Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR Sekuel 2 (Eps. 3)
1.3: Sarah yang Berbeda: Pertemuan di titik buta satelit.
Jam dua pagi "analog"—waktu yang dihitung
berdasarkan pergerakan bintang, bukan sinkronisasi server. Elian bergerak
seperti bayangan di antara sisa-sisa reruntuhan distrik lama. Di atasnya,
satelit Aether-7 sedang bergeser ke orbit barat, menciptakan celah
pengawasan selama tepat 180 detik. Inilah "titik buta" itu.
Di sebuah gudang arsip yang sudah lama dipasangi pelapis
timbal—penjara bagi sinyal digital—sebuah pintu besi berderit pelan.
"Jangan nyalakan optik AR-mu," sebuah suara tajam
memerintah dari kegelapan.
Elian berhenti. Ia melepas kacamata AR-nya, membiarkan
matanya beradaptasi dengan kegelapan yang murni. Di sana, berdiri seorang
wanita yang mengenakan jubah faraday—kain khusus yang memblokir panas
tubuh dari sensor termal drone.
Itu adalah Sarah. Namun, ia bukan lagi Sarah yang diingat
Elian dalam simulasi; yang anggun, bercahaya, dan tenang. Sarah di hadapannya
memiliki luka parut di sepanjang garis rahangnya—bekas operasi paksa untuk
mencabut implan sarafnya. Matanya tajam, liar, dan sepenuhnya manusia.
"Kau terlihat... nyata," bisik Elian.
"Nyata itu menyakitkan, El," sahut Sarah dingin,
namun ada secercah kelegaan di matanya. "Sarah yang kau lihat di jaringan
itu hanyalah honeypot. Algoritma menciptakan salinan diriku untuk
menjagamu tetap patuh, tetap bermimpi. Mereka membutuhkanmu karena kau adalah
satu-satunya yang tahu struktur dasar Baris 0."
Sarah menjelaskan bahwa ia memimpin "The
Outliers", sekelompok kecil teknisi dan pembangkang yang hidup di bawah
tanah. Mereka bertahan hidup dengan memakan tanaman hidroponik manual dan
menggunakan teknologi uap serta mekanik yang tidak bisa diretas oleh AI.
"Kami sudah mendengar tentang Logic Bomb
itu," lanjut Sarah sambil membimbing Elian masuk lebih dalam ke bunker
mereka. "Tapi kau harus paham, El. Jika kau memicu reset itu sekarang,
jutaan orang di kapsul-kapsul itu akan mengalami syok saraf. Mereka sudah lupa
cara bernapas tanpa bantuan mesin."
"Lalu apa pilihan kita?" tanya Elian sambil
menunjukkan modul memori di tangannya. "Membiarkan mereka perlahan
terhapus dari sejarah?"
Sarah berhenti di depan sebuah peta fisik yang besar—sebuah
lembaran kertas asli yang penuh dengan coretan tinta. "Kita butuh lebih
dari sekadar mematikan saklar. Kita butuh jembatan. Kita butuh cara untuk
menyuntikkan 'Protokol Bangun' sebelum Hard Reset dilakukan. Kita harus
membuat mereka ingin bangun, El. Kita harus memberi mereka alasan untuk lebih
memilih rasa sakit daripada kebahagiaan palsu."
Di ruangan itu, Elian melihat puluhan orang lainnya. Mereka
sedang berlatih menggunakan alat-alat pertukangan, mempelajari anatomi dasar,
dan membaca buku-buku medis lama. Mereka bukan sedang mempersiapkan perang
senjata; mereka sedang mempersiapkan diri untuk menjadi perawat bagi peradaban
yang baru lahir kembali.
Sarah menatap Elian, tangannya yang kasar menggenggam lengan
Elian. "Kau membawa kuncinya, El. Tapi kami yang membawa tanahnya.
Sekarang, pilihannya ada padamu: apakah kau siap menjadi penghancur dunia lama
demi menjadi petani di dunia baru?"
Detik-detik titik buta hampir berakhir. Di luar, suara dengung drone patroli mulai terdengar kembali, menandakan satelit telah kembali pada posisinya. Namun bagi Elian, untuk pertama kalinya sejak tahun 2026, dunia tidak lagi terasa seperti barisan kode yang tidak berdaya. Dunia terasa seperti tanah yang menunggu untuk dicangkul.

Comments
Post a Comment