Kehendak Bebas dan Takdir: Menyelami Dialog Teologis Imran bin Hushain

Sebuah dialog klasik dalam riwayat Muslim membuka tabir atas salah satu pertanyaan paling mendasar dalam eksistensi manusia: Apakah manusia benar-benar bebas bertindak, ataukah semua rute kehidupan telah digariskan tanpa celah?

Hadits:

(م) عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ قَالَ: قَالَ لِي عِمْرَانُ بْنُ الْحُصَيْنِ: أَرَأَيْتَ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ وَيَتَكَادَحُونَ فِيهِ، أَشَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى عَلَيْهِمْ مِنْ قَدَرٍ مَا سَبَقَ؟ أَوْ فِيمَا يُسْتَقْبَلُونَ بِهِ مِمَّا أَتَاهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ، وَثَبَتَتِ الْحُجَّةُ عَلَيْهِمْ؟ فَقُلْتُ: بَلْ شَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ، وَمَضَى عَلَيْهِمْ. قَالَ فَقَالَ: أَفَلَا يَكُونُ ظُلْماً؟ قَالَ: فَفَزِعْتُ مِنْ ذَلِكَ فَزَعاً شَدِيداً، وَقُلْتُ: كُلُّ شَيْءٍ خَلْقُ اللهِ وَمِلْكُ يَدِهِ، فَلَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ.
فَقَالَ لِي: يَرْحَمُكَ اللهُ! إِنِّي لَمْ أُرِدْ بِمَا سَأَلْتُكَ إِلَّا لِأَحْزِرَ عَقْلَكَ، إِنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ مُزَيْنَةَ أَتَيَا رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالَا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ، وَيَتَكَادَحُونَ فِيهِ، أَشَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى فِيهِمْ مِنْ قَدَرٍ قَدْ سَبَقَ، أَوْ فِيمَا يُسْتَقْبَلُونَ بِهِ مِمَّا أَتَاهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ، وَثَبَتَتِ الْحُجَّةُ عَلَيْهِمْ؟ فَقَالَ: (لَا، بَلْ شَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى فِيهِمْ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللهِ ﷺ: ﴿وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ٧ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ٨﴾ [الشمس]).

Terjemahan:

Dari Abu al-Aswad ad-Dili, ia berkata: Imran bin al-Hushain pernah berkata kepadaku: “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang dilakukan manusia sekarang ini, di mana mereka bersungguh-sungguh dan berjuang di dalamnya? Apakah itu sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan telah berlalu sesuai dengan qadar yang telah ditentukan sebelumnya? Ataukah itu termasuk apa yang mereka hadapi sesuai dengan apa yang dibawa oleh Nabi mereka, sehingga hujjah (bukti) telah tegak atas mereka?”

Aku menjawab: “Bahkan itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan telah berlalu atas mereka.”

Imran berkata: “Kalau begitu, bukankah itu berarti kezaliman?”

Abu al-Aswad berkata: Maka aku sangat ketakutan mendengar itu, lalu aku berkata: “Segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan milik kekuasaan tangan-Nya, maka Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, sedangkan mereka (manusia) akan ditanya.”

Imran lalu berkata kepadaku: “Semoga Allah merahmatimu! Sesungguhnya aku tidak bertanya kepadamu kecuali untuk menguji kecerdasan akalmu. Sesungguhnya ada dua orang laki-laki dari suku Muzainah yang datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang apa yang dilakukan manusia sekarang ini, di mana mereka bersungguh-sungguh di dalamnya? Apakah itu sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan telah berlalu di tengah mereka sesuai dengan qadar yang telah ditentukan sebelumnya? Ataukah itu termasuk apa yang mereka hadapi sesuai dengan apa yang dibawa oleh Nabi mereka, sehingga hujjah telah tegak atas mereka?’”

Rasulullah ﷺ menjawab: “Tidak, bahkan itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan telah berlalu di tengah mereka. Dan pembenarannya terdapat di dalam Kitabullah ﷺ:

‘Demi jiwa dan Dia yang menyempurnakannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.’ (QS. Asy-Syams: 7-8).

Melalui perbincangan antara Abu al-Aswad ad-Dili dan sahabat Nabi, Imran bin Hushain, kita dihadapkan pada realitas takdir secara jujur, objektif, dan filosofis.

Dialog Menguji Nalar: Gugatan atas Keadilan

Perbincangan dimulai ketika Imran bin Hushain melempar pertanyaan pemantik untuk menguji kedalaman berpikir Abu al-Aswad. Imran bertanya mengenai segala amal dan jerih payah yang dilakukan manusia saat ini. Apakah semua itu terjadi karena takdir yang telah ditetapkan di masa lalu, ataukah murni karena pilihan bebas manusia setelah datangnya petunjuk Nabi?

Abu al-Aswad menjawab dengan lugas:

"Semua itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan dan digariskan bagi mereka."

Jawaban ini memicu pertanyaan kritis berikutnya dari Imran:

"Jika demikian, bukankah hal itu merupakan sebuah kezaliman?"

Pertanyaan ini menyentuh inti dari kecemasan teologis manusia. Jika Tuhan telah menentukan hitam-putihnya nasib seseorang sebelum ia lahir, bagaimana mungkin hukuman dan pahala menjadi adil?

Mendengar hal itu, Abu al-Aswad merasa terkejut dan takut. Ia langsung memosisikan logika manusia di bawah otoritas mutlak Sang Pencipta dengan menyatakan bahwa segala sesuatu adalah ciptaan dan milik Allah. Dia tidak dipertanyakan atas apa yang diperbuat-Nya, melainkan manusialah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Konfirmasi Nubuat: Validasi dari Rasulullah

Melihat respons tersebut, Imran bin Hushain menenangkan Abu al-Aswad dan menjelaskan bahwa pertanyaan tadi sengaja diajukan hanya untuk mengukur kapasitas intelektualnya. Imran kemudian menceritakan peristiwa serupa yang dialami oleh dua orang dari suku Muzainah saat menghadap Rasulullah ﷺ.

Nabi Muhammad ﷺ memberikan jawaban yang senada. Beliau menegaskan bahwa seluruh perbuatan manusia berada dalam ruang lingkup takdir yang telah mendahului mereka. Untuk memperkuat kebenaran mutlak ini, Nabi mengutip Surat Asy-Syams ayat 7-8:

"Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya."

Analisis Sistematis: Membedakan Ketetapan dan Pertanggungjawaban

Teks hadis ini tidak ditulis untuk mengajak manusia bersikap pasif (fatalisme), melainkan untuk mendudukkan konsep ketuhanan dan kemanusiaan pada porsi yang tepat. Ada tiga poin fundamental yang dapat kita bedah secara ilmiah:

  • Kedaulatan Mutlak Tuhan (Omniscience): Pengetahuan Allah melampaui sekat waktu linear (masa lalu, sekarang, dan masa depan). Takdir adalah manifestasi dari ilmu Allah yang mendalam atas apa yang akan dipilih oleh manusia, bukan sebuah paksaan mekanis yang merampas kehendak.

  • Ilham Dualitas: Berdasarkan Surat Asy-Syams, manusia dibekali potensi bawaan untuk memilih antara jalan buruk (fujur) dan jalan baik (taqwa). Potensi inilah yang menjadi dasar adanya ujian hidup.

  • Logika Keadilan Ilahi: Manusia dihukum atau diberi pahala bukan berdasarkan catatan takdir yang ada di Lauhulmahfuz (karena manusia tidak mengetahuinya), melainkan berdasarkan pilihan sadar dan usaha nyata (usaha mandiri) yang mereka lakukan di dunia.

Kesimpulan

Dialog dalam hadis ini mengajarkan kesadaran kosmis yang tajam. Di satu sisi, manusia wajib bekerja keras dan bertanggung jawab penuh atas setiap jengkal keputusan yang mereka ambil. Di sisi lain, manusia harus memiliki kerendahan hati intelektual untuk mengakui bahwa ada keterbatasan nalar dalam memahami kehendak mutlak Pencipta alam semesta. Takdir bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan sebuah kepastian akhir setelah seluruh ikhtiar manusia dikerahkan. 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Panduan Lengkap Membangun Channel YouTube "Talking-Head" dari Nol hingga Menghasilkan Uang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi