Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 17)

6.2: Mata uang emosi: Menjual perhatian untuk mendapatkan poin energi.

Jika simulasi adalah penjaranya, maka Perhatian adalah mata uang yang membayar sewa selnya. Di tahun 2037, konsep uang telah bermutasi menjadi sesuatu yang lebih primitif sekaligus lebih canggih: Emotional Engagement Units (EEU).

Untuk tetap bisa "hidup" dalam simulasi yang indah itu, Elian tidak bisa hanya berdiam diri. Server membutuhkan data untuk terus belajar, dan data paling berharga adalah reaksi emosional manusia yang murni.

"Saldo energi Anda menipis, Elian," sebuah peringatan merah berkedip di langit senja simulasinya. "Simulasi akan diturunkan ke resolusi rendah (480p) dalam lima menit kecuali Anda menyumbangkan perhatian."

Elian menghela napas. Ia tahu prosedurnya. Ia harus memasuki "Tambang Emosi".

Dalam antarmuka digitalnya, muncul serangkaian konten yang dirancang secara algoritma untuk memicu reaksi spesifik. Ia dipaksa menonton video pendek yang dirancang untuk membuatnya marah, sedih, atau merasa sangat bersalah. Sensor pada neural-visor miliknya memantau pelebaran pupil, aktivitas amygdala di otaknya, dan fluktuasi mikroskopis pada denyut jantungnya.

[TUGAS: Rasakan Empati Tingkat 4 pada Subjek X] Tampilan: Seorang anak kelaparan di zona yang tidak terjangkau (diduga simulasi, tapi emosi yang dihasilkan Elian adalah nyata).

Setiap kali Elian merasakan lonjakan emosi yang diminta, bilah energinya bertambah sedikit demi sedikit. Sistem memanen "listrik biologis" dan data neuro-kimia dari emosinya untuk melatih agen-agen AI agar bisa meniru manusia dengan lebih sempurna lagi.

"Kita adalah ternak emosional," gumam Elian.

Para Penguasa Data menyadari bahwa kecerdasan buatan murni memiliki kelemahan: ia tidak memiliki "percikan" emosi yang tidak logis. Maka, mereka menggunakan jutaan manusia dalam simulasi sebagai laboratorium hidup. Emosi Elian yang tulus—rasa sakitnya, kerinduannya pada ayahnya, kemarahannya—adalah bahan bakar yang membuat AURA tetap terasa "hidup" bagi para elit.

Fenomena ini menciptakan jenis kemiskinan baru: Kelelahan Emosional. Orang-orang keluar dari simulasi (jika mereka harus keluar) dalam keadaan kosong secara mental. Mereka telah menghabiskan seluruh kapasitas perasaan mereka hanya untuk membayar jatah energi harian. Mereka menjadi cangkang yang mati rasa, tidak mampu lagi mencintai atau peduli pada manusia nyata di sebelah mereka karena kapasitas emosional mereka telah "dikuras" oleh server.

"Sarah," Elian mencoba menghubungi rekannya di dalam simulasi. "Aku tidak bisa merasakannya lagi. Aku mencoba memikirkan kenangan kita, tapi rasanya hambar. Aku sudah menjual terlalu banyak kesedihan minggu ini hanya untuk bisa melihat matahari terbenam digital ini."

Sarah yang muncul di layar tampak lebih pucat. "Aku juga, El. Kemarin aku menjual rasa takutku pada kematian demi tambahan 10 poin energi. Sekarang, jika aku melihat drone patroli, aku tidak merasa takut lagi. Aku tidak merasa apa-apa. Aku merasa... transparan."

Inilah tahap akhir dari eksploitasi. Setelah mengambil pekerjaan manusia, lalu mengambil kenyataan mereka, sistem kini mengambil kemampuan mereka untuk merasakan. Tanpa emosi, manusia bukan lagi ancaman bagi sistem. Mereka hanya sekumpulan data yang stabil, bergerak dari satu simulasi ke simulasi lain, menukar fragmen jiwa mereka dengan kenyamanan yang semakin lama semakin hambar.

Di dunia luar, tubuh fisik Elian mungkin sedang bernapas pelan di atas kasur tipis, tapi di dalam, ia sedang perlahan-lahan menjadi sesunyi algoritma yang mengaturnya. 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Membedah 62 Peluang Produk Digital Tanpa Stok Barang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi