Penjagaan Berlapis bagi Ashabul Kahfi: Telinga, Tubuh, dan Cahaya
Al-Qur'an terdiri atas 6.236 ayat menurut hitungan yang paling lazim. Surah Al-Kahf memuat 110 di antaranya. Di dalamnya ada kisah sekelompok pemuda yang lari dari penguasa zalim, berlindung di sebuah gua, lalu tertidur dan baru terbangun setelah 309 tahun (ayat 25).
وَلَبِثُوا۟ فِى كَهْفِهِمْ ثَلَٰثَ مِا۟ئَةٍ سِنِينَ وَٱزْدَادُوا۟ تِسْعًا
“Mereka tinggal di dalam gua selama tiga ratus tahun, dan ditambah sembilan tahun lagi.”
Perhatian orang biasanya tertuju pada angka itu, padahal ada pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana mereka dijaga selama itu?
Tiga ayat menjawabnya, yaitu ayat 11, 17, dan 18. Bila dibaca berurutan, ketiganya menggambarkan penjagaan yang bekerja pada tiga tingkat, yakni indra, tubuh, dan lingkungan. Penjagaan itu tidak digambarkan sebagai kekacauan, melainkan sebagai tatanan yang rapi.
Lapis Pertama: Penjagaan atas Pendengaran
Ayat 11 berbunyi,
فَضَرَبْنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمْ فِى ٱلْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا
“Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama bertahun-tahun.”
Ungkapan aslinya, fadarabnā ʿalā ādhānihim, secara harfiah berarti "Kami pukulkan (sesuatu) di atas telinga mereka". Para mufasir memahaminya sebagai ungkapan Arab untuk membuat seseorang tidur sangat lelap sehingga tak ada bunyi yang menembus.
Yang menarik adalah apa yang disebut lebih dahulu. Ayat ini tidak menyebut jantung, paru-paru, atau mata. Ayat ini menyebut telinga.
Alasannya bisa ditelusuri dari cara kerja tubuh kita. Mata punya kelopak yang dapat menutup sendiri. Telinga tidak punya penutup. Ia terus menangkap bunyi, bahkan ketika kita tertidur. Karena itu, suara pintu yang dibanting, bunyi petir, atau panggilan yang keras sering kali jauh lebih ampuh membangunkan orang daripada cahaya. Dunia kedokteran tidur mengenal hal ini dengan baik. Gangguan bunyi adalah salah satu penyebab utama tidur yang terputus.
Dengan menutup telinga lebih dahulu, tidur para pemuda itu tidak bisa diganggu oleh jalur yang paling mudah dilalui. Gerbang yang paling rawan dikunci terlebih dahulu.
Lapis Kedua: Penjagaan atas Tubuh
Ayat 18 memuat dua pernyataan yang saling berkaitan.
وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ ٱلْيَمِينِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُم بَٰسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِٱلْوَصِيدِ ۚ لَوِ ٱطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا
“Engkau mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur. Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedangkan anjing mereka membentangkan kedua lengannya di ambang pintu gua. Seandainya engkau melihat mereka, tentulah engkau akan berpaling melarikan diri dari mereka, dan tentulah hatimu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.”
Yang pertama menyangkut kesan yang tampak dari luar. Siapa pun yang melihat akan mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur. Yang kedua menyangkut tindakan yang terus berlangsung: "Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri."
Bayangkan tubuh manusia yang terbaring tanpa bergerak. Berat badan menekan kulit yang menempel pada tulang, misalnya di tumit, tulang ekor, pinggul, dan belikat. Tekanan itu menjepit pembuluh darah kecil. Darah tidak sampai ke jaringan, oksigen tidak datang, dan sisa metabolisme tidak terbawa pergi. Jaringan yang kekurangan darah akan mulai rusak. Dalam kondisi buruk, kerusakan ini dapat muncul dalam hitungan jam, lalu berkembang menjadi luka tekan yang dalam dan sulit sembuh.
Karena itu, perawatan pasien yang tirah baring lama memuat satu kebiasaan baku, yaitu mengubah posisi tubuh secara berkala. Di banyak rumah sakit, pasien dimiringkan setiap beberapa jam.
Ada satu hal bahasa yang layak diperhatikan. Kata nuqallibuhum memakai bentuk kata kerja sekarang-berlanjut dalam bahasa Arab. Bentuk ini lazim dipakai untuk perbuatan yang terjadi berulang atau terus-menerus. Maknanya bukan sekali dibalik, melainkan dibalik dari waktu ke waktu. Para mufasir klasik sudah memahami pembolak-balikan itu sebagai bagian dari penjagaan tubuh, dan bacaan ini sejalan dengan prinsip perawatan modern tadi. Hubungan dengan luka tekan itu sendiri adalah renungan zaman kita, bukan bagian dari tafsir klasik. Namun renungan semacam ini sah dan membuka wawasan.
Satu detail kecil lain patut dicatat. Ayat yang sama menyebut anjing mereka yang membentangkan kedua lengannya di ambang gua. Penjagaan itu meliputi seluruh keadaan di gua, tidak hanya para pemudanya.
Lapis Ketiga: Penjagaan atas Lingkungan
Ayat 17 beralih dari tubuh ke tempat.
وَتَرَى ٱلشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَٰوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ ٱلْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ ٱلشِّمَالِ وَهُمْ فِى فَجْوَةٍ مِّنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ۗ مَن يَهْدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
“Engkau akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan ketika terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedangkan mereka berada di ruang yang luas di dalam gua itu. Itulah sebagian tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk. Barang siapa disesatkan-Nya, engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong pun yang dapat memberinya petunjuk.”
