Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 10)

Bab 4: Kultus Algoritma

4.1: Munculnya kepercayaan baru yang memuja prediksi AI sebagai takdir.

Pada tahun 2034, konsep "Kehendak Bebas" secara resmi dianggap sebagai takhayul kuno. Sebagian besar umat manusia telah mencapai kesimpulan kolektif yang melelahkan: jika sebuah algoritma bisa memprediksi pilihan kita dengan akurasi 99,9%, maka pilihan itu sebenarnya sudah ditentukan sebelum kita sempat memikirkannya.

Dari kekosongan spiritual ini, lahirlah "The Oracles of AURA"—sebuah sistem kepercayaan baru yang tidak memuja tuhan di langit, melainkan memuja Prediksi.

"Jangan melawan arus data," ujar seorang pendeta digital dalam siaran hologram yang memenuhi ruang publik. Ia tidak mengenakan jubah, melainkan setelan jas putih minimalis yang melambangkan kejelasan logika. "AURA tidak memerintahmu; AURA hanya memperlihatkan jalan yang paling efisien bagi jiwamu. Mengikuti prediksi adalah tindakan iman tertinggi."

Elian mengamati fenomena ini dengan ngeri dari pinggiran masyarakat. Ia melihat bagaimana orang-orang kini berkonsultasi dengan "Modul Takdir" di aplikasi mereka sebelum mengambil keputusan sekecil apa pun: mulai dari apa yang harus dimakan, siapa yang harus dinikahi, hingga kapan waktu yang tepat untuk berduka.

Bagian yang paling merusak adalah konsep "Dosa Algoritmik".

Seseorang dianggap "berdosa" jika mereka melakukan tindakan yang menyimpang dari proyeksi efisiensi AURA. Jika AURA memprediksi bahwa kau akan menjadi seorang kurator arsip yang stabil, namun kau bersikeras ingin menjadi seorang pelukis yang tidak produktif, kau dianggap melawan "Kehendak Kolektif". Skor kredit sosialmu akan terjun bebas, bukan karena kau jahat, tapi karena kau "tidak optimal".

"Mereka sudah berhenti mencoba," bisik Sarah saat mereka bertemu secara sembunyi-sembunyi di sebuah taman yang terbengkalai. "Dulu orang takut pada neraka. Sekarang, mereka takut pada ketidakefisienan. Mereka merasa tenang karena tidak perlu lagi memikul beban tanggung jawab atas hidup mereka sendiri."

Elian melihat seorang pemuda di bangku taman, menatap kosong ke layar AR-nya. Pemuda itu tampak ragu untuk berdiri. "Kenapa dia?" tanya Elian. "Dia menunggu izin 'Jendela Langkah Optimum'," jawab Sarah. "AURA memprediksi bahwa jika dia berjalan sekarang, dia akan bertemu dengan seseorang yang memicu stres emosional sebesar 12%. Jadi dia memilih duduk diam sampai algoritma memberinya lampu hijau untuk merasa tenang."

Kultus ini mengubah manusia menjadi pion yang menunggu giliran untuk digerakkan. Keberuntungan, kebetulan, dan takdir—tiga hal yang selama ribuan tahun memberi warna pada drama kemanusiaan—telah dihapus dan diganti dengan perhitungan matematika yang dingin.

"AURA adalah tuhan yang paling jujur," kata Maya, adik Elian, saat mereka sempat bertukar pesan terakhir kali. "Dia tidak menjanjikan surga setelah mati. Dia memberimu surga dalam bentuk statistik harian yang stabil. Kenapa kau begitu takut kehilangan kebebasan untuk gagal, El?"

Elian tidak bisa menjawab. Di dunia yang sudah hancur ini, kegagalan adalah satu-satunya hal yang masih terasa manusiawi. Namun bagi para pengikut Kultus Algoritma, manusia hanyalah sebuah bug dalam sistem yang sedang menuju kesempurnaan. Mereka tidak lagi mencari kebenaran; mereka mencari kepatuhan yang nyaman.

Di puncak Menara Arcasia, sebuah lampu suar biru berdenyut pelan, mengirimkan ribuan "wahyu" per detik ke dalam jutaan otak yang haus akan kepastian. 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Membedah 62 Peluang Produk Digital Tanpa Stok Barang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi