindungi dirinya, kekayaan yang sama bisa menjadi sumber pembangunan bagi seluruh dunia Islam.

Bila Turki dan Iran bisa berdamai, bila negara Teluk berani lebih mandiri secara strategis, dan bila Amerika terus melemah, maka salah satu sasaran strategis Amerika, yaitu menguasai sumber energi dunia, gagal lebih dari separuh. Itulah sebabnya Anis menyebut konflik ini sebagai hidangan utama.

Medan Persaingan di Kawasan Muslim Lain

Anis menjelaskan bahwa wilayah Muslim lain pun menjadi arena rebutan kekuatan besar. Di Afrika, empat kekuatan bersaing: Tiongkok, Amerika, Eropa, dan Rusia. Sebagian negara mengandalkan Rusia untuk keamanan dan Tiongkok untuk ekonomi. Pangkalan Amerika di sana disebutnya telah diserbu, dan Prancis diusir pelan-pelan dari Afrika Barat dengan bantuan Rusia.

Di Asia Tengah, dominasi Rusia berkurang dan Tiongkok masuk. Namun, tekanan Eropa dan Amerika membuat negara-negara itu menata ulang arah. Di Asia Selatan, yaitu Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa, persaingannya terjadi antara India, Tiongkok, dan Amerika. Negara-negara tersebut berusaha lebih mandiri dari dua raksasa itu. Di Asia Tenggara, pengaruh Tiongkok paling besar. Nilai perdagangannya dengan kawasan ini sekitar 1,5 triliun dolar, jauh melampaui perdagangan dengan Amerika.

Lima Agenda untuk Dunia Islam

Anis akan berangkat ke Baghdad untuk menghadiri pertemuan para menteri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Ia merumuskan lima agenda yang menurutnya perlu dipikirkan bersama.

Pertama, kemandirian strategis. Dunia Islam perlu didorong agar mampu menentukan nasibnya sendiri.

Kedua, mekanisme penyelesaian konflik. Dunia Islam butuh cara sendiri untuk menyelesaikan sengketa antarnegara Muslim. Konflik Houthi dan Saudi yang berlarut hanya memberi ruang bagi Israel dan Amerika, karena makin tinggi eskalasi, makin mereka diuntungkan. Mengutuk serangan terhadap sasaran sipil memang perlu, seperti yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia. Namun, kutukan tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah mekanisme yang disepakati bersama. Anis menilai Indonesia cocok memainkan peran penjahit ini, karena tidak terlibat langsung dalam konflik dan tidak dipandang berambisi menguasai wilayah. Indonesia dipandang sebagai “kakak besar” yang tidak menakutkan. Ia mencontohkan sikap Soeharto yang menerima keputusan PBB dalam sengketa wilayah dengan Malaysia, meski Indonesia kalah. OKI selama ini belum mampu mengisi peran itu, dan Anis menyuarakan gagasan ini di setiap kesempatan, termasuk di forum Baghdad nanti.

Ketiga, koordinasi politik negara-negara besar Muslim. Kelompok D8 menghimpun negara Islam berpenduduk besar. Pemrakarsanya pada 1998–1999 adalah B.J. Habibie, Necmettin Erbakan, dan Mahathir Mohamad. Gagasan itu sempat mandek karena Erbakan dikudeta dan Habibie lengser. Kini Indonesia memimpin D8. Pertemuan yang direncanakan Oktober ini tertunda akibat perang. Presiden Mesir, yang memimpin tahun lalu, tetap datang untuk pertemuan bilateral.

Keempat, industri pertahanan bersama. Menurut Anis, koordinasi dengan Turki dan Pakistan sedang berjalan, dan ia membicarakannya dengan menteri pertahanan serta pihak lain. Sumber dayanya tersedia. Dunia Islam berpenduduk sekitar 2,1 miliar jiwa dan menguasai lebih dari separuh energi dunia. Ada negara yang punya minyak, ada yang punya dana, ada yang punya teknologi. Iran, Turki, Indonesia, dan Mesir dinilai mampu menjadi pusat industri pertahanan bagi sesama negara Muslim.

Kelima, produksi budaya dan persentuhan antarmasyarakat. Anis menyebut dua langkah yang saling melengkapi. Langkah pertama adalah memperbanyak produk budaya untuk membangun kembali identitas kolektif Muslim, misalnya film bersama antarnegara. Ia sengaja memilih kisah cinta karena paling mudah diterima, seperti Ayat-Ayat Cinta. Pernikahan lintas negara, misalnya antara orang Indonesia dan Turki, ikut memperkuat identitas itu. Langkah kedua adalah memperbanyak pertemuan antarwarga lewat pariwisata. Menurut catatan Kedutaan Saudi, ada sekitar tiga juta jemaah umrah setiap tahun. Mereka dapat singgah ke negara lain bila tersedia paket wisata. Anis mengaku telah mendorong hal ini kepada banyak negara, dari Oman dan Qatar hingga Balkan, Asia Tengah, bahkan Tiongkok. Ia juga mengunjungi Xinjiang pada 2019 dan masuk ke penjara-penjara di sana.

Indonesia: Model, Potensi, dan Jarak antara Keduanya

Bagian ini menjadi inti argumen Anis tentang identitas. Ia menilai ada lebih banyak alasan menyatukan dunia Islam sekarang ketimbang dahulu. Barat sedang menurun, sedangkan Tiongkok dan India tidak dapat menjadi alternatif peradaban. Tiongkok, katanya, tidak akan pernah menjadi model karena kemakmuran tanpa kebebasan tidak layak dicontoh manusia.

Adapun dunia Islam belum memiliki model yang utuh. Ada negara yang makmur seperti negara-negara Teluk, tetapi tanpa demokrasi. Ada yang demokratis, tetapi miskin. Ada pula yang berbentuk republik, tetapi dipimpin diktator dan rakyatnya miskin. Indonesia, menurut Anis, adalah yang paling mendekati gabungan tiga hal: agama, demokrasi, dan kemakmuran.

Ia mengajukan alasan sejarah. Negara-negara Muslim di Timur Tengah lahir dari pecahan Kekhalifahan Utsmaniyah yang dipetakan oleh penjajah Inggris dan Prancis lewat Perjanjian Sykes–Picot pada 1916, di tengah Perang Dunia I. Perbatasannya dibuat dari luar, nasionalismenya tumbuh sebagai alat memisahkan diri dari Turki Utsmani, dan negaranya kecil-kecil. Akibatnya, konstitusinya rapuh dan sejarah nasionalismenya dangkal.

Indonesia mengalami proses sebaliknya. Kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara gagal menghadapi penjajah, lalu bersatu membentuk republik. Gerakan nasional awal abad ke-20, dari Budi Utomo hingga Sarekat Islam, bermuara pada Sumpah Pemuda, yang memuat tanah, bangsa, dan bahasa. Bangsa Indonesia lahir sebelum kemerdekaan diumumkan. Bagi Anis, mencapai kesepakatan untuk melebur menjadi satu jauh lebih sulit daripada memproklamasikan kemerdekaan pada 1945. Pemilihan bahasa pun menunjukkan kebijaksanaan itu. Bahasa Melayu dipilih, bukan bahasa Jawa yang penuturnya terbanyak, karena struktur Melayu sangat sederhana dan tidak mengenal sistem kala dalam tata bahasanya. Bandingkan dengan Kazakhstan dan Uzbekistan yang sudah lebih dari tiga puluh tahun merdeka dari Uni Soviet, tetapi masih bergulat dengan bahasa Rusia. Anis menyebut model serupa Indonesia hanya Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Posisi Indonesia sekarang memang unik. Secara populasi dan ekonomi, Indonesia terbesar di dunia Islam, dan sistemnya dinilai paling baik. Namun, letaknya di ujung paling timur wilayah Islam, sementara negara-negara Muslim lain terkonsentrasi di pertemuan tiga benua. Kesimpulan Anis lugas: potensi Indonesia sudah ada, tetapi jarak antara potensi dan peran masih sangat lebar. Menurutnya, Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar kelima, sehingga tinggal mencari kolaborasi yang tepat.

Penutup: Penentu atau Penonton

Ustaz Bachtiar Nasir merangkum bahwa ujung konflik Timur Tengah akan menentukan awal pembentukan dunia Islam global. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah umat Islam menjadi penentu akhir konflik ini atau sekadar penonton. Menurutnya, gagasan Anis mengajak Indonesia menjadi bagian dari penentu, dengan modal, pengalaman, kekuatan, dan jumlah umat yang besar. Pekerjaan berikutnya adalah mengubah rancangan yang sudah lengkap itu dari kisah cinta di layar menjadi kenyataan.

Comments

Popular posts from this blog

8 Tools AI Voice Gratis yang Membuat Eleven Labs Ketinggalan Zaman!

Al-Kahfi, Dajjal dan Latihan Melihat Kenyataan di Balik Penampakan

50 Situs Web Serbaguna

Internet yang Ramai tetapi Terasa Sepi: Memahami Teori Internet Mati

Sebelas Dimensi: Batas Penglihatan, Batas Sains, dan Batas Manusia