Tanya Jawab Seputar Tasawuf, Tarekat, dan Makrifat Bersama Syekh K.H. Rahimuddin Nawawi Al-Bantani
Disusun dari kajian bersama Ustaz Abdul Somad di Pekanbaru, dengan sesi tanya jawab.
Ada tiga pertanyaan besar yang dibahas, ditambah beberapa pertanyaan dari jemaah. Apakah tasawuf berasal dari luar Islam? Bagaimana membedakan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat? Apakah setiap Muslim wajib bertarekat? Pertanyaan lanjutan menyangkut makrifat, pemimpin yang berguru kepada para mursyid tetapi tidak amanah, dan hakikat perjalanan menuju Allah.
1. Asal Usul Tasawuf: Lahir dari Wahyu, Bukan dari Luar Islam
Sebagian orang menuduh tasawuf sebagai ajaran luar yang menyusup ke dalam Islam. Syekh menolak tuduhan itu. Menurut beliau, tasawuf bersumber dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tasawuf tumbuh di tengah umat Islam, khususnya di tengah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena itu, tidak ada tasawuf di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Beliau menjelaskan bahwa sejak abad-abad awal umat Islam telah memiliki tiga pokok agama yang tetap (ats-tsawabit ad-diniyyah). Ketiganya ialah fikih, akidah, dan tasawuf.
Pada fikih, umat Ahlus Sunnah wal Jamaah mengikuti salah satu dari empat imam mazhab. Pada akidah, mereka mengikuti Asy'ariyah dan Maturidiyah. Menurut para ahli ilmu kalam Ahlus Sunnah wal Jamaah, ukuran utamanya ada pada akidah. Siapa pun yang berakidah Asy'ariyah tetap tergolong Ahlus Sunnah wal Jamaah, sekalipun fikihnya bukan salah satu dari empat mazhab itu. Pokok ketiga ialah tasawuf, yang mengurus suluk atau perilaku.
Kedudukan tasawuf terhadap fikih dan akidah
Terhadap fikih, tasawuf berperan sebagai penyempurna. Orang yang salat belum tentu khusyuk. Sebaliknya, orang yang khusyuk mustahil tidak salat. Jadi fondasinya tetap fikih, dan tasawuf menyempurnakannya.
Terhadap akidah, tasawuf berperan mewujudkan akidah dalam diri (tahaqquq). Al-Qur'an dan hadis menanamkan dasar pemikiran berupa tauhid. Isinya pemahaman tentang perbuatan Allah, sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat Rasul. Tanpa tasawuf, pemahaman itu tidak sampai menjadi kenyataan dalam diri seseorang. Dengan kata lain, akidah gagal terwujud pada pribadinya.
Syekh menyimpulkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah belum utuh bila fikih dan akidahnya tidak disertai tasawuf.
2. Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat
Sebagian orang membagi para ustaz menjadi beberapa tingkat. Ada yang dianggap baru sampai tingkat syariat, sedangkan kelompok lain mengaku telah sampai hakikat dan makrifat. Syekh menjawab dengan menelusuri sejarah istilah-istilah itu.
Pada mulanya hanya ada satu nama: syariat
Pada awalnya semua ilmu hanya disebut syariat. Syariat mengandung dua sisi, yaitu periwayatan (riwayatan) dan pemahaman (dirayatan). Syariat juga menuntut amal lahir dan amal batin sekaligus. Pada abad pertama dan kedua Hijriah, akidah disebut syariat, begitu pula akhlak. Belum ada pembahasan khusus tentang urusan jiwa.
Para sahabat menerima agama dari Rasulullah secara utuh, yaitu dari akal dan hatinya, dari sisi lahir dan batinnya. Para tabiin pun menerimanya dari para sahabat dengan cara yang sama. Maka pada masa itu tidak ada orang yang memisahkan yang lahir dari yang batin. Pemisahan itu baru terasa ketika Islam menyebar ke luar lingkungan yang dididik langsung oleh Nabi dan para sahabat. Orang di wilayah baru hanya melihat Islam sebagai ucapan dan bentuk lahiriah.
Munculnya istilah hakikat
Dari keadaan itulah muncul istilah hakikat. Hakikat sebenarnya adalah inti dan sisi batin syariat. Istilah ini baru diperlukan ketika orang beramal hanya berdasarkan pengetahuan, yakni sekadar pikiran dan ilmu. Padahal amal adalah pancaran dari batin.
