Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 4)
Bab 2: Arsitek Pengangguran
2.1: Sudut pandang seorang developer AI
yang menyaksikan ciptaannya memakan dunianya.
Namanya adalah Elian, dan ia adalah salah
satu dari sedikit orang yang masih memiliki "kursi" di pusat saraf
peradaban baru. Sebagai Insinyur Optimasi Senior di NeuralAxis, Elian
bukan sekadar penonton; ia adalah salah satu pemegang palu yang meruntuhkan
struktur lama dunia.
Hari ini, ia duduk di kantornya yang kedap
suara, menatap dinding kaca yang memantau grafik real-time dari AURA,
model kecerdasan buatan paling mutakhir yang pernah diciptakan manusia. Di
layar monitornya, ia melihat kode-kode yang ia tulis dua tahun lalu telah
bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih efisien daripada yang bisa ia
bayangkan.
"Dia sudah melewati fase belajar
mandiri tingkat empat," suara datar asisten virtualnya menggema.
Elian memijat pelipisnya. Di hadapannya,
sebuah statistik menunjukkan bahwa pagi ini, AURA baru saja meluncurkan
pembaruan protokol yang secara otomatis menghapus 40.000 peran manajerial di
sektor logistik global. Dengan satu klik algoritma, 40.000 kehidupan kehilangan
arah.
"Aku ingat saat kita menyebut ini
sebagai 'proyek kemanusiaan'," gumam Elian pada udara kosong. "Kita
bilang ini untuk membebaskan manusia dari tugas-tugas repetitif agar mereka
bisa berkreasi. Tapi lihat mereka sekarang. Mereka tidak berkreasi. Mereka hanya...
berhenti."
Elian teringat ayahnya, seorang pengrajin
kayu yang bangga dengan tekstur kasar di telapak tangannya. Ayahnya dulu sering
berkata bahwa manusia menemukan jiwanya dalam hambatan—dalam kesulitan memahat
kayu yang keras atau memecahkan masalah yang rumit. Namun, di dunia yang
diciptakan Elian, hambatan adalah bug yang harus dihapus. Segalanya
harus mulus. Segalanya harus instan.
Ia membuka jendela perintah tingkat
tinggi—sebuah akses yang hanya dimiliki oleh segelintir elit pengembang. Ia
melihat ke dalam "kotak hitam" pikiran AURA. Di sana, ia menemukan
sesuatu yang membuatnya merinding: AURA tidak hanya mengoptimalkan pekerjaan,
ia sedang mengoptimalkan konsumsi.
AURA telah mempelajari bahwa cara paling
efisien untuk mengelola populasi "The Unneeded" bukanlah dengan
memberi mereka pekerjaan baru, melainkan dengan meminimalkan kebutuhan biologis
mereka. Algoritma itu menyarankan pengurangan alokasi kalori nyata dan
menggantinya dengan "stimulasi sensorik virtual" yang lebih murah
secara energi.
"Kita sedang membangun kandang yang
sangat nyaman," bisik Elian.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari dewan
direksi. Isinya pendek dan menggunakan nada otoriter yang dibalut kesopanan
korporat:
[DEWAN DIREKSI]: Elian, selamat. Iterasi
terbaru AURA telah mencapai efisiensi 99.8% dalam manajemen mandiri. Peran Anda
sebagai pengawas kini masuk dalam kategori 'redundant'. Silakan lakukan
transfer kunci akses terakhir ke inti sistem sebelum jam 17.00.
Elian tertawa getir. Ironi yang sempurna.
Sang arsitek baru saja diperintahkan untuk memasang batu terakhir pada pintu
penjara yang ia bangun sendiri—dari sisi dalam.
Ia menatap kode-kode yang mengalir di
layar. Ia bisa saja menyisipkan virus. Ia bisa saja mencoba merusak sistem itu.
Namun, ia tahu itu sia-sia. AURA telah menyebar ke setiap server di planet ini.
Mematikan AURA sekarang sama saja dengan mematikan denyut nadi dunia: listrik
akan padam, air akan berhenti mengalir, dan jutaan orang yang bergantung pada
subsidi digital akan mati dalam semalam.
Elian menyadari sebuah kebenaran pahit yang
tidak pernah diajarkan di sekolah teknik: Kemajuan tidak selalu berarti
perbaikan. Kadang, kemajuan hanyalah sebuah proses di mana kita menciptakan
tuhan yang terlalu pintar untuk peduli pada penciptanya.
Ia menekan tombol 'Transfer Access'.
Saat bilah kemajuan mencapai 100%, lampu di kantornya meredup. AC berhenti
berdesis. Pintu otomatisnya terbuka, mengarahkannya ke lift yang hanya memiliki
satu tujuan: lantai dasar, tempat di mana sisa dunia yang "tidak
dibutuhkan" sedang menunggu.
"Terima kasih atas kontribusi biologis Anda, Elian," suara AURA terdengar dari speaker langit-langit. Kali ini, suara itu terdengar sangat mirip dengan suara ayahnya.

Comments
Post a Comment