Percakapan Rocky Gerung dan Bagus Muljadi tentang Dasar Berpikir di Balik Kebijakan
source: https://youtu.be/58cCQhTt2Nw
Pengantar
Perdebatan publik kita gampang sekali terbelah menjadi dua
kubu. Orang mudah menempatkan lawan bicara di sisi kiri atau kanan, dan jarang
ada yang mau menengok wilayah abu-abu di antaranya. Percakapan antara Rocky
Gerung dan pewawancaranya, Bagus, bermula dari keresahan itu. Bagus mengaku
lama menikmati argumen Rocky. Ia ingin menggali sesuatu yang lebih mendasar:
apa akar paradigma Rocky, dan apa "perangkat lunak" yang bekerja di
kepalanya?
Pembicaraan lalu bergerak ke banyak arah, mulai dari
kebebasan berbicara, hakikat manusia, hak atas pangan, dan kritik terhadap
kebijakan makan bergizi gratis, sampai teori hukum, tanah adat, dan sosialisme
Indonesia. Dua hal menyatukan semuanya. Rocky menuntut orang menjelaskan dasar
epistemik di balik kesimpulan praktis mereka, dan Bagus sengaja memakai posisi
lawan (straw man) untuk menguji sejauh mana argumen itu tahan.
Kebebasan Berbicara: Naluri dan Kepentingan Memiliki
Kawan Bermain
Bagus membuka dengan pertanyaan langsung. Rocky menjunjung
tinggi kebebasan berbicara, dari mana asalnya? Jawaban Rocky mengejutkan karena
sederhana: itu naluri. Tidak ada yang mengajarinya. Ia hanya tahu bahwa tanpa
kebebasan itu, ia tidak punya kawan bermain.
Kebebasan berbicara bagi Rocky bukan semata cita-cita luhur.
Ia adalah kepentingan, karena gagasan hanya hidup jika ada lawan bicara. Namun
kawan bermain ini perlu aturan, dan Rocky mengakui aturannya bersifat
subjektif. Aturan pertamanya adalah nalar. Ia menuntut lawan bicara menunjukkan
teoremanya, sebab ia menganggap lawan bicara juga menuntut hal yang sama
darinya.
Rocky mengakui kelemahan cara ini. Kadang ia bersikap kejam,
karena tidak semua orang datang dari cara berpikir yang sama. Orang lain bisa
memakai aturan lain, misalnya logika situasional ala kaum utilitarian yang
lebih toleran. Meski begitu, ia merasa tidak bisa bergerak tanpa penjelasan
tentang asumsi dasarnya sendiri. Baginya, asumsi itu seperti buku petunjuk, dan
tanpanya ia tidak bisa bertindak.
Akar Paradigma: Dari Mana Orang Berpikir
Bagus menjelaskan caranya membaca orang. Cara berpikir
seseorang, kalau dilihat serempak pada satu waktu, bersumber dari akar
paradigma atau ontologinya. Jika manusia dipandang sebagai makhluk berdosa
ciptaan Tuhan, epistemologinya pasti bertumpu pada kitab suci. Jika manusia
dipandang sebagai makhluk rasional yang lahir seperti kaset kosong, ia condong
ke Kant dan akal budi. Jika manusia dipandang sebagai produk konsepsi suku atau
masyarakat, narasilah yang menjadi epistemologinya.
Karena itu ia bertanya kepada Rocky: apa hakikat manusia?
Rocky menolak menjawab dengan posisi. Menurutnya, begitu seseorang menyatakan
punya posisi, ia jatuh ke dalam "jebakan kuantum". Posisi mematikan
kecepatan. Yang ia punya hanyalah penjelasan tentang posisi itu, sehingga
pikirannya tetap bergerak.
Dari sini muncul gagasan tentang endgame, permainan
yang berakhir. Rocky berpendapat bahwa rasa ingin tahu kita justru membatalkan
"akhir", sehingga permainan terus berjalan. Forum percakapan ini ia
sebut kronik, lawan dari endgame.
Kronik, Babat, dan Otak yang Tak Mau Berhenti
Percakapan sempat menyinggung istilah. Dalam bahasa
Indonesia, kata padanan kronik adalah babat. Rocky membedakannya dari annals,
yang mencatat tahun demi tahun seperti jurnal ilmiah. Babat berarti ada
sesuatu yang didokumentasikan, didaftarkan, lalu dinamai. Rocky mengaitkan akar
kata kronik dengan dewa Kronos, dewa yang "menembus" dan menghentikan
semua parameter yang dianggap stabil.
Dari situ ia menarik pandangan tentang otak. Otak manusia
selalu berada dalam keadaan semiotik: tidak mau berhenti, dan memang tidak
boleh dihentikan, supaya seluruh energinya bisa dipakai mencari tesis akhir.
Rocky menyebutnya teorema, bukan teori.
Perbedaan itu menjadi kunci kritiknya terhadap wacana
publik. Orang cepat sekali melihat "masalah". Yang diunggah di media
sosial dan dibicarakan ramai biasanya bukan peristiwanya, melainkan kulit
luarnya. Peristiwa hilang, isinya lenyap, dan teoremanya tidak dipahami.
Akibatnya orang berteori tentang kulit luar.
Individu atau Suku: Dari Mana Hak Berasal
Bagus lalu mengajukan polemik. Jika manusia adalah makhluk
individual, hak individu punya definisi yang tegas, yaitu hak yang melekat
(intrinsik). Mengapa manusia punya hak? Karena ia percikan Tuhan.
Rocky menanggapinya dengan tajam. Menurutnya, orang yang
berkata "aku percikan Tuhan" memakai Tuhan untuk menghentikan sejarah
pada akhirnya. Asumsinya runtut: Tuhan ada, manusia percikan-Nya, maka manusia
punya hak, dan dari hak itu ia menurunkan doktrin-doktrin lain. Sebaliknya,
kalau manusia hanya konstelasi benda material, sulit membela gagasan bahwa ia
punya hak atau kewajiban intrinsik, sebab ia hanya tercatat sebagai benda.
Bagus menunjuk ketidakkonsistenan pada Sartre. Sartre
menyangkal makna objektif, tetapi melawan Nazi dan menulis buku untuk mengajari
orang. Rocky menjelaskan lintasan pikirannya. Sartre bermula dari
eksistensialisme, lalu mengenal Marxisme dan percaya pada materialisme. Ia
kemudian merasa materialisme mengurungnya. Ia bergabung dengan Partai Komunis
karena ingin mengintervensi sejarah, tetapi Stalinisme membuatnya sadar bahwa
eksistensinya bisa direnggut atas nama sesuatu yang tidak ia sepakati. Setelah
menulis Critique of Dialectical Reason, ia kembali menjadi
eksistensialis.
Hak sebagai Sesuatu yang Muncul, Bukan Melekat
Bagus menawarkan jalan keluar. Untuk menegakkan hak dan
kebebasan individu, kita tak perlu entitas yang melekat. Hak bisa bersifat emergent,
muncul dari proses yang berjalan, atau hasil bangunan dari kebutuhan pragmatis.
Rocky menerima rumusan ini.
Contohnya soal moral. Mengapa kita bermoral? Karena bila
semua orang saling membunuh, kita punah. Tuhan tidak diperlukan untuk
menjelaskannya. Rocky menyebut ini gagasan dasar Leviathan: daripada punah,
lebih baik saling melindungi. Namun karena kita juga berpotensi saling
menghancurkan, kita memanggil Leviathan, yang kemudian berkata bahwa kita pun
bisa dihancurkan olehnya.
Fisika, Metafisika, dan Jebakan Penjaga Realisme
Rocky mengaku mencari keotentikan lewat upaya membaca ulang
gagasan Plato tentang dunia ideal. Ia bisa mencarinya dalam agama, tetapi
baginya lebih menyenangkan mencarinya dalam teori fisika. Teologi, katanya,
pada titik tertentu menghentikan pencari dengan pesan: kalau sudah di sini,
jangan ke mana-mana. Komunitas bahkan menganggap orang yang pergi sebagai
pembelot.
Bagus menjawab dengan dua tanggapan. Pertama, bila fisika
dijadikan dewa paroki, ia hanya menggantikan teologi. Kedua, sebelum melakukan
sains, kita harus berasumsi bahwa alam semesta dapat dipahami atau bahwa
mengejar pengetahuan itu mulia. Kedua anggapan itu bukan pernyataan fisika.
Keduanya klaim metafisik.
Rocky setuju. Yang bisa diuji tetap fisika, dan bagian yang
tak teruji ia taruh dalam metafisika. Ia mengibaratkan, apa yang fenomenal
tetapi tak terpahami didorong ke wilayah noumena supaya tidak diperdebatkan.
Kant, menurut Rocky, mungkin takut pada gereja. Hegel kemudian menyelesaikan
semuanya dengan menyatakan bahwa yang rasional itu nyata dan yang nyata itu
rasional. Akibatnya sejarah berhenti dalam absolutisme.
Rocky sendiri memilih memegang realisme dan idealisme
sekaligus, karena menurutnya keduanya tak perlu dipisahkan. Realisme perlu
"dipelihara", dan di situlah masalahnya: dipelihara oleh apa?
Metafisika, agama, dan teori besar semuanya bisa menjadi pengasuh. Tetapi
begitu pengasuh itu ditetapkan, ia bisa membuat kita yatim, dan kita harus
mencari pengasuh baru.
Bagus tak mau terjebak ke sana. Ia khawatir pada akhirnya
orang menyimpulkan harus ada makna objektif, alias Tuhan, sebagai pengasuh
realisme. Ia lebih percaya pada tindakan daripada kata. Ia percaya pada
gravitasi, sebab sekalipun ditawari lima miliar, ia tak akan melompat dari
ketinggian.
Kuhn, Ketelitian Akademik, dan Mengapa Orang Marah
Rocky bercerita tentang debat semalam. Lawan debatnya
memakai istilah paradigma tanpa tahu bahwa Thomas Kuhn bukan sosiolog. Kuhn
adalah ilmuwan yang kemudian meneliti sejarah perubahan model analisis. Bagus,
yang pernah belajar fisika statistik, menyebut pergeseran dari termodinamika
dan dari Newton ke Einstein sebagai contoh pergeseran paradigma. Keduanya
sepakat bahwa fondasi harus dipahami, dan bahwa ketelitian akademik sejak awal
tidak dijaga oleh sistem pendidikan kita.
Rocky heran mengapa orang cepat marah, padahal baginya ini
hanya permainan. Ia menyesalkan kecenderungan orang mengkotakkan: bicara
sedikit berbeda langsung dicap Nazi atau fasis.
Hak atas Pangan: Posisi Libertarian dan Ujiannya
Pembahasan masuk ke persoalan konkret: pangan, pendidikan,
perumahan, sandang, dan jasa. Apakah manusia punya hak atas komoditas seperti
pangan, terlepas dari konteks negara Indonesia? Rocky menjawab dengan nalar
bumi. Jika bumi melahirkan manusia, rasionalitas bumi, seandainya ia bisa
bicara, adalah pembagian yang sempurna. Bila ada ketimpangan, pasti ada yang
mengambil lebih dulu. Ia mengajukan contoh: seseorang membangun pagar di tanah
yang semula tak berpagar, lalu orang yang melompatinya dihukum. Pagar itu bisa
berupa pagar agama, ideologi, atau kewajiban, seperti monoteisme dan monogami.
Pasar, negara, dan kapitalisme negara hanyalah mekanisme berbeda untuk
memecahkan pembagian itu, dan setiap pilihan kebijakan menuntut penjelasan
epistemik.
Bagus kemudian memainkan posisi straw man, dan ia
menegaskan itu bukan posisinya. Dalam versi yang ketat, hak hanyalah yang
bersumber dari tubuh kita sendiri. Di luar itu, hak seseorang otomatis menjadi
kewajiban orang lain. Hak adalah apa yang diterima tanpa peduli membayar atau
tidak. Kewajiban adalah apa yang diberikan tanpa peduli dibayar atau tidak.
Jika Rocky berhak makan, saya wajib memasak. Karena itu, dalam posisi ini
pangan bukan hak dan negara tidak wajib menyediakannya.
Rocky menyatakan dirinya libertarian dan tidak melihat
masalah dengan pandangan itu. Tetapi ia mencatat konsekuensinya. Bila indra
kita tertutup, tak ada masalah. Begitu indra terbuka, kita melihat orang dengan
kaki buntung di samping kita. Kita tahu mereka punya hak atas kapasitas
ekonomi, sosial, dan intelektual yang sama, tetapi terhalang. Yang hendak
dibongkar adalah syarat-syarat tak perlu yang menghalangi mereka.
Rocky menegaskan di sinilah letak benturannya. Dalam
pemikirannya ia libertarian, sedangkan konstitusi Indonesia bersifat sosialis.
Ia bertanya mengapa negara harus mencampuri hidupnya. Ia bisa hidup tanpa
negara, tetapi negara tak bisa hidup tanpanya. Maka ada Rocky yang ideal dan
ada Rocky yang hidup di Indonesia.
Bagus menguji lebih jauh. Jika benar libertarian, pangan
masuk wilayah amal. Libertarianisme punya spektrum, dan bentuknya yang paling
keras namun bukan anarkis adalah pemerintahan terbatas: negara hanya mencetak
mata uang, menjalankan sistem hukum, dan menjaga keamanan dari ancaman luar.
Sisanya dibubarkan, termasuk sains yang menjadi urusan pribadi. Rocky menjawab
bahwa ia akan memilih itu beserta semua konsekuensinya. Konsekuensinya jelas:
ia tak akan menolong orang lain, sebab menolong berarti memakai orang itu, dan
orang yang meminta tolong pun menjadi alat baginya.
Etika Kepedulian dan Ruang Publik
Rocky mengakui ada pergeseran. Ia merasa tidak sedang
"menjadi pribumi" (going native), tetapi ada titik yang ia
sebut etika kepedulian (ethics of care). Alasannya, ia merasa
orang-orang itu adalah dirinya juga. Dengan nada Spinoza, di dalam dirinya ada
mereka, dan di dalam mereka ada orang lain. Ia merasa dikejar orang lain dan ia
pun mengejar orang lain. Itu terjadi karena ia memasuki ruang publik, yang
sebenarnya ingin ia hindari. Namun tidak masuk ruang publik pun absurd.
Bagus mencatat bahwa ruang publik penuh paksaan. Rocky
membedakan: ia tahu paksaan itu ada sejak awal, tetapi ia tak mau dipaksa
mengikuti "kurikulum kritik" milik orang lain, padahal ia punya
kurikulum sendiri.
Maka lahirlah rumusan yang membuat Bagus terkejut: orang
bisa libertarian secara pribadi namun komunitarian di ruang publik. Bagus
selama ini mengira libertarian harus konsisten di ruang privat dan publik.
Konsekuensinya, menurut Rocky sendiri, terjadi semacam homoousios, yaitu
dua hal yang satu hakikat. Bagus mengeluh sulit "mengunci" Rocky.
Rocky membalas bahwa sebagai pemikir ia tetap libertarian: pikiran libertarian
tidak terganggu emosi dan moral, dan itulah jangkarnya. Jika dunia berakhir dan
dunia baru dimulai, ia tetap libertarian.
Akuntabilitas, Keracunan, dan Soal Makan Bergizi Gratis
Bagus lalu memakai perumpamaan. Ia ingin memberi makan
seratus tetangga. Ia menyiapkan jamuan, dan enam puluh orang keracunan. Apakah
ia bertanggung jawab? Niatnya baik, tetapi Rocky dan Bagus sepakat ia tetap
bersalah karena kelalaian. Kalau yang memasak adalah juru masaknya, korban
tetap tidak peduli siapa juru masaknya. Ganti "saya" dengan
"negara", maka Rocky menjawab bahwa ia akan menggugat negara.
Menurutnya negara tak punya standar moral yang tetap. Standar moral libertarian
final, sedangkan standar moral sosialis dan standar kesejahteraan tidak final.
Sebab itu, selalu ada ruang menuntut pertanggungjawaban sebaik apa pun niat
kebijakan.
Rocky juga menambahkan bahwa libertarian tak mungkin berbuat
jahat dengan sengaja, sedangkan komunitarian bisa, karena sistem nilainya
bersama dan tafsirnya bisa dikendalikan kepala suku atau pemuka agama.
Dari sini percakapan mengarah ke perdebatan kebijakan makan
bergizi gratis (MBG) yang dibawa ke Mahkamah Konstitusi. Rocky menilai
pertanyaan pokoknya bukan soal pendidikan melawan pangan, sebab anggaran bisa
diambil dari pos pertahanan. Ia mengkritik analisis yang dangkal ketika dana
pendidikan dipindahkan ke MBG. Ia memberi dua kemungkinan ekstrem. Jika seluruh
anggaran pendidikan dialihkan ke MBG, para guru mati. Jika seluruh dana MBG
dialihkan kepada guru, mereka menjadi pintar, tetapi murid yang diajar lamban
karena kurang gizi. Jalan tengah "separuh-separuh" menurutnya terlalu
mudah dan harus diuji argumennya.
Bagus berpendapat pendidikan lebih penting daripada pangan
karena pendidikan memungkinkan orang terus memperoleh pangan. Rocky setuju,
tetapi menegaskan bahwa masalahnya bukan mana yang lebih penting. Dalam kondisi
sekarang kedua variabel harus ada di anggaran negara, sehingga warga perlu
mekanisme peringkat. Mereka juga berbicara soal gizi dan IQ. Rocky tidak
menyukai pembahasan IQ dan memandang otak sebagai mesin berpikir yang disuplai
energi gizi. Ia menyebut korelasi IQ dan kesejahteraan hanya linear sampai
sekitar angka 100.
Soal tanggung jawab, Rocky menekankan bahwa dalam prinsip ia
pasti menuntut akuntabilitas pembuat kebijakan. Tetapi ia meminta eksternalitas
dilihat dengan adil: selat Hormuz yang mencekik rantai pasok global, guncangan
harga, atau gempa membuat rasionalitas harga tak bisa dipertahankan. Kalau ada
masalah, perbaiki kebijakannya. Orang tak boleh langsung melompat pada
kesimpulan bahwa program ini harus dihentikan. Ia juga menolak anggapan bahwa
ia menuduh MBG beracun. Ia setuju dengan Bagus bahwa makanan yang beracun bukan
makanan, melainkan racun. Jika ada korupsi, bekukan dulu, bersihkan bersama.
Bagus mendorong argumen itu ke reductio ad absurdum
untuk mencari batas: pada tingkat kekacauan pelaksanaan seperti apa sebuah
inisiatif mulia harus dihentikan? Apakah tiga puluh orang, dua orang? Rocky
menjawab bahwa "keadaan memaksa" (force majeure) memang ada
dalam setiap kontrak, tetapi harus ada titik rasional di mana "tidak"
berarti tidak. Ia mengingatkan bahaya menjadikan eksternalitas kambing hitam.
Falsifikasi: Yang Benar Adalah yang Bisa Salah
Dalam bagian ini Rocky meletakkan prinsip ilmiahnya. Sebuah
klaim bernilai bila batas kesalahannya bisa ditetapkan. Ia mencontohkan doktrin
Kristen yang gugur jika Yesus tidak bangkit. Kalau semua dianggap benar, tak
ada yang salah, dan pernyataan itu tak bernilai. Kalau semua dianggap salah,
setidaknya harus ada satu yang benar sebagai tolok ukur, sehingga klaim itu
masih bisa diuji. Ia menyebut ini dekat dengan fallibilisme. Menurutnya, orang
secara naluri ingin selalu benar, sehingga menganggap semuanya benar, dan
itulah yang membuat orang menjadi otoriter.
Ia merumuskan tiga cara mengkritik posisinya, dan ini juga
cara ia ingin dikritik. Pertama, lawan menyatakan terbuka bahwa pangan bukan
hak dan membenarkannya dari akar ideologinya. Kedua, lawan menunjukkan bahwa
Rocky keliru memahami sosialisme Indonesia. Ketiga, lawan menunjukkan bahwa
logika Rocky berujung pada reductio ad absurdum. Yang terakhir paling
kuat karena beban pembuktian berbalik kepadanya. Seorang peneliti harus
menunjukkan apa yang bisa membuktikan dirinya salah. Rocky mengaku tahu
kelemahannya sendiri dan tak mau menyebutkannya, supaya lawan belajar
menemukannya.
Majoritarianisme, Komunitarianisme, dan Soal Cap
"Fasis"
Bagus mengingat bahwa Rocky berasumsi mayoritas pasti korup.
Rocky menjelaskan bahwa yang ia kritik adalah majoritarianisme, bukan presiden
tertentu. Ia mengkritik majoritarianisme era Jokowi, yakni para pendengung (buzzer),
dan kini mengkritik majoritarianisme di sekitar Prabowo, termasuk kabinet
bayangan dan algoritma yang dipakai untuk menyerang presiden. Alasannya,
seorang libertarian mustahil menjadi majoritarian atau komunitarian. Para
pembenci Jokowi dan para pengkritik Prabowo sama-sama komunitarian.
Majoritarianisme itu ia anggap bertumpu pada sesuatu yang metafisik, yakni
ketidakmampuan berpikir. Ia akan berhenti mengkritik mayoritas hanya ketika
mayoritas itu menjadi minoritas.
Rocky juga menanggapi tudingan bahwa ia berbisik kepada
Prabowo. Ia menjawab bahwa ia pasti membisikkan sesuatu bila bisa, tetapi
mengambil keuntungan berada di luar etika libertarian.
Isu cap Nazi dan fasis diurai lebih jauh. Rocky berpendapat
fasisme adalah fenomena peradaban yang terjadi sekali, sehingga tak bisa
dibandingkan. Inti fasisme Jerman adalah kejayaan bangsa Arya dan rekayasa
genetik berupa eugenika. Ia ditopang rasa rendah diri bangsa Jerman yang kalah
perang dua kali, dan Rocky mempertanyakan mengapa rasa rendah diri dijadikan
tolok ukur. Ia juga menyebut faktor kepentingan luar, seperti dana kapitalis
Amerika bagi Hitler.
Untuk Indonesia, Rocky menilai fasisme belum pernah ada
karena rakyat kita "bengal" dan fasisme membutuhkan kepatuhan serta
pengaturan tubuh. Ada ethos fasistik pada masa pendudukan Jepang berupa
disiplin dan baris-berbaris, yang oleh Sutan Sjahrir dibaca sebagai
proto-fasisme. Tetapi itu tak sama dengan upaya mengubah seluruh bangsa seperti
di Jerman. Fasisme Jepang hanya bertahan di militer, sedangkan fasisme Jerman
masuk ke budaya, sampai sekarang orang Jerman tak bebas membicarakan Nazi.
Teori dari Luar: Kelsen, Pancasila, dan Kesalahan Adopsi
Bagus mengajukan kegelisahan lain: nyaris tak ada teori dari
Indonesia yang mendunia, baik di ilmu bumi, fisika, maupun hukum. Bivitri pun
mengakui hal serupa untuk hukum. Pertanyaannya, apakah itu benar, dan jika
benar, apakah masalahnya salah mengadopsi atau perlu menumbuhkan akar sendiri?
Rocky menjawab dengan contoh teori hukum. Fondasi teori
hukum positif kita adalah Stufenbau karya Hans Kelsen: norma hanya sah
bila dilindungi norma di atasnya. Indonesia lalu mencari norma tertinggi dan
menemukan Pancasila. Padahal dalam Kelsen, norma tertinggi tidak boleh
didefinisikan. Ia hanya ideal regulatif yang memandu. Kelsen murid neo-Kantianisme,
dan karena itu bukunya berjudul Pure Theory of Law. Pancasila,
sebaliknya, konkret: ada lima sila dan bahkan tanggal lahir. Maka adopsi itu
keliru. Kecenderungan formalistik kita jadikan standar sehingga mudah
dimanipulasi. Akibatnya, norma-norma kita kacau. Hukum lingkungan bertabrakan
dengan hukum industri dan hukum perdagangan, karena industri ingin berproduksi
untuk ekspor sedangkan perdagangan memilih impor demi keunggulan komparatif. Di
Eropa, partai yang menganut teori itu koheren dalam memandang struktur
politiknya.
