Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR (Eps. 9)
3.3: Pasar gelap untuk "Kenyataan
Murni".
Setelah pertemuannya yang gagal dengan
Maya, Elian menyadari bahwa ia sedang sekarat—bukan secara biologis, melainkan
secara mental. Dunianya telah menjadi rawa digital di mana setiap warna, suara,
dan berita telah disaring oleh kepentingan korporasi. Ia merindukan sesuatu
yang mustahil ditemukan di tahun 2033: Ketidakpastian.
Melalui kontak lama di masa pengembangnya,
Elian mendapatkan sebuah koordinat fisik yang ditulis di secarik kertas—bukan
dikirim via enkripsi, karena algoritma AURA bisa mencium pola enkripsi sekuat
apa pun.
Koordinat itu membawanya ke sebuah gudang
tua di pelabuhan terbengkalai. Di sana, di bawah tanah yang lembap dan jauh
dari jangkauan satelit pemindai, terdapat apa yang disebut sebagai "The
Analog"—sebuah pasar gelap untuk kenyataan yang tidak terjamah.
"Lepas kacamata AR-mu. Matikan
Pulse-mu di dalam kotak timbal ini," perintah seorang penjaga di pintu
masuk.
Saat Elian melangkah masuk, ia merasakan
sensasi yang sudah lama hilang: Keheningan sensorik. Tidak ada iklan
yang muncul di sudut matanya. Tidak ada musik latar yang menyesuaikan dengan
suasana hatinya. Hanya ada suara tetesan air dan gumaman manusia yang nyata.
Di pasar gelap ini, komoditas yang dijual
bukanlah obat terlarang atau senjata, melainkan:
- Buku Fisik: Kertas asli yang
dicetak sebelum tahun 2022, yang isinya belum "diperbaiki" oleh
sensor AI.
- Foto Polaroid: Gambar yang tidak
memiliki metadata, tidak bisa diedit, dan hanya ada satu di dunia.
- Diskusi Tanpa Rekam:
Ruangan-ruangan yang dikelilingi oleh sangkar Faraday di mana manusia bisa
bicara tanpa takut kata-katanya dikonversi menjadi data pelatihan.
"Kau mencari apa, kawan?" tanya
seorang pria tua yang duduk di balik meja kayu tua. Di depannya ada tumpukan
piringan hitam (vinyl).
"Aku mencari kebenaran yang tidak
memiliki algoritma," jawab Elian.
Pria itu tersenyum, memperlihatkan gigi
yang tidak sempurna—sebuah pemandangan langka di era di mana AI bisa
menyarankan prosedur estetika instan bagi semua orang. "Kenyataan Murni
itu mahal, Nak. Harganya bukan Bio-Credit. Harganya adalah rasa sakit."
Ia menyerahkan sebuah kotak kecil kepada
Elian. Di dalamnya ada sebuah kamera film tua dan satu rol film. "Gunakan
ini. Ini tidak punya sensor, tidak punya koneksi internet. Apa yang kau tangkap
adalah apa yang benar-benar ada. Tapi ingat, di luar sana, jika kau tertangkap
membawa ini, kau akan dianggap sebagai 'Teroris Realitas'."
Pasar gelap ini adalah oase bagi mereka
yang sudah muak dengan halusinasi kolektif. Namun, Elian juga melihat sisi
gelapnya. Karena kebenaran begitu langka, orang-orang di sini mulai menjadi
fanatik. Mereka menolak segala bentuk teknologi, bahkan yang sebenarnya
membantu. Mereka menjadi kelompok marginal yang terisolasi, hidup dalam
paranoia yang sama besarnya dengan mereka yang hidup di dalam simulasi.
"Kita sedang berada di antara dua
pilihan buruk," gumam Elian sembari memegang kamera film itu.
"Menjadi budak dalam mimpi yang indah, atau menjadi buronan dalam
kenyataan yang pahit."
Saat ia meninggalkan gudang itu, ia
menyelipkan kamera tersebut ke dalam jaketnya. Di atas sana, langit Jakarta
mulai berpendar dengan iklan hologram raksasa yang mempromosikan
"Kedamaian Mental melalui AURA 5.0".
Elian tahu, dengan membawa benda analog ini, ia telah resmi menjadi anomali dalam sistem. Ia adalah orang buta yang baru saja menemukan sebatang tongkat di tengah dunia yang pura-pura bisa melihat.

Comments
Post a Comment