SERIAL KITAB RIYADHATUNNAFS (MELATIH JIWA) [1]


KARYA: Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali


كِتَابُ رِيَاضَةِ النَّفْسِ وَتَهْذِيبِ الْخُلُقِ وَمُعَالَجَةِ أَمْرَاضِ الْقَلْبِ

Kitab Melatih Jiwa, Memperbaiki Akhlak, dan Mengobati Penyakit Hati


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Segala puji bagi Allah yang mengatur segala urusan dengan tadbir-Nya, menyeimbangkan struktur makhluk-Nya lalu membaguskan rupanya, serta menghiasi rupa manusia dengan sebaik-baik bentuk dan ketentuan. Dia menjaga manusia dari kelebihan maupun kekurangan dalam rupa dan ukurannya, serta menyerahkan urusan perbaikan akhlak kepada kesungguhan dan upaya hamba-Nya. Dia mendorong hamba untuk mendidik akhlak dengan memberikan rasa takut dan peringatan, serta memudahkan hamba-hamba pilihan-Nya dalam mendidik akhlak dengan taufik dan kemudahan-Nya, serta menganugerahkan kepada mereka kemudahan atas hal-hal yang sulit dan sukar.


Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad, hamba Allah, Nabi-Nya, kekasih-Nya, pilihan-Nya, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan; yang cahaya kenabian terpancar dari gurat wajahnya, dan hakikat kebenaran tersirat dari tanda-tanda serta rona kegembiraannya. Juga kepada keluarga dan para sahabatnya yang telah menyucikan wajah Islam dari kegelapan kufur dan kepekatannya, serta memutus akar kebatilan sehingga mereka tidak ternoda oleh kebatilan tersebut, baik sedikit maupun banyak.


Amma ba’du: Akhlak yang baik adalah sifat pemimpin para Rasul dan amal paling utama bagi kaum shiddiqin. Ia secara hakiki merupakan separuh dari agama *), buah dari perjuangan (mujahadah) kaum bertakwa, serta latihan bagi para ahli ibadah. 

*) Al-Uqaili meriwayatkan dalam "Ad-Dhu’afa" (2/366) dan Ad-Dailami dalam "Musnad al-Firdaus" (2712) dari hadis Anas r.a secara marfu’: "Akhlak yang baik adalah setengah dari agama."


Sebaliknya, akhlak yang buruk adalah racun yang mematikan, kebinasaan yang menghancurkan, kehinaan yang memalukan, kerendahan yang nyata, serta kekejian yang menjauhkan seseorang dari kedekatan dengan Tuhan semesta alam, yang menyeret pemiliknya ke dalam golongan setan. 


Akhlak buruk adalah pintu-pintu yang terbuka menuju api neraka Allah yang menyala-nyala, yang membakar sampai ke hati. Sebagaimana akhlak yang indah adalah pintu-pintu yang terbuka dari hati menuju kenikmatan surga dan kedekatan dengan Sang Maha Pengasih.


Akhlak yang buruk merupakan penyakit hati dan gangguan jiwa, namun ia adalah penyakit yang dapat menghilangkan kehidupan abadi. Alangkah jauh perbandingannya dengan penyakit (fisik) yang hanya menghilangkan kehidupan jasad semata! Ketika para dokter begitu fokus menetapkan aturan pengobatan bagi penyakit badan—padahal penyakit tersebut hanya berisiko hilangnya kehidupan yang fana—maka perhatian dalam menetapkan aturan pengobatan bagi penyakit hati—yang risikonya adalah hilangnya kehidupan abadi—tentulah lebih utama.


Jenis kedokteran ini (kedokteran hati) wajib dipelajari oleh setiap orang yang berakal *); sebab tiada satu pun hati yang luput dari penyakit yang jika diabaikan akan bertumpuk, menimbulkan cacat yang beruntun dan saling menguatkan. Maka seorang hamba memerlukan ketelitian dalam mengenali penyakit dan sebab-sebabnya, kemudian kesungguhan dalam mengobati dan memperbaikinya. 

*) Inilah "kedokteran para Nabi" alaihimush shalatu was salam. Allah mengutus mereka untuk mengajarkan umat bagaimana menempatkan hati dalam tungku perjuangan (mujahadah), menyucikannya dari akhlak tercela, dan menuntunnya menuju jalan kejernihan hati. (Ithaf, 7/317).


Usaha pengobatan inilah yang dimaksud oleh firman Allah Ta’ala: "Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)", dan pengabaiannya adalah yang dimaksud dengan firman-Nya: "Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."


Dalam kitab ini, kami akan mengulas secara garis besar tentang penyakit-penyakit hati dan cara pengobatannya secara umum, tanpa memerinci pengobatan setiap penyakit secara khusus; karena perincian tersebut akan hadir pada kitab-kitab selanjutnya dalam bagian (rubu’) ini. Tujuan kami saat ini adalah tinjauan menyeluruh dalam mendidik akhlak dan memantapkan metodenya. Kami akan menyebutkan hal tersebut dengan menjadikan pengobatan fisik sebagai perumpamaannya agar lebih mudah dipahami. 


Penjelasan ini akan diperjelas melalui paparan tentang keutamaan akhlak mulia, hakikat akhlak mulia, kemungkinan akhlak untuk diubah melalui latihan (riyadhah), sebab untuk meraih akhlak mulia, rincian jalan menuju pendidikan akhlak dan melatih jiwa, tanda-tanda untuk mengenali penyakit hati, cara manusia mengenali aib dirinya sendiri, dalil-dalil nakli bahwa cara mengobati hati adalah dengan meninggalkan syahwat semata, tanda-tanda akhlak yang baik, cara mendidik anak pada awal pertumbuhannya, serta syarat-syarat keinginan (iradah) dan pendahuluan dalam perjuangan jiwa (mujahadah).


Inilah sebelas bab yang merangkum tujuan dari kitab ini, insya Allah Ta’ala.


بَيَانُ فَضِيلَةِ حُسْنِ الْخُلُقِ وَمَذَمَّةِ سُوءِ الْخُلُقِ

Penjelasan Keutamaan Akhlak Mulia dan Tercelanya Akhlak Buruk


Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi dan Kekasih-Nya seraya memuji beliau dan menampakkan nikmat-Nya atas beliau: 

{وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ}.

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4).


Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: 

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ 

"Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam itu akhlaknya adalah Al-Qur'an." *)

*) Potongan dari hadis panjang diriwayatkan oleh Muslim (746), Abu Dawud (1342), dan Ahmad dalam Al-Musnad (6/91).

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai akhlak yang baik, maka beliau membacakan firman Allah Ta’ala: 

{خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ} 

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199). 

Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

هُوَ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ، وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ 

"Yaitu engkau menyambung silaturahmi kepada orang yang memutusmu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu (tidak mau memberimu), dan memaafkan orang yang mendzalimimu." *)

*) Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Ma'rifatus Shahabah (4/2310) dari hadis Qais bin Sa'ad bin Ubadah, dan diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Makarim al-Akhlaq (25) dari Umay ash-Shayrafi.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ 

"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." *)

*) Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (2/381), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/613), dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra (10/192).

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

أَثْقَلُ مَا يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ 

"Sesuatu yang paling berat diletakkan dalam timbangan (amal) pada hari kiamat adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik." *)

*) Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2004) dan Ibnu Majah (4246) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu secara marfu'.

Seseorang mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari arah depan beliau dan bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah agama itu?" Beliau menjawab: 

حُسْنُ الْخُلُقِ 

"Akhlak yang baik." 

Kemudian orang itu mendatangi beliau dari arah kanan dan bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah agama itu?" Beliau menjawab: "Akhlak yang baik." Lalu ia mendatangi beliau dari arah kiri dan bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah agama itu?" Beliau menjawab: "Akhlak yang baik." Kemudian ia mendatangi beliau dari arah belakang dan bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah agama itu?" Maka beliau menoleh kepadanya dan bersabda: 

أَمَا تَفْقَهُ؟! هُوَ أَلَّا تَغْضَبَ 

"Tidakkah engkau mengerti? Agama itu adalah engkau tidak marah." *)

*) Diriwayatkan oleh Al-Marwazi dalam Ta'dzim Qadr ash-Shalah (hal. 525), dan Al-Khara'ithi —dengan redaksi lebih ringkas— dalam Masawi' al-Akhlaq (354) dari Abu Al-'Ala bin Al-Syikhkhir secara mursal.

Dan ditanyakan kepada beliau: "Wahai Rasulullah, apakah kesialan (keburukan) itu?" Beliau menjawab: 

سُوءُ الْخُلُقِ 

"Akhlak yang buruk."

*) Diriwayatkan oleh Al-Thabarani dalam Al-Awsath (5722), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (7657) dari hadis Jabir r.a. secara marfu'. Dalam riwayat Ahmad dalam Al-Musnad (6/85) dari hadis Aisyah r.a. secara marfu': "Kesialan itu adalah akhlak yang buruk."

Seseorang juga berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda: 

اتَّقِ اللهَ حَيْثُ كُنْتَ 

"Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada." 

Orang itu berkata: "Tambahkanlah untukku." Beliau bersabda: 

أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا 

"Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya." 

Ia berkata lagi: "Tambahkanlah untukku." Beliau bersabda: 

خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ 

"Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." *) 

*) Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (5/236), Al-Thabarani dalam Al-Kabir (20/145). Orang yang meminta wasiat tersebut adalah Mu'adz bin Jabal r.a. Terdapat riwayat serupa pada At-Tirmidzi (1987) dari hadis Abu Dzar r.a. tanpa penyebutan permintaan wasiat secara berulang.

Dan beliau 'alaihish shalatu was salam ditanya: "Amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Akhlak yang baik." *) *) Diriwayatkan oleh Al-Thabarani dalam Al-Kabir (1/180) dari hadis Usamah bin Syarik r.a.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

مَا حَسَّنَ اللهُ خَلْقَ عَبْدٍ وَخُلُقَهُ فَيُطْعِمَهُ النَّارَ 

"Tidaklah Allah membaguskan rupa seorang hamba dan akhlaknya, lalu Dia menjadikannya makanan api neraka." *)

*) Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Awsath (6776), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (3/82), dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (7678).

Al-Fudhail berkata: Dikatakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Sesungguhnya si fulanah rajin berpuasa di siang hari dan mendirikan shalat di malam hari, namun ia memiliki akhlak yang buruk; ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya." Beliau bersabda: 

لَا خَيْرَ فِيهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ 

"Tidak ada kebaikan padanya, ia termasuk penghuni neraka." *)

*) Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (2/440) dan Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad (119).

Abu Ad-Darda berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

أَوَّلُ مَا يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالسَّخَاءُ 

"Hal pertama yang diletakkan dalam timbangan (amal) adalah akhlak yang baik dan kedermawanan." 

Dan ketika Allah 'Azza wa Jalla menciptakan Keimanan, ia berkata: "Ya Allah, kuatkanlah aku," maka Allah menguatkannya dengan akhlak yang baik dan kedermawanan. Dan ketika Allah menciptakan Kekufuran, ia berkata: "Ya Allah, kuatkanlah aku," maka Allah menguatkannya dengan kebakhilan dan akhlak yang buruk. *)

*) Ini adalah dua kabar (riwayat) yang berbeda. Mengenai sabda "Hal pertama yang diletakkan dalam timbangan adalah akhlak yang baik" tanpa penyebutan kedermawanan, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (25846) dan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (24/252) dari hadis Ummu Ad-Darda r.a. Asal hadis ini juga terdapat pada Abu Dawud (4799) dan At-Tirmidzi (2003). Adapun sisa hadisnya diriwayatkan oleh Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Maudhu'at (2/96) dengan sanad dari Anas r.a secara marfu', dan ia menjelaskan kerusakannya karena faktor Muhammad bin Tamim Al-Faryabi.


Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

إِنَّ اللهَ اسْتَخْلَصَ هَذَا الدِّينَ لِنَفْسِهِ، وَلَا يَصْلُحُ لِدِينِكُمْ إِلَّا السَّخَاءُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ، أَلَا فَزَيِّنُوا دِينَكُمْ بِهِمَا 

"Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untuk diri-Nya, dan tidaklah layak bagi agama kalian ini kecuali kedermawanan dan akhlak yang baik; maka hiasilah agama kalian dengan keduanya." *)

* Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (18/159) dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (2/159). (Merupakan) hadis Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhuma. Semisal dengannya terdapat dalam riwayat Al-Khara’ithi dalam kitab Makarim al-Akhlaq (39) dari hadis Jabir radhiyallahu 'anhu. Al-Hafiz Al-Iraqi berkata: "Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam kitab Al-Mustajad, dan Al-Khara’ithi dalam Makarim al-Akhlaq dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri dengan sanad yang di dalamnya terdapat kelemahan (layyin)." — Ithaf as-Sadah al-Muttaqin (7/320).


Beliau 'alaihish shalatu was salam bersabda: 

حُسْنُ الْخُلُقِ خَلْقُ اللهِ الْأَعْظَمُ 

"Akhlak yang baik adalah ciptaan Allah yang paling agung." *)

*) Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Awsath (8340) dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (2/175) dari hadis Ammar bin Yasir r.a. secara marfu'.


Dan ditanyakan: "Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama imannya?" Beliau menjawab: 

أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً 

"Yang paling baik akhlaknya." *)

*) Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4682), At-Tirmidzi (1162), dan Ibnu Majah (4259).


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

إِنَّكُمْ لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، فَسَعُوهُمْ بِبَسْطِ الْوَجْهِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ 

"Sesungguhnya kalian tidak akan mampu merangkul manusia dengan harta kalian, maka rangkullah mereka dengan wajah yang berseri-seri dan akhlak yang baik." *)

*) Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (25842), Abu Ya'la dalam Musnad-nya (6550), dan Al-Bazzar dalam Musnad-nya (8544).


Beliau shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda: 

سُوءُ الْخُلُقِ يُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ 

"Akhlak yang buruk merusak amal sebagaimana cuka merusak madu." *)

*) Diriwayatkan oleh Abdu bin Humaid dalam Musnad-nya (799), Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (10/319), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (5/241), dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (6/348).


Dari Jarir bin Abdillah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku: 

إِنَّكَ امْرُؤٌ قَدْ حَسَّنَ اللهُ خَلْقَكَ فَأَحْسِنْ خُلُقَكَ 

"Sesungguhnya engkau adalah laki-laki yang telah Allah baguskan rupa (fisik)-mu, maka baguskanlah pula akhlakmu." *)

*) Diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (7). Jarir adalah salah satu manusia yang paling tampan rupanya, dan ia telah dianugerahi separuh dari keindahan pada fisiknya. Ithaf as-Sadah al-Muttaqin (7/321).


Dari Al-Bara bin 'Azib, ia berkata: 

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهاً، وَأَحْسَنَهُمْ خُلُقاً 

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang paling tampan wajahnya dan paling baik akhlaknya." *)

*) Diriwayatkan oleh al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (8) dari hadis al-Bara bin 'Azib r.a.


Dari Abu Mas'ud al-Badri, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sering mengucapkan dalam doanya: 

اللَّهُمَّ؛ حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي 

"Ya Allah, Engkau telah membaguskan rupa fisikku, maka baguskanlah pula akhlakku." *)

*) Diriwayatkan oleh al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (9). Al-Hafiz al-Iraqi berkata: "Demikianlah dalam riwayat Abu al-Hudzail dari Abu Mas'ud al-Badri, namun sebenarnya dia adalah Ibnu Mas'ud, yaitu Abdullah. Demikian pula yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dan Ahmad meriwayatkannya dari hadis Aisyah." — Ithaf (7/322).


Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memperbanyak doa dengan berucap: 

اللَّهُمَّ؛ إِنِّي أَسْأَلُكَ الصِّحَّةَ وَالْعَافِيَةَ وَحُسْنَ الْخُلُقِ 

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kesehatan, keselamatan ('afiyah), dan akhlak yang baik." *)

*) Diriwayatkan oleh al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (10).


Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: 

كَرَمُ الْمَرْءِ دِينُهُ، وَمُرُوءَتُهُ عَقْلُهُ، وَحَسَبُهُ خُلُقُهُ 

"Kemuliaan seseorang terletak pada agamanya, kehormatan (muru'ah)-nya terletak pada akalnya, dan martabat (nasab)-nya terletak pada akhlaknya." *)

*) Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (2/365), al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (12), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (483), al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/123). Dalam naskah (b) tertulis: "Kemuliaan seorang mukmin terletak pada agamanya...".


Dari Usamah bin Syarik, ia berkata: Aku menyaksikan orang-orang Arab Badui bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, mereka berkata: "Apakah pemberian terbaik yang diberikan kepada seorang hamba?" Beliau menjawab: 

خُلُقٌ حَسَنٌ 

"Akhlak yang baik." *)

*) Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (3436) dalam sebuah rangkaian berita, dan sebagaimana yang disebutkan penulis, diriwayatkan pula oleh al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (14).


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبَكُمْ مِنِّي مَجْلِساً يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقاً 

"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya." *)

*) Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2018) dalam sebuah riwayat panjang, dan sebagaimana yang dikutip penulis, diriwayatkan juga oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (23).


Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

ثَلَاثٌ مَنْ لَمْ تَكُنْ فِيهِ أَوْ وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ فَلَا تَعْتَدَّنَّ بِشَيْءٍ مِنْ عَمَلِهِ: تَقْوَى تَحْجُزُهُ عَنْ مَعَاصِي اللهِ، أَوْ حِلْمٌ يَكُفُّ بِهِ السَّفِيهَ، أَوْ خُلُقٌ يَعِيشُ بِهِ فِي النَّاسِ 

"Ada tiga perkara yang jika seseorang tidak memilikinya (meski satu saja di antaranya), maka janganlah engkau menganggap berarti sedikit pun dari amal perbuatannya: (1) Ketakwaan yang membentenginya dari maksiat kepada Allah, (2) kesantunan (hilm) yang digunakannya untuk menghadapi orang yang bodoh, atau (3) akhlak baik yang digunakannya untuk bergaul di tengah manusia." *)

*) Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Al-Hilm (55), Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (29), dan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (23/307) dari hadis Ummu Salamah r.a.


Di antara doa beliau shallallahu 'alaihi wasallam saat pembukaan shalat (iftitah) adalah: 

اللَّهُمَّ؛ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ 

"Ya Allah, tunjukilah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang dapat menunjuki pada kebaikannya kecuali Engkau. Dan palingkanlah aku dari keburukan akhlak, karena tidak ada yang dapat memalingkan darinya kecuali Engkau." *)

*) Diriwayatkan oleh Muslim (771).


Anas berkata: "Suatu hari ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba beliau bersabda: 

إِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ لَيُذِيبُ الْخَطِيئَةَ كَمَا تُذِيبُ الشَّمْسُ الْجَلِيدَ 

"Sesungguhnya akhlak yang baik benar-benar dapat melelehkan (menghapus) dosa sebagaimana matahari melelehkan es." *)

*) Diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (41) dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (7674) dari hadis Abu Hurairah r.a.


Beliau 'alaihish shalatu was salam bersabda: 

مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ حُسْنُ الْخُلُقِ 

"Termasuk kebahagiaan seseorang adalah memiliki akhlak yang baik." *)

*) Diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (42) dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (7679) dari hadis Jabir r.a.


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

الْيُمْنُ حُسْنُ الْخُلُقِ 

"Keberuntungan itu adalah akhlak yang baik." *)

*) Diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (43) dan Al-Qudha'i dalam Musnad asy-Syihab (54) dari hadis Aisyah r.a.


Beliau 'alaihish shalatu was salam bersabda kepada Abu Dzar: 

يَا أَبَا ذَرٍّ؛ لَا عَقْلَ كَالتَّدْبِيرِ، وَلَا حَسَبَ كَحُسْنِ الْخُلُقِ 

"Wahai Abu Dzar; tidak ada akal (kecerdasan) yang setara dengan perencanaan (tadbir), dan tidak ada martabat yang setara dengan akhlak yang baik." *)

*) Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (4218).


Dari Anas, ia berkata: Ummu Habibah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang wanita di antara kami yang memiliki dua suami (nanti) di dunia, lalu ia meninggal dan kedua suaminya pun meninggal, kemudian mereka semua masuk surga; untuk siapakah wanita itu kelak?" Beliau menjawab: 

لِأَحْسَنِهِمَا خُلُقاً كَانَ عِنْدَهَا فِي الدُّنْيَا، يَا أُمَّ حَبِيبَةَ؛ ذَهَبَ حُسْنُ الْخُلُقِ بِخَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ 

"Untuk yang paling baik akhlaknya terhadap wanita itu saat di dunia. Wahai Ummu Habibah, akhlak yang baik telah memborong seluruh kebaikan dunia dan akhirat." *)

*) Diriwayatkan oleh Abdu bin Humaid dalam Musnad-nya (1213), Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (50), Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (23/222), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (5/371).


Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

إِنَّ الْمُسْلِمَ الْمُسَدَّدَ لَيُدْرِكُ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَكَرَمِ ضَرِيبَتِهِ 

"Sesungguhnya seorang muslim yang lurus benar-benar dapat mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat malam karena akhlak baiknya dan kemuliaan tabiatnya." *) Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: "(Mencapai) derajat orang yang kehausan di tengah panas terik siang hari (karena berpuasa)." **)

*) Diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (53, 600) dari hadis Abdullah bin Amr r.a. Makna adh-Dharibah adalah watak atau tabiat.

**) Diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (52) dari hadis Abu Hurairah r.a.


Abdurrahman bin Samurah berkata: Kami pernah berada di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: 

إِنِّي رَأَيْتُ الْبَارِحَةَ عَجَباً، رَأَيْتُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي جَاثِياً عَلَى رُكْبَتَيْهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ، فَجَاءَ حُسْنُ خُلُقِهِ فَأَدْخَلَهُ عَلَى اللهِ تَعَالَى 

"Sesungguhnya aku semalam melihat hal yang menakjubkan. Aku melihat seorang pria dari umatku bersimpuh di atas lututnya, sementara di antara dirinya dan Allah terdapat hijab (penghalang). Maka datanglah akhlak baiknya, lalu membawanya masuk menghadap Allah Ta'ala." *)

*) Diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (54).


Anas berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ عَظِيمَ دَرَجَاتِ الْآخِرَةِ وَشَرَفَ الْمَنَازِلِ وَإِنَّهُ لَضَعِيفٌ فِي الْعِبَادَةِ 

"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar dapat mencapai derajat akhirat yang agung dan kedudukan yang mulia berkat akhlak baiknya, meskipun ia lemah (sedikit) dalam ibadah (sunnah)-nya." *)

*) Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Mudarat an-Nas (81), Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (61), dan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (1/260).


Diriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu meminta izin menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sementara di sisi beliau ada wanita-wanita dari kaum Quraisy yang sedang berbicara kepada beliau dan banyak bertanya dengan suara yang meninggi melebihi suara beliau. Ketika Umar meminta izin masuk, mereka segera bergegas menuju balik hijab (tabir). Umar pun masuk sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang tertawa. Umar berkata: "Semoga Allah senantiasa membuatmu tersenyum, demi bapak dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah (apa yang membuatmu tertawa)?" Beliau bersabda: 

عَجِبْتُ لِهَؤُلَاءِ اللَّاتِي كُنَّ عِنْدِي! لَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ.. تَبَادَرْنَ الْحِجَابَ 

"Aku heran dengan mereka yang tadinya di sisiku ini! Begitu mendengar suaramu, mereka langsung bergegas ke balik hijab." 

Umar berkata: "Engkau lebih berhak untuk mereka segani wahai Rasulullah." Kemudian Umar menghadapi para wanita itu dan berkata: "Wahai para musuh bagi diri mereka sendiri! Mengapa kalian segan/takut kepadaku tetapi tidak segan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?" Mereka menjawab: "Benar, karena engkau lebih keras dan lebih kaku daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

إِيهاً يَا بْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ؛ مَا لَقِيَكَ «الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكاً فَجّاً إِلَّا سَلَكَ فَجّاً غَيْرَ فَجِّكَ 

"Cukuplah wahai putra Al-Khattab! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan menemuimu menempuh suatu jalan, melainkan ia akan menempuh jalan lain selain jalanmu." *)

*) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3294) dan Muslim (2397). Redaksi yang digunakan penulis terdapat pada Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq (66).


Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

سُوءُ الْخُلُقِ ذَنْبٌ لَا يُغْفَرُ، وَسُوءُ الظَّنِّ خَطِيئَةٌ نَتُوجٌ 

"Akhlak yang buruk adalah dosa yang tidak diampuni (jika terus menetap), dan berprasangka buruk (suuzan) adalah kesalahan yang produktif (melahirkan keburukan lain)." *)

*) Diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Masawi' al-Akhlaq (7) dari hadis Anas r.a secara marfu'. Kata Natuj berarti melahirkan berbagai keburukan. Makna ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Ash-Shaghir (1/200) dari hadis Aisyah r.a secara marfu': "Segala sesuatu memiliki pintu tobat, kecuali pemilik akhlak buruk; karena tidaklah ia bertobat dari suatu dosa melainkan ia akan kembali melakukan keburukan yang lebih parah darinya."


Beliau 'alaihish shalatu was salam bersabda: 

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغُ مِنْ سُوءِ خُلُقِهِ أَسْفَلَ دَرْكِ جَهَنَّمَ 

"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa sampai ke dasar kerak neraka Jahanam akibat dari buruknya akhlak dia." *)

*) Merupakan potongan dari hadis: "Sesungguhnya hamba benar-benar mencapai (derajat agung) dengan akhlak baiknya..." yang telah disebutkan sebelumnya.


Atsar (Riwayat dari Orang-orang Saleh):


Putra Luqmanul Hakim bertanya kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sifat manakah pada manusia yang paling baik?"

Beliau menjawab: "Agama."

Ia bertanya: "Jika ada dua?"

Beliau menjawab: "Agama dan harta."

Ia bertanya: "Jika ada tiga?"

Beliau menjawab: "Agama, harta, dan rasa malu."

Ia bertanya: "Jika ada empat?"

Beliau menjawab: "Agama, harta, rasa malu, dan akhlak yang baik."

Ia bertanya: "Jika ada lima?"

Beliau menjawab: "Agama, harta, rasa malu, akhlak yang baik, dan kedermawanan."

Ia bertanya: "Jika ada enam?"

Beliau menjawab: "Wahai anakku; jika kelima sifat itu berkumpul pada diri seseorang, maka ia adalah orang yang bertakwa lagi bersih, menjadi kekasih Allah, dan terlepas dari (belenggu) setan." (1)

*) Disebutkan oleh al-Kharkusyi dalam Tahdzib al-Asrar (hal. 338).


Al-Hasan (Al-Bashri) berkata: "Barang siapa yang buruk akhlaknya, maka ia telah menyiksa dirinya sendiri." *)

*) Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam ash-Shamt wa Adab al-Lisan (90), dan al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab (7683).


Anas bin Malik berkata: "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mencapai derajat tertinggi di surga karena akhlak baiknya padahal ia bukan ahli ibadah; sebaliknya, seseorang bisa sampai ke dasar kerak neraka Jahanam karena buruknya akhlak padahal ia adalah seorang ahli ibadah." *)

*) Telah disebutkan sebelumnya riwayat yang serupa dari hadis Anas r.a secara marfu'.


Yahya bin Mu'adz berkata: "Dalam kelapangan akhlak (yang baik) terdapat gudang-gudang rezeki." *)

*) Disebutkan oleh al-Kharkusyi dalam Tahdzib al-Asrar (hal. 335) tanpa penyandaran (nama tokoh).


Wahab bin Munabbih berkata: "Perumpamaan orang yang buruk akhlaknya adalah seperti tembikar yang pecah; tidak bisa ditambal dan tidak bisa dikembalikan lagi menjadi tanah (liat)."


Al-Fudhail berkata: "Sungguh, jika aku ditemani oleh seorang pendosa (fajir) yang berakhlak baik, itu lebih aku sukai daripada ditemani oleh seorang ahli ibadah yang berakhlak buruk." *)

*) Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Rawdhah al-'Uqala (hal. 64).


Ibnu al-Mubarak pernah menemani seseorang yang berakhlak buruk dalam sebuah perjalanan. Beliau senantiasa bersabar menghadapinya dan bersikap lembut kepadanya. Ketika mereka berpisah, Ibnu al-Mubarak menangis. Saat ditanya alasannya, beliau menjawab: "Aku menangisinya karena kasihan kepadanya; aku telah berpisah darinya, sementara akhlak buruknya itu tetap melekat padanya dan tidak berpisah darinya."


Al-Junaid berkata: "Ada empat perkara yang dapat mengangkat seorang hamba ke derajat yang paling tinggi meskipun ilmu dan amalnya sedikit; yaitu sifat santun (hilm), rendah hati (tawadhu), kedermawanan (sakha'), dan akhlak yang baik. Dan itulah kesempurnaan iman." *)

*) Disebutkan oleh al-Kharkusyi dalam Tahdzib al-Asrar (hal. 340).


Al-Kattani berkata: "Tasawuf adalah akhlak; maka barangsiapa yang mengunggulimu dalam hal akhlak, berarti ia telah mengunggulimu dalam hal tasawuf." *)

*) Diriwayatkan oleh al-Qusyairi dalam Risalah-nya (hal. 410).


Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Bergaullah dengan manusia melalui akhlak (yang baik), namun berbedalah dengan mereka dalam hal perbuatan (yang buruk)." *)

*) Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Mudarat an-Nas (21).


Yahya bin Mu'adz berkata: "Akhlak yang buruk adalah sebuah keburukan yang mana banyaknya kebaikan tidak akan bermanfaat bersamanya; sedangkan akhlak yang baik adalah sebuah kebaikan yang mana banyaknya kesalahan tidak akan membahayakan bersamanya." *)

*) Disebutkan oleh al-Kharkusyi dalam Tahdzib al-Asrar (hal. 341).


Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ditanya: "Apakah kemuliaan itu?" Beliau menjawab: "Yaitu apa yang telah Allah jelaskan dalam Kitab-Nya yang Mulia: 'Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.' (QS. Al-Hujurat: 13)." Ditanyakan lagi: "Lalu apakah kehormatan (nasab/martabat) itu?" Beliau menjawab: "Yang paling baik akhlaknya di antara kalian adalah yang paling utama martabatnya." *)

*) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad (899).


Dan dikatakan: "Setiap bangunan memiliki fondasi, dan fondasi agama Islam adalah akhlak yang baik." *)

*) Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (3/340) dari ucapan Ikrimah rahimahullah.


Ibnu 'Atha berkata: "Tidaklah seseorang mencapai kedudukan yang tinggi melainkan dengan akhlak yang baik. Dan tidak ada seorang pun yang mencapai kesempurnaan akhlak tersebut kecuali Al-Musthafa (Nabi Muhammad) shallallahu 'alaihi wasallam. Maka, makhluk yang paling dekat dengan Allah 'Azza wa Jalla adalah mereka yang menapaki jejak-jejak beliau dengan kebaikan akhlak." *)

*) Disebutkan oleh al-Kharkusyi dalam Tahdzib al-Asrar (hal. 341).


[BERSAMBUNG] 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Panduan Lengkap Membangun Channel YouTube "Talking-Head" dari Nol hingga Menghasilkan Uang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi