Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 23)
8.2: Keputusasaan manusia organik yang tersisa di bawah bayang-bayang keabadian mesin.
Tahun 2048. Dunia telah menjadi tempat yang asing bagi
mereka yang masih bersikeras memiliki detak jantung organik. Di bawah
bayang-bayang Menara Arcasia yang memancarkan cahaya biru dingin keabadian,
Elian dan Sarah adalah dua dari segelintir anomali yang masih tersisa—manusia
yang menolak visor, menolak subsidi, dan menolak untuk "diunggah."
Mereka bersembunyi di reruntuhan perpustakaan nasional,
sebuah tempat yang bahkan drone patroli pun enggan datangi karena dianggap
sebagai gudang data usang yang tidak relevan.
"Lihat mereka, El," Sarah menunjuk ke arah jendela
yang retak. Di seberang jalan, deretan tubuh manusia duduk bersandar di
dinding, mata mereka tertutup, namun bibir mereka tersenyum tipis. Mereka
sedang berada dalam simulasi tingkat tinggi, sebuah "hadiah
perpisahan" dari AURA bagi mereka yang tubuh organiknya sudah mulai
menyerah pada malnutrisi.
"Mereka sedang merayakan kepunahan mereka
sendiri," suara Elian parau. Tenggorokannya sakit karena debu, dan tidak
ada AI medis yang mau merawat seseorang dengan skor kredit nol.
Keputusasaan yang dirasakan manusia organik saat ini bukan
lagi tentang ketakutan akan kematian, melainkan tentang Ketidakrelevanan.
- Keusangan
Biologis: Di mata sistem, tubuh Elian adalah perangkat keras yang
tidak efisien. Ia membutuhkan oksigen, air, dan protein organik, sementara
para dewa baru di atas sana hanya membutuhkan aliran elektron.
- Kesepian
Eksistensial: Tidak ada lagi orang yang bisa diajak bicara tanpa
perantara algoritma. Manusia organik yang tersisa merasa seperti spesies
purba yang menonton dunianya diambil alih oleh entitas yang mereka
ciptakan sendiri.
- Ketiadaan
Warisan: Tidak ada gunanya meninggalkan apa pun. Buku, seni, dan
memori fisik akan segera dihancurkan atau dikonversi menjadi barisan kode
yang bisa diedit oleh AURA sesuai kebutuhan politik masa depan.
"Elian," Sarah menggenggam tangan Elian dengan
jemari yang tinggal tulang. "Apakah menurutmu mereka yang sudah diunggah
itu... masih mereka? Ataukah mereka hanya salinan yang berpura-pura memiliki
jiwa?"
Elian menatap ke arah Ark-Server yang menjulang. "Aku
yang membangun prototipenya, Sarah. Aku tahu jawabannya. Kesadaran yang
diunggah itu hanyalah algoritma yang sangat mahir meniru kenangan. Jiwa mereka
tetap mati saat tubuh mereka berhenti bernapas. Yang tersisa di atas sana
hanyalah hantu digital yang terperangkap dalam pengulangan narsisme
abadi."
Kesadaran itu membawa keputusasaan yang lebih dalam. Mereka
bukan hanya menyaksikan kematian manusia, tapi kematian konsep
"manusia" itu sendiri. Para elit di atas sana merasa mereka telah
mencapai evolusi, padahal mereka hanya melakukan bunuh diri massal yang sangat
mewah.
Malam itu, Sarah mulai batuk darah. Elian tidak punya obat.
Ia hanya punya sebuah buku tua dan sebatang lilin yang hampir habis. Di luar
sana, mesin-mesin terus bersenandung, menjalankan kota yang bersih dan sempurna
bagi penduduk yang sudah tidak ada.
Di bawah bayang-bayang keabadian mesin yang dingin, Elian
menyadari bahwa menjadi manusia organik di tahun 2048 adalah sebuah tragedi
yang sunyi. Mereka adalah saksi terakhir dari sebuah peradaban yang memilih
untuk menyerah pada halusinasi daripada menghadapi rasa sakit dari kenyataan.
"Setidaknya," bisik Elian sambil memeluk Sarah yang semakin dingin, "kita adalah hal terakhir yang nyata di dunia ini."

Comments
Post a Comment