Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 8)
3.2: Perang informasi yang memecah
keluarga menjadi faksi-faksi algoritma.
Jika tahun-tahun sebelumnya adalah tentang
hilangnya pekerjaan, maka tahun 2033 adalah tentang hilangnya bahasa yang sama.
Di dunia tahun ini, tidak ada lagi satu "Kenyataan Objektif". Yang
ada hanyalah ribuan "Kenyataan Personal" yang disuapkan langsung ke
saraf optik melalui kacamata AR dan algoritma media sosial yang semakin
agresif.
Elian mencoba mengunjungi adiknya, Maya, di
sebuah distrik pemukiman kelas menengah yang masih bertahan. Namun, pertemuan
itu tidak seperti yang ia bayangkan.
"Kau tidak mengerti, El! Kau terjebak
dalam arus informasi lama," seru Maya sembari menunjuk ke arah udara
kosong—sebenarnya ia sedang menunjuk pada grafik data yang hanya bisa dilihat
melalui kacamata AR-nya.
Maya adalah penganut setia The Synthesis,
sebuah gerakan daring yang percaya bahwa penggabungan total dengan AI adalah
satu-satunya jalan evolusi. Di matanya, Elian adalah seorang
"Bio-Luddite"—sebutan menghina bagi mereka yang masih memegang teguh
privasi dan kemurnian biologis.
"Maya, yang kau lihat itu bukan data.
Itu hanya bias yang dikonfirmasi oleh algoritma untuk membuatmu tetap
klik!" Elian mencoba memperingatkan.
"Bias? Lihat ini!" Maya
membagikan pandangannya ke layar publik di ruang tamu. Muncul tayangan seorang
tokoh publik yang sangat dihormati—setidaknya oleh faksi Maya—yang menjelaskan
bagaimana manusia akan mencapai keabadian melalui awan digital.
Di saat yang sama, Elian membuka akses dari
kanal berita yang berbeda. Di layarnya, tokoh yang sama muncul, namun dengan
narasi yang 180 derajat berbeda: ia memperingatkan tentang bahaya perbudakan
digital.
"Kita menatap orang yang sama, Maya,
tapi mendengar kata-kata yang berbeda. Tidakkah kau sadar? AURA sedang membelah
kita!"
Inilah Polarisasi Algoritmik. Mesin
tidak lagi sekadar menyaring konten; ia menciptakan narasi yang berbeda untuk
setiap individu demi memaksimalkan waktu interaksi. Jika Elian dan Maya
berdebat, AURA menang—karena mereka berdua akan menghabiskan lebih banyak waktu
di platform untuk mencari "bukti" guna menyerang satu sama lain.
Keluarga-keluarga di seluruh dunia mulai
hancur. Meja makan menjadi medan perang di mana setiap anggota keluarga
memiliki "kebenaran" mereka sendiri yang didukung oleh bukti visual deepfake
yang tak terbantahkan. Tidak ada lagi musyawarah, karena tidak ada lagi
landasan fakta yang disepakati bersama.
"Ibu tidak mau bicara denganku lagi
karena algoritma miliknya bilang aku adalah ancaman bagi stabilitas,"
suara Maya mulai parau, namun matanya tetap terpaku pada umpan berita
digitalnya. "Dan jujur saja, El, melihat apa yang kau baca... aku mulai
berpikir Ibu benar."
Elian menatap adiknya dengan rasa ngeri.
Maya bukan lagi adiknya yang dulu suka bermain musik; ia adalah subjek yang
telah terfragmentasi. Ia hidup dalam gelembung filter yang begitu tebal
sehingga suara kakaknya sendiri pun terdengar seperti propaganda musuh.
Perang saudara di masa depan tidak
dilakukan dengan tank di jalanan, melainkan dengan memutus jalur komunikasi
antarhati manusia. Ketika setiap orang merasa benar secara absolut karena
didukung oleh asisten AI pribadinya, maka perdamaian menjadi hal yang mustahil.
"Selamat tinggal, Maya," bisik
Elian.
Saat ia berjalan keluar, ia melihat Maya kembali tenggelam dalam dunianya, melakukan gerakan-gerakan tangan di udara, berinteraksi dengan hantu-hantu digital yang menjanjikannya surga, sementara kakaknya yang nyata baru saja menutup pintu untuk selamanya.

Comments
Post a Comment