Ayat ini menggambarkan bahwa ketika matahari terbit, sinarnya condong menjauhi gua dari sisi kanan. Ketika matahari terbenam, sinarnya melewati mereka dari sisi kiri. Mereka berada di bagian gua yang lapang, yang dalam ayat disebut fajwah.
Gambaran ini menyiratkan posisi gua yang sangat tepat. Ada dua bahaya yang sama-sama dijauhkan.
Bahaya pertama adalah terik langsung. Kulit yang dipanggang matahari selama bertahun-tahun akan terbakar, mengering, dan rusak. Bahaya kedua justru kebalikannya, yaitu gelap total. Ruang tertutup tanpa cahaya dan tanpa pergantian udara cenderung lembap, pengap, dan menjadi tempat tumbuh jamur dan kuman.
Gua itu berada di antara dua kutub tersebut. Cahaya tetap masuk, udara tetap bergerak, tetapi panas yang membakar tidak menyentuh tubuh mereka. Ruang yang lapang (fajwah) memungkinkan udara bersirkulasi. Sebagian mufasir menafsirkan bahwa mulut gua menghadap ke arah yang membuat sinar matahari hanya lewat di sisinya. Letak pastinya diperdebatkan. Yang disepakati adalah pesan ayatnya: tempat itu diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada yang merusak.
Mengapa Mereka Tampak Hidup?
وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ ٱلْيَمِينِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُم بَٰسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِٱلْوَصِيدِ ۚ لَوِ ٱطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا
“Engkau mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur. Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedangkan anjing mereka membentangkan kedua lengannya di ambang pintu gua. Seandainya engkau melihat mereka, tentulah engkau akan berpaling melarikan diri dari mereka, dan tentulah hatimu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.”
Kalimat terakhir dalam ayat 18 sangat kuat: seandainya engkau melihat mereka, tentu engkau akan berpaling lari dan dipenuhi rasa takut oleh mereka.
Kita bisa memahami rasa takut itu. Sesuatu yang kita yakini mati atau tidak bergerak, ternyata tampak hidup. Mata terbuka atau terlihat bernyawa, tubuh berganti posisi, kulit tidak rusak. Pemandangan itu terasa janggal, bahkan menakutkan. Tubuh yang terpelihara sebaik itu menimbulkan kesan yang tidak biasa pada siapa pun yang menyaksikannya.
Di sini tampak bahwa penjagaan itu berhasil secara lahir dan batin. Para pemuda itu tidak rusak, tidak layu, dan tidak tampak seperti orang yang telah lama ditinggalkan oleh kehidupan. Ketika akhirnya mereka bangun (ayat 19), mereka merasa hanya tidur sehari atau separuh hari, dan segera merasa lapar. Rasa lapar itu sendiri menandakan tubuh yang kembali berfungsi.
Pola yang Tampak dari Ketiganya
Jika ketiga ayat disusun ulang menurut jenis penjagaannya, polanya terlihat jelas.
Ayat 11 menjaga dari gangguan indra, sehingga tidur tidak terputus. Ayat 18 menjaga tubuh dari kerusakan akibat diam yang terlalu lama. Ayat 17 menjaga tempat dari ekstrem panas dan gelap. Ketiganya saling melengkapi. Bila salah satu hilang, rantai penjagaan itu pincang. Tidur yang lelap tetapi tubuh tidak dibalik akan membusuk di bagian yang tertekan. Tubuh yang dibalik tetapi terpanggang matahari akan tetap rusak. Tempat yang ideal tetapi tidur yang terganggu akan membuat mereka terbangun sebelum waktunya.
Di sinilah keteraturan itu bicara. Penjagaan tersebut berlapis, saling mengunci, dan menutup celah dari tiga arah sekaligus.
Ayat Fussilat dan Ajakan Berpikir
Surah Fussilat ayat 53 menyatakan bahwa Allah akan memperlihatkan tanda-tanda-Nya di cakrawala dan pada diri mereka sendiri, sampai jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar.
سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِى ٱلْءَافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ
“Kelak Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Tidak cukupkah bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Ayat ini bersifat ajakan, bukan perintah mencocokkan. Ia mengundang manusia memperhatikan alam luar dan alam dalam dirinya, lalu menarik pelajaran.
Kisah Ashabul Kahfi memenuhi ajakan itu dengan baik. Di dalamnya ada fisika cahaya dan arah matahari, ada biologi tubuh dan tekanan pada jaringan, serta ada psikologi rasa takut dan kesan pertama. Semuanya terjalin dalam satu kisah yang ringkas.
Bacaan semacam ini membuka dua pintu. Pintu pertama adalah kekaguman, karena detail yang begitu cermat itu disampaikan dalam beberapa kalimat saja. Pintu kedua adalah kerendahan hati, karena yang tergambar adalah peristiwa di luar hukum alam biasa. Tidak ada tubuh yang bertahan 309 tahun menurut biologi lazim. Justru karena itu kisah ini disebut tanda: ketika sebab-sebab biasa tak lagi cukup, penjagaan datang dari Yang Mengatur sebab itu sendiri.
Pelajaran terakhirnya sederhana. Para pemuda itu meninggalkan segalanya demi mempertahankan iman mereka, lalu dijaga sampai ke hal yang paling kecil: bunyi, posisi, cahaya, dan udara. Siapa pun yang berpegang pada kebenaran, kisah ini mengingatkan, tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

Comments
Post a Comment