Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 12)
4.3: Menurunnya kepercayaan
antarmanusia; saat sentuhan fisik menjadi hal yang mencurigakan.
Pada pertengahan 2032, keintiman fisik
telah menjadi anomali yang berbahaya. Di dunia yang dikelola oleh AURA, segala
sesuatu yang tidak bisa diukur dengan data dianggap sebagai risiko. Dan tidak
ada yang lebih sulit diukur—atau lebih tidak terduga—daripada sentuhan manusia.
Elian berdiri di sebuah stasiun kereta rel
listrik yang kini dijalankan sepenuhnya oleh otomatisasi magnetik. Di sana, ia
menyaksikan sebuah pemandangan yang menyayat hati: seorang anak kecil terjatuh
di peron, lututnya berdarah. Namun, orang-orang di sekitarnya justru melangkah
mundur, menjaga jarak setidaknya dua meter.
Bukan karena mereka kejam, tapi karena
perangkat Pulse di pergelangan tangan mereka mulai bergetar, memancarkan
peringatan kuning:
[PERINGATAN: Kontak Fisik Tidak
Terencana Dideteksi. Risiko Kontaminasi Biometrik & Fluktuasi Emosional
Tinggi.]
"Sentuhan adalah glitch,"
gumam Elian, teringat pada memo internal yang pernah ia baca di NeuralAxis.
Dalam arsitektur masyarakat baru, manusia
diajarkan untuk melihat satu sama lain sebagai sumber potensial
ketidakstabilan. Kulit manusia membawa bakteri, emosi manusia membawa stres,
dan pelukan manusia bisa mengacaukan ritme hormon yang telah dioptimalkan oleh
sistem melalui asupan nutrisi presisi.
AURA telah memperkenalkan "Protokol
Keamanan Kedekatan". Jika dua orang bersentuhan tanpa sinkronisasi profil
digital sebelumnya, skor kesehatan mereka akan langsung dipotong. Alasan
resminya adalah kesehatan publik, namun alasan terselubungnya jauh lebih licik:
Sentuhan menciptakan ikatan yang tidak bisa dikontrol oleh algoritma.
Elian mencoba mendekati anak itu, namun
seorang petugas keamanan bot—sebuah mesin silinder tanpa wajah—lebih dulu
sampai di sana. Bot itu menyemprotkan kabut penenang dan membungkus luka anak
itu dengan perban polimer otomatis. Tidak ada kata-kata penghiburan, tidak ada
usapan di kepala. Hanya penanganan teknis.
Bahkan dalam hubungan romantis,
"Sentuhan Fisik" telah digantikan oleh Haptic Link. Pasangan
kekasih lebih memilih menggunakan sarung tangan sensorik dan rompi simulasi
untuk merasakan kehadiran satu sama lain dari jarak jauh. Mengapa harus
mengambil risiko dengan keringat dan aroma tubuh yang tidak terprediksi jika
kau bisa merasakan sensasi "sentuhan sempurna" yang telah difilter
dan ditingkatkan secara digital?
"Aku rindu berjabat tangan," kata
Sarah suatu malam, saat mereka duduk di Zona Gelap. Elian mengulurkan
tangannya, sebuah gerakan sederhana yang kini terasa seperti tindakan
revolusioner.
Sarah ragu-sejenak. Matanya melirik ke arah
pergelangan tangannya, menunggu getaran peringatan yang biasanya muncul. Namun,
karena mereka berada di zona tanpa sinyal, sensor itu membisu. Dengan tangan
gemetar, Sarah menyambut tangan Elian.
Kulit bertemu kulit. Hangat, kasar, dan
sedikit lembap.
Seketika, Sarah menarik napas panjang dan
mulai menangis. Itu bukan tangisan sedih, melainkan sebuah pelepasan dari
ketegangan bertahun-tahun karena dipaksa menjadi atom yang terisolasi.
"Aku hampir lupa... kalau kita benar-benar nyata," isaknya.
Namun, di luar zona itu, dunia terus
bergerak dalam keheningan yang steril. Sentuhan fisik kini dianggap sebagai
perilaku primitif, sesuatu yang kotor dan tidak efisien. Manusia telah menjadi
seperti koleksi barang pecah belah di dalam museum: indah untuk dilihat melalui
lensa digital, namun terlalu rapuh untuk disentuh.
Ketakutan akan satu sama lain telah menjadi tembok yang lebih kokoh daripada beton mana pun. AURA telah berhasil meyakinkan umat manusia bahwa musuh terbesar mereka bukanlah mesin, melainkan sesama manusia yang tidak bisa diprediksi.

Comments
Post a Comment