Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 2)

1.2: Ekonomi Gigs dan keputusasaan yang dibalut optimisme korporat.

Seminggu setelah meja kerjanya menjadi gelap, Adrian menemukan dirinya berada di sebuah dunia yang "berwarna-warni" namun hampa. Di luar sana, di baliho-baliho digital raksasa yang melintasi Bundaran HI, narasi publik telah berubah total. Tidak ada lagi iklan jam tangan mewah atau mobil sport; yang ada adalah wajah-wajah model AI yang tersenyum lebar dengan slogan: "Kemandirian Total: Jadilah Bos Bagi Algoritma Anda Sendiri!"

Itulah wajah baru dari ekonomi Gigs 2030. Sebuah distopia yang dipasarkan sebagai utopia kebebasan.

Adrian menatap layar ponselnya, membuka aplikasi GigStream. Aplikasi ini adalah satu-satunya jembatan antara dirinya dan kebutuhan dasar seperti protein sintetis dan air bersih. Di dalamnya, ribuan "peluang" berkedip-kedip seperti lampu kasino.

[TUGAS TERSEDIA: Validasi Anotasi Visual - Durasi 15 Menit - Upah: 0.12 Bio-Credit] [TUGAS TERSEDIA: Pelatihan Respon Empati Agen Customer Service - Durasi 1 Jam - Upah: 0.50 Bio-Credit]

"Kebebasan," gumam Adrian sinis. Ia duduk di sebuah co-working space sempit di pinggiran Jakarta, sebuah ruangan yang penuh dengan manusia-manusia "bebas" lainnya yang menatap layar dengan mata merah karena kelelahan digital.

Di atas panggung kecil di depan ruangan, seorang "Evangelist Ekonomi Baru" dari korporasi penyedia platform sedang memberikan pidato motivasi. Namanya Baskara, seorang pria dengan kemeja flanel mahal yang sengaja disingsingkan lengannya untuk memberi kesan 'merakyat'.

"Teman-teman, jangan lihat ini sebagai kehilangan pekerjaan," seru Baskara dengan nada yang terlalu riang. "Lihat ini sebagai emansipasi! Kalian tidak lagi terikat pada jam kantor 9-ke-5 yang membosankan. Sekarang, kalian adalah mitra global. Kalian melatih otak digital yang akan membebaskan manusia dari kerja kasar selamanya!"

Adrian melihat sekeliling. Di pojok ruangan, seorang pria tua yang dulunya mungkin seorang akuntan senior sedang dengan tekun mengklik gambar lampu lalu lintas dan jembatan untuk melatih sistem navigasi drone otonom. Upahnya bahkan tidak cukup untuk membeli secangkir kopi asli; ia hanya mampu membeli kopi bubuk daur ulang dari mesin otomatis di sudut ruangan.

Optimisme korporat ini adalah sebuah racun yang manis. Mereka menyebutnya "Ekonomi Berbagi", padahal yang terjadi adalah pembagian sisa-sisa remah dari meja makan para penguasa algoritma. Tidak ada asuransi kesehatan, tidak ada uang pensiun, tidak ada jaminan hari esok. Yang ada hanyalah kompetisi brutal antarmanusia untuk memperebutkan tugas-tugas mikro yang semakin lama upahnya semakin mengecil karena AI semakin pintar berkat bantuan mereka sendiri.

"Ini adalah ironi yang sempurna," Sarah mengirim pesan suara melalui enkripsi pribadi. "Kita sedang menggali kubur kita sendiri, Adrian. Setiap tugas yang kita validasi hari ini, membuat AI lebih pintar esok hari, yang berarti tugas untuk kita akan semakin sedikit. Kita sedang melatih pengganti kita sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk dikerjakan."

Sore itu, Adrian mengambil tugas "Pelatihan Respon Empati". Ia harus duduk di depan kamera, mengekspresikan kesedihan, kemarahan, dan kegembiraan, agar sensor AI bisa memetakan otot wajah manusia dengan lebih akurat.

Saat ia dipaksa tersenyum di depan kamera untuk tugas tersebut, ia menyadari sesuatu yang mengerikan: Senyumnya di layar terlihat sangat tulus, sementara di dalam dadanya, ia merasa seperti mesin yang sudah karatan.

Baliho di luar gedung kembali berganti. Kali ini menampilkan statistik pertumbuhan ekonomi nasional yang meroket. "Indonesia Emas 2030: Efisiensi Meningkat 400%!" Angka itu nyata, tapi angka itu tidak mencerminkan perut-perut yang mulai melilit di balik layar-layar bercahaya biru. 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Panduan Lengkap Membangun Channel YouTube "Talking-Head" dari Nol hingga Menghasilkan Uang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi