SERIAL KITAB RIYADHATUNNAFS (MELATIH JIWA) [7]
KARYA: HUJJATUL ISLAM ABU HAMID AL-GHAZALI
بَيَانُ الطَّرِيقِ الَّذِي بِهِ يَعْرِفُ الْإِنْسَانُ عُيُوبَ نَفْسِهِ
Penjelasan Tentang Cara Seseorang Mengetahui Aib Dirinya Sendiri
Ketahuilah, bahwa apabila Allah 'Azza wa Jalla menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan membuatnya melihat aib-aib dirinya sendiri. Barangsiapa yang tajam penglihatan batinnya, niscaya aib-aibnya tidak akan tersembunyi darinya. Jika ia telah mengetahui aib-aib tersebut, maka ia mampu mengobatinya. Namun, kebanyakan manusia lalai terhadap aib diri mereka sendiri; salah seorang dari mereka melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat batang pohon di mata dirinya sendiri.
Barangsiapa yang ingin mengetahui aib dirinya sendiri, maka ada empat cara:
Pertama: Duduk di hadapan seorang syekh (guru) yang ahli dalam memahami aib-aib jiwa dan mengerti kedalaman penyakit-penyakit hati. Ia menjadikan syekh tersebut sebagai hakim atas dirinya dan mengikuti petunjuknya dalam memerangi hawa nafsu. Demikianlah kedudukan seorang murid dengan syekhnya, dan seorang siswa dengan gurunya. Sang guru akan memberitahunya tentang aib-aib dirinya dan cara mengobatinya. Namun, hal ini adalah sesuatu yang langka di zaman sekarang.
Kedua: Mencari seorang teman yang jujur, berwawasan luas, dan religius. Ia menjadikan temannya itu sebagai pengawas atas dirinya untuk memperhatikan keadaan dan perbuatannya. Apa yang tidak disukai dari akhlak, perbuatan, aib batin, maupun lahirnya, maka temannya itu akan memberitahukannya. Demikianlah yang dilakukan oleh orang-orang yang cerdas dan para pembesar dari kalangan imam-imam agama. Umar radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Semoga Allah merahmati seseorang yang menghadiahkan aib-aibku kepadaku." *)
*) Diriwayatkan oleh Al-Isma'ili dan Adz-Dzahabi dalam Manaqib Umar. Ithaf (7/349), dan demikian pula dalam Al-Quut (2/221).
Ia (Umar) pernah bertanya kepada Salman tentang aib-aibnya ketika Salman datang menemuinya, seraya berkata kepadanya: "Apa yang sampai kepadamu dariku yang tidak engkau sukai?" Salman pun enggan menjawab, namun Umar mendesaknya. Salman berkata: "Telah sampai kepadaku bahwa engkau mengumpulkan dua jenis lauk dalam satu hidangan, dan bahwa engkau memiliki dua stel pakaian; satu untuk siang hari dan satu untuk malam hari." Umar bertanya: "Apakah ada hal lain yang sampai kepadamu selain ini?" Salman menjawab: "Tidak." Umar berkata: "Adapun dua hal ini, aku telah mencukupinya (telah meninggalkannya)." *)
*) Diriwayatkan oleh Al-Isma'ili dan Adz-Dzahabi dalam Manaqib Umar. Ithaf (7/349), dan dengan redaksi serupa diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Ishlahul Maal (408).
Ia juga pernah bertanya kepada Hudzaifah dan berkata kepadanya: "Engkau adalah pemegang rahasia Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai kaum munafik. Apakah engkau melihat padaku sesuatu dari tanda-tanda kemunafikan?" *) Maka, meskipun dengan kemuliaan derajat dan tingginya kedudukan yang dimilikinya, begitulah ia sangat memedulikan jiwanya, radhiyallahu 'anhu. Setiap orang yang lebih luas akalnya dan lebih tinggi kedudukannya, akan semakin sedikit sifat 'ujub (bangga diri) dan semakin besar sikap waspada (mengoreksi) terhadap dirinya sendiri.
*) Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (6/298).
Hanya saja, hal ini pun sudah langka. Jarang sekali ditemukan di antara teman-teman seseorang yang meninggalkan sikap basa-basi (mudahanah) sehingga mau memberitahukan aib, atau meninggalkan kedengkian sehingga tidak melebih-lebihkan kewajiban. Maka, jangan sampai teman-temanmu tidak luput dari orang yang dengki, atau orang yang punya kepentingan sehingga menganggap sesuatu yang bukan aib sebagai aib, atau orang yang basa-basi yang justru menyembunyikan sebagian aibmu.
Oleh karena itu, Dawud ath-Tha’i mengasingkan diri dari manusia. Ia ditanya: "Mengapa engkau tidak bergaul dengan manusia?" Ia menjawab: "Apa yang bisa aku perbuat dengan kaum yang menyembunyikan aib-aibku dariku?!"
Sungguh, keinginan orang-orang yang beragama adalah agar mereka sadar akan aib-aib mereka melalui peringatan orang lain. Namun, perkara yang terjadi pada orang-orang seperti kita justru berbalik, di mana orang yang paling kita benci adalah orang yang menasihati kita dan memberi tahu aib-aib kita. Hal ini hampir saja menjadi pertanda lemahnya iman; karena akhlak yang buruk itu ibarat ular dan kalajengking yang berbisa. Jika seseorang memberi tahu kita bahwa di bawah pakaian kita ada seekor kalajengking, niscaya kita akan berterima kasih kepadanya, merasa senang, dan segera sibuk menyingkirkan kalajengking tersebut, menjauhkannya, dan membunuhnya.
Padahal, bahaya kalajengking hanya berdampak pada tubuh, dan sakitnya pun hanya bertahan sehari atau kurang. Sedangkan dampak akhlak yang buruk itu mengenai inti kalbu, dan dikhawatirkan akan bertahan setelah kematian selamanya, atau ribuan tahun. Kemudian, kita tidak merasa senang kepada orang yang memperingatkan kita tentangnya, tidak pula sibuk menyingkirkannya, bahkan kita justru sibuk membalas si penasihat dengan perkataan yang serupa, seraya berkata kepadanya: "Engkau pun melakukan ini dan itu."
Rasa permusuhan kepadanya menghalangi kita dari mengambil manfaat atas nasihatnya. Hal ini tampaknya berasal dari kekerasan hati yang dihasilkan oleh banyaknya dosa, dan pangkal dari itu semua adalah lemahnya iman. Maka, kita memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla agar Dia menunjukkan jalan kebenaran kepada kita, membuat kita melihat aib-aib diri kita sendiri, menyibukkan kita dengan mengobatinya, dan memberi kita taufik untuk mampu bersyukur kepada orang yang menunjukkan kesalahan-kesalahan kita, dengan karunia dan keutamaan-Nya.
Cara ketiga: Seseorang memanfaatkan pengetahuan tentang aib dirinya dari lisan musuh-musuhnya. Karena mata kebencian akan menampakkan keburukan. Boleh jadi, manfaat yang diperoleh seseorang dari musuh yang memusuhinya—yang menyebutkan aib-aibnya—lebih banyak daripada manfaat yang ia peroleh dari teman yang menjilat (basa-basi), yang hanya memuji-mujinya dan menyembunyikan aib-aibnya darinya. Akan tetapi, tabiat manusia memang cenderung mendustakan musuh dan menganggap apa yang dikatakan musuh tersebut didasari oleh rasa dengki. Meskipun demikian, orang yang memiliki bashirah (mata batin) tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengambil manfaat dari perkataan musuh-musuhnya, karena keburukan-keburukannya pasti akan tersebar melalui lisan mereka.
Cara keempat: Bergaul dengan manusia. Maka, setiap hal yang ia lihat dianggap tercela di antara manusia, hendaknya ia periksa pada dirinya sendiri dan menisbatkannya kepada dirinya. Karena seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya; ia akan melihat aib dirinya sendiri melalui aib orang lain, dan ia mengetahui bahwa tabiat manusia itu saling berdekatan dalam mengikuti hawa nafsu. Apa yang menjadi sifat pada salah seorang teman, maka teman yang lain tidak akan lepas dari sifat asalnya, atau sifat yang lebih besar dari itu, atau setidaknya bagian darinya. Maka, hendaknya ia meneliti dirinya sendiri dan membersihkannya dari segala sesuatu yang ia cela dari orang lain. Cukuplah hal ini sebagai bentuk pendidikan diri.
Jika semua orang meninggalkan apa yang mereka benci dari orang lain, niscaya mereka tidak lagi membutuhkan seorang pendidik. Dikatakan kepada Isa 'alaihis salam: "Siapa yang mendidikmu?" Beliau menjawab: "Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang yang bodoh sebagai sesuatu yang buruk, maka aku pun menjauhinya." *)
*) Demikian disebutkan oleh Ibnu Abdi Rabbihi dalam Al-'Iqd al-Farid (2/442), dan diriwayatkan oleh Ad-Dinawari dalam Al-Mujalasah wa Jawahir al-'Ilm (hal. 450), namun dari sebagian hukama (orang bijak).
Semua ini adalah cara bagi orang yang tidak menemukan seorang syekh yang arif, cerdas, memiliki bashirah (mata batin) terhadap aib-aib jiwa, penyayang, penasihat dalam agama, yang sudah selesai dengan pendidikan dirinya sendiri, lalu sibuk mendidik hamba-hamba Allah Ta'ala dan menasihati mereka. Maka barangsiapa yang menemukannya, ia telah menemukan seorang dokter, maka hendaknya ia mendampinginya. Dialah yang akan menyembuhkannya dari penyakitnya, dan menyelamatkannya dari kehancuran yang sedang mengancamnya.
[BERSAMBUNG]

Comments
Post a Comment