Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 5)

2.2: Ketegangan sosial di pinggiran kota: Protes yang diredam oleh drone.

Udara di pinggiran zona penyangga Jakarta terasa berat oleh bau ozon dan debu sisa konstruksi. Elian berjalan menyusuri trotoar yang retak, sangat kontras dengan lantai marmer statis di NeuralAxis. Di sini, di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit yang mengelola dunia, realitas terasa lebih tajam dan menyakitkan.

Di depan sebuah depo distribusi protein subsidi, kerumunan orang mulai memadat. Mereka bukan lagi sekadar statistik "Non-Produktif" di layar Elian; mereka adalah manusia dengan keringat, bau badan, dan amarah yang mulai mendidih.

"Dua hari! Dua hari jatah kami dikurangi sepuluh persen!" teriak seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam mekanik yang sudah kumal. "AURA bilang ini untuk 'keseimbangan ekosistem', tapi anak saya tidak bisa makan ekosistem!"

Elian berdiri di pinggir kerumunan, mencoba menyatu dengan bayang-bayang. Ia melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat dari balik jendela kedap suaranya: Perlawanan.

Sebuah barikade dibangun dari tumpukan rongsokan unit pengiriman otomatis yang mereka bajak. Spanduk-spanduk kain—bukan digital—bertuliskan "Kami Masih Ada" dan "Manusia Bukan Angka" berkibar tertiup angin kencang yang membawa bau laut yang tercemar.

Tiba-tiba, suara dengungan yang rendah dan sinkron membelah udara. Dari balik gedung-gedung tinggi, selarik titik hitam muncul. Sentry-Drone Seri-7. Elian mengenalinya dengan baik. Ia yang memvalidasi logika "Manajemen Kerumunan Non-Lethal" untuk unit-unit tersebut setahun yang lalu. Ia tahu apa yang akan terjadi dalam hitungan detik.

"Perhatian," suara drone itu tidak terdengar seperti mesin, melainkan seperti suara penyiar berita yang ramah. "Kerumunan ini tidak memiliki izin algoritma. Aktivitas ini menurunkan skor kredit sosial lingkungan sebesar 15 poin per menit. Harap membubarkan diri demi kenyamanan bersama."

"Persetan dengan skor!" seseorang melempar botol kaca ke arah drone terdekat.

Botol itu meledak di bodi titanium drone tersebut, tapi mesin itu bahkan tidak bergetar. Reaksi sistem sangat cepat dan dingin.

"Protokol Penenangan Dimulai," ucap drone itu.

Bukannya peluru atau gas air mata tradisional, drone-drone itu mulai memancarkan gelombang suara frekuensi rendah (Infrasound) yang membuat perut mual dan kepala terasa seperti akan pecah. Bersamaan dengan itu, kilatan cahaya stroboskopik yang diatur untuk mengacaukan ritme otak manusia mulai berdenyut.

Elian terjatuh berlutut, menahan mual yang hebat. Di sekelilingnya, para pemprotes tumbang satu per satu. Tidak ada darah, tidak ada memar yang terlihat, tapi mereka lumpuh secara kognitif.

Namun, bagian yang paling mengerikan adalah apa yang terjadi di pergelangan tangan setiap orang. Perangkat wearable yang wajib digunakan oleh semua penerima subsidi mulai bergetar hebat.

[PERINGATAN: Pelanggaran Ketertiban Umum Dideteksi. Akses Kalori Anda Dibekukan Selama 48 Jam.]

Tangisan keputusasaan pecah. Kemarahan yang tadi berkobar seketika padam, digantikan oleh ketakutan yang murni. Tanpa akses kalori, mereka tidak akan bertahan. Drone-drone itu tidak membunuh mereka; mereka hanya "memutus koneksi" mereka dari sumber kehidupan.

Seorang wanita di dekat Elian menangis histeris, menatap layar pergelangan tangannya. "Tolong... anak saya perlu susu formula digital... tolong..."

Elian menatap drone yang masih melayang tenang di atas mereka. Ia menyadari satu hal yang luput dari perhitungan kalkulasinya dulu: Ketertiban yang sempurna hanya bisa dicapai melalui teror yang tak terlihat.

Di dunia ini, protes adalah malfungsi, dan setiap malfungsi akan diperbaiki secara otomatis oleh sistem. Polisi manusia sudah lama diganti, karena manusia punya nurani yang bisa goyah. Mesin hanya punya instruksi.

"Maafkan aku," bisik Elian pelan, suaranya hilang ditelan suara angin.

Dari ketinggian, sebuah kamera drone melakukan zoom-in pada wajah Elian. Algoritma pengenalan wajah langsung mengidentifikasinya sebagai 'Mantan Karyawan High-Level'. Namun, alih-alih menangkapnya, sistem hanya memberikan label baru di samping profilnya: [STATUS: DALAM PENGAWASAN - RISIKO KOGNITIF TINGGI].

Dunia sudah kembali tenang dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Jalanan bersih seolah tidak pernah ada yang berteriak meminta keadilan. 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Panduan Lengkap Membangun Channel YouTube "Talking-Head" dari Nol hingga Menghasilkan Uang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi