SERIAL KITAB RIYADHATUNNAFS (MELATIH JIWA) [4]
KARYA: HUJJATUL ISLAM ABU HAMID AL-GHAZALI
بَيَانُ السَّبَبِ الَّذِي بِهِ يُنَالُ حُسْنُ الْخُلُقِ عَلَى الْجُمْلَةِ
Penjelasan Mengenai Sebab yang Secara Umum Dapat Menghasilkan Akhlak yang Baik
Engkau telah mengetahui bahwa baiknya akhlak itu merujuk pada keseimbangan kekuatan akal, kesempurnaan hikmah, serta keseimbangan kekuatan amarah dan syahwat, di mana keduanya tunduk kepada akal dan juga syariat.
Keseimbangan ini dapat diperoleh melalui dua cara:
Pertama: Melalui kemurahan ilahi dan kesempurnaan fitrah. Di mana seseorang diciptakan dan dilahirkan dengan akal yang sempurna dan akhlak yang baik; ia telah dicukupi dari dominasi syahwat dan amarah. Sebaliknya, keduanya diciptakan dalam keadaan seimbang dan tunduk kepada akal serta syariat. Maka ia menjadi orang yang berilmu tanpa belajar dan beradab tanpa proses pendidikan formal; seperti Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakaria —alaihimas salam— serta seluruh para Nabi lainnya.
Tidak mustahil pula dalam tabiat dan fitrah terdapat hal-hal yang biasanya didapat melalui usaha (iktisab). Terkadang ada anak yang dilahirkan jujur bicaranya, dermawan, dan berani. Namun terkadang ada yang dilahirkan sebaliknya, maka hal itu didapatkan padanya melalui pembiasaan, berinteraksi dengan orang-orang yang berakhlak demikian, atau terkadang melalui proses belajar.
Cara Kedua untuk Mengusahakan Akhlak Ini: Melalui mujahadah (perjuangan batin) dan riyadhah (latihan spiritual). Yang saya maksud dengan hal ini adalah: memaksa jiwa untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dituntut oleh akhlak yang diinginkan. Barang siapa yang ingin mendapatkan sifat dermawan misalnya, maka caranya adalah dengan memaksakan diri melakukan tindakan orang dermawan, yaitu memberikan harta. Ia terus menuntut jiwanya dan membiasakannya dengan paksaan serta berjuang melawannya hingga hal itu menjadi tabiat baginya dan terasa mudah, sehingga ia pun menjadi dermawan.
Demikian pula orang yang ingin mendapatkan sifat tawaduk (rendah hati) sementara sifat sombong menguasainya. Caranya adalah dengan membiasakan diri melakukan perbuatan orang-orang yang tawaduk dalam jangka waktu yang lama, sambil terus berjuang melawan jiwanya dan memaksakan diri hingga hal itu menjadi akhlak dan tabiat baginya, serta terasa mudah.
Seluruh akhlak yang terpuji menurut syariat dapat diperoleh melalui cara ini. Puncaknya adalah ketika perbuatan yang muncul darinya terasa lezat (nikmat). Orang dermawan yang sejati adalah dia yang merasa nikmat dalam mendermakan harta, bukan orang yang mendermakannya dengan perasaan benci/berat. Orang yang tawaduk adalah dia yang merasa nikmat dalam kerendahhatiannya. Akhlak keagamaan tidak akan kokoh dalam jiwa selama jiwa tersebut belum terbiasa dengan segala kebiasaan baik, belum meninggalkan segala kebiasaan buruk, dan belum konsisten melakukannya seperti orang yang merindukan perbuatan indah dan menikmatinya, serta membenci perbuatan buruk dan merasa sakit karenanya.
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
"Dan dijadikan penyejuk mataku ada di dalam salat"
Selama ibadah dan meninggalkan larangan dilakukan dengan rasa benci dan berat, maka itu menunjukkan adanya kekurangan, dan kesempurnaan kebahagiaan tidak akan tercapai dengannya.
*) Diriwayatkan oleh an-Nasa'i (7/61) dan Ahmad dalam al-Musnad (3/128).
Benar, konsisten melakukannya melalui perjuangan batin (mujahadah) adalah baik jika dibandingkan dengan meninggalkannya sama sekali. Namun, itu masih di bawah level melakukan ibadah dengan kerelaan hati. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ﴾
"Dan sesungguhnya (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اعْبُدِ اللهَ بِالرِّضَا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ.. فَفِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ
"Beribadahlah kepada Allah dengan rasa rida. Jika engkau tidak mampu, maka sesungguhnya di dalam kesabaran terhadap apa yang engkau benci terdapat kebaikan yang banyak." *)
*) Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Syu'ab (9528) dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam wasiat yang masyhur. Redaksinya berbunyi: "Jika engkau mampu beramal untuk Allah dengan ridha dan keyakinan, maka lakukanlah. Jika tidak mampu, maka sesungguhnya pada kesabaran terhadap apa yang engkau benci terdapat kebaikan yang banyak..." (Al-Hadits).
Selanjutnya, dalam meraih kebahagiaan yang dijanjikan atas dasar kemuliaan akhlak, tidaklah cukup hanya dengan merasakan lezatnya ketaatan dan membenci kemaksiatan pada suatu waktu saja tanpa waktu lainnya. Sebaliknya, hal itu harus dilakukan secara berkelanjutan sepanjang usia. Semakin panjang usia seseorang, maka keutamaan tersebut akan semakin kokoh dan sempurna.
Oleh karena itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang kebahagiaan, beliau bersabda:
طُولُ الْعُمُرِ فِي طَاعَةِ اللهِ تَعَالَى
"Panjangnya umur dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala." *)
*) Diriwayatkan oleh al-Qudha'i dalam Musnad al-Syihab (312), dan al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (16/6). Al-Tirmidzi (2329) juga meriwayatkan dari hadis Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu secara marfu', bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: "Siapakah manusia terbaik?". Beliau menjawab: "Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya."
Atas dasar itulah, para nabi dan kekasih Allah (awliya) tidak suka kematian; karena dunia adalah ladang bagi akhirat. Semakin banyak ibadah yang dilakukan seiring panjangnya umur, maka pahala akan semakin melimpah, jiwa semakin suci dan bersih, serta akhlak semakin kuat dan kokoh. Sesungguhnya tujuan dari ibadah adalah pengaruhnya pada hati, dan pengaruh tersebut hanya akan menjadi kuat dengan banyaknya ketekunan dalam beribadah.
Puncak dari akhlak ini adalah tercabutnya kecintaan terhadap dunia dari dalam jiwa, dan tertanamnya kecintaan kepada Allah Ta'ala di dalamnya, sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintainya daripada perjumpaan dengan Allah. Ia tidak menggunakan segala miliknya kecuali pada jalan yang menyampaikannya kepada Allah. Amarah dan syahwatnya pun tunduk kepadanya, sehingga ia tidak menggunakannya kecuali pada jalan yang mendekatkannya kepada Allah. Hal itu dicapai dengan menimbang segala sesuatu menggunakan timbangan syariat dan akal, hingga kemudian ia merasa bahagia dan menikmati kondisi tersebut.
Tidaklah mustahil jika shalat dapat menjadi "penyejuk hati" (qurratu 'ain) dan ibadah-ibadah lainnya menjadi terasa lezat. Sebab, kebiasaan (habit) dapat menimbulkan keajaiban pada jiwa yang lebih asing dari itu. Kita sering melihat para raja dan orang-orang yang bergelimang kenikmatan justru berada dalam kesedihan yang terus-menerus. Sebaliknya, kita melihat seorang penjudi yang bangkrut justru didominasi oleh kelezatan dan kegembiraan dalam perjudiannya, sampai-sampai ia menganggap aneh kegembiraan orang lain yang tidak berjudi. Padahal, judi tersebut seringkali merampas hartanya, menghancurkan rumah tangganya, dan meninggalkannya dalam kemiskinan. Namun demikian, ia tetap mencintai dan menikmatinya karena lamanya ia terbiasa dan mencurahkan jiwanya pada hal tersebut dalam waktu yang panjang.
Begitu pula penyuka merpati, ia sanggup berdiri sepanjang hari di bawah teriknya matahari tanpa merasakan sakitnya panas tersebut, karena kegembiraannya terhadap burung-burung, gerakan, serta terbang dan tingginya burung tersebut di angkasa.
Bahkan kita melihat seorang penjahat yang nekat merasa bangga dengan pukulan *), luka, dan ketabahan yang ia alami saat dicambuk atau ketika dibawa ke tiang penyaliban. Ia justru menyombongkan diri dan kekuatannya dalam menanggung derita itu, hingga menganggapnya sebagai suatu kebanggaan. Salah seorang dari mereka mungkin dipotong anggota tubuhnya satu per satu agar ia mengakui perbuatannya atau perbuatan orang lain, namun ia tetap bersikeras mengingkarinya dan tidak memedulikan siksaan tersebut; semua itu karena kegembiraannya atas apa yang ia yakini sebagai kesempurnaan, keberanian, dan kejantanan. Maka kondisi tersebut, meskipun mengandung siksaan yang pedih, telah menjadi penyejuk hati dan sebab kebanggaannya.
*) Al-'Ayyar: Adalah orang cerdik/licin yang mencuri harta orang lain dengan kehalusan tipu daya dan kelicikan.
Bahkan tidak ada kondisi yang lebih rendah dan buruk daripada kondisi seorang laki-laki yang menyerupai wanita (mukhannats), seperti mencabut bulu, menato wajah, dan bergaul bebas dengan wanita. Namun engkau melihat ia merasa bahagia dengan kondisinya dan bangga dengan "kesempurnaan" kewanita-wanitaannya, serta saling pamer di antara sesama mereka. Bahkan di antara tukang bekam dan penyapu jalan pun terjadi persaingan dan saling pamer kemuliaan, sebagaimana yang terjadi di antara para raja dan ulama.
Semua itu adalah hasil dari kebiasaan dan ketekunan pada satu pola yang sama secara terus-menerus dalam waktu yang lama, serta melihat hal tersebut dilakukan oleh teman pergaulan dan kenalan-kenalannya.
Maka, jika jiwa melalui kebiasaan bisa merasakan lezatnya kebatilan dan condong pada keburukan, lantas bagaimana mungkin ia tidak akan merasakan lezatnya kebenaran jika ia dikembalikan kepada kebenaran itu dalam suatu waktu dan diwajibkan untuk menekuninya?
Bahkan, kecondongan jiwa pada perkara-perkara buruk tersebut sebenarnya keluar dari fitrah aslinya, layaknya keinginan untuk memakan tanah; yang terkadang mendominasi sebagian orang karena faktor kebiasaan. Adapun kecondongan jiwa pada hikmah, kecintaan kepada Allah, mengenal-Nya, dan beribadah kepada-Nya, maka itu seperti kecondongan pada makanan dan minuman; karena hal itu merupakan tuntutan fitrah hati yang bersifat ketuhanan (rabbani).
Kecondongannya pada tuntutan syahwat adalah sesuatu yang asing bagi jati dirinya dan bersifat baru bagi fitrahnya. Sesungguhnya gizi bagi hati adalah hikmah, makrifat, dan cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Namun, hati berpaling dari tuntutan fitrahnya karena penyakit yang menjangkitinya; sebagaimana penyakit yang menjangkiti lambung sehingga ia tidak menyukai makanan dan minuman, padahal keduanya adalah sebab bagi kehidupannya. Maka, setiap hati yang condong pada kecintaan terhadap sesuatu selain Allah Ta'ala tidak akan terlepas dari penyakit sesuai kadar kecondongannya, kecuali jika ia mencintai sesuatu tersebut karena hal itu membantunya untuk mencintai Allah dan teguh pada agama-Nya. Jika demikian, maka hal itu tidaklah menunjukkan adanya penyakit.
Maka dengan ini, engkau telah mengetahui secara pasti bahwa akhlak yang mulia dapat diusahakan melalui latihan (riyadhah), yaitu dengan memaksakan diri melakukan perbuatan-perbuatan yang bersumber dari akhlak tersebut pada permulaannya, agar pada akhirnya perbuatan itu menjadi tabiat alami. Ini adalah bagian dari keajaiban hubungan antara hati dan anggota tubuh; maksud saya antara jiwa dan raga. Sebab, setiap sifat yang muncul di hati, pengaruhnya akan meluap ke anggota tubuh sehingga ia tidak akan bergerak kecuali sesuai dengan sifat hati tersebut. Sebaliknya, setiap perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuh akan mengirimkan pengaruh balik ke dalam hati, dan proses ini berlangsung secara timbal balik (siklus).
Hal ini dapat dipahami melalui sebuah perumpamaan: seseorang yang ingin agar keahlian menulis menjadi sifat jiwanya hingga ia menjadi penulis secara alami, maka tidak ada jalan baginya kecuali harus menggerakkan tangannya melakukan apa yang dilakukan oleh penulis yang mahir dan menekuninya dalam waktu yang lama, yaitu dengan meniru tulisan yang indah. Karena produk dari seorang penulis adalah tulisan yang indah, maka ia meniru penulis tersebut dengan memaksakan diri, kemudian ia terus menekuninya hingga kemampuan itu menjadi sifat yang kokoh dalam jiwanya. Pada akhirnya, ia akan menghasilkan tulisan yang indah secara alami, sebagaimana dahulu ia menghasilkannya dengan memaksakan diri pada permulaan. Jadi, tulisan indah itulah yang membuat tulisannya menjadi indah, namun pada awalnya ia dipaksakan, hanya saja pengaruhnya naik ke hati, kemudian turun kembali dari hati ke anggota tubuh, sehingga ia pun menulis dengan indah secara alami.
Begitu pula orang yang ingin memiliki jiwa yang fakih (paham agama), tidak ada jalan baginya kecuali melakukan perbuatan para fukaha, yaitu mengulang-ulang pelajaran fikih, hingga sifat kefakihan itu meresap ke dalam hatinya dan ia pun menjadi seorang fakih sejati. Demikian pula orang yang ingin menjadi dermawan, menjaga kesucian diri, penyantun, dan rendah hati; ia wajib memaksakan diri melakukan perbuatan-perbuatan mereka hingga hal itu menjadi tabiatnya melalui kebiasaan. Tidak ada obat baginya kecuali cara tersebut.
Sebagaimana pencari ilmu fikih tidak akan berputus asa meraih tingkatan itu hanya karena libur satu malam, dan tidak pula ia meraihnya hanya dengan mengulang pelajaran satu malam; demikian pula pencari kesucian jiwa dan penyempurnaan akhlak mulia, ia tidak akan meraihnya hanya dengan ibadah satu hari, dan tidak pula terhalang darinya hanya karena maksiat satu hari. Inilah maksud perkataan kami: "Sesungguhnya satu dosa besar tidak menyebabkan kecelakaan abadi." Namun, libur dalam satu hari akan mengundang libur di hari berikutnya, kemudian akan beruntun sedikit demi sedikit hingga jiwa merasa nyaman dengan kemalasan dan meninggalkan usaha sama sekali, sehingga ia kehilangan keutamaan fikih. Demikian pula dosa-dosa kecil, sebagian akan menyeret kepada sebagian yang lain hingga inti kebahagiaan itu hilang dengan runtuhnya fondasi iman saat ajal menjemput (su'ul khatimah).
Sebagaimana pengulangan pelajaran satu malam tidak terasa pengaruhnya secara instan dalam memahamkan jiwa—melainkan kefakihan itu muncul sedikit demi sedikit secara bertahap seperti pertumbuhan tubuh dan bertambahnya tinggi badan—begitu pula satu ketaatan tidak langsung terasa pengaruhnya dalam menyucikan dan membersihkan jiwa pada saat itu juga. Namun, tidak seyogianya meremehkan ketaatan yang sedikit, karena kumpulan yang banyak itu berpengaruh, dan kumpulan tersebut tersusun dari satuan-satuan. Maka setiap satu ketaatan memiliki pengaruh, dan tidak ada ketaatan kecuali memiliki dampak meski tersembunyi, sehingga ia pasti memiliki pahala; karena pahala diberikan sesuai dengan kadar pengaruhnya. Begitu pula halnya dengan kemaksiatan.
Berapa banyak calon fakih yang meremehkan libur belajar sehari semalam, dan terus berlanjut demikian, ia menunda-nunda dirinya hari demi hari, hingga tabiatnya keluar dari kemampuan menerima ilmu fikih. Begitu pula orang yang meremehkan dosa-dosa kecil dan menunda-nunda tobat secara terus-menerus, hingga kematian merenggutnya secara tiba-tiba, atau kegelapan dosa menumpuk di hatinya sehingga tobat menjadi sulit baginya. Karena hal yang sedikit akan mengundang hal yang banyak, hingga hati menjadi terbelenggu oleh rantai syahwat dan tidak mungkin diselamatkan dari cengkeramannya. Inilah yang dimaksud dengan tertutupnya pintu tobat, dan inilah maksud firman Allah Ta'ala:
﴿وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا...﴾ الآية
"Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat dan di belakang mereka sekat..."
Oleh karena itu, Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya iman itu nampak di hati berupa bintik putih, setiap kali iman bertambah maka putihnya pun bertambah. Jika seorang hamba telah menyempurnakan imannya, maka putihlah seluruh hatinya. Dan sesungguhnya kemunafikan itu nampak di hati berupa bintik hitam, setiap kali kemunafikan bertambah maka hitamnya pun bertambah. Jika ia telah menyempurnakan kemunafikan, maka hitamlah seluruh hatinya." *)
*) Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubarak dalam al-Zuhd (1440), dan al-Baihaqi dalam al-Syu'ab (37).
Maka dengan demikian, engkau telah mengetahui bahwa akhlak yang baik terkadang terbentuk karena tabiat dan fitrah asali, terkadang karena pembiasaan perbuatan yang indah, dan terkadang dengan melihat serta bersahabat dengan pemilik perbuatan indah (orang-orang saleh). Hal itu karena tabiat seseorang dapat "mencuri" keburukan maupun kebaikan dari tabiat orang lain.
Maka barangsiapa yang ketiga jalur tersebut terkumpul pada dirinya hingga ia memiliki keutamaan secara tabiat, pembiasaan, dan proses belajar, maka ia berada pada puncak keutamaan. Namun barangsiapa yang secara tabiat berperangai rendah, lalu bertemu dengan teman-teman yang buruk sehingga ia belajar dari mereka dan dimudahkan baginya jalan-jalan keburukan hingga ia terbiasa, maka ia berada pada puncak kejauhan dari Allah 'Azza wa Jalla. Dan di antara kedua tingkatan tersebut terdapat orang-orang yang jalurnya berbeda-beda; masing-masing memiliki derajat kedekatan dan kejauhan sesuai dengan apa yang dituntut oleh sifat dan kondisinya.
﴿فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ﴾،
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
﴿وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ﴾.
"Dan Allah tidak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri."
[BERSAMBUNG]

Comments
Post a Comment