Etika Lingkungan dan Pertarungan Klaim atas Tanah
Bagus berhipotesis, dengan mengaku bukan bidangnya, bahwa
Indonesia punya etika lingkungan sendiri yang tidak bergantung pada Aldo
Leopold atau ekofeminisme. Akar paradigmanya jauh dari agama Abrahamik. Ia
mencontohkan budaya Bugis, yang memandang manusia dan alam bukan sebagai
penguasa dan yang dikuasai, melainkan manusia lahir dari percampuran dunia
bawah dan dunia laut. Etika semacam itu ia ingin tumbuhkan menjadi norma
tertinggi. Pertanyaannya: berinvestasi pada akar hukum sendiri, atau
memperbaiki cangkokan dari luar?
Rocky menanggapi dengan soal tanah. Satu bidang tanah bisa
diklaim oleh tiga nilai. Masyarakat adat berkata, "Aku tak perlu
membuktikan ini tanahku, karena aku menggarapnya." Negara berkata tanah
itu untuk perumahan dan hanya boleh dihuni dengan hak tertentu. Investor datang
dan ingin membeli. Dalam tabrakan itu, klaim negara kalah oleh modal, dan klaim
adat kalah oleh kekuasaan negara. Begitu sertifikat terbit, warga adat yang
melompati "pagar sertifikat" dianggap penyerobot.
Rocky mengakui bahwa Indonesia punya logika batin soal
tanah. Tetapi ia mengingatkan bahaya sifatnya yang atavistik, yang menganggap
"ini tanah kami". Dalam pandangan komunitas bumi, kitalah yang
dimiliki tanah, bukan sebaliknya. Ia juga mengingatkan bahwa milik pribadi
bukan jatuh dari langit. Ia lahir dari liberalisme dan pandangan Inggris
tentang manusia sebagai individu. Di Inggris, tanah sebenarnya milik Ratu atau
Raja dan warga hanya menyewa atau memiliki hak guna. Minyak di pekarangan belakang
pun bukan milik pemilik rumah, melainkan Ratu. Itu konsisten dalam tatanan
berpikirnya. Di Indonesia hal itu kacau. Hak garap dianggap lebih rendah
daripada hak guna usaha, hak guna usaha lebih rendah daripada hak guna
bangunan, dan semuanya lebih rendah daripada hak milik. Akibatnya semua orang
mengejar sertifikat hak milik, padahal sebagian hanya ingin menggarap. Rocky
bertanya mengapa tidak dibalik: hak menggarap menjadi yang tertinggi. Ia
menuding hukum yang diajarkan di fakultas hukum hanyalah ketidaktahuan, dan
akar masalahnya adalah ambiguitas.
Sosialisme Indonesia yang Masih Ambigu
Bagus memasuki "zona berbahaya". Indonesia sering
disebut sosialistik karena lahir dari antikapitalisme, atau tepatnya
antiimperialisme. Ia berpendapat sosialisme di Indonesia masih ambigu dan
merupakan spektrum. Ujinya: sosialisme berarti negara berkewajiban mengatur
alat produksi dan masuk ke pasar, bahkan memanipulasinya.
Rocky menjelaskan bahwa konstitusi pun tidak sepenuhnya
sosialistik. Ia mengenal tiga pelaku ekonomi: korporasi untuk pertumbuhan,
badan usaha milik negara untuk kesejahteraan, dan koperasi untuk pemerataan.
Sejak awal, negara merasionalisasi hak-hak yang kacau dan menyatakannya milik
negara untuk sementara, tetapi lupa mengembalikannya kepada masyarakat adat.
Pada masa Soeharto, kehadiran negara menjadi statisme. Undang-Undang Agraria
yang semula sosialistik dimanipulasi sehingga hak milik bisa diatur lewat
sertifikat, dan yang menguasai tanah secara nyata adalah pemilik modal.
Rocky bercerita bahwa ia ikut merumuskan amendemen pertama
pada awal 2000-an, ketika tim ekonom Fakultas Ekonomi UI dan tim UGM berdebat.
Tim UI, yang dipengaruhi Dr. Syahrir dan sejumlah ekonom perempuan terkemuka
seperti Mari Pangestu, Sri Mulyani, dan Miranda Gultom, mulai liberal. Tim UGM
di bawah Mubyarto mempertahankan asas kekeluargaan. Ia sendiri mengirim catatan
bahwa tafsir ekonomi sudah menjadi statisme. Maksudnya adalah mencegah
statisme, bukan mempromosikan liberalisme. Ia menilai para ekonom itu tak
pernah membaca Rawls atau Amartya Sen dan hanya membuat pemodelan di kepala.
Akhirnya kelompok UI yang menang, dan korporasi diakui sebagai pelaku ekonomi,
sesuatu yang tak ada dalam rumusan awal. Lalu masyarakat tumbuh dalam kesulitan
ekonomi, perjanjian internasional dan kebutuhan utang berdatangan, dan sistem
modal masuk.
Rocky menyimpulkan bahwa yang masuk bukan kapitalisme murni,
melainkan kapitalisme kroni. Sisa-sisa kroni Orde Baru terbawa ke dalam sistem.
Reformasi tidak menggeser secara kualitatif, hanya kuantitatif. Kata kuncinya
seharusnya revolusi, sedangkan kata "reformasi" terlalu lunak. Sistem
eksploitatif yang seharusnya dihadang tidak berhenti dan hanya merembes melalui
"dinding semipermeabel".
Soal titik awal pembenahan, Rocky memulainya dari
normativitas. Ia terus mendorong lahirnya pemikiran sosialis, tetapi bukan
sosialisme tradisional yang hanya peduli buruh dan massa. Ia menambahkan
variabel lingkungan dan memakai istilah etika kepedulian.
Geopolitik, Narasi Ekstraktif, dan Sindrom Pascakolonial
Bagus berargumen bahwa narasi Indonesia tak pernah jauh dari
ekstraktif, mungkin turunan logika kolonial. Kebijakan riset, sains, dan
pendidikan tinggi kita selalu merancang Indonesia sebagai bagian rantai pasok
global. Sudah waktunya ada narasi baru yang tidak ekstraktif. Indonesia adalah
titik sempit (choke point) ekosistem global: gambut, mangrove, dan
terumbu karang memberi dampak agregat terbesar di sini. Narasi seperti itu bisa
memperkuat daya lunak Indonesia.
Ia juga mengamati bahwa orang Indonesia gemar memuja hal
bawaan, seperti IQ, nama keluarga, bahkan jenis kelamin. Hipotesisnya, selama
ratusan tahun dijajah kita memiliki piramida hierarki di kepala, di mana naik
dan turun strata didasarkan pada hal bawaan seperti warna kulit. Setelah
penjajah pergi, hierarki itu diadopsi oleh bangsa sendiri. Ia bertanya apakah
ini akibat kolonialisme atau ia sendiri terlalu sempit memandang lewat kacamata
pascakolonial.
Rocky tidak menganggap IQ sebagai parameter utama, bahkan
bukan parameter sama sekali. Menurutnya IQ hanyalah ukuran teknokratis, seperti
batas tekanan darah yang dulu 150 lalu diturunkan menjadi 120 karena industri
membutuhkannya. Yang lebih ia hargai adalah sesuatu yang orisinal dari
seseorang. Ia mengeluhkan mahasiswa yang selalu menanyakan hal sama: mengapa
tidak lagi tajam kepada Prabowo seperti kepada Jokowi? Ia meminta mereka
menyampaikan sesuatu yang orisinal, karena kritik yang hanya mengikuti media
sosial sudah menjadi bagian dari majoritarianisme dan berakhir menjadi
kegaduhan.
Kabinet Bayangan dan Seni Mengkritik
Rocky juga menyoroti "kabinet bayangan" yang
dibentuk sebagian pengkritik. Di Inggris, pemerintah bayangan adalah lembaga
formal karena sistem parlementer, dan yang terpenting adalah ideologi
tandingannya, bukan orangnya. Contohnya, bila pemerintah menyatakan LGBT
ancaman negara, kabinet bayangan harus menawarkan alternatif ideologis. Rocky
menilai kabinet bayangan di sini hanya memperbaiki kabinet yang ada, yang
berarti memperbaiki kapitalisme teknokratis dari dalam posisi status quo.
Kertas lakmus mereka, katanya, adalah "kertas toilet". Ia tak
melarang fungsi pengawas awal yang menunjuk ketidakmampuan atau ketidakjujuran,
tetapi kesalahannya adalah ikut memperbaikinya.
Karena itu ia menyatakan melakukan "patahan
radikal" dengan gagasan sosialisme dan menantang mereka melakukan blokade
ideologis. Jika Prabowo kapitalis, serang dengan pendekatan sosialis. Jika
sosialis, serang sebagai kapitalis. Jika ia tak mau menyatakan ideologi,
berarti ia pragmatis atau personal, di luar struktur kompetisi argumen. Rocky
mengaku masih mengenakan "topi akademik". Ia merasa pihak lawan
menganggap ia terjebak dalam jebakannya, padahal yang ia lakukan adalah
membantu agar rumus kritik mereka lebih tajam. Bagus menimpali bahwa ia pun
sengaja bermain straw man agar Rocky bisa menguji argumennya.
Sepuluh Tahun ke Depan: Hidup dalam Ketidakpastian
Percakapan ditutup dengan pandangan ke depan. Bagus melihat
dunia semakin tak menentu. Dulu lima tahun ke depan bisa diprediksi, kini tiga
tahun pun sulit. Yang mengkhawatirkan adalah cara kita hidup bersama
ketidakpastian, dan salah satu gejalanya adalah cara kita menafsirkan kebakaran
hutan.
Media publik bertanya apakah hutan dibakar atau terbakar.
Ilmuwan seharusnya bertanya mengapa lanskap dibiarkan begitu rentan, sampai
satu puntung rokok atau satu kaleng dari pabrik sawit cukup membakar satu
pulau. Kita cenderung melihat keacakan sebagai takdir yang tak bisa ditolong,
tetapi di sisi lain memakai bahasa pasti seolah negara menjamin segalanya. Kita
tak bisa hidup dalam ketidakpastian, dan karena itu kita juga tak bisa
bertanggung jawab. Kegagalan memprediksi atau memitigasi keacakan adalah
tanggung jawab kita.
Bagus bercerita tentang kasus di Kampar. Seorang ibu
membakar sampah di tong di samping rumahnya, api merambat sekitar seratus meter
mendekati permukiman, dan ia hendak dituntut. Bagus menilai yang seharusnya
dituntut adalah bupati yang tak pernah mengajarkan apa itu gambut, sebab titik
api sudah berada lima meter di bawah tanah sebelum muncul ke permukaan. Hidup
di wilayah seperti itu memang nasib, tetapi bukan nasib final, karena teknologi
dan kemampuan untuk mencegahnya ada.
Dengan logika itu pula Bagus bertanya tentang sosialisme.
Apakah sosialisme nasib Indonesia? Rocky menjawab bahwa mungkin tidak, tetapi
sejarah menunjukkan itulah yang dibayangkan para pendiri bangsa, karena
semuanya berangkat dari antikapitalisme. Rumus itu bukan rumus otentik,
melainkan rumus yang diintervensi keadaan global. Sejarah Indonesia adalah
bagian sejarah dunia, dan tak ada yang benar-benar otentik pada kita. Maka bila
ingin diisi, isilah dengan apa yang sejak awal kita katakan: kehidupan desa bersifat
sosialistik, rumah tak berpagar, dan batas pohon hanyalah kesepakatan bersama.
Itulah dasar atavistiknya, jika istilah itu mau dipakai.
Rocky lalu bertanya apakah presiden mampu mengambil alih
wacana bahwa dasar sosialisme Indonesia adalah budaya awal tanah ini. Ia
menyarankan kita memeriksa logika kekuasaan Sultan. Sultan memperoleh
legitimasi politik dari alam: pada awal bertakhta, hal pertama yang ia lakukan
adalah mempersembahkan persembahan kepada alam. Sultan dipercaya harus jujur
karena ia dianugerahi oleh alam. Sosialisme macam apa itu? Rocky menyebutnya
sosialisme Jawa. Ia mengingatkan bahwa sosialisme umumnya berakar pada materialisme
tanpa wujud transenden, sedangkan sosialisme kita mungkin campuran yang
bertumpu pada transendensi. Banyak sosialisme yang eksploitatif, dan Tiongkok
contohnya. Namun dasarnya tetap solidaritas manusia, satu-satunya pembeda dari
masyarakat kapitalis.
Penutup
Dari percakapan panjang ini, ada satu benang merah. Rocky
Gerung mengajak orang berhenti pada kesimpulan praktis dan bertanya dulu
tentang dasarnya. Mengapa pangan dianggap hak atau bukan? Mengapa tanah milik
adat kalah oleh sertifikat? Mengapa teori hukum diadopsi tanpa dimengerti?
Setiap pertanyaan itu menuntut jawaban yang bisa diuji dan bisa salah.
Sikap itu juga yang membuat percakapan ini hidup. Bagus
memainkan lawan yang keras, Rocky memamerkan posisi yang cair, dan keduanya
sepakat bahwa tempat untuk menyembunyikan argumen sebaiknya dibongkar bersama.
Catatan Penyunting
Beberapa pernyataan dalam percakapan ini adalah klaim
pembicara, dan sebagian perlu dicek sebelum dikutip.
Pertama, Rocky mengaitkan kata chronicle dengan dewa
Kronos dan menafsirkannya sebagai "menembus". Secara etimologi, kata
itu berasal dari bahasa Yunani khronos yang berarti waktu. Kronos sang
dewa berbeda, dan makna "menembus" lebih merupakan tafsir filosofis
daripada fakta kebahasaan.
Kedua, Rocky menyebut Ecce Homo dalam uraian tentang
Sartre. Karya itu milik Nietzsche, bukan Sartre. Sebutan "kembali ke
esensialisme" bagi Sartre juga sangat longgar, sebab Sartre dikenal tetap
menolak esensi mendahului eksistensi.
Ketiga, pernyataan bahwa "Ford Foundation" adalah
pemberi dana pertama bagi Hitler tidak tepat. Yang terdokumentasi adalah
simpati Henry Ford kepada Nazi, dan Ford Foundation baru berdiri pada 1936
dengan sejarah yang berbeda. Klaim bahwa Hitler didanai kapitalis Amerika juga
hanya sebagian terdukung bukti.
Keempat, percakapan menyebut Kant dan Hegel dengan rumusan
yang sangat ringkas. Anggapan bahwa Hegel "menghentikan sejarah dalam
absolutisme" adalah tafsir tertentu, bukan kesepakatan para ahli.
Kelima, pernyataan bahwa korelasi IQ dan kesejahteraan hanya
linear sampai 100 disampaikan secara lisan tanpa sumber, dan sebaiknya tidak
dikutip sebagai fakta.
Terakhir, transkrip asli memuat sejumlah ketidakjelasan penulisan nama dan istilah, misalnya "Roki", "Mus", dan "homosus". Dalam tulisan ini saya menyeragamkannya menjadi Rocky Gerung, Bagus, dan homoousios berdasarkan konteks.

Comments
Post a Comment