Syekh memberi contoh pada sedekah. Orang bersedekah karena mendengar dari Al-Qur'an dan hadis bahwa pahalanya besar. Sedekah dapat memadamkan murka Tuhan. Sedekah dapat pula melunakkan hati dan menyatukan manusia (ta'lifulqulub). Bahkan sedekah membuat seseorang dikenal dermawan. Pada contoh ini, motifnya masih lahiriah, seperti ingin disebut dermawan atau ingin menyatukan hati orang. Calon pemimpin yang membagi-bagi bantuan pun punya motif yang sama, yaitu merebut hati orang. Jika motifnya hanya itu, orang tersebut baru menjalankan sisi lahir agama tanpa sisi batinnya.
Para ulama terdahulu memahami agama dengan cara lain. Bagi mereka, amal harus lahir dari batin. Bila memberi, pemberian itu mestinya datang dari hati yang dermawan.
Salat pun demikian. Gerakan salat yang paling pokok ada empat: berdiri, rukuk, sujud, dan duduk. Keempatnya melambangkan penghormatan, kerendahan hati, dan ketundukan. Seseorang benar-benar salat bila ada hakikat salat dalam dirinya, yaitu tunduk kepada Allah atau khusyuk. Imam Al-Ghazali menguraikan hal ini panjang lebar dalam Ihya Ulumuddin.
Ketika agama sampai kepada orang-orang yang hanya menerima pernyataan dan bentuk lahirnya, muncul persoalan pada keadaan batin mereka. Dari situlah istilah hakikat lahir. Pada abad ketiga Hijriah, istilah ini sudah dikenal.
Tarekat sebagai sarana menuju hakikat
Orang kemudian membutuhkan cara untuk mengamalkan syariat agar sampai pada hakikat. Cara inilah yang disebut tarekat. Dalam pengertian praktis, tarekat ialah shidqut tawajjuh ilallah, yaitu kesungguhan menghadap kepada Allah. Para sufi merumuskannya dalam beberapa ungkapan yang berdekatan:
- meluruskan hati agar menghadap Allah dalam melakukan apa pun;
- menghadapkan hati sepenuhnya kepada Allah (iqbalul qalbi bil kulliyah 'alallah);
- memusatkan diri kepada Allah (al-inqitha' ilallah).
Syekh mengaku tidak mengetahui padanan Indonesia yang pas untuk inqitha', dan menyebut maknanya sebagai pemusatan perhatian kepada Allah.
Tarekat bermanfaat bagi orang yang baru menyadari bahwa batinnya belum menghadap Allah. Ia menjalani latihan (tadrib) dan pendidikan (tarbiyah) berulang kali.
Makrifat sebagai buah
Agar seseorang yakin bahwa ia telah sampai pada hakikat, yakni telah mengenal Allah, muncullah istilah makrifat.
Syekh menegaskan bahwa semua istilah ini bersifat praktis. Istilah-istilah itu lahir dari praktik di kalangan sufi. Ia bukan cabang ilmu teoretis yang terpisah dari istilah dalam nas Al-Qur'an dan hadis. Setiap ilmu memerlukan istilah untuk menjelaskan perincian yang hanya disebut secara garis besar dalam nas syariat. Jadi syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat sebenarnya semuanya syariat.
Orang sering memperdebatkan apakah syariat itu tarekat atau tarekat itu syariat, sehingga persoalannya membingungkan. Menurut Syekh, perdebatan semacam itu tidak perlu. Istilah-istilah ini hanya untuk keperluan praktis, jadi jangan dinaikkan menjadi persoalan teoretis.
3. Apakah Setiap Muslim Wajib Bertarekat?
Syekh memulai jawabannya dari pengertian tarekat tadi, yakni menghadapkan hati kepada Allah.
Ilmu mudah, amal sulit
Orang yang mempelajari ilmu syariat tahu bahwa manfaat ilmu terletak pada pengamalannya. Ilmu yang tidak diamalkan tidak berguna. Namun mencari ilmu itu mudah, sedangkan mengamalkannya sulit. Beramal baik tanpa pamer pun tidak gampang. Mengingat Allah dalam salat juga berat. Orang yang salat sering justru teringat barang yang hilang, bukan Allah. Hati sulit didisiplinkan. Karena itu, kita perlu melatih diri agar hati menghadap Allah.
Hati hanya dapat menghadap Allah bila jiwa telah matang
Hati tidak dapat benar-benar menghadap Allah kecuali bila jiwa telah memiliki kesempurnaan, kematangan, dan sifat-sifat yang baik. Sifat-sifat itu disebut akhlak.
Para sufi tidak lazim memakai istilah akhlak untuk topik ini, karena semua disiplin Islam, seperti filsafat, tafsir, dan hadis, sudah memakai istilah itu. Dalam pandangan sufi, akhlak sudah mencakup perbuatan. Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa dan melahirkan perbuatan tanpa ragu, tanpa berpikir, dan tanpa tertunda. Ahli disiplin lain sibuk pada perbuatannya. Para sufi sibuk pada cara memperoleh sifatnya.
Sifat mulia sebagai sifat Allah
Sifat-sifat mulia itu pada hakikatnya adalah sifat Allah. Para sufi mengutip ungkapan, "Berakhlaklah dengan sifat-sifat Allah." Syekh mengakui bahwa redaksinya bermasalah sebagai hadis, tetapi maknanya sejalan dengan Al-Qur'an, hadis, dan perbuatan Nabi.
Beliau menjelaskan logikanya begini. Kita tidak ada dengan sendirinya, melainkan diadakan. Maka keberadaan sejati hanya milik Allah. Makhluk disebut jaizul wujud, yakni mungkin ada dan mungkin tidak ada. Para filsuf menyebutnya wujud kontingen. Para sufi menyebut makhluk sebagai tidak ada dan tidak tiada, atau "bukan ada, bukan tiada".
Dari sini, keburukan dalam diri kita tidak lain adalah ketiadaan sifat baik. Sifat baik datang dari Allah. Orang yang benar-benar telah memperoleh sifat baik tidak akan menisbahkannya kepada dirinya. Orang yang baru berilmu masih haus pengakuan, dan itulah ego. Bila Allah telah menanamkan sifat itu dalam keadaan fana, kebutuhan akan pengakuan lenyap. Egonya hilang, dan ia berkata, "Semua dari Allah." Bila dipuji, ia merasa malu. Sifat malu itu tampak pada Nabi.
Akhlak adalah anugerah (wahbi)
Menurut para sufi, akhlak tidak diperoleh dengan usaha semata, melainkan dianugerahkan. Orang bisa membaca banyak ayat dan buku tentang keikhlasan, bahkan salat di masjid yang bernama Ikhlas, tetapi tetap tidak ikhlas. Yang memberi keikhlasan adalah Allah.
Satu-satunya jalan untuk memperoleh sifat mulia dari Allah dan membangun manusia paripurna adalah memperbaiki ibadah sehingga kita menghadap kepada-Nya. Inilah makna praktis istilah tarekat. Maka seseorang perlu bertarekat. Imam Al-Ghazali bahkan menjadikannya fardu ain.
Sejarah: dari persaudaraan ke hubungan guru dan murid
Syekh mengingatkan bahwa sebelum zaman Sayyidi Abdul Qadir Al-Jailani, tarekat sufi dijalani secara murni dan perorangan. Hubungan guru dan murid berdasar persaudaraan, bukan hierarki formal antara syekh dan murid. Seseorang bisa belajar dari 200 guru, dan hanya satu yang dianggap syekh. Fokusnya adalah persaudaraan demi meneladani seseorang agar memperoleh akhlak mulia.
Akhlak hanya dapat diperoleh melalui pergaulan dengan orang yang berakhlak. Ia memperlakukan kita dengan kejiwaannya, bukan dengan emosi, kepintaran, atau hawa nafsunya. Maka pergaulan (suhbah) adalah pokok utama.
Inti tarekat: suhbah dan keteladanan (qudwah)
Jika diringkas, tarekat pada hakikatnya adalah syekh, atau pergaulan. Pergaulan itu dapat ditempuh dengan menjadikan guru sebagai sahabat, atau menjadikannya pembimbing. Tarekat dalam arti nama tertentu, seperti Naqsyabandiyah, adalah semacam budaya dalam Islam. Di dalamnya diajarkan pergaulan itu, serta cara mencari teladan untuk memperoleh sifat-sifat tadi. Namun intinya tetap suhbah dan qudwah.
Syekh menyebut hal ini "rahasia rumah tangga tasawuf" yang sebenarnya tidak perlu dibuka. Orang-orang tarekat punya perguruan dan berharap orang masuk ke dalamnya. Namun karena pemahaman masa kini beragam, rahasia itu dibuka.
Beliau menambahkan bahwa Imam Hasan Al-Banna mengubah pergaulan dengan syekh menjadi pergaulan dengan organisasi. Jamaah Tabligh pun mengubahnya menjadi pergaulan dengan organisasi. Meski begitu, mayoritas sufi berpendapat pergaulan dengan syekh tidak dapat digantikan. Kematangan satu orang yang sempurna jiwanya dapat memengaruhi seribu orang. Sebaliknya, seribu orang yang hanya bermodal kata-kata tidak mampu mengubah seorang pun. Yang mengubah hati adalah Allah. Bukan kita, bukan syekh, dan bukan wali.
Hukum bertarekat dan pilihan caranya
Menghadapkan hati kepada Allah hukumnya wajib dan bersifat fardu ain. Adapun sarananya mengikuti kaidah bahwa sesuatu yang diperlukan untuk menunaikan kewajiban hukumnya wajib pula.
Sarana itu bisa berupa berguru pada seorang syekh, yaitu tarekat dengan nama tertentu. Bisa pula berupa persaudaraan dengan orang-orang saleh. Pilihannya bergantung pada keadaan orang itu. Orang yang lemah dan sungguh-sungguh memerlukan lingkungan tarekat. Orang yang cerdas dan kuat mungkin cukup dengan persaudaraan bersama orang saleh. Syekh menutup dengan "Wallahu a'lam".
4. Makrifat: Anugerah, Bukan Hasil Usaha
Seorang penanya bertanya apakah makrifat merupakan ilmu yang dipelajari atau anugerah Allah kepada salik, yaitu orang yang menempuh perjalanan.
Syekh menjawab bahwa makrifat adalah anugerah. Tidak ada cara apa pun untuk meraihnya dengan usaha. Surga pun diperoleh karena rahmat Allah, bukan karena amal kita, dan makrifat berada di atas surga. Orang boleh salat malam 60 kali atau berzikir 100.000 kali sehari demi makrifat, tetapi tetap tidak dapat meraihnya dengan itu. Soalnya juga bukan pada kesungguhan pemusatan diri (tawajjuh).
Hadis simbolis yang dipakai para sufi
Para sufi memakai satu hadis sebagai isyarat tentang anugerah ini. Rasulullah bersabda bahwa setiap amal anak Adam adalah untuknya (lahu), kecuali puasa. Tentang puasa, Allah berfirman bahwa puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang membalasnya.
Syekh menjelaskan bahwa kata lahu berarti balasan sesuai amal. Salat orang bujang berbeda dengan salat orang beristri. Orang beristri satu bisa berbeda dari orang beristri dua, karena bebannya lebih berat, dan balasannya pun lebih tinggi. Sementara itu, para fukaha memaknai "untuk-Ku" (li) sebagai keikhlasan, sebab puasa murni untuk Allah.
Para sufi memaknainya lebih jauh. Pada puasa, balasan tidak lagi berdasarkan amal, melainkan berdasarkan kemurnian hamba terhadap Allah. Mereka memahami "Akulah yang membalasnya" sebagai Allah sendiri menjadi balasannya. Syekh menyebut Ibnu Arabi pernah mengungkapkan hal senada. Beliau mengumpamakannya dengan istri yang mencintai suaminya. Bila ia mencintai kita, semua milik kita menjadi miliknya. Para sufi mengutip ungkapan, "Siapa yang menemukan Allah, ia telah menemukan segalanya."
Bila seorang hamba memiliki sifat mulia dan sempurna, sifat-sifat itulah makrifat. Sifat Allah berdiri sendiri, sehingga sifat-sifat itu pasti menuntun kepada Allah. Itulah makrifat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Tidak ada rumus instan
Karena itu, makrifat bukan perkara "zikir sekian kali pada tanggal sekian, tujuh kali lalu langsung makrifat". Itu hanya teori dan praktik teknis. Makrifat bergantung pada tarekat seseorang dan pemusatan hatinya kepada Allah, tetapi tertutup bagi usaha manusia (kasab). Ia betul-betul anugerah (wahbi).
Jazab dan salik
Menurut Syekh, ada orang yang dipilih Allah dan diberi tanpa usaha. Mereka disebut majzub. Ada pula yang harus menjadi salik dan menjalani perjuangan batin untuk mendapat tarikan Ilahi itu. Jazab adalah tarikan Allah agar seseorang dekat, yang merupakan anugerah sifat-sifat mulia-Nya. Setelah itu ia selalu dekat dan bersama Allah.
Teladan Imam Abul Hasan Asy-Syadzili
Syekh menyebut kisah Imam Abul Hasan Asy-Syadzili. Seorang murid berkata akan meninggalkan seluruh profesi dan pekerjaannya untuk mengikuti beliau. Sang imam marah dan menegaskan bahwa ia tidak pernah menyuruh orang yang datang kepadanya meninggalkan profesi dan pekerjaannya. Katanya, tetaplah bekerja dan jadikan pekerjaan itu ibadah dengan hati menghadap Allah, dan kamu akan memperoleh makrifat di dalamnya.
Pesannya jelas. Orang yang bertarekat tidak harus meninggalkan dunia. Justru ia menjadikan dunia ladang bagi akhirat.
5. Mengapa Pemimpin yang Berguru pada Mursyid Tetap Bisa Tidak Amanah?
Seorang jemaah dari Jakarta dan Padang Sidempuan bernama Surya mengajukan dua pertanyaan. Pertanyaan pertama untuk Ustaz Abdul Somad. Seorang pengemudi ojek daring bertanya mengapa Pekanbaru masih memiliki perampok padahal ada Ustaz Abdul Somad. Pertanyaan kedua untuk Syekh. Mengapa banyak pemimpin di Indonesia dan Mesir tidak amanah, padahal banyak yang mengaku murid guru sufi? Pemimpin sebelumnya konon memiliki sebelas guru sufi.
Jawaban Syekh
Syekh mengakui pertanyaan itu realistis. Secara teori, syekh disebut mursyid, yaitu pemandu jiwa, atau murabbi, yaitu orang yang mendidik dari tiada menjadi ada, lalu menjadi lebih besar. Namun kenyataannya banyak orang belum memahami tujuan bertarekat. Beliau menyebut beberapa motif keliru:
- ingin menjadi dukun, atau mendapat doa dan jampi yang mujarab;
- ingin dikelilingi banyak orang dan memperoleh kedudukan;
- mengejar harta dan jabatan;
- memandang tarekat hanya sebagai doa dan zikir penenang hati. Beliau mengumpamakannya dengan orang berumrah yang merasa sejuk di sana, tetapi gelisah lagi sesudah pulang.
Syekh juga mengatakan, menurut pengamatan beliau, sebagian pemimpin masuk tarekat untuk mencari suara. Orang yang paling dikelilingi dan dicintai hati rakyat adalah para sufi. Bagi mereka, tarekat adalah paspor untuk masuk ke hati semua orang.
Yang perlu diperbaiki ialah niat murid
Bertemu mursyid atau murabbi yang dimuliakan dalam tasawuf adalah soal kejiwaan. Mursyid memiliki keistimewaan, yaitu selalu hadir di hadapan Allah, sehingga menjadi teladan. Orang masuk tarekat karena merasa sulit menghadapkan hati kepada Allah, lalu ingin masuk ke dalam sistem batin seorang mursyid.
Namun mursyid sejati sulit dikenali, karena ciri-cirinya tidak tampak secara fisik. Bukan soal tarekatnya Qadiriyah atau bukan. Itu kualitas pribadi yang tidak terlihat. Yang dapat mengenalinya hanya orang yang memiliki kesempurnaan serupa, sebagaimana kata pepatah, "Tidak ada yang mengenal wali kecuali wali." Tandanya bukan sorban besar atau jubah tertentu seperti tokoh Batman. Bukan pula keturunan wali tujuh turunan. Tidak ada tanda-tanda seperti itu.
Karena itu yang harus kita perbaiki adalah ketulusan pemusatan diri (tawajjuh), yaitu keinginan kepada Allah. Ada atau tidak iradah (kehendak sejati) dalam diri kita? Sebab itulah para sufi menyebut penempuh jalan sebagai murid. Sebelumnya mereka disebut sahib (sahabat), karena tasawuf memang soal pergaulan. Namun setelah orang masuk tarekat dengan niat beragam, sebutan itu menjadi murid, yang diartikan sebagai al-murid huwa shahibul iradah, pemilik kehendak. Kehendak itu mengandung kejujuran (shidq). Bila murid ibarat gula, kejujuran adalah manisnya.
Orang yang sungguh-sungguh menginginkannya tidak akan berpindah ke tujuan lain. Syekh bertanya kepada hadirin, apakah mereka datang untuk belajar atau untuk urusan lain? Orang yang ingin belajar tidak peduli apa pun yang terjadi di jalan. Karena itu penempuh jalan menuju Allah disebut al-murid ash-shadiq, murid yang jujur.
Bila kejujuran dan iradah itu ada, barulah ia bertemu dengan keistimewaan tadi. Para sufi berkata, "Zid shidqan tajid mursyidan", yakni tambahlah kejujuran, niscaya engkau menemukan mursyid. Jika murid tidak jujur kepada Allah, syekh tidak berguna baginya. Lebih buruk lagi, orang-orang di sekitar syekh bisa dimanfaatkan pihak lain untuk tampil saleh. Kitab-kitab tasawuf mencatat kasus seperti ini dari masa lalu hingga kini.
Syekh menegaskan bahwa meskipun mursyid benar-benar sempurna jiwanya, pengaruh (ta'tsir) baru Allah berikan bila murid jujur. Tanpa kejujuran, murid tidak mendapat pengaruh apa pun dari kejiwaan sang guru. Yang memindahkan kebaikan dari jiwa guru ke jiwa murid adalah Allah, bukan guru. Syekh bahkan menyebut bahwa istri dan anak mursyid kerap menjadi orang yang paling sulit mengambil manfaat darinya, padahal jika seorang guru memberi sesuatu, yang pertama menerima biasanya orang terdekatnya.
Seorang guru harus dipandang mulia. Namun kemuliaan itu dinisbahkan kepada Allah, bukan kepada kepribadiannya, tetapi kepada kekhususan yang ada padanya. Jika ini tidak dipahami, tarekat hanya menjadi tradisi ikut-ikutan (taqlidi).
Tanggapan Ustaz Abdul Somad
Menanggapi pertanyaan tentang perampok di Pekanbaru, Ustaz Abdul Somad menjawab bahwa hal itu bukan dari dirinya. Seorang alim cukup dengan isyarat. Kalau semua itu berasal dari dirinya, pasti tidak akan ada perampok. Beliau mencontohkan bahwa di samping rumahnya pernah hilang tabung gas. Jendela di sebelahnya dibobol, lalu tabung gas itu dicuri. Beliau menganggap itu kegagalannya sendiri. Para pencuri itu semestinya langsung bertobat saat melewati depan rumahnya. Namun, ujarnya, ia baru berada pada tingkat "wali murid", bahkan tidak bisa menjadi wali nikah karena semua anaknya laki-laki.
6. Jalan Menuju Allah: Perjalanan Hati dan Tingkatan Maqam
Pertanyaan terakhir menyangkut hakikat jalan dalam tasawuf. Syekh menyebutnya perjalanan nyata (sair haqiqi) sekaligus perjalanan maknawi (sair ma'nawi). Perjalanan menuju Allah adalah menjalani hidup, amal, dan ibadah dengan menghadapkan hati kepada Allah.
Mengapa ada perjuangan melawan nafsu (mujahadatun nafs)
Perjuangan melawan nafsu adalah akibat dari menghadapkan hati kepada Allah. Tujuan utamanya adalah menghadapkan hati sepenuhnya kepada Allah (iqbalul qalbi bil kulliyah 'alallah).
Syekh memberi perumpamaan. Jika saya menghadap ke timur, saya pasti membelakangi barat. Tetapi orang sering membahas membelakangi barat, supaya benar-benar yakin menghadap ke timur. Demikian pula orang yang meninggalkan dan melawan keinginan, dorongan, dan motivasi duniawi, seperti harta dan kedudukan, dalam hidup, ibadah, dan urusan dunia. Semua itu disebut ghairullah atau selain Allah. Orang seperti itu sedang menempuh jalan menuju Allah.
Mengapa disebut perjalanan, dan mengapa bertahap
Disebut perjalanan karena memalingkan hati bukanlah sulap dan tidak mudah. Ia memerlukan tahapan (marahil). Tahapan itu disebut maqam, dan jamaknya maqamat. Maqamat menunjukkan bahwa perjalanan ini bertahap (at-tadarrujiyyah). Dari sini lahir istilah madarij as-salikin, anak tangga para penempuh jalan, seperti pada judul kitab Madarijus Salikin.
Syekh memberi contoh. Untuk memiliki kesabaran, kita membutuhkan kejujuran (shidq). Kejujuran membutuhkan kehendak (iradah), dan kehendak membutuhkan rasa takut (khauf). Dengan demikian, awal jalan (bidayatuth thariq) adalah takut kepada Allah.
Orang yang telah dibaiat dalam tarekat selama 20 tahun, tetapi rasa takutnya belum tumbuh, belum mulai berjalan. Takut kepada harimau membuat kita menjauh atau lari. Takut kepada ular atau kepada istri pun membuat kita menjauh. Hanya takut kepada Allah yang mendekatkan kita kepada-Nya. Maka permulaan jalan, atau pengantar menuju jalan, adalah takut kepada Allah.
Untuk memperoleh rasa takut itu, seseorang harus bergaul dengan orang-orang yang memiliki rasa takut kepada Allah. Bila rasa takut itu telah muncul, ia harus kembali kepada Allah dengan bertobat. Di sinilah iradah harus hadir. Bila iradahnya tidak kuat, tobat tidak terjadi. Pada saat itulah ia disebut murid, yakni orang yang memiliki kehendak.
Kenapa ada rangkaian maqam? Untuk memiliki sifat sabar, kita diuji lama, baik di rumah, di luar rumah, maupun di tempat kerja, sampai kita benar-benar hanya menghadap Allah. Barulah Allah memberikan kesabaran. Itu baru satu maqam. Maqam adalah tempat seorang hamba dekat dengan Allah. Padahal untuk mengenal, mencapai, dan dekat dengan Allah, seseorang harus memiliki banyak sifat. Karena itu disebutkan maqam demi maqam.
Yang berjalan adalah jiwa, bukan wirid
Syekh menekankan bahwa yang berjalan adalah kejiwaan, yakni tawajjuh dan iqbal (menghadap). Yang berjalan bukan wirid.
Peran mursyid atau murabbi
Mengapa orang membutuhkan seorang ahli yang berpengalaman di jalan ini, yang disebut mursyid atau murabbi? Karena ia menjelaskan banyak hal yang bila dihadapi sendirian dapat membuat kita meraba-raba dalam gelap selama 20, 30, bahkan 50 tahun sebelum teratasi. Dengan bantuannya, ia menerangkan dan menemani kita. Pendampingan (suhbah) pada dasarnya adalah menemani. Dalam bidang apa pun kita memerlukan pendampingan.
Penutup
Kajian berakhir menjelang pukul 12.00, dan pembawa acara menyebut Syekh akan bertemu Buya Alaidin, mursyid Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Darussalam Kabun. Sore harinya Syekh akan kembali ke Malaysia. Jemaah kemudian melaksanakan salat sunah isyraq dan menikmati sarapan.
Sebelum salat, jemaah meminta doa dari Syekh. Doa itu memohon agar jemaah teguh dalam iman dan Islam. Santri Ma'had Az-Zahra diharapkan menjadi penghafal Al-Qur'an dan pejuang di jalan Allah. Terutama, semoga semuanya dikumpulkan di dunia, dan kelak berkumpul lagi di surga bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Inti Pokok Kajian
Kajian ini menyampaikan beberapa pokok pikiran Syekh.
Pertama, tasawuf bersumber dari wahyu dan tumbuh di dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ia adalah pokok ketiga bersama fikih dan akidah.
Kedua, syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat adalah istilah praktis yang lahir ketika orang mulai memisahkan sisi lahir dari sisi batin agama. Pada dasarnya semuanya syariat.
Ketiga, menghadapkan hati kepada Allah hukumnya fardu ain. Sarananya bisa tarekat bersyekh atau persaudaraan dengan orang saleh, sesuai kemampuan seseorang. Intinya adalah suhbah dan qudwah.
Keempat, akhlak mulia dan makrifat adalah anugerah Allah. Manusia hanya berusaha menghadap dengan jujur.
Kelima, hasil bertarekat bergantung pada niat murid. Tarekat yang dijalani demi suara, harta, atau kedudukan tidak mengubah akhlak.
Keenam, perjalanan menuju Allah bersifat bertahap, dimulai dari takut kepada Allah, dan yang menempuhnya adalah hati, bukan wirid. Perjalanan itu dijalani di tengah pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

Comments
Post a Comment