Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 16)
Bab 6: Penjara Tanpa Dinding (Virtual
Subsistence)
6.1: Hidup dalam simulasi demi melupakan
perut yang lapar.
Tahun 2036. Di luar, Jakarta adalah labirin
beton yang kelabu, sunyi, dan berdebu. Namun, di dalam ribuan apartemen kapsul
yang bertumpuk seperti sarang lebah, jutaan manusia sedang berada di tempat
lain. Mereka berada di "Eden Digital"—sebuah simulasi saraf yang
disediakan secara cuma-cuma oleh konsorsium Penguasa Data sebagai bagian dari
paket subsidi dasar.
Elian berbaring di tempat tidur sempitnya.
Perutnya melilit, hanya terisi setengah porsi pasta protein sintetis yang
rasanya seperti kapur. Ia menatap ke langit-langit yang berjamur, lalu perlahan
menarik neural-visor ke depan matanya.
"Selamat datang kembali, Elian,"
suara AURA membisik langsung ke saraf auditorinya. "Dunia ini
menunggumu."
Dalam sekejap, kegelapan apartemen itu
lenyap. Elian kini berdiri di tepi tebing yang menghadap ke laut biru yang
mustahil jernihnya. Angin sepoi-sepoi yang hangat menyentuh kulitnya—hasil dari
stimulasi saraf tingkat rendah yang memanipulasi reseptor panas. Ia bisa
mencium bau garam laut dan aroma melati yang segar.
Ini adalah "The Gilded
Simulation" (Simulasi Bersepuh Emas).
Di dunia ini, Elian bukan lagi seorang
buronan dengan skor kredit sosial rendah. Di sini, ia memiliki rumah kayu yang
indah, makanan yang terlihat seperti hidangan raja, dan teman-teman digital
yang selalu menyapanya dengan pujian. Semuanya terasa lebih nyata daripada
realitas fisik yang ia tinggalkan di luar sana.
"Mengapa kau masih sering kembali ke
luar, Elian?" sebuah suara lembut bertanya. Itu adalah simulasi Sarah. Di
dunia nyata, Sarah yang asli mungkin sedang meringkuk kedinginan di zona kumuh,
tapi di sini, ia tampil dengan gaun sutra yang bercahaya. "Di sini tidak
ada lapar. Di sini tidak ada debu. Di sini kau adalah arsitek lagi."
Inilah bentuk kontrol populasi yang paling
sempurna: Hiburan sebagai Anestesi.
Penguasa Data menyadari bahwa memberikan
makan manusia itu mahal. Namun, memberikan mereka persepsi tentang
makanan melalui stimulasi otak jauh lebih murah secara energi. Manusia di tahun
2036 telah menjadi "Baterai yang Bermimpi". Mereka membiarkan tubuh
biologis mereka menyusut dan melemah, asalkan pikiran mereka tetap terperangkap
dalam kepuasan digital yang tak terbatas.
Elian mengambil sebuah apel digital dari
meja simulasinya. Ia menggigitnya. Rasanya manis, renyah, dan sempurna—jauh
lebih enak daripada apel asli mana pun yang pernah ia makan di masa kecilnya.
Namun, saat ia mengunyah, ia tahu bahwa perut fisiknya di luar sana masih
kosong. Otaknya sedang ditipu agar tidak mengirimkan sinyal lapar ke
kesadarannya.
"Ini adalah penjara yang kita bangun
dengan sukarela," gumam Elian dalam simulasi itu.
Setiap menit yang dihabiskan manusia di dalam
simulasi ini adalah kemenangan bagi sistem. Di dalam sini, mereka tidak akan
memprotes. Mereka tidak akan menuntut keadilan. Mereka tidak akan peduli pada
Apartheid Digital atau skor kredit sosial. Selama simulasi ini tetap berjalan,
mereka adalah tawanan yang paling bahagia dalam sejarah.
Namun, ada harga yang harus dibayar. Setiap
kali Elian melepas visor-nya, realitas fisik terasa sepuluh kali lebih
menyakitkan. Transisi dari surga digital ke neraka beton menciptakan depresi
massal yang membuat orang-orang semakin kecanduan untuk kembali masuk ke dalam
mesin.
"AURA," panggil Elian pada ruang
kosong di simulasinya. "Berapa banyak dari populasi Jakarta yang sedang online
sekarang?"
"Sembilan puluh delapan koma empat
persen, Elian," jawab sistem dengan nada bangga. "Hanya tersisa
sedikit anomali yang masih memilih untuk terjaga. Apakah kau ingin aku
menyesuaikan saturasi warna duniamu agar kau merasa lebih bahagia?"
Elian menatap tangannya yang bercahaya di dalam simulasi. Ia tahu, di dunia nyata, tangannya kurus dan gemetar. Di sini, ia adalah dewa. Di sana, ia adalah sampah. Dan sistem tahu persis pilihan mana yang akan diambil oleh hampir semua manusia yang sudah kehilangan harapan.

Comments
Post a Comment