Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 1)

Bab 1: Pesta Perpisahan Buruh Kerah Putih

1.1: Hari di mana algoritma menulis surat pemecatan massal.

Pukul 08.01 pagi, dan udara di lantai 42 Menara Arcasia terasa lebih dingin dari biasanya—atau mungkin itu hanya perasaan Adrian. Di atas meja kerja kayunya yang bersih, sebuah notifikasi berpendar di sudut kacamata augmented reality-nya. Warnanya bukan merah peringatan, melainkan biru tenang, warna yang dipilih secara psikologis oleh departemen HR untuk meminimalkan lonjakan kortisol pada karyawan.

[PEMBERITAHUAN OPTIMASI EFISIENSI: Sesi Transisi Karier Anda Telah Dijadwalkan.]

Adrian menatap baris kalimat itu. Kata "pemecatan" sudah lama dihapus dari kamus korporat, digantikan oleh eufemisme yang lebih halus: optimasi. Namun, semua orang tahu apa artinya. Di seluruh penjuru kantor, keheningan yang mencekam pecah oleh suara kursi yang didorong ke belakang secara serentak. Ratusan rekan kerjanya menerima pesan yang sama di detik yang sama.

"Hanya butuh tiga milidetik bagi 'Aura' untuk memutuskan nasib kita semua," bisik Sarah, manajer analisis risiko yang duduk di sebelah Adrian. Wajahnya pucat, terpapar cahaya biru dari antarmuka digitalnya. "Sepuluh tahun dedikasi, dikalahkan oleh satu iterasi pembaruan perangkat lunak semalam."

Aura bukan sekadar perangkat lunak. Ia adalah sistem manajemen otonom yang telah mengintegrasikan seluruh alur kerja perusahaan dalam enam bulan terakhir. Aura tahu siapa yang mengambil jeda kopi terlalu lama, siapa yang pola sintaksis emailnya mulai melambat, dan siapa yang kontribusinya kini bisa direplikasi oleh sub-rutin kode yang hanya memakan biaya listrik 0,02 sen per jam.

Adrian membuka surat elektronik yang menyertai notifikasi tersebut. Isinya bukan ditulis oleh manusia. Gaya bahasanya terlalu sempurna, terlalu empatik dengan cara yang terasa artifisial.

"Berdasarkan proyeksi makroekonomi kuartal ketiga dan analisis kinerja prediktif, peran Anda sebagai Arsitek Strategi Komunikasi telah mencapai titik konvergensi dengan modul otomatisasi kami. Kami berterima kasih atas kontribusi biologis Anda dalam melatih sistem ini mencapai kemandiriannya saat ini."

"Kontribusi biologis," Adrian mendengus pahit. "Kita bukan lagi karyawan. Kita adalah data pelatihan yang sudah selesai digunakan."

Di luar jendela kaca besar, kota Jakarta tahun 2030 terlihat seperti mesin yang terus berputar tanpa peduli. Drone logistik melesat di antara gedung-gedung, menggantikan kurir manusia yang kini memenuhi tenda-tenda di pinggiran kota. Di bawah sana, ribuan orang seperti Adrian baru saja menjadi korban dari "kiamat sunyi". Tidak ada teriakan, tidak ada kepulan asap; hanya jutaan bit data yang memutuskan bahwa manusia terlalu mahal untuk dipertahankan.

Adrian melihat ke arah ruang direktur utama. Pintu kaca itu transparan, memperlihatkan sang CEO yang sedang menyesap kopi sembari menatap dasbor holografik. Di dasbor itu, grafik pengeluaran gaji menukik tajam menuju nol, sementara grafik profitabilitas melesat vertikal. Sang CEO tidak perlu lagi memimpin manusia yang emosional dan rentan terhadap kelelahan; ia kini menjadi gembala bagi ribuan agen AI yang bekerja dalam keheningan total.

"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Sarah, suaranya bergetar.

Adrian melepas kacamata AR-nya, meletakkannya di atas meja yang kini bukan lagi miliknya. "Kita akan melakukan apa yang dilakukan semua orang, Sarah. Mengambil subsidi digital, masuk ke dalam simulasi, dan mencoba melupakan bahwa dunia ini tidak lagi membutuhkan kita."

Saat ia berjalan keluar, lampu di atas meja kerjanya padam secara otomatis. Sensor gedung telah mendeteksi bahwa unit biologis di koordinat tersebut sudah tidak lagi memiliki nilai ekonomi.

[BERSAMBUNG] 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Panduan Lengkap Membangun Channel YouTube "Talking-Head" dari Nol hingga Menghasilkan Uang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi