SERIAL KITAB RIYADHATUNNAFS (MELATIH JIWA) [5]
بَيَانُ تَفْصِيلِ الطَّرِيقِ إِلَى تَهْذِيبِ الْأَخْلَاقِ
Penjelasan Rinci Mengenai Jalan Menuju Perbaikan Akhlak
Engkau telah mengetahui sebelumnya bahwa keseimbangan dalam akhlak adalah kesehatan bagi jiwa, sedangkan penyimpangan dari keseimbangan tersebut merupakan gangguan dan penyakit padanya. Sebagaimana keseimbangan dalam temperamen (unsur) tubuh adalah kesehatan baginya, dan penyimpangan dari keseimbangan itu adalah penyakit baginya. Maka, marilah kita jadikan tubuh sebagai perumpamaan, lalu kita katakan:
Perumpamaan jiwa dalam pengobatannya dengan cara menghapus sifat-sifat rendah dan akhlak yang buruk darinya, serta mendatangkan keutamaan dan akhlak yang indah kepadanya, adalah seperti perumpamaan tubuh dalam pengobatannya dengan cara menghapus penyakit darinya, serta mengupayakan dan mendatangkan kesehatan baginya. Dan sebagaimana secara dominan asal dari temperamen tubuh adalah keseimbangan, dan penyakit yang merusak itu hanyalah datang karena faktor eksternal seperti makanan, udara, dan kondisi lingkungan; maka demikian pula setiap anak yang lahir dilahirkan dalam keadaan seimbang dan sehat di atas fitrahnya. Sesungguhnya kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Artinya: sifat-sifat rendah itu diperoleh melalui kebiasaan dan pengajaran.
Sebagaimana tubuh pada permulaannya tidaklah diciptakan dalam keadaan sempurna, melainkan menjadi sempurna dan kuat melalui pertumbuhan dan didikan dengan makanan; maka demikian pula jiwa, ia diciptakan dalam keadaan kurang namun siap untuk menerima kesempurnaan. Jiwa hanya akan menjadi sempurna melalui penyucian diri (tazkiyah), perbaikan akhlak, dan pemberian asupan berupa ilmu.
Sebagaimana jika tubuh dalam keadaan sehat, maka tugas dokter adalah menetapkan aturan yang menjaga kesehatan tersebut, dan jika tubuh sedang sakit, maka tugasnya adalah mengupayakan kesehatan kembali padanya. Demikian pulalah jiwamu; jika ia suci, bersih, dan terdidik, maka selayaknya engkau berusaha untuk menjaganya dan menjaga sifat-sifatnya, serta menambah kekuatannya dan menambah kejernihannya. Namun jika jiwa tersebut kehilangan kesempurnaan dan kejernihan, maka selayaknya engkau berusaha untuk mendatangkan hal itu padanya.
Sebagaimana penyakit yang mengubah keseimbangan tubuh dan menyebabkan sakit tidak dapat diobati kecuali dengan lawannya; jika sakitnya karena panas maka diobati dengan yang dingin, dan jika karena dingin maka dengan yang panas. Demikian pula kerendahan budi yang merupakan penyakit hati, pengobatannya adalah dengan lawannya; penyakit kebodohan diobati dengan belajar, penyakit kikir diobati dengan membiasakan diri untuk murah hati, penyakit sombong dengan tawaduk, dan penyakit rakus dengan menahan diri dari apa yang diinginkan secara paksa (melawan keinginan).
Sebagaimana seseorang harus menanggung pahitnya obat dan sangat bersabar dalam menahan keinginan demi mengobati tubuh yang sakit, maka demikian pula seseorang harus menanggung pahitnya perjuangan (mujahadah) dan kesabaran untuk mengobati penyakit hati. Bahkan, hal ini lebih utama (penting); karena penyakit tubuh akan terlepas darinya melalui kematian, sedangkan penyakit hati—kita berlindung kepada Allah—adalah penyakit yang akan terus menetap setelah kematian untuk selama-lamanya.
Sebagaimana tidak semua zat pendingin cocok untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh panas, kecuali jika kadar pendinginnya berada pada batas tertentu, yang berbeda-beda menurut tingkat kuat atau lemahnya, durasi pemakaiannya, serta banyak atau sedikitnya jumlahnya. Hal itu harus memiliki tolok ukur untuk mengetahui kadar yang bermanfaat darinya; sebab jika tolok ukurnya tidak dijaga, maka kerusakan akan bertambah. Demikian pula sifat-sifat lawan yang digunakan untuk mengobati akhlak, haruslah memiliki tolok ukur.
Sebagaimana takaran obat diambil dari kadar penyakitnya, hingga seorang dokter pun tidak akan melakukan pengobatan sebelum mengetahui apakah penyakit itu berasal dari panas atau dingin. Jika berasal dari panas, ia harus mengetahui derajatnya, apakah lemah atau kuat. Apabila ia telah mengetahui hal itu, barulah ia memperhatikan kondisi tubuh dan kondisi waktu, pekerjaan si sakit, usianya, serta seluruh keadaannya yang lain, barulah kemudian ia mengobatinya berdasarkan pertimbangan tersebut. Demikian pula seorang Syekh (Guru Spiritual) yang diikuti, yang mengobati jiwa para murid dan menyembuhkan hati para pencari petunjuk; selayaknya ia tidak langsung menyerang mereka dengan latihan (riyadhah) dan beban tugas dalam bidang atau metode tertentu sebelum ia mengenali karakter akhlak dan penyakit-penyakit mereka.
Sebagaimana seorang dokter, jika ia mengobati seluruh pasien dengan satu macam obat saja, niscaya ia akan membunuh sebagian besar dari mereka. Demikian pula seorang Syekh, jika ia menginstruksikan kepada seluruh murid satu pola latihan yang seragam, niscaya ia akan mencelakakan mereka dan mematikan hati mereka. Sebaliknya, ia harus melihat pada penyakit si murid, kondisinya, usianya, temperamennya, serta apa yang mampu ditanggung oleh fisiknya dalam menjalani latihan, lalu ia membangun metode latihannya berdasarkan hal tersebut.
Jika si murid adalah seorang pemula yang jahil (tidak tahu) tentang batasan-batasan syariat, maka pertama-tama guru harus mengajarkannya tentang bersuci (thaharah), salat, dan ibadah-ibadah lahiriah lainnya. Jika si murid sedang sibuk dengan harta haram atau terlibat dalam kemaksiatan, maka guru harus memerintahkannya terlebih dahulu untuk meninggalkannya. Apabila lahiriahnya telah dihiasi dengan ibadah dan anggota tubuhnya telah bersih dari maksiat lahiriah, barulah guru memperhatikan batinnya melalui petunjuk-petunjuk keadaan (karakter), guna mendeteksi akhlak dan penyakit hatinya. Jika guru melihat murid memiliki harta yang melebihi batas kebutuhannya, guru mengambilnya dan menyalurkannya untuk kebaikan, serta mengosongkan hati si murid dari harta tersebut agar hatinya tidak lagi berpaling kepadanya.
Jika guru melihat adanya sifat kesembronoan (ru'unah), kesombongan, dan rasa harga diri (ego) yang tinggi mendominasi si murid, maka guru memerintahkannya untuk pergi ke pasar-pasar untuk meminta-mita (mengemis). Sebab, rasa harga diri dan keinginan untuk berkuasa tidak akan hancur kecuali dengan kehinaan, dan tidak ada kehinaan yang lebih besar daripada kehinaan meminta-minta. Guru kemudian mewajibkannya untuk menekuni hal tersebut dalam jangka waktu tertentu sampai kesombongan dan egonya hancur; karena kesombongan adalah salah satu penyakit yang membinasakan, demikian pula sifat kesembronoan.
Jika guru melihat sifat yang dominan pada si murid adalah perhatian berlebih pada kebersihan tubuh dan pakaian, serta melihat hatinya cenderung pada hal itu, merasa senang dengannya, dan selalu memperhatikannya, maka guru mempekerjakannya untuk merawat dan membersihkan toilet (kakus), menyapu tempat-tempat kotor, serta menetap di dapur dan tempat-tempat yang penuh asap. Hal ini dilakukan hingga kegilaannya terhadap kebersihan itu terusik.
Sebab, orang-orang yang hanya sibuk membersihkan dan menghias pakaian mereka, serta mencari jubah bertambal (muraqqa'at) yang bersih dan sajadah yang berwarna-warni, tidak ada bedanya dengan pengantin wanita yang menghias dirinya sepanjang hari. Tidak ada bedanya antara seseorang yang menyembah dirinya sendiri atau menyembah berhala; siapa pun yang menyembah selain Allah, maka ia telah terhijab (terhalang) dari Allah. Barangsiapa yang memperhatikan pakaiannya secara berlebihan melebihi aspek kehalalan dan kesuciannya hingga hatinya terpaut padanya, maka ia adalah orang yang sibuk dengan dirinya sendiri.
Di antara kelembutan dalam metode latihan (riyadhah) adalah jika seorang murid merasa berat untuk meninggalkan kesembronoan (ru'unah) secara total atau meninggalkan suatu sifat lainnya, dan ia belum sanggup melakukan lawannya sekaligus, maka selayaknya guru memindahkannya dari satu akhlak tercela ke akhlak tercela lainnya yang lebih ringan; seperti orang yang mencuci darah dengan air seni, kemudian mencuci air seni tersebut dengan air, apabila air saja tidak mampu menghilangkan darah tersebut.
Sebagaimana seorang anak di sekolah dasar dipikat untuk belajar dengan cara bermain bola dan tongkat kayu atau yang semisalnya, kemudian dipindahkan dari bermain menuju kecintaan pada perhiasan dan pakaian mewah, lalu dipindahkan dari hal itu dengan ketertarikan pada kepemimpinan dan mencari kedudukan (jah), kemudian dipindahkan dari kedudukan menuju ketertarikan pada akhirat. Demikian pulalah orang yang jiwanya belum sanggup meninggalkan kedudukan sekaligus, maka hendaknya ia dipindahkan ke kedudukan yang lebih rendah darinya, dan demikian pula berlaku untuk sifat-sifat lainnya.
Demikian pula jika guru melihat sifat rakus makanan mendominasi si murid, ia mewajibkannya berpuasa dan menyedikitkan makan. Kemudian guru menugaskannya untuk menyiapkan makanan yang lezat dan menghidangkannya kepada orang lain sementara ia sendiri tidak memakannya, agar dengan demikian jiwanya menjadi kuat, sehingga ia terbiasa bersabar dan kerakusannya menjadi hancur.
Demikian juga jika guru melihat muridnya seorang pemuda yang sangat berhasrat untuk menikah namun ia tidak memiliki kemampuan (secara finansial/fisik), maka guru memerintahkannya untuk berpuasa. Terkadang hasratnya belum juga reda dengan hal itu, maka guru memerintahkannya untuk berbuka pada satu malam hanya dengan air tanpa roti, dan pada malam berikutnya dengan roti tanpa air. Guru juga melarangnya makan daging dan lauk-pauk sama sekali sampai jiwanya tunduk dan hasratnya hancur; karena tidak ada pengobatan di awal masa menata kehendak (iradah) yang lebih bermanfaat daripada rasa lapar.
Jika guru melihat sifat marah mendominasi si murid, ia mewajibkannya untuk bersikap santun (hilm) dan diam. Guru juga akan membiarkan si murid didampingi oleh orang yang buruk akhlaknya dan mewajibkannya melayani orang tersebut; agar ia melatih dirinya untuk menanggung kesabaran bersamanya. Sebagaimana diceritakan tentang sebagian ulama bahwa ia membiasakan dirinya untuk bersikap santun dan menghilangkan kemarahan yang meluap-luap dengan cara menyewa seseorang untuk mencacinya di hadapan orang banyak, lalu ia memaksa dirinya untuk bersabar dan menahan amarahnya, hingga sifat santun itu menjadi kebiasaan baginya sampai-sampai ia dijadikan sebagai teladan dalam kesantunan.
Sebagian mereka juga ada yang merasakan sifat pengecut dan lemah hati dalam dirinya, maka ia ingin meraih sifat pemberani dengan cara mengarungi lautan di musim dingin ketika ombak sedang bergejolak hebat.
Para ahli ibadah di India mengobati rasa malas dalam beribadah dengan cara berdiri sepanjang malam pada satu posisi yang tegak. Sebagian syekh pada awal masa suluknya merasa malas untuk berdiri (salat malam), maka ia memaksa dirinya untuk berdiri di atas kepalanya sepanjang malam agar jiwanya mau berdiri di atas kaki dengan penuh ketaatan (secara sukarela).
Sebagian mereka mengobati kecintaan terhadap harta dengan cara menjual seluruh hartanya dan membuangnya ke laut; hal itu dikarenakan ia takut jika ia membagikannya kepada orang-orang, akan muncul sifat kesembronoan berupa riya (pamer) dalam memberi.
Maka contoh-contoh ini memberitahukan kepadamu jalan pengobatan hati. Tujuan kita bukanlah untuk menyebutkan obat bagi setiap penyakit, karena hal itu akan dijelaskan pada kitab-kitab selanjutnya. Tujuan kita saat ini hanyalah untuk mengingatkan bahwa jalan yang menyeluruh dalam hal ini adalah menempuh jalur perlawanan (oposisi) terhadap segala sesuatu yang diinginkan dan disukai oleh nafsu. Allah Ta'ala telah merangkum semua itu dalam Kitab-Nya yang mulia dalam satu kalimat, Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ﴾
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)."
Prinsip penting dalam perjuangan batin (mujahadah) adalah: Memenuhi tekad. Apabila seseorang telah bertekad untuk meninggalkan suatu syahwat (keinginan), biasanya sebab-sebab (godaan) untuk melakukannya justru akan menjadi mudah didapat sebagai bentuk cobaan dan ujian dari Allah Ta'ala. Maka, selayaknya ia bersabar dan terus istikamah. Sebab, jika ia membiasakan dirinya untuk melanggar tekad, jiwanya akan terbiasa dengan hal itu lalu menjadi rusak. Jika terjadi pelanggaran tekad darinya, maka ia harus mewajibkan hukuman bagi dirinya sendiri, sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam bab menghukum nafsu pada Kitab Al-Muhasabah wa Al-Muraqabah. Jika ia tidak menakut-nakuti nafsunya dengan hukuman, maka nafsu akan mengalahkannya dan akan memperindah perbuatan memperturutkan syahwat di matanya, sehingga latihan spiritual (riyadhah) tersebut akan rusak secara total.
[BERSAMBUNG]

Comments
Post a Comment